Dan perasaan itu hadir bersama butiran gerimis…
Pada akhirnya, di penghujung perjalanan aku berhenti di depan pagar kayu yang masih menyisakan aroma cat, di depan rumah hujan kita. Membiarkan mindaku memutar ulang fragmen-fragmen yang berloncatan membentuk peristiwa-peristiwa silam. Mengisi rongga dadaku dengan sebanyak mungkin udara untuk meredam genderang kerinduan yang ditabuh berulang.
Mengapa jantungku semakin memantulkan debaran, dengan buncahan rasa yang sukar kujabarkan?
Kuedarkan pandanganku setelah berdamai dengan perasaan, menelusuri tiap jengkal yang mampu kujangkau. Siapa yang membangun telaga mini yang dikelilingi bebatuan sungai di sudut kiri rumah hujan kita? Barisan bambu hias yang berjajar, replika rumah kayu beratap jerami, dan jembatan hias yang dibangun di atasnya. Oh, dan lihatlah, bahkan sepasang ikan Mas Koki berenang hilir mudik di antara dedaunan teratai yang mengambang. Kaukah itu?
Kriiieeettt!
Kubuka perlahan pintu pagar. Ada senyum yang menghiasi sudut bibirku. Ah, pintu itu masih menyenandungkan derit yang sama. Kau lupa untuk mengganti engselnya, hemmm?
Lagi aku terpaku dengan pesona yang ditawarkan di depan mataku. Bunga Lily? Bukan hanya satu, tapi berpot-pot menghiasi setiap sudut rumah, berbaur dengan suplir yang telah lebih dahulu ada. Warna putihnya bak barisan peri yang mengucapkan selamat datang padaku dengan keharumannya yang semerbak. Apakah aku bermimpi?
Kutelusuri jalan setapak menuju beranda rumah hujan kita yang berhiaskan rumput dan batu-batu kerikil. Langkah-langkah kecilku sampai pada sisi kiri rumah, yang mampu menyajikan pemandangan halaman belakang dengan nyaris sempurna. Lagi-lagi aku diberi kejutan berupa hamparan ladang ilalang yang menghijau, lengkap dengan bunganya yang memutih dan beberapa burung kecil yang menari di antara helaiannya. Ah, inikah surga yang nampak nyata?
Kuhentikan langkah sejenak, memutar pikir, sebelum akhirnya aku kembali memutar langkah, dan terhenti di anak tangga kayu rumah hujan kita. Memperhatikan beberapa lentera yang tergantung di sisi kiri dan kanannya. Aku tak sabar. Aku tahu itu kau. Kau yang membuatku akhirnya memilih untuk tidak menaiki anak tangga, tapi berlari mengelilingi setengah rumah hujan kita dan berhenti di teras belakang. Apa yang kutemukan? Kelintingan besi yang menyenandungkan sambutan kerinduan, juga kincir angin kertas yang berulang memutar pesan dari lubuk hatimu yang terdalam.
Dan itu kau! Dalam balutan gaun putih, setangkai bunga ilalang menjadi hiasan rambutmu: duduk sendirian menikmati senja jingga berteman dua cangkir cokelat panas. Tak perlu kutanya, aku tahu cangkir yang satunya lagi untuk siapa. Kau! Ya, kau, untuk sejenak letakkan dulu cokelat panasmu dan palingkan wajahmu dari panorama senja yang memanja sukma, pandang aku! Aku ingin melihat riak di bening indahmu ketika aku berkata,
“Aku pulang!”
Pada akhirnya, di penghujung perjalanan aku berhenti di depan pagar kayu yang masih menyisakan aroma cat, di depan rumah hujan kita. Membiarkan mindaku memutar ulang fragmen-fragmen yang berloncatan membentuk peristiwa-peristiwa silam. Mengisi rongga dadaku dengan sebanyak mungkin udara untuk meredam genderang kerinduan yang ditabuh berulang.
Mengapa jantungku semakin memantulkan debaran, dengan buncahan rasa yang sukar kujabarkan?
Kuedarkan pandanganku setelah berdamai dengan perasaan, menelusuri tiap jengkal yang mampu kujangkau. Siapa yang membangun telaga mini yang dikelilingi bebatuan sungai di sudut kiri rumah hujan kita? Barisan bambu hias yang berjajar, replika rumah kayu beratap jerami, dan jembatan hias yang dibangun di atasnya. Oh, dan lihatlah, bahkan sepasang ikan Mas Koki berenang hilir mudik di antara dedaunan teratai yang mengambang. Kaukah itu?
Kriiieeettt!
Kubuka perlahan pintu pagar. Ada senyum yang menghiasi sudut bibirku. Ah, pintu itu masih menyenandungkan derit yang sama. Kau lupa untuk mengganti engselnya, hemmm?
Lagi aku terpaku dengan pesona yang ditawarkan di depan mataku. Bunga Lily? Bukan hanya satu, tapi berpot-pot menghiasi setiap sudut rumah, berbaur dengan suplir yang telah lebih dahulu ada. Warna putihnya bak barisan peri yang mengucapkan selamat datang padaku dengan keharumannya yang semerbak. Apakah aku bermimpi?
Kutelusuri jalan setapak menuju beranda rumah hujan kita yang berhiaskan rumput dan batu-batu kerikil. Langkah-langkah kecilku sampai pada sisi kiri rumah, yang mampu menyajikan pemandangan halaman belakang dengan nyaris sempurna. Lagi-lagi aku diberi kejutan berupa hamparan ladang ilalang yang menghijau, lengkap dengan bunganya yang memutih dan beberapa burung kecil yang menari di antara helaiannya. Ah, inikah surga yang nampak nyata?
Kuhentikan langkah sejenak, memutar pikir, sebelum akhirnya aku kembali memutar langkah, dan terhenti di anak tangga kayu rumah hujan kita. Memperhatikan beberapa lentera yang tergantung di sisi kiri dan kanannya. Aku tak sabar. Aku tahu itu kau. Kau yang membuatku akhirnya memilih untuk tidak menaiki anak tangga, tapi berlari mengelilingi setengah rumah hujan kita dan berhenti di teras belakang. Apa yang kutemukan? Kelintingan besi yang menyenandungkan sambutan kerinduan, juga kincir angin kertas yang berulang memutar pesan dari lubuk hatimu yang terdalam.
Dan itu kau! Dalam balutan gaun putih, setangkai bunga ilalang menjadi hiasan rambutmu: duduk sendirian menikmati senja jingga berteman dua cangkir cokelat panas. Tak perlu kutanya, aku tahu cangkir yang satunya lagi untuk siapa. Kau! Ya, kau, untuk sejenak letakkan dulu cokelat panasmu dan palingkan wajahmu dari panorama senja yang memanja sukma, pandang aku! Aku ingin melihat riak di bening indahmu ketika aku berkata,
“Aku pulang!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar