Kecintaanku pada hujan dijawab langit dengan mengirimkan
seorang hawa yang juga perlahan mencintai hujan karena aku. Aku mencintainya,
dengan makna abstrak, tanpa menggeser cintaku pada hujan. Selalu ada ruang
kosong di hatiku untuk ia tempati. Bersamanya, aku memiliki impian sederhana:
suatu hari kami akan berjalan perlahan di ladang ilalang, menikmati tetes demi
tetes hujan yang perlahan menikam tanah. Aku ingin berbagi cerita dengannya,
dan membiarkan hujan mengaburkan airmata kami. Sederhana, bukan?
Maka untukmu, perempuan yang datang atas nama hawa,
berkerudung cahaya di ambang senja: tetaplah jadi separuhku, dan bersama kita
akan menulis kisah kita berkalamkan hujan.
...
Bagaimana aku bisa tak menangis membaca tulisanmu, Rain? Bagaimana mungkin gerimis tak turun di dalam hatiku? Impianmu... sama seperti yang sering kali aku pikirkan. Berjalan berdua denganmu di padang ilalang saat senja hari, atau saat hujan turun, dengan jemari saling bertaut memberikan kekuatan pada hati-hati kita yang patah. Bersenandung lirih membisikkan luka yang akhirnya diterbangkan angin. Membasuh airmata yang bergulir bersama butiran hujan.
Aku ingin menangis dan tertawa bersamamu, ingin melagukan puisi hujan berdua denganmu. Bercerita tentang masa lalu dan menguburnya dalam genggaman tangan kita.
Aku menangis, Ay... dan dalam isak aku hanya bisa berkata...
Aku mencintai kamu...
Aku mencintai kamu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar