Senin, 10 Desember 2012

Galau

Baru kemarin sore dia menyapaku dengan senyumnya, dan aku tahu kalau memang hanya itu yang aku butuhkan untuk bisa membuatku ikut tersenyum.
Dia mengirimiku sebuah prosa, cantik, dan indah. Yang akhirnya aku tahu kalau tulisan itu menyadur dari tulisanku sebelumnya, hehehe dia pintar, dan aku tak pernah berhenti mengaguminya.
Hanya dalam hitungan detik lukaku hilang, kami kembali tertawa bersama, menyambut badai di luar sana dengan senyuman, dan aku suka.
Tapi entah pagi ini, kebodohan semalam antara aku dan orang-orang di sekitar kami mungkin membuatnya cemburu lagi, marah lagi. Ada alasan yang ingin sekali aku jelaskan. Tapi sebaiknya aku memilih bungkam dulu, hingga dia siap mendengar semuanya.
Hhhh... andai kau tahu betapa rindu ini hampir membunuhku.


Menyentuh laramu...
Semua lukamu telah menjadi milikku
Karena separuh aku dirimu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar