Sudahlah, sudahi saja. Setelah semua usai kita masih tetap bisa memandang senja, walau tak bersisian. Bukan masalah besar, bukan? Senja itu akan selalu jadi bintang dalam lensa bidikanmu. Dan pada akhirnya kita akan kembali membaca isyarat langit dengan pemahaman yang tak pernah sama. Selalu begitu. Seperti buih yang selalu menepi ke bibir pantai. Dia datang dan senantiasa berulang.
Sudahlah, sudahi saja. Bila bersamaku tak kunjung membuat senyummu mekar tersungging, maka aku akan memilih setapak jalan tanpamu. Aku tak pernah khawatir perdu liar atau ilalang tajam di kanan dan kiri akan merobek kulit betisku. Tetap saja darah itu akan berwarna merah, bukan? Darimanapun ia berasal, ia tak akan menjelma warna yang lain.
Apa yang harus kita pertahankan, atau kita pertimbangkan untuk selalu kita jaga? Perasaan masing-masing? Bahkan engkau dan aku saja tak pernah memiliki jawaban seperti apa rupa hati kita yang terlanjur berkeping-keping. Kebersamaan kita bukan untuk merekatkan pecahan satu sama lain, melainkan hanya menambah retak. Tak memiliki arti. Mungkin sesaat sempat bermakna, tapi setelah itu? Hampa !
Kita memang tak perlu memaksakan diri untuk selalu berada pada suatu ikatan, Sayang. Pada akhirnya kita boleh mengaku kalah, pada suatu hal yang tak sanggup kita perjuangkan. Sepandai-pandainya manusia, kita hanya bisa berusaha. Tapi segala ketetapan berada di tangan-Nya, Sang Pengatur Lakon Kehidupan.
Sudahlah, sudahi saja. Agar raga kita tak terus lelah bertarung dengan pikir yang tiada henti. Meski pada suatu ketika nanti akan terkesan canggung, namun seperti itulah kenyataannya. Bukankah lebih baik kita terluka saat ini, daripada nanti ? Bukankah lebih baik kita mencegah, sebelum kita harus mengobati hati?
Sudahlah, sudahi saja. Cukup sampai di babak ini saja. Bukankah kita dipertemukan oleh senja? Maka kita sudahi juga segalanya dalam dekapan senja. Senja terakhir yang kita punya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar