Minggu, 30 Desember 2012

Rumah Kita

Kau dan aku...
Mungkin kita berdua sudah berada pada titik terjenuh kehidupan kita.
Kau bilang tak lagi mampu merasakan bagaimana mencintai, dan aku pun sepertinya mulai mati hati.

Lelah...
Aku tahu kau juga merasakan itu, sama sepertiku. Ingin menghilang dan membangun dunia milik kita sendiri.
Bercengkrama berdua, berbagi hati.

Ingat apa impian kita?
Duduk berdua di padang ilalang, memandangi jingga senja hari. Atau berjalan di bawah gerimis yang perlahan menjadi deras untuk menyamarkan airmata kita, berdua.

Akupun muak, Ay... sama sepertimu

Aku ingin bersamamu, menghias rumah hujan kita dengan seribu senyum.
Menata setiap perabot sesuai dengan keinginan kita. Aku yakin selera kita sama, karena kau separuhku.
Akan kutanam banyak bunga Lily di halaman depan, juga dedaunan hijau kesukaanmu.
Akan aku biarkan ilalang tumbuh tinggi di kebun belakang, karena aku tahu kau suka melihatnya menari saat angin atau hujan menggodanya.
Kupasang banyak lentera di setiap sudut dinding kayunya. Sinarnya yang redup akan membuat kita nyaman, karena kau dan aku menyukai gelap, bukan?

O ya... akan kugantung juga kelintingan besi di atas teras belakang. Kau pasti akan suka mendengar alunan merdunya saat angin berhembus. Juga kincir angin kertas di setiap sudut rumah kayu kita.

Kita pasti tak akan kesal mendengar gelak tawa juga celoteh anak-anak. Melihat mereka berlari dan bercanda di depan perapian. Bernyanyi sembari bertepuk tangan saat hujan mengunci kita di dalam rumah.

huuuuft....
Aku terlalu lelah dengan semua realita, terlalu mual dengan segala urusan cinta.

Dan di sinilah aku, duduk sendiri di teras belakang rumah kita. Memandangi senja dalam kepung sunyi.
Menunggu kalian pulang :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar