Senin, 10 Desember 2012
Aku, Hujan & Separuhku
Dulu sewaktu kecil, setiap kali hujan turun, aku lebih suka menyendiri. Duduk di depan jendela sambil mengeluarkan jemariku dan menggenggam rintiknya. Aku selalu tertawa setiap kali tetesnya memantul ke wajahku, tak peduli walau keesokan harinya aku terkena flu atau demam. Ibu selalu memarahiku, omelannya bisa sepanjang rel kereta api :D
Saat ku remaja, hujan membawa kesan romantis. Aku tak lagi duduk di depan jendela sambil bermain air. Pulang sekolah hujan-hujanan bersama pacar sepertinya jadi rutinitas rutin. Pamer kemesraan di depan teman-teman rasanya bangga. Ada saja alasan menunggu hujan di koridor sekolah :p
Setelah aku dewasa, hujan tetap memiliki nilai romantis, bahkan semakin kental. Entah berapa lembar buku harian habis kutulisi dengan latar belakang hujan. Selalu hujan dan hujan. Puluhan puisi dan syair cinta tercipta saat hujan turun dan mengepungku di tengah derasnya.
Hingga lembaran terakhirpun tetap ada hujan di sela-sela kalimatnya. Hanya saja di lembaran-lembaran terakhir tak ada lagi tawa saat mengenang hujan. Hanya ada hujan dan banyak kehilangan.
Sejak saat itu, setiap kali hujan datang aku kembali suka menghabiskan waktu di balik jendela. Menghitungi setiap tetesnya dengan airmata. Merapalkan amarah dan kesedihan dalam bisikan berlatar dendam. Aku benci hujan. Aku benci dia yang selalu mengambil milikku satu persatu.
Tetapi sang waktu semakin mendewasakan pikirku, aku memang tak bisa melawan takdir. Garis Tuhan tak akan bisa dipatahkan, dan aku mengalah.
Aku mulai menunggu hujan dengan hati yang baru, aku mencoba berdamai dengannya, menikmati tetesnya yang dulu selalu menyelimutiku dengan sejuknya. Memutar kembali tawa yang dulu pernah terekam di tengah rinainya, dan aku bisa.
Setelah itu hujan pun mengenalkanku pada separuhku yang sangat mencintainya. Melalui syairnya aku tahu, kalau hujan tak selalu membawa kesedihan. Bersahabatlah dengannya, maka hujan akan meleburkan dukamu melalui setiap tetesnya. Hujan akan memelukmu dengan rinainya, mengajakmu menari di bawah derasnya.
Aku tertawa, kini aku bisa kembali tertawa saat hujan turun, bersamanya, separuhku yang mengajariku begitu banyak coreng kehidupan yang dapat kita hapus dengan hujan.
Tak perlu jabat tangan untuk saling mengenal, tak perlu tatap muka untuk saling menyayang. Selama hati terpaut, ikatan kasih akan terjalin erat.
Love You, Ayy :)
* Aku tulis ulang dari notes di FB
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar