Sejak kecil, aku begitu mencintai hujan. Meski tak selalu mengerti, tapi hujan adalah saat yang paling kunanti. Menunggu kedatangannya, bagai menunggu Ayah pulang dari ladang sambil membawaku sekeranjang buah kemunting. Aku menyukai hening sekaligus riuhnya yang berlomba mencipta derap di atap rumah. Memandanginya saja, yang berayun lucu di helai-helai ilalang di ladang kami, membuat perasaanku begitu bahagia. Sesekali, aku akan mencuri-curi waktu ketika Ibu lengah, agar aku bisa duduk di beranda, dan mengulurkan jemariku, meresapi dinginnya yang membius jiwa. Meski setelah itu Ibu akan marah dan berkali-kali memperingatkanku akan ketahanan tubuhku yang memang kurang. Aku selalu mencintai hujan…
Aku selalu mencintai hujan...
Kalimat itu yang mampu menghapus semua dukaku. Akupun selalu mencintai hujan, hujanku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar