Kamis, 13 Desember 2012

Risalah Hujan Yang Kuwartakan Untukmu

Catatan ini milik hujanku, tulisan yang telah menjadi hartaku yang paling berharga :)


Sejak usia seumur jagung, aku begitu menyukai hujan. Ya, suka. Aku masih menjabarkan perasaan bahagia yang membuncah di hatiku ketika panah-panah airmata langit menghujam bumi itu sebagai perasaan suka. Hujan adalah salah satu saat yang paling kutunggu, selain senja. Menunggu kedatangannya dengan debar-debar penuh asa bagai menunggu Ayah pulang dari ladang dengan sekeranjang penuh buah kemunting di tangan kanan. Dalam minda kanak-kanakku, hujan adalah tangisan pilu bidadari yang sedang melantunkan kidung-kidung penawar lara karena kehilangan selendangnya. Aku begitu menyukai hujan. Hening sekaligus riuhnya yang berlomba mencipta derap di atap rumah adalah harmonisasi nada sempurna pemusik tanpa nama.
           
 Memandanginya saja, yang berayun lucu mengikuti tarian angin di helai-helai ilalang di ladang kami, menghadirkan selaksa bahagia yang tak dapat dijangka. Sesekali, aku akan mencuri-curi waktu ketika Ibu lengah agar aku bisa duduk menjuntaikan kaki di beranda, dan menadahkan tanganku, menikmati anak-anak hujan yang berlompatan di telapak tangan dan meresapi dinginnya yang menembus sumsum terdalam. Meski setelah itu Ibu akan mengomeliku panjang lebar dan berulangkali mengingatkan akan ketahanan tubuhku yang rentan, aku akan tetap melakukan hal yang sama setiap ada kesempatan. Aku tak ingin hanya berdiri di balik jendela dan memandangi butiran hujan yang merayap perlahan dari balik kaca nako. Aku ingin menyentuhnya. Bermain dengannya.
            
Hujan adalah satu-satunya teman yang kumiliki ketika aku dan kedua orangtuaku masih tinggal di perkebunan. Dalam rintiknya, beraneka pesan rindu alam seolah disampaikan padaku. Menaiki sampan kecil sambil mengamati rintiknya yang mencipta telaga di atas permukaan air sepulang sekolah adalah hal yang sangat menyenangkan. Seolah kau diiringi prajurit langit dalam perjalanan menuju pesanggerahanmu. Kuncup nikmat yang sukar dijabarkan.
            
Lebih dari separuh perjalanan hidupku berlatar hujan. Hujan sungguhan, pun hujan yang tercipta dari pelupuk mataku. Hujan yang terkadang meruntuhkan benteng pertahananku. Namun aku selalu mencintai hujan. Perputaran masa mendewasakan pemikiranku yang mulai menapak dari kanak-kanak menuju remaja. Hujan berubah makna. Ia tak lagi merupa tangisan bidadari . Hujan adalah isyarat alam, romantisme tentang pengharapan dan kekecewaan yang acap bertandang.
            
Berlarian di bawah hujan berpayungkan daun pisang berdua kekasih adalah pengalaman indah yang selamanya tak akan terkikis dari bilik ingatan. Dengan jemari saling mengait, senyuman tak lepas di ujung bibir, kaki-kaki celana yang dilipat, hujan menjadi latar indah untuk drama percintaan ketika aku hampir meninggalkan masa remaja. Aku jatuh dalam pesonanya, lelaki hujan yang mengirimkan  jutaan sajak dengan perantaraan anak-anak hujan.
            
Dan waktu terus memutar cerita yang semakin mendewasakan pemikiran. Pada akhirnya, hujan kembali berpindah makna. Kini, dengan cinta kepada hujan yang tak pernah surut, aku semakin menyadari akan ketergantunganku padanya. Aku yang sedari dulu tak pernah menampakkan tangisku pada orang lain, membutuhkan hujan untuk menyamarkan airmata yang menuruni tebing pipiku. Aku membutuhkannya, untuk menghapus debu hitam bernama kenangan – beberapa bait kisah yang ingin kuenyahkan.

Kecintaanku pada hujan dijawab langit dengan mengirimkan seorang hawa yang juga perlahan mencintai hujan karena aku. Aku mencintainya, dengan makna abstrak, tanpa menggeser cintaku pada hujan. Selalu ada ruang kosong di hatiku untuk ia tempati. Bersamanya, aku memiliki impian sederhana: suatu hari kami akan berjalan perlahan di ladang ilalang, menikmati tetes demi tetes hujan yang perlahan menikam tanah. Aku ingin berbagi cerita dengannya, dan membiarkan hujan mengaburkan airmata kami. Sederhana, bukan?
Maka untukmu, perempuan yang datang atas nama hawa, berkerudung cahaya di ambang senja: tetaplah menjadi separuhku, dan bersama kita akan menulis kisah kita berkalamkan hujan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar