Minggu, 09 Desember 2012

Hujanku

Aku selalu menyebut dia "Hujanku".
Aku dan dia sama-sama mencintai hujan. Dengan narsisnya terkadang kami menyebut diri kami sebagai peri hujan :p
Aku mengenalnya dalam maya, setelah melalui beberapa fase kami menjadi terikat kuat, hujan salah satu pengikat kami. Aku mencintai dia dalam artian abstrak. Tapi tentang perkenalan kami mungkin lain kali saja kubahas, saat ini aku hanya ingin menumpahkan perasaaku dalam sebuah goresan.

Andai kesalahpahaman bodoh ini tak ada, andai kami sama-sama dewasa dalam berpikir, mungkin aku tak akan merindukan dia sedalam ini. Aku rindu syair-syair hujannya yang tertuju padaku, rindu senyum dan tawanya yang selalu mampu membuatku ikut senang, aku rindu semua akan dia.

Aku selalu mengiriminya uantaian rinduku pada hujan, bagi kami hujan adalah ungkapan rindu kami yang terpisah oleh ribuan kilo jarak. Hhhhh... aneh memang, tak pernah kami bertatap muka, tapi rasanya begitu dalam. Ada yang terkoyak di sini, di dalam sini, setiap kali dia menghilang.
Apa dia merasakan rindu yang sama?

Miss you, Rain... bahkan mendung hari ini hanya menggantung, tanpa sapa rindumu melalui rinainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar