Senin, 31 Desember 2012

Aku Pulang ( By. Aya )



Dan perasaan itu hadir bersama butiran gerimis…

Pada akhirnya, di penghujung perjalanan aku berhenti di depan pagar kayu yang masih menyisakan aroma cat, di depan rumah hujan kita. Membiarkan mindaku memutar ulang fragmen-fragmen yang berloncatan membentuk peristiwa-peristiwa silam. Mengisi rongga dadaku dengan sebanyak mungkin udara untuk meredam genderang kerinduan yang ditabuh berulang.

Mengapa jantungku semakin memantulkan debaran, dengan buncahan rasa yang sukar kujabarkan?

Kuedarkan pandanganku setelah berdamai dengan perasaan, menelusuri tiap jengkal yang mampu kujangkau. Siapa yang membangun telaga mini yang dikelilingi bebatuan sungai di sudut kiri rumah hujan kita? Barisan bambu hias yang berjajar, replika rumah kayu beratap jerami, dan jembatan hias yang dibangun di atasnya. Oh, dan lihatlah, bahkan sepasang ikan Mas Koki berenang hilir mudik di antara dedaunan teratai yang mengambang. Kaukah itu?

Kriiieeettt!

Kubuka perlahan pintu pagar. Ada senyum yang menghiasi sudut bibirku. Ah, pintu itu masih menyenandungkan derit yang sama. Kau lupa untuk mengganti engselnya, hemmm?

Lagi aku terpaku dengan pesona yang ditawarkan di depan mataku. Bunga Lily? Bukan hanya satu, tapi berpot-pot menghiasi setiap sudut rumah, berbaur dengan suplir yang telah lebih dahulu ada. Warna putihnya bak barisan peri yang mengucapkan selamat datang padaku dengan keharumannya yang semerbak. Apakah aku bermimpi?

Kutelusuri jalan setapak menuju beranda rumah hujan kita yang berhiaskan rumput dan batu-batu kerikil. Langkah-langkah kecilku sampai pada sisi kiri rumah, yang mampu menyajikan pemandangan halaman belakang dengan nyaris sempurna. Lagi-lagi aku diberi kejutan berupa hamparan ladang ilalang yang menghijau, lengkap dengan bunganya yang memutih dan beberapa burung kecil yang menari di antara helaiannya. Ah, inikah surga yang nampak nyata?

Kuhentikan langkah sejenak, memutar pikir, sebelum akhirnya aku kembali memutar langkah, dan terhenti di anak tangga kayu rumah hujan kita. Memperhatikan beberapa lentera yang tergantung di sisi kiri dan kanannya. Aku tak sabar. Aku tahu itu kau. Kau yang membuatku akhirnya memilih untuk tidak menaiki anak tangga, tapi berlari mengelilingi setengah rumah hujan kita dan berhenti di teras belakang. Apa yang kutemukan? Kelintingan besi yang menyenandungkan sambutan kerinduan, juga kincir angin kertas yang berulang memutar pesan dari lubuk hatimu yang terdalam.

Dan itu kau! Dalam balutan gaun putih, setangkai bunga ilalang menjadi hiasan rambutmu: duduk sendirian menikmati senja jingga berteman dua cangkir cokelat panas. Tak perlu kutanya, aku tahu cangkir yang satunya lagi untuk siapa. Kau! Ya, kau, untuk sejenak letakkan dulu cokelat panasmu dan palingkan wajahmu dari panorama senja yang memanja sukma, pandang aku! Aku ingin melihat riak di bening indahmu ketika aku berkata,

“Aku pulang!”




Minggu, 30 Desember 2012

Rumah Kita

Kau dan aku...
Mungkin kita berdua sudah berada pada titik terjenuh kehidupan kita.
Kau bilang tak lagi mampu merasakan bagaimana mencintai, dan aku pun sepertinya mulai mati hati.

Lelah...
Aku tahu kau juga merasakan itu, sama sepertiku. Ingin menghilang dan membangun dunia milik kita sendiri.
Bercengkrama berdua, berbagi hati.

Ingat apa impian kita?
Duduk berdua di padang ilalang, memandangi jingga senja hari. Atau berjalan di bawah gerimis yang perlahan menjadi deras untuk menyamarkan airmata kita, berdua.

Akupun muak, Ay... sama sepertimu

Aku ingin bersamamu, menghias rumah hujan kita dengan seribu senyum.
Menata setiap perabot sesuai dengan keinginan kita. Aku yakin selera kita sama, karena kau separuhku.
Akan kutanam banyak bunga Lily di halaman depan, juga dedaunan hijau kesukaanmu.
Akan aku biarkan ilalang tumbuh tinggi di kebun belakang, karena aku tahu kau suka melihatnya menari saat angin atau hujan menggodanya.
Kupasang banyak lentera di setiap sudut dinding kayunya. Sinarnya yang redup akan membuat kita nyaman, karena kau dan aku menyukai gelap, bukan?

O ya... akan kugantung juga kelintingan besi di atas teras belakang. Kau pasti akan suka mendengar alunan merdunya saat angin berhembus. Juga kincir angin kertas di setiap sudut rumah kayu kita.

Kita pasti tak akan kesal mendengar gelak tawa juga celoteh anak-anak. Melihat mereka berlari dan bercanda di depan perapian. Bernyanyi sembari bertepuk tangan saat hujan mengunci kita di dalam rumah.

huuuuft....
Aku terlalu lelah dengan semua realita, terlalu mual dengan segala urusan cinta.

Dan di sinilah aku, duduk sendiri di teras belakang rumah kita. Memandangi senja dalam kepung sunyi.
Menunggu kalian pulang :)


Selasa, 25 Desember 2012

Pulang

Kali ini aku kalah, Rain...
Kalah pada airmata yang tetap bertahan walau hujan telah menghujamku
Kalah pada goresan yang semakin lama kurasakan semakin dalam
Kalah pada sayap-sayap patahku yang tak mampu terentang walau kupaksakan

Kucoba mengukir senyum
Tapi hanya miris
Hanya pahit yang terpahat

Aku pulang padamu, Rain...
Bersama deras yang memelukku
Buka pintumu
Biarkan aku masuk dan berbaring dalam dekapmu


Minggu, 23 Desember 2012

Sebuah Janji

Saat hujan menyapa bumi
Saat rinainya terjatuh pada jemariku yang terulur dari balik jendela
Saat pantulannya memercik riang ke wajahku
Saat aku tak bisa menghentikan laju hujan yang lain

Menatap hampa pada kejauhan
Menatap tirai hujan yang semakin rapat
Menghitung ribuan rindu yang tergores pada derasnya
Menghitung ribuan luka yang pernah terekam di sana

Aku hanya tersenyum
Mencoba untuk tetap tersenyum
Walau pisau nasib terus saja menggores perlahan
Tapi aku berjanji akan tetap tersenyum
Berjanji pada diriku sendiri
Dan pada hujanku...

Karena katanya, "Kita adalah wanita-wanita hebat yang selalu bisa mengubah airmata menjadi senyum."


Sabtu, 22 Desember 2012

Mesin Penenun Hujan (Frau)

Mesin Penenun Hujan

Merakit mesin penenun hujan
Hingga terjalin, terbentuk awan
Semua tentang kebalikan
Terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu
Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku, Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan
Merakit mesin penenun hujan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita

Entah kenapa ada sakit saat ku-eja bait demi baitnya. Seperti ada rasa benci yang tak bisa kulukiskan dengan aksara.

Sekali Ini Saja (By : Aya)

Aku hanya ingin menikmati senja denganmu, sekali lagi…

Sekali waktu, kukira kau tak lagi ingin mendengarkan nada-nada hujan yang mengeja hikayat luka di atap rumah. Mungkin biramanya sedemikian sumbang untuk hati-hati yang pincang. Atau mungkin kau memang tak pernah ingin membiarkan jejak kisah bertandang tanpa diundang, merobek luka lama seumpama tajam ilalang mengiris tungkai jelita yang malang. 

Tapi aku ingin duduk di sini, selurus bayang mampu kupandang, setatap tikaman hujan mampu kusandang. Aku ingin di sini menyambut pesan alam lewat kepak sepasang bangau sebelum senja meminta pulang. Lembayung memang terlihat indah mendekap tiang-tiang perahu nelayan, dengan senandung kenang bertatah bimbang. Dan aku ingin kakiku tetap terpancang di sini, di sisi dermaga yang selalu lengang.

Kau lihat lentera di anjungan perahu itu ? Kadang diam, kadang berayun dipermainkan angin petang. Entah berapa aksara bertebaran menjelma swargaloka kata di tirai tanpa ambang. Aku hanya ingin meminta sedikit waktumu, menemaniku di sini seraya memetik tangkai-tangkai bunga ilalang. Tak kuminta senja yang lain kecuali hari ini, sebab kau dan aku sama tak tahu kapan ajal menjemput badan.

Sementara membiarkan jejak kisah melandai di sepanjang pantai, aku tak pernah ingin membagi senjaku dengan yang lain. Cukup buatmu, seolah hela nafas dalam tiap nadi kehidupanku. Walau pada akhirnya jatuh, menitik, menembus sukma tanah, dan tak kembali padamu…


aku hanya terlalu menyayangimu
tanpa ingin membagi senjaku
untuknya, atau yang lain...






Sudahi Saja (By : Aya)

Sudahlah, sudahi saja. Setelah semua usai kita masih tetap bisa memandang senja, walau tak bersisian. Bukan masalah besar, bukan? Senja itu akan selalu jadi bintang dalam lensa bidikanmu. Dan pada akhirnya kita akan kembali membaca isyarat langit dengan pemahaman yang tak pernah sama. Selalu begitu. Seperti buih yang selalu menepi ke bibir pantai. Dia datang dan senantiasa berulang.

Sudahlah, sudahi saja. Bila bersamaku tak kunjung membuat senyummu mekar tersungging, maka aku akan memilih setapak jalan tanpamu. Aku tak pernah khawatir perdu liar atau ilalang tajam di kanan dan kiri akan merobek kulit betisku. Tetap saja darah itu akan berwarna merah, bukan? Darimanapun ia berasal, ia tak akan menjelma warna yang lain.

Apa yang harus kita pertahankan, atau kita pertimbangkan untuk selalu kita jaga? Perasaan masing-masing? Bahkan engkau dan aku saja tak pernah memiliki jawaban seperti apa rupa hati kita yang terlanjur berkeping-keping. Kebersamaan kita bukan untuk merekatkan pecahan satu sama lain, melainkan hanya menambah retak. Tak memiliki arti. Mungkin sesaat sempat bermakna, tapi setelah itu? Hampa !

Kita memang tak perlu memaksakan diri untuk selalu berada pada suatu ikatan, Sayang. Pada akhirnya kita boleh mengaku kalah, pada suatu hal yang tak sanggup kita perjuangkan. Sepandai-pandainya manusia, kita hanya bisa berusaha. Tapi segala ketetapan berada di tangan-Nya, Sang Pengatur Lakon Kehidupan. 

Sudahlah, sudahi saja. Agar raga kita tak terus lelah bertarung dengan pikir yang tiada henti. Meski pada suatu ketika nanti akan terkesan canggung, namun seperti itulah kenyataannya. Bukankah lebih baik kita terluka saat ini, daripada nanti ? Bukankah lebih baik kita mencegah, sebelum kita harus mengobati hati?

Sudahlah, sudahi saja. Cukup sampai di babak ini saja. Bukankah kita dipertemukan oleh senja? Maka kita sudahi juga segalanya dalam dekapan senja. Senja terakhir yang kita punya…




Jumat, 21 Desember 2012

Pelangi Di Tengah Hujan

Hujan sore ini deras, Ay, dan aku nekat bermain di bawahnya.
Merasakan tetes demi tetesnya yang menusuk lembut kulitku
Menikmati dingin yang menyusup melalui pori-pori
Tapi aku suka

Mengendarai motor perlahan
Menerjang riak air yang tergenang di lubang-lubang aspal
Melawan angin yang berhembus tak kenal kasihan
Tapi aku tertawa gembira di tengahnya

Aku tak peduli walau make up di wajahku luntur
Tak peduli walau tatanan rambutku rusak dan berantakan
Membiarkan telapak kakiku telanjang tanpa high heels
Semua membuatku bahagia

Bahkan aku bernyanyi riang di antara derasnya
Mengabaikan puluhan pasang mata yang melihatku dari tempat-tempat berteduh

Kutolak payung yang terulur saat kuparkir motor di depan kantor
Untuk apa? Aku kan sudah basah?
Makian kesal dari teman-teman tak kuhiraukan
Aku tahu mereka cemas, tapi aku kan sedang senang?

Sambil bersenandung aku berganti pakaian
Memakai jaket untuk menghangatkanku
Duduk di meja kesayanganku dan membuka facebook
apa yang kudapat?

Coklat hangat kirimanmu membuatku melayang

Kutatap hujan yang masih turun di luar sana
Dan aku tahu kalau rinduku bersambut
Haaah... Hujan tak pernah membuatku bersedih
Seperti kamu, Rain...

Ditengah deras hujan kulihat pelangi :)


Selasa, 18 Desember 2012

If We Hold On Together

Untuk hujanku :)

If We Hold On Together by. Dianna Ross

Don't lose your way
With each passing day
You've come so far
Don't throw it away
Live believing
Dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story
Faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart

 

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

 

Souls in the wind
Must learn how to bend
Seek out a star
Hold on to the end
Valley, mountain
 

There is a fountain
Washes our tears all away
Words are swaying
Somebody is praying
Please let us come home to stay

 

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by
For you and I

 

When we are out there in the dark
We'll dream about the sun
In the dark we'll feel the light
Warm our hearts, everyone

 

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
As high as souls can fly
The clouds roll by
For you and I

Percakapan Hujan

Kau yang sendirian dalam kepung orkestra alam merupa petikan dawai-dawai hujan. Kemana akhirnya luka bermuara?

Kau yang sendiri membasuh luka di bawah hujan. Biarkan derasnya meluruhkan segala duka. Rasakan saja dalam diam alirannya yang perlahan turun menyentuh bumi dan tenggelam di dalamnya.

Senin, 17 Desember 2012

Hujanku yang kuat :)

Lagi-lagi aku dan hujanku memiliki satu kesamaan, kali ini nasibpun kompak dan sehati :D
Ah Rain... mungkin kita memang separuh yang terpisah, haruskah kita kawin lari saja, ahahaha. Kalau bersamamu seberat apapun masalah yang membebani pundakku akan terasa ringan. Aku bahkan bisa tertawa menceritakan lukaku.

Kali ini aku mendengarmu lagi, Rain... kau menangis di antara senyummu, dan itu cukup membuatku terkoyak. Aku mengutuk dia, mereka, dan semua yang telah membuatmu berduka. Ingin rasanya mampu melindungimu dari semua orang, agar tak tumpah lagi air dari matamu. Tapi bagaimana aku bisa begitu, kalau terkadang jemariku sendiri mampu menggores hatimu?

Berjuanglah, Rain... jadilah kuat bersama hujan kita. Aku yakin kau mampu melewati semua :)


Minggu, 16 Desember 2012

Rindu

Lelahku, Ayy...
Rutinitas menjelang akhir tahun ini seperti ombak yang menggulung hariku. Aku hanya bisa menjalani dengan hati lapang saja. Tak bisa... bukan... bukan... bukan tak bisa, tapi tak mau, aku tak mau mundur.
Setiap hari berangkat setelah subuh, pulang menjelang tengah malam, ini benar-benar hebat untukku, tapi aku suka, entahlah. Walau tubuh seperti patah dan menjadi serpihan (lebay) tapi hatiku puas.

Terkadang mengeluh itu wajar menurutku, tapi toh aku tetap maju, seperti kamu, hujanku yang selalu mampu menenangkan badai terganas sekalipun.

Dan seperti hari ini, aku lelah, Ay...
Tapi aku tetap tersenyum. Aku ingin berbaring dalam peluk sayap-sayapmu, mendengarmu melagukan syair-syair hujan dengan nada penuh rindu ( walau nyatanya kau sedang sibuk dengan jejung-mu, uuugh...#robek2jejung #sampediBOLDtulisannya ).

Tapi aku tetap merasakan hadirmu, Ay... bayangmu datang melalui hujan kita yang mengguyur deras di soreku yang dingin ini. Aku merasakan semangatku menyala kembali, dan aku siap berlari dan menari lagi di bawahnya.

I miss you, Rain... and still loving you :)


Sabtu, 15 Desember 2012

Bodohku

Padahal aku hanya ingin menjadi yang terbaik di depanmu, nyatanya aku justru mempermalukan diriku sendiri. Walau kau bilang tak apa, tapi aku masih belum lega.
Seperti ada kabut tebal yang menghalangi pandang mataku, semua tampak kabur dan tak jelas. Seperti ada gelisah yang terus mendekapku, seperti ada resah yang terus mengikuti langkahku.
Walau aku terus menggelamkan diri dalam kesibukanku, pikiran-pikiran buruk itu terus mengejarku. Lagi-lagi sifat ceroboh dan kekanakanku menjadi duri untuk langkah kita. Aku ingin berdiri di bawah hujan, dan meneriakkan kebodohanku dengan lantang.

Andai aku bisa menjaga hatiku...
Aku selalu mencintaimu, Rain...


Jumat, 14 Desember 2012

Rain... Maaf...

Ada sesuatu yang mencengkeram perutku, rasanya perih dan tegang. Salahku sih, stress juga aku yang buat sendiri #getok2pala

Ini masalah awalnya juga dari aku. Kalo aku yang dulu ga ada hati ama Rain sih mungkin sebodo amat, yang penting hepi. Tapi sekarang ga bisa begitu, kalo dia sedih aku ga bisa cuek aja. Kalo dia marah mampuslah aku, bakal patah semua hatiku (emang hatiku ada berapa?).

Rain... Rain... aku yang salah, selalu aku... maaf :'(
dan sekarang aku pasrah...




Kamis, 13 Desember 2012

Impian Kita, Rain...

Kecintaanku pada hujan dijawab langit dengan mengirimkan seorang hawa yang juga perlahan mencintai hujan karena aku. Aku mencintainya, dengan makna abstrak, tanpa menggeser cintaku pada hujan. Selalu ada ruang kosong di hatiku untuk ia tempati. Bersamanya, aku memiliki impian sederhana: suatu hari kami akan berjalan perlahan di ladang ilalang, menikmati tetes demi tetes hujan yang perlahan menikam tanah. Aku ingin berbagi cerita dengannya, dan membiarkan hujan mengaburkan airmata kami. Sederhana, bukan? 
Maka untukmu, perempuan yang datang atas nama hawa, berkerudung cahaya di ambang senja: tetaplah jadi separuhku, dan bersama kita akan menulis kisah kita berkalamkan hujan.
...
Bagaimana aku bisa tak menangis membaca tulisanmu, Rain? Bagaimana mungkin gerimis tak turun di dalam hatiku? Impianmu... sama seperti yang sering kali aku pikirkan. Berjalan berdua denganmu di padang ilalang saat senja hari, atau saat hujan turun, dengan jemari saling bertaut memberikan kekuatan pada hati-hati kita yang patah. Bersenandung lirih membisikkan luka yang akhirnya diterbangkan angin. Membasuh airmata yang bergulir bersama butiran hujan.
Aku ingin menangis dan tertawa bersamamu, ingin melagukan puisi hujan berdua denganmu. Bercerita tentang masa lalu dan menguburnya dalam genggaman tangan kita.
Aku menangis, Ay... dan dalam isak aku hanya bisa berkata... 
Aku mencintai kamu...



Risalah Hujan Yang Kuwartakan Untukmu

Catatan ini milik hujanku, tulisan yang telah menjadi hartaku yang paling berharga :)


Sejak usia seumur jagung, aku begitu menyukai hujan. Ya, suka. Aku masih menjabarkan perasaan bahagia yang membuncah di hatiku ketika panah-panah airmata langit menghujam bumi itu sebagai perasaan suka. Hujan adalah salah satu saat yang paling kutunggu, selain senja. Menunggu kedatangannya dengan debar-debar penuh asa bagai menunggu Ayah pulang dari ladang dengan sekeranjang penuh buah kemunting di tangan kanan. Dalam minda kanak-kanakku, hujan adalah tangisan pilu bidadari yang sedang melantunkan kidung-kidung penawar lara karena kehilangan selendangnya. Aku begitu menyukai hujan. Hening sekaligus riuhnya yang berlomba mencipta derap di atap rumah adalah harmonisasi nada sempurna pemusik tanpa nama.
           
 Memandanginya saja, yang berayun lucu mengikuti tarian angin di helai-helai ilalang di ladang kami, menghadirkan selaksa bahagia yang tak dapat dijangka. Sesekali, aku akan mencuri-curi waktu ketika Ibu lengah agar aku bisa duduk menjuntaikan kaki di beranda, dan menadahkan tanganku, menikmati anak-anak hujan yang berlompatan di telapak tangan dan meresapi dinginnya yang menembus sumsum terdalam. Meski setelah itu Ibu akan mengomeliku panjang lebar dan berulangkali mengingatkan akan ketahanan tubuhku yang rentan, aku akan tetap melakukan hal yang sama setiap ada kesempatan. Aku tak ingin hanya berdiri di balik jendela dan memandangi butiran hujan yang merayap perlahan dari balik kaca nako. Aku ingin menyentuhnya. Bermain dengannya.
            
Hujan adalah satu-satunya teman yang kumiliki ketika aku dan kedua orangtuaku masih tinggal di perkebunan. Dalam rintiknya, beraneka pesan rindu alam seolah disampaikan padaku. Menaiki sampan kecil sambil mengamati rintiknya yang mencipta telaga di atas permukaan air sepulang sekolah adalah hal yang sangat menyenangkan. Seolah kau diiringi prajurit langit dalam perjalanan menuju pesanggerahanmu. Kuncup nikmat yang sukar dijabarkan.
            
Lebih dari separuh perjalanan hidupku berlatar hujan. Hujan sungguhan, pun hujan yang tercipta dari pelupuk mataku. Hujan yang terkadang meruntuhkan benteng pertahananku. Namun aku selalu mencintai hujan. Perputaran masa mendewasakan pemikiranku yang mulai menapak dari kanak-kanak menuju remaja. Hujan berubah makna. Ia tak lagi merupa tangisan bidadari . Hujan adalah isyarat alam, romantisme tentang pengharapan dan kekecewaan yang acap bertandang.
            
Berlarian di bawah hujan berpayungkan daun pisang berdua kekasih adalah pengalaman indah yang selamanya tak akan terkikis dari bilik ingatan. Dengan jemari saling mengait, senyuman tak lepas di ujung bibir, kaki-kaki celana yang dilipat, hujan menjadi latar indah untuk drama percintaan ketika aku hampir meninggalkan masa remaja. Aku jatuh dalam pesonanya, lelaki hujan yang mengirimkan  jutaan sajak dengan perantaraan anak-anak hujan.
            
Dan waktu terus memutar cerita yang semakin mendewasakan pemikiran. Pada akhirnya, hujan kembali berpindah makna. Kini, dengan cinta kepada hujan yang tak pernah surut, aku semakin menyadari akan ketergantunganku padanya. Aku yang sedari dulu tak pernah menampakkan tangisku pada orang lain, membutuhkan hujan untuk menyamarkan airmata yang menuruni tebing pipiku. Aku membutuhkannya, untuk menghapus debu hitam bernama kenangan – beberapa bait kisah yang ingin kuenyahkan.

Kecintaanku pada hujan dijawab langit dengan mengirimkan seorang hawa yang juga perlahan mencintai hujan karena aku. Aku mencintainya, dengan makna abstrak, tanpa menggeser cintaku pada hujan. Selalu ada ruang kosong di hatiku untuk ia tempati. Bersamanya, aku memiliki impian sederhana: suatu hari kami akan berjalan perlahan di ladang ilalang, menikmati tetes demi tetes hujan yang perlahan menikam tanah. Aku ingin berbagi cerita dengannya, dan membiarkan hujan mengaburkan airmata kami. Sederhana, bukan?
Maka untukmu, perempuan yang datang atas nama hawa, berkerudung cahaya di ambang senja: tetaplah menjadi separuhku, dan bersama kita akan menulis kisah kita berkalamkan hujan.






Pagiku

Selamat pagi, cinta....
Gimana tidur kamu semalam? memimpikan aku kah? Hehehe berharap tak apa kan? :p
Aku sedikit kesal pagi ini, karena raja cahaya lagi-lagi mulai unjuk gigi. Dengan sombongnya dia menutup kehadiran hujan kita di batas fajar. Tak bisakah dia mengalah dulu untuk setengah tahun ini? Kemarin dia sudah mengambil jatah hujan untuk menemani kita dengan kemarau panjangnya :(

Tapi terserah dia juga sih, mau bersinar sebenderang apapun aku tak peduli. Ribuan rinai hujan masih menyejukkanku di dalam sini. Akan aku coba untuk menikmati keindahan dari sisi yang berbeda ini saja.
Untuk kecerian yang kau kirim di dalam hidupku... Terima kasih, Rain... mmuach


Rabu, 12 Desember 2012

Note Pendek

Sungguh kau adalah separuhku, Rain...
Gundah yang sejak tadi menyerangku sirna oleh senyummu, entah aku tanpamu :)
Kau selalu mengirim tawa di lembaran hariku, kau itu peri ceria yang sesungguhnya.
Entah aku harus bilang apa, sebuah keberuntungan aku memilikimu.

Nih, ambil semua hatiku... khusus buat kamu, hujanku :)



Gundahku

Rain...
Pagi ini seperti ada yang salah deh. apa ya? Rasanya ga lengkap, ada sesuatu yang kurang. Apa aku salah tidur? Mimpi burukpun sepertinya enggak.
Ada rasa resah yang ga bisa dijelaskan, ada gundah yang tak bisa diartikan.
Apakah semua akan baik-baik saja?

Need you, Rain...
Aku benci mendung pagi ini, kenapa tak hujan sekalian? Agar aku bisa menghapus airmata yang ga jelas asalnya ini di tengah derasnya?




Selasa, 11 Desember 2012

Menari di Bawah Hujan

Senyum tak hentinya menghiasi bibirku sejak pagi. Aku senang, begitu senang... karena hujanku bahagia. Secuil kata-kata sederhana ini ternyata memiliki arti yang begitu besar untuknya. Terima kasih, Tuhan... karena aku hanya ingin bisa selalu membuatnya tersenyum :)

Aaah... ingin rasanya aku melempar sepatu ber-hak tinggi ini, membuangnya sejauh ku bisa. Aku ingin berlari di bawah hujan, bertelanjang kaki merasakan gelitik air yang tumpah di jalanan. Menendang genangannya di ceruk terdangkal dan melompat riang di atasnya.
Aku ingin berputar dan menari, merentangkan lenganku selebar-lebarnya. Aku ingin bernyanyi, melagukan ribuan rindu yang membuncah di dalam dada. Ingin menyerukan perasaan indah yang nyaris meledak ini.

AKU CINTA KAMU, HUJANKU...!!!!

hahaha... apalagi yang aku cari? Hingga ada terbersit rasa takut di dalam dada, takut jika kebahagiaan ini hilang dariku.
Tak boleh pesimis, walau nanti kemarau datang menjemput, aku akan tetap menjaga hujanku, di sini... di hatiku :)


Gerimis

Pagiku redup
Anak-anak cahaya mengintip malu-malu di ujung kota
Sedang anak-anak mendung perlahan memayungi
Mempersempit kesempatan cahaya untuk terbangun

Pagiku dingin
saat benang-benang perak sang surya
tak memintal kehangatan
Saat rintikan gerimis jutru merajut rapat
melebur embun dari sisa hujan semalam

Tapi tak apa
Semua itu tak akan mengurangi senyumku
Karena ada kamu yang telah hadir menyapa pagiku

Selamat pagi, sayang
Semoga tawa masih menghiasi hari kita :)



Hujan Lagi

Hari yang indah...
Sejak tadi dia terus memenuhi hariku dengan senyumnya. Dia sungguh dewasa, mungkin justru akulah yang kekanakan. Dia hampir tak pernah marah, justru aku yang terus meledak-ledak. Dia lebih bisa menjaga hatinya ketimbang aku :)
Dia lebih muda dariku, tapi pengalamannya tua (hehe bisa digetok nih kalo ketawan ngomong begini :p ).

Aku seperti sedang jatuh cinta ya? Memang, tapi cinta kami hebat, lebih penuh warna.
Bersamanya aku seperti memiliki segalanya. Teman, sahabat, kekasih, juga saudara. Apa aku terlalu berlebihan memujanya? TIDAK!!! Artinya memang begitu besar untukku.

Ah sudahlah, aku ingin menikmati hujan yang turun saat ini dari balik jendela kacaku. Mendengar ungkapan rindu yang tercurah melalui deras rinainya. Aku ingin bersenandung bersama derapnya yang menghentak dedaunan.

Bersama hujan, aku merasa dia ada bersamaku :)

( gambarnya beruang, kalo dia lihat kira2 marah ga ya? Beruang adalah rivalnya :p )

Aku Selalu Mencintai Hujan

Lihat ya... ini yang kemarin dia kirimkan padaku :)

Sejak kecil, aku begitu mencintai hujan. Meski tak selalu mengerti, tapi hujan adalah saat yang paling kunanti. Menunggu kedatangannya, bagai menunggu Ayah pulang dari ladang sambil membawaku sekeranjang buah kemunting. Aku menyukai hening sekaligus riuhnya yang berlomba mencipta derap di atap rumah. Memandanginya saja, yang berayun lucu di helai-helai ilalang di ladang kami, membuat perasaanku begitu bahagia. Sesekali, aku akan mencuri-curi waktu ketika Ibu lengah, agar aku bisa duduk di beranda, dan mengulurkan jemariku, meresapi dinginnya yang membius jiwa. Meski setelah itu Ibu akan marah dan berkali-kali memperingatkanku akan ketahanan tubuhku yang memang kurang. Aku selalu mencintai hujan…

Aku  selalu mencintai hujan...
Kalimat itu yang mampu menghapus semua dukaku.  Akupun selalu mencintai hujan, hujanku...

Senin, 10 Desember 2012

Galau

Baru kemarin sore dia menyapaku dengan senyumnya, dan aku tahu kalau memang hanya itu yang aku butuhkan untuk bisa membuatku ikut tersenyum.
Dia mengirimiku sebuah prosa, cantik, dan indah. Yang akhirnya aku tahu kalau tulisan itu menyadur dari tulisanku sebelumnya, hehehe dia pintar, dan aku tak pernah berhenti mengaguminya.
Hanya dalam hitungan detik lukaku hilang, kami kembali tertawa bersama, menyambut badai di luar sana dengan senyuman, dan aku suka.
Tapi entah pagi ini, kebodohan semalam antara aku dan orang-orang di sekitar kami mungkin membuatnya cemburu lagi, marah lagi. Ada alasan yang ingin sekali aku jelaskan. Tapi sebaiknya aku memilih bungkam dulu, hingga dia siap mendengar semuanya.
Hhhh... andai kau tahu betapa rindu ini hampir membunuhku.


Menyentuh laramu...
Semua lukamu telah menjadi milikku
Karena separuh aku dirimu...

Aku, Hujan & Separuhku


Dulu sewaktu kecil, setiap kali hujan turun, aku lebih suka menyendiri. Duduk di depan jendela sambil mengeluarkan jemariku dan menggenggam rintiknya. Aku selalu tertawa setiap kali tetesnya memantul ke wajahku, tak peduli walau keesokan harinya aku terkena flu atau demam. Ibu selalu memarahiku, omelannya bisa sepanjang rel kereta api :D

Saat ku remaja, hujan membawa kesan romantis. Aku tak lagi duduk di depan jendela sambil bermain air. Pulang sekolah hujan-hujanan bersama pacar sepertinya jadi rutinitas rutin. Pamer kemesraan di depan teman-teman rasanya bangga. Ada saja alasan menunggu hujan di koridor sekolah :p

Setelah aku dewasa, hujan tetap memiliki nilai romantis, bahkan semakin kental. Entah berapa lembar buku harian habis kutulisi dengan latar belakang hujan. Selalu hujan dan hujan. Puluhan puisi dan syair cinta tercipta saat hujan turun dan mengepungku di tengah derasnya.
Hingga lembaran terakhirpun tetap ada hujan di sela-sela kalimatnya. Hanya saja di lembaran-lembaran terakhir tak ada lagi tawa saat mengenang hujan. Hanya ada hujan dan banyak kehilangan.

Sejak saat itu, setiap kali hujan datang aku kembali suka menghabiskan waktu di balik jendela. Menghitungi setiap tetesnya dengan airmata. Merapalkan amarah dan kesedihan dalam bisikan berlatar dendam. Aku benci hujan. Aku benci dia yang selalu mengambil milikku satu persatu.

Tetapi sang waktu semakin mendewasakan pikirku, aku memang tak bisa melawan takdir. Garis Tuhan tak akan bisa dipatahkan, dan aku mengalah.
Aku mulai menunggu hujan dengan hati yang baru, aku mencoba berdamai dengannya, menikmati tetesnya yang dulu selalu menyelimutiku dengan sejuknya. Memutar kembali tawa yang dulu pernah terekam di tengah rinainya, dan aku bisa.

Setelah itu hujan pun mengenalkanku pada separuhku yang sangat mencintainya. Melalui syairnya aku tahu, kalau hujan tak selalu membawa kesedihan. Bersahabatlah dengannya, maka hujan akan meleburkan dukamu melalui setiap tetesnya. Hujan akan memelukmu dengan rinainya, mengajakmu menari di bawah derasnya.
Aku tertawa, kini aku bisa kembali tertawa saat hujan turun, bersamanya, separuhku yang mengajariku begitu banyak coreng kehidupan yang dapat kita hapus dengan hujan.

Tak perlu jabat tangan untuk saling mengenal, tak perlu tatap muka untuk saling menyayang. Selama hati terpaut, ikatan kasih akan terjalin erat.
Love You, Ayy  :)



* Aku tulis ulang dari notes di FB


Miss You...

Rasanya sakit jika hanya mampu memandangmu dari sini, hanya melihatmu tanpa mendapat sapamu, itu seperti kiamat kecil untukku.
Lihat aku, please...

Aku tak ingin menjadi pengagum yang hanya berdiri di balik tirai
Aku tak ingin menjadi kekasih yang hanya mampu mengintip dari balik bayang.

Ah.. hujanku sudah turun, mungkin inilah saatnya aku menghapus semua airmataku
Aku akan membaur di bawah rinainya
Memeluk derasnya hingga ke tulang rusukku yang hilang bersamamu

Aku rindu kamu, Ayy...


Minggu, 09 Desember 2012

Hujanku

Aku selalu menyebut dia "Hujanku".
Aku dan dia sama-sama mencintai hujan. Dengan narsisnya terkadang kami menyebut diri kami sebagai peri hujan :p
Aku mengenalnya dalam maya, setelah melalui beberapa fase kami menjadi terikat kuat, hujan salah satu pengikat kami. Aku mencintai dia dalam artian abstrak. Tapi tentang perkenalan kami mungkin lain kali saja kubahas, saat ini aku hanya ingin menumpahkan perasaaku dalam sebuah goresan.

Andai kesalahpahaman bodoh ini tak ada, andai kami sama-sama dewasa dalam berpikir, mungkin aku tak akan merindukan dia sedalam ini. Aku rindu syair-syair hujannya yang tertuju padaku, rindu senyum dan tawanya yang selalu mampu membuatku ikut senang, aku rindu semua akan dia.

Aku selalu mengiriminya uantaian rinduku pada hujan, bagi kami hujan adalah ungkapan rindu kami yang terpisah oleh ribuan kilo jarak. Hhhhh... aneh memang, tak pernah kami bertatap muka, tapi rasanya begitu dalam. Ada yang terkoyak di sini, di dalam sini, setiap kali dia menghilang.
Apa dia merasakan rindu yang sama?

Miss you, Rain... bahkan mendung hari ini hanya menggantung, tanpa sapa rindumu melalui rinainya.

AKU CINTA HUJAN

Kau tau kenapa aku cinta hujan?
Dulu aku suka hujan, lalu benci, dan sekarang cinta. Ada seseorang yang mengajarkanku bagaimana mencintai hujan. Saat kau menangis, berdirilah di bawahnya, tengadahkan wajahmu dan biarkan rinainya menghapus semua jejak airmatamu.
Walau guyurannya membuatku basah, tapi aku tak dingin, justru aku menjadi hangat di sini, di dalam hatiku. Ada kelegaan luar biasa saat tangisku musnah bersama hujan.