Kamis, 31 Desember 2015

Makna Sepi

Menatap langit malam yang entah kenapa tampak lebih kelam, lebih hitam. Ada sebuah misteri tersembunyi di sana, misteri akan masa lalu yang tak pernah kita tahu bagaimana tercipta. 

Aku memujamu dalam diam, melagukan senandung doa saat memejam, tanpa aksara pun suara. Aku memilih sembunyi, tanpa menghentikan langkah tuk mengikuti. Apa yang kucari? Secuil mimpi ataukah sepotong asa yang telah mati?

Dan kini disaat jarak menjadi jeda di antara kita, aku disibukkan oleh rindu yang merajalela. Disaat mata tak menemukan bayangmu.. aku memilih diam dan melagukan bisu dengan nada pilu.

Tahu kah kamu jika aku telah terjebak pada labirin waktu yang kusebut masa lalu?




Senin, 14 Desember 2015

Dear, Al... ( Pengharapan )

Al...
Aku mencoba mengeja binar pada mata teduhmu, mencoba membaca isyarat tanpa kata yang terpancar di sana, apakah itu rindu? Setelah jeda memisahkan kita beberapa waktu yang lalu, apakah kau juga begitu ingin bertemu?

Sentuhan itu masih sehangat dulu, Al. Rasa nyaman memelukku kala jemarimu membuai kulitku.

Tidakkah kau bertanya kenapa takdir mempertemukan kita? Sementara dia tahu jika semua hanya fana. Kenapa takdir membiarkan rasa itu tumbuh tak terkendali, padahal dia tahu itu tak kan abadi.

Terkadang ego berteriak, menjeritkan keputusasaan, memanggil semua asa untuk kembali. Sedangkan kita tau kalau semua ini telah usai, sudah selesai.

Apa yang aku bisa, Al? Hanya bisikan doa yang terus kusenandungkan setiap malam sebelum mimpi merampas semua kesadaranku. Hanya mampu  mengucapkan seribu pengharapan agar takdir tak merampas senyuman dari bibirmu.

Al.... jika nanti kita diberi kesempatan untuk kembali hidup di kehidupan berikutnya... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? 



Kamis, 03 Desember 2015

Di Ambang Lelahku

Sepertinya aku sudah berdiri di ambang lelahku. Aku hanya tinggal memilih meneruskan keputusanku untuk berhenti selamanya atau kembali dan memulai semuanya dari awal?

Aku terjebak, tenggelam semakin dalam, karam. Masa lalu mengikatku, meleburkanku bersama murka, dendam, juga kebencian yang tak juga redam. 

Ingin menyerah, entah bagaimana  caraku meniadakan semua salah. Lelah.
Andai aku marah apakah takdir akan mengalah? Yang kubisa hanya pasrah.

Bagaimana aku bisa berdiri jika hanya berjuang sendiri? Bagaimana bisa kubangun kekuatan diri jika hanya berteman ilusi?

Aku manusia yang katanya memiliki hati. Tapi bagaimana bisa merasa jika semua indera seperti mati?

Muak dengan realita.
Aku ingin terlelap dalam mimpi yang tak bertepi. Ingin menangispun percuma, karena air mata tak akan pernah bisa menyelesaikan apa-apa.



Minggu, 29 November 2015

Kenangan Kita

"Al..." panggilku saat kumasuki ruangan bercat putih itu.

Pria separuh baya yang sejak tadi serius menekuni dokumen di atas mejanya mendongak, saat melihatku dia segera tersenyum, "Hai," jawabnya sambil memutar kursinya ke samping.

Segera saja aku mendekat dan berdiri di antara kakinya yang terbuka, kukalungkan lenganku di bahunya. Pria itu terkekeh pelan, setelah melepas kacamata beningnya dan meletakkannya di atas meja dia pun melingkarkan tangannya di pinggangku, wajahnya menengadah, matanya yang teduh lurus menatap mataku, "Merindukanku?" tanyanya penuh percaya diri.

"Sangat," bisikku.

Pria berkulit putih itu tersenyum begitu lembut, "Maafkan aku karena tak memberimu kabar selama aku pergi," katanya dengan penuh penyesalan.

Aku hanya menggeleng pelan dan membalas senyumnya, "Tak apa, selama kau baik-baik saja," jawabku.

Setelahnya hanya ada hening di antara kami. Kubelai rambutnya yang hitam. Ada beberapa helai yang sudah memutih tapi aku suka melihatnya, dia terlihat begitu matang dan berwibawa. Kuusap pipinya yang sedikit kasar, kutelusuri bentuknya hingga ke dagu dengan ujung-ujung jariku. Kusentuh sudut bibirnya yang tipis dan sedikit memerah, dan aku tersenyum saat matanya terpejam. 

"Akupun begitu merindukanmu," bisiknya. 

Aku terdiam. Baru seminggu kami tak berjumpa, tapi rasanya jantungku nyaris berhenti karena merindu. Bagaimana jika ikatan ini kelak harus terputus? Masih mampukah aku bernafas tanpanya? Sementara hanya dengan berada di dekatnya seperti ini saja aku bisa merasakan hidup. Hanya agar bisa menyentuhnya seperti ini saja aku mampu menukar semua yang kumiliki.
Sesak itu datang lagi, sakit.. juga bahagia bercampur menjadi satu hingga akhirnya sebutir gerimis yang tercipta dari mataku jatuh di wajahnya.

Mata teduh itu kembali terbuka, ada segores luka di sana saat melihatku, "Tapi yang kubisa hanya memberimu airmata," sambungnya, "Maafkan aku."

Aku menggeleng, "Bukankah sejak awal kita sudah tahu jika kita bersama maka kita akan berteman dengan luka dan airmata?" ingatku.

Pria itu memindahkan tangannya ke tengkukku, memaksaku untuk menunduk dan mendekatkan wajahku padanya, setelahnya bibir kami tenggelam dalam sebuah kecupan singkat yang penuh arti.
"Andai aku diijinkan memberimu bahagia, maka akan kuletakkan pantai dan senja di pangkuanmu," ucapnya setelah bibir kami terpisah.

Aku terdiam, kucerna kata-katanya dan kulihat ketulusan di mata yang begitu kupuja itu. Bagaimana mungkin bahagia bisa terasa seperih ini?
"Kita terlalu banyak bermain dengan kata andai, Al... yang pada akhirnya justru menjadi boomerang untuk diri kita sendiri," kataku sambil mengusap lembut sisi bibirnya yang basah. Bisa kurasakan tatapannya yang terus tertuju padaku, tangannya mengusap lembut lengan-lenganku yang tergantung di bahunya, lalu dia menoleh sedikit untuk mencium nadiku yang menempel di dekat pipinya. Perlakuannya selalu mampu membuatku berdebar, membuatku merasa menjadi wanita tercantik di muka bumi. Dan caranya menjagaku selama ini membuatku merasa begitu dihargai.

Dia tersenyum tipis setelah kembali menengadahkan wajahnya untuk menatapku, "Bermain kata andai denganmu sudah menjadi candu. Tak kupungkiri jika itu bisa menjadi pemicu asa saat aku meragu." 

"Dan menempatkan semua mimpi kita di atas segalanya? Al... sungguh aku berharap jika semua ini hanya sekedar mimpi. Agar saat aku terbangun nanti seluruh rasa takut ini akan terlupakan," kataku lagi. 

"Rasa takut?" tanyanya bingung.

Aku mengangguk pelan, "Rasa takut kehilangan kamu, Al..."
Ya... aku harap semua ini hanya ilusi, agar luka dan rasa bersalah ini tak terus menghantui.

Pria itu mengambil tanganku yang sejak tadi membelai tengkuknya lalu dia menciumi buku-buku jariku dengan bibirnya yang hangat. 
"Kalau kamu ingin terus bermimpi apakah itu berarti ciumanku tak akan bisa membangunkanmu lagi? Lalu siapa yang akan menjadi Sleeping Beauty-ku nanti?"

Aku tertawa mendengar kata-katanya. Begitulah dia, selalu tak suka jika aku mulai berduka atas rasa yang memang tak seharusnya pernah ada.

Dia berdiri, kedua tangannya menangkup wajahku yang mulai pias. Diciumnya keningku cukup lama, lalu mengecup ujung hidungku dengan singkat, "Aku merindukanmu, sangat. Karena itu lupakan dulu masalah itu, habiskan sisa siang ini bersamaku, mau?" tanyanya.

Aku tak menjawab, rindu yang tadi begitu basah telah berubah menjadi resah.

"Atau aku harus menciummu lagi agar kamu mau menjawab iya?" godanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Aku mendengus dan memukul pelan dadanya. Setelah itu aku tenggelam dalam hangat dekapnya. Bisa kurasakan dia menghela nafas panjang, "Biar saja begini dulu, sampai takdir muak melihat kebersamaan kita. Dan jika saat itu tiba... aku akan tetap menjagamu, walau tanpa sepengetahuanmu. Tapi untuk saat ini berbahagialah bersamaku," katanya sambil membelai lembut rambutku.

Ya dia benar, aku sudah cukup lelah, jadi aku memilih pasrah saja, "Berjanjilah satu hal, Al... satu hal saja," pintaku. 

Pria itu meletakkan dagunya di ubun-ubunku, "Apa?" tanyanya. 

"Berjanjilah kalau kau akan terus berada di sisiku, sebagai apapun nantinya," bisikku sambil memeluk erat pinggangnya, kuhirup aroma parfumnya yang sangat kusuka.

Kudengar tawanya yang renyah, yang mencipta getar pada dadanya, "Asal kamu juga mau berjanji kalau kamu akan berbahagia... walaupun itu bukan denganku," jawabnya.

Aku tersenyum miris dalam pelukannya, aku hanya mampu terpejam saat kurasakan bibirnya mencium lembut puncak kepalaku, "Kau juga harus berjanji untuk hal yang sama," jawabku.

Pria jangkung itu terbahak, dia menjauhkan tubuhku dan kembali menatapku lekat, "Cukup, sayang... tadi kamu bilang aku hanya harus berjanji satu hal, kan? Jangan ditambah lagi, kamu curang," tuduhnya.

"Tapi, Al..."

"Cuma satu, tadi itu kan katamu?" godanya, dan aku hanya bisa cemberut karena kesal. 

Pria setengah baya itu tersenyum menahan geli, ditariknya pelan kedua sudut bibirku agar tercipta sebentuk senyum di sana, "Kukabulkan asal kamu mau memenuhi permintaanku," katanya.

Segera saja aku menatapnya serius, "Apa?" tanyaku kali ini.

"Kita pergi makan siang sekarang, ya? Aku sudah lapar sejak sebelum kamu datang, please?" jawabnya yang segera saja membuatku tertawa. 

Aku mengangguk, "Ambil kuncimu, Sir... aku juga mulai lapar," jawabku.

Pria itu segera saja menyambar kunci mobil di atas meja dan menarik tanganku agar mengikutinya.

Genggamannya yang hangat adalah tempatku pulang, tempat yang kujuluki sebagai rumah.

Ah... aku mencintaimu, Al.
Semoga takdir masih mau memberikan sedikit lagi waktunya untuk kita. Sedikit lagi saja.
Dan jika tiba waktunya kita kembali menjadi aku dan kamu, maka akan kusimpan semua cerita dengan rapi pada sebuah peti di sudut hati. Peti berisi kenang tentang kita, yang tak akan menua seiring usia.



Minggu, 22 November 2015

Dear, Al... ( Gerimis di Masa Lalu )

Al.... 
Coba buka kembali lembaran kenang yang pasti belum usang.

Ingatkah kamu saat pertama kali tanganku kau genggam? Kenapa? Apa kau juga merasakan getaran yang sama saat mata kita berjumpa? 

Pada sebuah senja, kau letakkan mawar jingga di atas meja kerja, apakah memiliki makna? Kau hanya tersenyum dan berlalu tanpa kata. 

Kau melambungkanku saat pelukanmu mampu hentikan tangisku. Kau bilang aku kepala batu, tapi hatiku tak memiliki titik beku. Al... kau meluluhkanku.

Setelahnya aku tak menemui satu senjapun tanpa kamu, pun kamu yang tak memiliki satu malampun tanpaku. Rindu katamu, saat sapaku tak hadir. Pilu kataku, saat senyummu tak terukir.
Kita sama-sama terjebak dalam sebuah rasa, dimana tak seharusnya ada. 

Entah berapa panjang benang yang kita pintal menjadi sebuah cerita, berapa lembar almanak yang kita lingkari dan menuliskan catatan kecil di atasnya. Semua tentang kita, Al.
Entah sudah berapa dalam aku tenggelam dalam pesonamu, memanjakan diriku dan berdiam lama di dalam pelukmu. Untuk beberapa saat aku merasakan bagaimana seharusnya hidup, merasakan udara yang sama seperti yang kau hirup.

Kau ajari aku bagaimana menjadi berani, kau ajari juga bagaimana cara mengasihi. Karena katamu tak ada manusia yang ditakdirkan sendiri.
Kau ubah airmataku menjadi tawa, kau ubah dukaku menjadi ceria. Hingga aku memahami makna bahagia yang sesungguhnya.

Hingga sang waktu menjerat kita semakin erat, menunjukkan rasa takut yang sejak awal kita sembunyikan di balik kabut.
Kita lupa, Al... kita lupa jika semua hanya hampa. Kita lupa jika semua rasa ini kelak akan kehilangan muara. Kita lupa... jika kita tak memiliki dermaga.

Dan saat takdir memaksakan pisah, kita hanya bisa pasrah. Kita terhempas, menangispun rasanya tak pantas.

Al... ketika kini rindu merupa belati, siapa yang pada akhirnya tersakiti?
Kita nikmati saja apa yang tersisa, walau hanya berupa airmata.



Jumat, 13 November 2015

Gadis Dan Irama Hujan

Di sudut halte tua, di bawah rinai gerimis senja, sebuah wajah tertunduk saja. Payung besar tak mampu menghalangi apa yang ada di baliknya.

Matanya menatap genangan dengan senyuman, tapi sudut bibirnya bergetar pelan. Mungkinkah dia tengah merangkai kenang dengan airmata yang tertahan? Dia hanya diam hingga gerimis merupa hujan.

Apa yang dia rasa? 

Sinar matanya tampak resah, alunan nafasnya terdengar serupa desah, jemarinya pun bergetar lelah. Dingin kah?

Perlahan dia menengadah, menyapa hujan dengan sudut matanya yang mulai basah, "Sayang... airmatamu tumpah," bisiknya.

Kudekati dia lalu bertanya, "Apa yang kau rasa?"

Wajah cantiknya tampak pias, bibirnya yang selembut kapas tersenyum lepas, "Aku hanya merindukan dia yang tengah merindukanku dari surga," jawabnya.

Aku terdiam, hanya mampu menatap maniknya yang sehitam malam.

Langit kembali bergemuruh, suaranya riuh.
Bibirnya terbuka, melantunkan nada, ataukah sebait doa? Airmatanya turun perlahan, dia bernyanyi seiring irama hujan.




Minggu, 01 November 2015

Aku Dan Langit Oktober

Terdiam sendiri di bawah langit Oktober yang sepi, apa yang aku cari? Serpihan hati kah? Atau sepetak harapan yang sebenarnya sudah mati?

Aku merangkak, mencoba menolak apa yang telah retak. Aku menutup mata, enggan melihat apa yang sebenarnya nyata. Bohongi aku, tak apa tipulah aku, agar luka ini tak semakin terbuka.

Hhh... Entah...
Rasa ini kuberi nama entah. Saat aku tak mampu lagi memberi fungsi bagi panca indera, akupun hanya bisa pasrah. 

Layaknya sampan, aku hanya terapung tak bertepian. Tak kulihat dermaga untukku singgah. Tak ada dayung, tak ada sauh, aku terus berlayar tak tentu arah.

Kutatap langit oktober dari tengah samudera, menikmati gelombang yang kian lama kian keras menghempas. Keduanya biru, keduanya bisu. Mana yang sebaiknya kupilih? Terbang lepas tanpa tujuan, atau tenggelam hingga karam?



Dear, Al... ( Rindu Ini Belum Mati )

Al....
Apa yang kau rasakan saat kita hanya mampu bersitatap? Ada makna di balik senyuman yang tak terungkap. Juga gagap saat lengan tak lagi saling dekap. Gelap.

Aku berjalan lesu melewati ribuan batu, meninggalkan jejak berdebu pada ujung sepatu. Sepanjang apa harus kutempuh waktu, agar luluh semua rindu yang kian membelenggu? Aku beku.

Al...
Saat gerimis tak lagi mengisahkan cerita manis, saat gerimis justru melagukan ribuan tangis, aku menyerah, Al. Sudah.
Cukup begini saja, jangan tumpahkan lagi airmata, jangan buat lagi sebuah luka, usaikan saja kita berduka. Sudah... bukankah kita sama-sama lelah?

Aku mencintaimu, Al... rasa itu masih utuh, pilar yang kita bangun juga belum runtuh. Tapi semuanya sudah tak tepat, sudah berkarat.

Rindu ini masih di sini, Al... Rindu ini juga belum mati.



Selasa, 27 Oktober 2015

Two Hearts




Siang begitu terik, tapi panasnya seperti musnah saat kumasuki sebuah klinik yang cukup besar di pinggiran kota. Aku merasa begitu lega saat pendingin ruangan menyapa kulitku, tak kuhiraukan aroma tajam obat-obatan yang menyerang indera penciuman.

"Siang, Mbak Rainna," sapa ramah seorang gadis muda dari balik meja receptionist. Seragam putih yang dikenakannya menunjukkan kalau dia adalah seorang perawat.

"Siang, Devy," balasku dengan senyum mengembang. "Dokter ada?" tanyaku setelah aku berdiri di depannya.

Gadis berambut pendek itu mengangguk, "Ada, mbak. Barusan aja pasien terakhirnya keluar. Mbak mau langsung masuk?"

Aku berpikir sebentar, "Oke deh, aku masuk, ya? Sedang nggak ada tamu, kan?" tanyaku setelah merapikan rambut ikalku yang sedikit berantakan akibat angin di luar sana.

Devy tersenyum geli melihatku, "Udah cantik kok, mbak. Yakin deh dokter bakal makin cinta sama mbak Rainna," katanya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku merasakan wajahku memanas mendengar godaan gadis muda itu. Yah... semua orang di klinik tahu kalau aku dan dokter pemilik klinik ini tengah menjalin sebuah hubungan khusus. Awal mula aku ke sini hanya sebagai pasien biasa, sampai akhirnya karena terbiasa bersama aku dan Alex, itu namanya, memutuskan untuk berpacaran dua bulan yang lalu. Sebetulnya agak lucu juga kalau disebut berpacaran, usia kami yang terpaut cukup jauh, lima belas tahun, kadang membuat orang berpikir kalau aku dan Alex adalah Om dan keponakan. Tapi aku tak ambil pusing, yang penting kami saling cinta. Klise, ya?
"Udah deh, nggak usah ngeledekin terus," sergahku sambil berlalu dari hadapannya yang sedang terkikik geli.

Kuketuk pintu putih di hadapanku dan kubuka setelah ada perintah masuk dari dalam, "Siang, dok," sapaku di antara degup jantung yang mulai berpacu kencang. Aku masih memanggilnya dokter, aku merasa kurang sopan kalau hanya memanggil namanya. Mau kupanggil kakak atau mas pun kurang cocok karena dokter Alex adalah keturunan China. Kalau kupanggil koko dia sering tertawa, jadi ya sudah kuputuskan saja tetap memanggilnya dokter.

Pria 40 tahun itu mengangkat wajahnya yang tengah serius membaca sebuah kertas di atas meja, mungkin hasil medis salah satu pasiennya. Senyumnya mengembang saat melihatku berdiri di depan pintu ruang prakteknya, "Hai," sapanya. "Duduk dulu ya? Sebentar lagi aku selesai dengan ini," katanya sambil menunjuk kertas putih di hadapannya.

Setelah mengangguk akupun duduk di hadapannya. Kuamati wajahnya yang cukup tampan, yang kembali serius dengan pekerjaannya. Kuamati mata sipit yang tersembunyi di balik kacamata minusnya, mata yang selalu menatapku dengan hangat. Lalu beralih ke keningnya yang selalu berkerut setiap kali dia menemukan kejanggalan dalam diagnosa pasiennya. Hidungnya yang mancung terpahat tegas, lalu turun ke  bibirnya yang tipis dan sedikit merah. Bibir yang selalu tersenyum lembut padaku dan... memabukkan.
Ya Tuhan... apa yang aku pikirkan di saat seperti ini? Tanpa sadar kugeleng-gelengkan kepalaku sambil memejamkan mata. 

"Kalau kamu mau ambil aja, Rain. Mumpung lagi ga ada orang." 

Aku langsung terkesiap, kudongakkan kepalaku dan bertemu mata teduhnya yang tengah memandangku dengan lurus. Kurasakan pipiku memanas saat kulihat senyuman menggoda di bibirnya, bibir yang baru saja kunikmati dalam anganku. 
"Apa sih? Aku ga mikirin apa-apa kok," sanggahku sambil membuang muka dan melihat ke arah lain.

Bibirku cemberut saat kudengar pria di depanku itu terkekeh geli, "Yakin?" Godanya lagi, kali ini tangannya mengusap buku-buku jariku yang kuletakkan di atas meja.

Debaran di dadaku semakin kencang, tangannya terasa begitu hangat, "Udah ah, cepetan kerjanya, emangnya dokter ga lapar?" kataku mengalihkan pembicaraan.

"Kamu sudah lapar?" dia balik bertanya tanpa menjauhkan tangannya dari tanganku, dan aku hanya menganggukkan kepala. Alex segera mengalihkan pandangannya ke jam dinding yang terletak di belakangku, "Masih jam satu kurang, Rain... Tumben kamu sudah lapar? Tadi pagi sarapan?" tanyanya lagi.

Kali ini aku menggeleng sambil memberikan cengiran, "Tadi ada meeting pagi di kantor, jadi aku tak sempat sarapan," jawabku sebelum pria itu mengomeliku.

Alex segera menutup map kerjanya dan berdiri, "Kita makan siang sekarang," katanya sambil menarik tanganku.

Kuikuti langkah panjangnya dengan tergesa, dan aku sedikit kecewa saat Alex melepaskan tanganku begitu kami sudah berada di luar ruangannya. 

"Dev, saya mau keluar makan siang dulu. Nanti kalau ada pasien darurat kamu segera hubungi saya, ya?" Kulihat Devy memberikan anggukan setelah mengiyakan perintah Alex.

"Pergi dulu ya, Dev," pamitku pada perawat muda itu. Dan aku kembali kecewa saat Alex justru jalan mendahuluiku. Tanpa mendengar godaan Devy aku kembali mengejar langkah dokter kesayanganku itu. 

"Kamu mau makan siang dimana?" tanya Alex setelah kami menyamankan diri di kursi masing-masing di dalam mobilnya. Kutatap pria yang duduk di sampingku itu, dia hanya fokus pada jalanan di depan kami yang mulai ramai. 'Apa dia tak tahu kalau aku rindu?' tanyaku dalam hati. 

Saat tak juga mendengar jawaban dariku, pria berkulit putih itupun memalingkan wajahnya padaku, "Rain?" dia memanggilku dengan panggilan kesayangannya.

Aku menghela napas panjang dan memberinya sedikit senyuman, "Terserah dokter aja," jawabku. Entah kenapa terkadang aku merasa kalau hanya aku yang memiliki cinta untuknya. Bukan aku tak percaya pada perasaannya, hanya saja dia jarang sekali menunjukkan kemesraan di depan umum. Malu kah? 

Aku mengernyitkan dahiku saat menyadari kalau Alex perlahan menepikan mobilnya, sedangkan tak kulihat ada restoran atau tempat makan apapun di dekat situ, "Kok berhenti di sini?" Tanyaku heran setelah mobil yang dikendarai Alex benar-benar berhenti tanpa mematikan mesinnya.

"Rainna? Kamu kenapa?" 

Pertanyaan Alex semakin membuatku bingung.

"Sejak tadi kamu cuma diam, kupanggilpun tak ada jawaban, kamu kenapa? Sakit?"

Dadaku kembali berdebar kencang saat tangan lembut Alex mengusap keningku. Hangatnya menjalar hingga ke dalam jiwa.

"Tuh kan kamu diam aja? Kenapa? Apa aku ada salah?" Tanya Alex yang kali ini mengusap pipiku dengan ibu jarinya. 

Kupejamkan mataku, kunikmati sentuhan jarinya pada kulitku. Aku ingin begini, aku ingin terus seperti ini. 

"Kamu kenapa, Rainna? Jangan buat aku cemas," aku tersenyum mendengar pertanyaan Alex lagi. 

Kubuka mataku dan kembali kutahan debar jantungku saat kulihat mata bening Alex lurus menatapku. "Aku baik-baik aja kok, aku cuma rindu," bisikku.

Bibir tipis itu tersenyum, dengan lembut dia mencium pelipisku, lalu memelukku seakan aku adalah sesuatu yang begitu berharga untuknya. Kulingkarkan lenganku di punggungnya, merasakan debar jantungnya di pipiku.

"Kamu mau ga kalau kita makan di apartemen kamu aja? Kita beli makanan dari luar."

Tawaran Alex segera saja membuatku begitu senang, dengan antusias aku segera menjauhkan tubuhku darinya dan mengangguk sambil tersenyum lebar. Jarang sekali kami bisa menghabiskan waktu berdua saja. Dan aku selalu ketagihan akan perlakuannya saat tak ada orang lain di sekitar kami.

Tawaku menular pada dokter itu, dengan gemas dia mencubit pipiku, "Kalau saja ini bukan di pinggir jalan pasti sudah kumakan kamu, Rain," bisiknya dekat dengan bibirku.

Segera saja bisa kurasakan panas menjalari wajahku, walau akupun ingin tapi rasanya tak pantas kalau di pinggir jalan begini, "Udah ah, ntar waktunya habis kalau dokter ngegombal terus," tolakku dengan pura-pura merajuk.

Alex terkekeh pelan, dia kembali melajukan Terrano hitamnya ke tengah jalan, dan kami kembali berbincang ringan sembari menikmati jalanan yang agak lengang siang ini.

#

"Dokter mau dibuatkan minum apa?" tanyaku saat kami telah tiba di apartemenku yang letaknya hanya 15 menit dari klinik Alex dan 10 menit dari hotel tempatku bekerja.

"Apa aja, yang jelas jangan terlalu manis, ya?" jawabnya sambil menata makan siang yang kami beli di restoran China yang tak jauh dari apartemenku di atas meja sofa di ruang tengah.

Teh hangat yang tak seberapa manis adalah minuman kesukaannya, segera saja kubuatkan satu untuknya dan segelas es jeruk untukku sendiri.

"Yuk kita makan, Rain!" serunya sambil menyalakan televisi dan melihat channel berita kesukaannya.

Segera saja kubawa dua buah minuman yang kubuat dan kuletakkan di meja agak sedikit ke pinggir, lalu aku ikut duduk bersila di sampingnya. Ya... kami lebih suka duduk di bawah, beralaskan karpet berbulu tebal selalu mampu membuat nyaman.

Aku tersenyum senang saat Alex menyajikan nasi dan capcay di piringku, "Makan yang banyak, ya? Jangan pernah mencoba diet tanpa makan, karena itu salah. Dan kurasa kamu ga punya alasan untuk diet, Rain," omelnya tanpa melihatku.

Aku terkikik geli, Alex selalu begitu, dia selalu mengungkit masalah diet hanya karena aku sering beralasan diet kalau dia sedang memaksaku makan, padahal itu hanya bercanda. Sebenarnya aku hanya sedang malas makan saja.

"Coba cicipin ini, enak loh," katanya sambil menyodorkan sesuap lauk dengan sendoknya ke hadapanku.  Yang seperti ini yang aku suka, perhatiannya. Baru saja aku ingin membuka mulut tiba-tiba ponselnya berdering, dengan mata menyesal dia meletakkan lagi sendoknya dan mengangkat panggilannya, "Halo," sapanya sambil berdiri dan menjauh dariku.

Kuhela napas panjang, apa salahnya sih bicara di sini saja, di sampingku? Apa ada sesuatu yang menjadi rahasia yang aku tak boleh tahu? Batinku. Kuputuskan untuk mengganti saluran televisi, aku sengaja tak mulai untuk makan karena ingin menunggu dia. Entah berapa lama dia menerima telpon di ruang tamu sampai akhirnya kudengar langkah kakinya mendekat. Aku segera mendongak dan tersenyum walau masih ada kesal di dada, "Sudah selesai?" tanyaku.

Alex kembali duduk di sampingku sambil menggaruk tengkuknya, dan saat itu aku tahu kalau ada yang tidak beres, "Rain... maaf, aku harus segera ke rumah sakit, ada pasien darurat," katanya pelan.
Benar, kan?

Aku mencoba tersenyum, mencoba mengerti akan kesibukan profesinya, dan semoga saja dia tak tahu betapa sakitnya aku saat ini, "Iya, ga apa-apa kok," jawabku.

"Aku juga ga bisa antar kamu kembali ke kantor, ga apa-apa?" tanyanya lagi sambil menyampirkan rambutku yang tergerai ke belakang telinga.

Sekali lagi aku mengangguk dan tersenyum, "Ga apa-apa," jawabku.

Alex tersenyum dan mengecup keningku sekilas, "Kamu makan, ya? Maaf ga bisa temani kamu," bisiknya sambil mengusap pipiku yang sekali lagi hanya mampu mengangguk dan tersenyum. Lalu dia berdiri dan meninggalkan aku sendiri di ruangan ini.

Kutatap makanan yang masih utuh, bahkan teh hangatnya pun belum tersentuh. Merasa kalau aku tak lagi lapar maka akupun memutuskan untuk pergi saja tanpa merapikan apa yang telah tertata di atas meja. Kuambil tas kerjaku dan melangkah keluar apartemen. Aku tak kembali ke kantor karena memang aku sudah ijin pulang cepat agar bisa bersama dengan Alex, karena itu aku memilih untuk memanggil taxi dan pergi ke area perbelanjaan saja. Mungkin dengan berjalan-jalan aku bisa meredakan kecewaku.

Kupasang earphone ke telingaku dan mendengarkan musik dari playlist di smartphone-ku. Pikiranku kembali ke dua bulan silam, dimana Alex untuk pertama kalinya menggenggam tanganku dan menciumnya dengan lembut. Tak bisa kuartikan debaran hebat di dadaku saat itu, setelah selama ini kami hanya saling mencuri pandang dan berkirim BBM, setelah selama ini aku merasa tak bisa mengalihkan pikiranku darinya, tak bisa tidur jika lama tak bertemu dengannya, dan tiba-tiba malam itu dia menggenggam tanganku, menahanku pulang, dan mengatakan kalau dia tak ingin jauh dariku. Rasanya saat itu aku adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi.
Aku ingin bersorak saat dia mengatakan, "Dampingi aku, Rain... mungkin aku tak bisa memberikan cinta yang sempurna untuk kamu, tapi sungguh aku ingin menghabiskan banyak waktuku bersama kamu." Lidahku kelu, suaraku musnah, aku hanya mampu memeluknya dan mengangguk di dadanya.

Saat taxi yang kutumpangi berbelok di tikungan, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal, siapa lagi kalau bukan Alex? Dia duduk di teras sebuah cafe yang terletak di seberang rumah sakit tempatnya praktek selain di klinik pribadi miliknya. Aku ingin membuka jendela taxi lalu menyapanya, tapi gerakanku terhenti saat kulihat sosok seorang wanita yang baru saja datang dan duduk di hadapan Alex. Segera kuminta supir taxi untuk menghentikan lajunya sedikit jauh dari mereka agar aku tahu apa yang mereka lakukan di sana.
Aku mengenal wanita itu, dokter Diana, dokter cantik yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Alex, dokter yang kurasa juga menaruh hati pada kekasihku itu. Kekasih? Entahlah... Alex hanya bilang kalau dia ingin menghabiskan banyak waktunya bersamaku, apakah itu sudah bisa disebut kalau dia adalah kekasihku? Entah.
Dokter Diana itu selain cantik dia juga dewasa, feminim, anggun, pintar, dan banyak lagi nilai plusnya di mataku. Cemburu? Kalau ingin aku berbohong maka akan kujawab tidak.

Kuhela napas panjang, mencoba meredakan rasa nyeri yang merambati dada. Aku mencoba berpikir positif, pastilah hanya untuk alasan pekerjaan mereka sedang bersama sekarang. Kuraih ponselku dan mengetikkan sederet nomer Alex sebelum kutekan tombol hijau, aku hanya ingin tahu, jujurkah dia?

"Halo, Rain?" kudengar suaranya di ujung sana saat panggilanku sudah tersambung.

"Gimana pasiennya, dok? Baik-baik aja, kan?" tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. Kulihat dia berdiri dan menjauh dari kursinya dan Diana.

Ada sedikit jeda sebelum Alex menjawab, "Ya, baik kok. Ini aku sedang ada di parkiran mau kembali ke klinik." 

Kuremas ujung rok kerjaku, "Sudah makan siang?" tanyaku lagi.

Kudengar tawa renyahnya di ujung sana, "Belum, Rain... aku masih ingin makan bersama kamu. Apa aku kembali saja ke apartemen kamu sekarang?"

Sakit, itu yang kurasakan. Jelas aku melihat sepiring makanan di depannya. Dua buah kebohongan dalam satu helaan napas, "Ga usah, dok. Aku udah kembali ke kantor."

"Oooh..." jawabnya lesu. Entah, aku tak bisa mengartikan nada suaranya, apalagi saat kulihat dia kembali duduk di hadapan dokter Diana sembari meletakkan telunjuk di depan bibirnya agar wanita di hadapannya itu diam. Apa maksudnya?

"Ya sudah, aku kerja lagi ya, dok? Dokter jangan lupa makan siang," ingatku sambil  menggigit bibir.

Sekali lagi kudengar kekehnya, "Kamu yang jangan lupa makan, Rain." 

Kucoba tertawa walau susah, tapi aku tak ingin dia curiga, "Iya," jawabku singkat.

"Makanan yang kita beli tadi sudah kamu makan, kan?" tanyanya.

"Sudah, dok," bohongku mengingat bahkan aku tak menyentuh makanan itu seujung sendok pun. Bahkan es jeruk yang kubuat juga tak kuminum, masih bersanding utuh dengan teh hangat yang kubuatkan untuknya.

"Nanti selesai praktek aku ke tempat kamu," kata Alex lagi. Kulihat dia memainkan serbet makan putih di hadapannya.

"Nanti aku lembur, dok. Maaf ya?" tolakku. Entah... aku takut tak bisa menyembunyikan perasaanku kalau harus bertemu dengan dia setelah apa yang aku lihat dan dengar saat ini.

Kudengar dia mendesah kecewa, "Kamu baru lembur beberapa hari yang lalu," katanya. Lalu kemudian dia seperti menutupi rasa kesalnya, "Ya sudah, jangan pulang terlalu malam, ya? Telpon aku kalau butuh sesuatu," pesannya.

"Iya, dokter. Bye..." tutupku. Perhatiannya membuatku tersenyum, tapi entah kenapa airmata justru mengalir deras saat kulihat Diana membelai lembut lengan Alex dari kejauhan. Ya Tuhan... sesakit ini rasanya jatuh cinta. 
Lalu akupun memutuskan untuk kembali ke kantor dan memilih untuk menyibukkan diri.

#

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam saat supir kantor menurunkanku di depan apartemen. Aku terus bekerja tanpa melihat jam sama sekali, kukerjakan semua apa yang seharusnya masih bisa kukerjakan esok hari hanya karena aku ingin melupakan semua resahku. Bahkan koneksi internet di ponselku sengaja kumatikan agar tak ada yang menghubungiku via bbm atau akun sosial media yang lain. Terutama Alex. Aku tahu ini kekanakan, tapi se-kekanakkanak-an ku aku tetap punya hati. Dua kali dia menelpon ke ponselku tapi kuabaikan, setelahnya tak ada kabar lagi darinya. Dan jujur itu membuatku sedih. Bahkan dia tak mencariku ke kantor selepas jam praktek di kliniknya. 

Aku terkejut saat menyalakan lampu ruang tengah, kulihat Alex tengah tertidur di sofa. Ya... Alex memiliki kunci apartemenku, bahkan sesekali dia menginap di sini. Tapi jangan salah, walau seperti itu kami sama sekali tak pernah melakukan hubungan seksual. Lebih tepatnya dia yang selalu menahan diri. Entah kenapa, padahal jujur saja aku tak akan menolak jika dia meminta. Sebutlah aku tak beretika, tapi cinta telah mematikan akal sehatku.

kudekati dia dan kulihat di meja sudah ada makanan tertata rapi. Bukan makanan yang tadi siang kutinggalkan begitu saja, tapi makanan baru yang pasti dibawakan Alex saat dia ke sini. Mie goreng seafood tanpa udang kesukaanku. 
Aku tersenyum, ada haru menyingkirkan kesalku saat perhatiannya masih tercurah untukku.

Pelan aku melangkah ke dapur, kubuatkan segelas besar teh hangat untuk kami. Karena aku harus membangunkan dia dan aku tak ingin dia sakit. Dia juga belum makan, tak kulihat piring kotor di meja, makananpun masih tampak utuh.

"Dokter... bangun. Jangan tidur di sini, nanti sakit," kataku, setelah meletakkan gelas berisi teh hangat di meja, sambil mengguncang pelan bahunya.

Kuakui refleks Alex begitu bagus, segera saja dia membuka matanya dan terduduk sambil menatapku. "Kamu baru pulang?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

Aku hanya mengangguk.

Kupejamkan mataku saat jemari hangatnya mengusap pipiku, "Malam sekali? Kamu capek? Mau makan dulu?" tanyanya.

Sesak, itu yang aku rasakan. Aku memilih untuk memeluknya dan menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat. Masih dengan mata yang terpejam, kunikmati debar jantungnya yang membentur lembut pipiku. 

"Makan dulu ya? Habis itu baru tidur. Aku yakin kamu belum makan, kan?" tanyanya lagi.

Aku tak menjawab, rasanya begitu damai bisa berada di dalam pelukannya. Usapan lembut tangannya di punggungku begitu membuai dan aku tak membutuhkan apa-apa lagi.

"Rain?" panggilnya sambil mengusap rambutku.

"Mmmh?" hanya itu jawabku.

Bisa kurasakan dia menghela napas panjang, "Kenapa tadi siang ga makan? Kamu marah karena kutinggal?" tanya Alex.

Kejadian siang tadi kembali terbayang, rasa nyeri itu kembali hadir, dan tanpa sadar aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.

"Maaf, ya?" bisiknya sambil mengecup puncak kepalaku. "Jangan seperti itu kalau marah, jangan siksa diri kamu sendiri. Kamu boleh maki-maki aku, tapi jangan menyakiti diri kamu. Maaf, Rain..." ucapnya lagi.

Akupun melepaskan pelukannya dan mendongak. Kutatap matanya yang merah, dia pasti lelah setelah seharian bekerja dan masih juga menungguku pulang. Sekuat tenaga kutenangkan perasaanku yang tadi mulai resah. Aku tak ingin membuatnya kecewa oleh sikap cemburuku yang tak beralasan.
"Aku ga marah kok. Maaf udah buat dokter khawatir," jawabku sambil mengusap pipinya. Aku tersenyum saat Alex mencium lembut telapak tanganku.

"Sejak bersama kita jarang sekali menghabiskan waktu berdua. Akupun memikirkan itu, Rain. Kamu tahu sendiri kalau pekerjaanku membutuhkan konsentrasi 24 jam, aku harus pergi kapan saja saat ada pasien yang membutuhkanku. Maafkan aku."

Aku menggeleng pelan, "Aku tahu, dan aku menyadari itu. Maaf kalau aku masih belum bisa berhenti bersikap egois." 

"Lakukan apapun yang kamu mau. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan. Saat ingin menangis, menangislah. Saat ingin bermanja, peluk aku seeratnya. Dan saat kamu ingin marah tunjukkan emosimu. Aku mencintai kamu, Rainna... mencintai seluruhmu." 

Aku terkesiap, kami memang baru saja bersama, baru dua bulan, dan aku sama sekali belum pernah mendengar Alex mengatakan cinta padaku, baru kali ini, baru malam ini.
Kejadian siang tadi kembali menghantui pikiranku, dan lagi-lagi aku merasakan sakit yang teramat sangat. Apakah ini akan menjadi kebohongan berikutnya dari dia untuk hari ini? Aku hanya bisa menunduk dan memejamkan mata, aku takut jika ini juga bagian dari omong kosongnya. Kesakitan seperti apa lagi jika hanya dengan kalimat itu saja aku sudah melambung tinggi? Sesakit apa rasanya jika pada akhirnya aku akan terjatuh? Aku takut, takut untuk merasa bahagia.

"Rain? Kenapa? Kamu ga percaya?" tanya Alex sambil menangkup wajahku yang tertunduk dengan kedua tangannya.

Aku tak menjawab, aku hanya mampu meremas kedua tangannya yang berada di kedua pipiku.

"Jawab aku, Rain," paksa Alex. Tangannya memaksaku mendongak untuk menatapnya. "Kenapa?" tanyanya lagi saat melihatku diam.

Aku menantang matanya yang menatapku lurus. Dia begitu sempurna, begitu dewasa, mapan dan tampan. Layak kah aku bahagia atas cintanya? Sementara melihat dia bersama wanita lain saja aku sudah begitu ketakutan, sekuat apa hatiku jika aku menerima cintanya? Tidakkah aku yang justru akan merusak semuanya dengan kecemburuanku? Aku takut.
Dulu aku begitu bahagia dan merasa sombong saat dia memintaku mendampinginya, penuh percaya diri seakan dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi kebohongan yang kulihat siang tadi sungguh membuatku hancur. Bagaimana jika aku kelak akan benar-benar kehilangan dia? Sesakit apa rasanya?

"Katakan keraguanmu, tolak aku jika kamu tak percaya, jangan cuma diam, Rainna," lirihnya, dan aku melihat luka di matanya yang teduh.

"Kenapa dokter jarang sekali memperlakukanku dengan mesra di depan umum?" tanyaku.

Alex masih menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Karena aku tak ingin kamu malu atau risih. Aku masih ingat saat temanmu mengira aku adalah pamanmu, tidakkah itu membuatmu malu?"

Aku mendengus pelan, "Sedikitpun aku tak pernah merasa malu, justru aku begitu bangga bisa bersama dokter," jawabku tanpa melepaskan kontak mata kami.

"Dan kamu masih memanggilku dokter, seakan menciptakan batasan di antara kita," lanjut Alex.

"Karena aku bingung harus memanggil dokter apa," jawabku lagi.

"Kamu bisa memanggilku sayang," desak Alex.

Aku terkekeh pelan, aku tahu wajahku memerah saat ini, "Dokter juga ga pernah memanggilku begitu."

"Karena aku merasa kalau kamu masih menciptakan batasan itu, sayang," bisiknya.

Jantungku berdegup kencang mendengar panggilan sayang-nya. Baiklah... mungkin malam ini kami harus melepaskan semua batasan yang mungkin mengekang kami.
"Kenapa tadi siang, dokter... mmh kamu bohong sama aku?" tanyaku berikutnya.

Kening Alex mengernyit, "Maksud kamu?"

"Dengan siapa kamu tadi siang? Dimana kamu sebenarnya saat kamu bilang kamu sedang ada di parkiran dan akan kembali ke klinik? Kenapa harus bohong dengan bilang belum makan siang padahal aku lihat ada sepiring entah apa di hadapanmu, dan temanmu saat itu. Kenapa harus membohongiku kalau katamu kamu mencintaiku? Apa kata cinta itu juga merupakan sebuah kebohongan yang lain?" cecarku menahan perih, dan tanpa bisa kutahan sebutir airmata menetes di pipiku.

"Rainna..."

"Aku melihat kalian, aku melihat dari ujung jalan di dalam sebuah taxi. Aku sengaja melakukan itu karena aku ingin tahu sejujur apa kamu," potongku. "Aku ga ngikutin kamu, aku berencana pergi shopping setelah kamu tinggalkan makan siang kita begitu aja, tapi apa yang aku lihat di jalan sungguh buat aku terkejut. Kenapa kamu bohong?" kejarku dengan isak yang kini terlepas dari bibirku.

Alex terdiam, diusapnya butiran-butiran bening yang semakin deras itu dengan ibu jarinya, "Maaf, aku hanya ga mau kamu berpikir yang bukan-bukan," jawabnya.

Kutepis tangannya yang sejak tadi menangkup wajahku, "Dengan berbohong?"

Alex meraih kedua tanganku dan menenggelamkannya ke dalam genggamannya, "Sayang... dengar ya? Jangan potong dulu kalimatku sebelum selesai," pintanya, dan aku cuma diam tanpa menjawab apapun.
"Aku dan Diana ga ada hubungan apa-apa, kami hanya teman sejawat, ga lebih. Aku berteman baik dengan  Reno, almarhum suaminya, saat kuliah dulu, dan Diana adalah adik kelas kami."

Jari tanganku menegang, dokter Diana sudah pernah menikah?

Alex mengeratkan genggamannya, "Dengarkan aku... Diana memang dekat denganku, karena dulu kami sering berkumpul bertiga. Dia selalu berusaha menjodohkan aku dengan teman-temannya, tapi sayangnya tak ada satupun yang bisa memikatku hingga umurku yang sekarang sudah berkepala 4 ini. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu aku bilang pada dia untuk menghentikan aksi jodoh menjodohkan itu, karena aku sudah memiliki kamu. Diana senang mendengar itu, dia bahkan mengucapkan selamat. Tapi sejak dulu aku tahu kalau kamu selalu merasa minder kalau sedang ada Diana di klinikku, iya kan? Aku melihat cemburu di mata kamu, Rainna."

Kurasakan wajahku yang memanas, aku kembali tertunduk, tak berani lagi menatap matanya yang sejak tadi mengurungku.

"Tapi sungguh aku suka," sambungnya sambil mengangkat daguku dengan jari-jarinya agar aku kembali menatap matanya.
"Aku suka melihatmu cemburu, tapi di sisi lain aku juga membenci hal itu karena itu akan membuat kamu sakit," katanya sambil mengusap pipiku.

Kupejamkan sejenak mataku, menahan airmata yang masih mengalir satu persatu. Ya.. Alex benar, itu menyakitkan.

Setelah yakin aku tak menangis lagi Alex pun melanjutkan kata-katanya, "Tadi siang setelah mengatasi pasienku aku berniat menelponmu dan kembali ke apartemen ini, tapi aku bertemu Diana di koridor dan dia menawariku makan siang di cafe depan rumah sakit. Kupikir tak ada salahnya menerima ajakan dia karena kami juga sudah lama sekali tak bertemu. Siapa yang sangka kalau saat itu kamu menelponku? Kalau saat itu aku jujur aku takut kalau itu akan menyakitimu, makanya aku ciptakan kebohongan itu, maaf," ujarnya lirih.

Aku masih diam, aku ingin mendengar semua penjelasan dari bibirnya.

"Aku cukup kecewa saat tadi siang tak bisa bersama kamu, dan semakin kecewa saat tahu kalau kamu akan lembur. Kukatakan hal itu pada Diana, dia menghiburku dan menenangkanku, dia bilang kalau kamu juga pasti punya kesibukan sendiri, tak hanya aku. Dan aku harus belajar untuk memahami kamu. Kupikir dia benar, selama ini selalu kamu yang mencoba untuk memahamiku, memahami kesibukanku," jelasnya panjang.

Aku menarik napas, tanpa sadar aku mengusap tangannya yang masih menggenggamku. Selama ini Alex memang sedikit cerewet kalau aku terlalu sibuk.

"Aku hanya khawatir pada kesehatanmu, aku doktermu, Rainna... aku tahu kondisimu lebih baik dari diri kamu sendiri yang selalu keras kepala, karena itu aku kurang suka kalau kamu bekerja terus menerus tak mengenal waktu," lanjutnya.

Aku tersenyum tipis mendengar alasannya kali ini, aku memang keras kepala kalau soal pekerjaan. Alex selalu bilang kalau aku ini workoholic.

"Aku sengaja ke sini malam ini untuk menunggumu. Dan kamu tahu sekesal apa aku saat kulihat makanan kita siang tadi sama sekali tak kamu sentuh? Aku ingin menelponmu dan menyeretmu pulang, tapi dua kali panggilanku tak kamu terima, pesan bbm pun tak terhubung. Saat itu aku sadar kalau kamu pasti marah padaku. Akhirnya aku mengalah, aku tak menghubungimu lagi dan memutuskan untuk menunggu kamu pulang."

Aku masih diam, tapi ada rasa lega karena aku tahu kalau kebohongan Alex siang tadi hanya karena ingin menjaga perasaanku saja.

"Aku mencintai kamu, Rainna. Maaf kalau aku baru bilang malam ini, karena kadang aku merasa tak pantas jika pria seumurku mengatakan hal-hal yang gombal seperti ini. Percayalah... ini memalukan," katanya sambil mengusap wajahnya yang sedikit memerah.

Kali ini aku terkikik geli, itukah alasannya? Kuraih tangannya dan mengecupnya lembut, "Lalu... kenapa tak ingin melakukan 'hal itu' kalau cinta? Apa aku kurang menarik? Kurang seksi? Tahukah kalau aku selalu tak percaya diri setiap kali kamu tak melanjutkan apa yang telah kita mulai saat kita hanya berdua?"

Alex sedikit berpikir, lalu dia tertawa geli saat sudah menyadari apa maksud dari kata-kataku, "Karena aku terlalu mencintai kamu, sayang," jawabnya. Dia segera meletakkan telunjuknya di depan bibirku saat aku ingin kembali membantah, "Karena aku tak ingin merusak kamu. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya jika saatnya sudah tiba, dan itu bukan sekarang," jelasnya lagi.
"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada hubungan kita, bagaimana jika kita putus setelah kamu menyerahkan semuanya untukku? Tidakkah aku akan menjadi lelaki paling brengsek di muka bumi? Itulah kenapa aku selalu menahan diriku, karena aku tak ingin menyakiti kamu, sayangku," bisiknya di depan bibirku sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat di sana.

Aku tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum, selain sakit... mencintai itu rasanya juga bisa seindah ini. Kupeluk pria di depanku itu dengan erat, "Maafkan aku," ucapku.

Kurasakan Alex balas memelukku dengan eratnya, "Ternyata kita hanya perlu bicara jujur, ya?" katanya, dan tertawa saat aku mengangguk.
"Kamu juga, Rain... jadilah dirimu sendiri, cintai aku dengan caramu sendiri. Tak perlu terlihat sempurna, karena dengan kekurangan-kekuranganmu itulah kau akan terlihat luar biasa di mataku."

Aku kembali terdiam mendengar kata-katanya. tahukah dia kalau selama ini aku selalu ingin terlihat sempurna di hadapannya?

"Kalau kamu memaksakan diri untuk terlihat dewasa, lalu siapa yang akan bermanja padaku? Tahukah kalau aku jatuh cinta pada semua kemanjaan kamu? Aku merasa begitu dibutuhkan. Saat kamu marah, saat kamu menangis, saat kamu tertawa... aku mencintai semua itu, Rainna. Kembalilah menjadi Rainna-ku yang dulu. Jangan berubah hanya karena kamu ingin mengimbangiku."

Aku tertohok, Alex tahu, dia menyadari semuanya. "Aku cuma takut kehilangan kamu," lirihku.

Alex tertawa renyah, dia menjauhkan tubuhku dari pelukannya lalu kembali menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Kalau begitu terima lamaranku, ya? Menikahlah denganku, Rainna-ku. Dampingi aku selamanya, sebagai istriku, juga ibu untuk anak-anakku kelak."

Aku ternganga, kututup mulutku yang terbuka dengan kedua tanganku, benartkah apa yang kudengar ini? Alex melamarku.

"Ah iya sebentar, mana tadi cincinnya ya?" katanya sambil merogoh seluruh kantong baju dan celananya. "Ah ini dia," katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. "Baiklah... mari kita lakukan lagi dengan benar," katanya sambil mengedipkan matanya padaku yang masih tampak shock.

Dadaku bergemuruh semakin kencang saat Alex berdiri lalu berlutut di hadapanku yang tetap duduk di atas sofa, dibukanya pelan kotak kecil itu dan mataku memanas saat kulihat sebuah cincin putih dengan mata berlian tampak berkilau dengan begitu cantiknya.
"Rainna, gadis hujanku yang memiliki senyum sesejuk tetesan embun, menikahlah denganku. Percayakan aku untuk mencintai dan menjaga kamu seumur hidupku."

kali ini aku menangis, tak mampu lagi kutahan luapan perasaanku. Aku semakin terisak saat Alex memasangkan cincin itu di jari manisku, "Kamu mau, sayang?" tanyanya lagi, kali ini bisa kulihat rasa yang sama di matanya, rasa takut kehilangan sepertiku.

Aku mengangguk, "Ya," jawabku diantara isak yang tak juga berhenti, "Ya, aku mau menjadi istrimu, dok," kuulangi lagi jawabanku saat kulihat Alex seakan tak percaya pada pendengarannya.

Segera saja Alex menarikku ke dalam pelukannya dan kami terguling di atas karpet. Tawa-tawa lega meluncur dari bibir kami. Ditindihnya tubuh kecilku lalu menghujaniku dengan ribuan ciuman yang  membuatku tergagap, "Dokter, stop!!!" seruku saat ciumannya membuatku semakin geli, belum lagi tangannya yang sibuk membelai kesana kemari. Dia sengaja, ya.. dia sengaja karena dia tahu pasti kalau aku tak tahan geli.
"Dokter... udah, aku ga tahan!!" seruku lagi saat ciumannya beralih ke leherku. Kalau saja saat ini situasinya berbeda pasti yang terasa adalah rasa geli yang lain, tapi ini berbeda, dia sengaja menggodaku, bukan memancing hasratku.
"Sayang... stop it, please!!!"

Kali ini aku berhasil, Alex menyudahi aksinya dan mengangkat wajahnya dari leherku dengan menyeringai, "Kata-kata itu yang mau aku dengar dari kamu, sayang," bisiknya sebelum mencium bibirku dengan lembut.

Sesaat kami tenggelam dalam ciuman yang membuai, memanjakan diri dalam dekapan kekasih, "Terima kasih, Rainna," bisik Alex setelah bibir kami terpisah, "Terima kasih karena telah menerimaku, memahamiku, juga mencemburuiku," godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aku merasa jengah, kupukul bahunya dan mendorongnya untuk duduk. Kali ini aku yang menagkup wajahnya dengan kedua tanganku, "Aku yang seharusnya mengucapkan itu," kataku dan aku tersenyum melihat senyumnya. "Jangan pernah menyesal karena sudah memilihku, ya?" lanjutku.

Alex terkekeh, "Aku cuma menyesali satu hal, Rain."

Aku terdiam, rasa takut mulai muncul kembali di dadaku.

"Aku menyesal kenapa baru sekarang aku berani melamarmu kalau ternyata apa yang kutakutkan tak terjadi."

Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.

"Aku selalu takut kalau kamu akan menolak untuk dijadikan istri oleh om-om perjaka tua ini, Rainna," lanjutnya yang segera saja membuatku tergelak.

Aku menopang tubuhku dengan kedua lututku lalu memeluk bahunya dengan erat, "Aku mencintai kamu, sayang. Sangat sangat mencintai kamu," bisikku di telinganya. Dan kali ini aku tak meronta saat Alex memelukku dan menghujaniku lagi dengan ciumannya.

Ah lupakan soal makan malam, itu tak penting lagi sekarang :)


END

Haaaah... ga tau kenapa malah bikin cerita beginian. Niatnya bikin yang sedih menyayat hati loh, tapi ya sudahlah, sepertinya saya gagal fokus #plaaak


Sabtu, 24 Oktober 2015

Dear, Al... ( Sesal )

Dear, Al... 
Sebenarnya kemana kau bawa pergi semua isi kepala? Kemana kau sembunyikan isi dalam dada? Aku menjelma dedaun kering yang rapuh dan tak lagi memiliki warna.
Ada masa kita saling bersitatap, tapi yang tercipta hanya pandangan penuh ratap.
Aku tergagap, Al... aku tergagap mengeja luka yang masih terbuka, aku tergagap menelan airmata yang masih saja ada.

Kita bisa berpura-pura lupa, seolah tak pernah ada apa-apa, tapi bisakah semua kenang kau hapus seketika?
Aku berang, Al... aku meradang. Kusesali semua yang pernah terjadi, sebuah tawa dari pertemuan pertama pada suatu pagi.

Kucipta beribu andai di dalam kepala, andai tak ada jumpa, andai masih bisa memilah rasa hingga tak terukir cinta, andai tak pernah ada pisah, andai tak ada yang terluka karena kita, andai... andai... mampu kuubah semua kenang saat masih bersama.

Kusesali semuanya, Al... kusesali juga akan takdir yang ikut andil meracik duka, kusesali setiap hela napas yang meneriakkan rindu dan asa yang patah.
Tapi apa yang kita bisa? Kita hanya mampu menyembunyikan tangis di balik dinding kepalsuan. Senyum kita, tawa kita, dan juga canda yang kita bagi setelah kita memutuskan rasa, adakah yang nyata?

Aku terluka, Al... dan akupun tahu kau merasakan hal yang sama.
Maafkan aku, tapi aku sungguh menyesali semua, hingga harus tercipta airmata di antara kita.

Lentera kita sudah padam, tapi jeritan rindu tak akan mampu kuredam.
Aku rindu merindukanmu, Al... rindu.




Minggu, 18 Oktober 2015

Our Feeling

Garis jingga mulai menguak senja pada batas cakrawala, meniupkan serpihan rindu yang terserak pada masa lalu, membisikkan gaung sebuah nama yang nyaris hilang ditelan masa. 

Apa yang kita mampu? Sementara takdir tak ingin begitu. 

Mungkin tak ada lagi tempat di laci doa, untuk kita dengan seribu pinta. Hanya ada cekat di ujung lidah, saat rangkaian kata tenggelam pada ujung mata yang basah. 

Cukup begini saja, saling diam pun tak apa, mata juga mampu bercerita. Tak perlu banyak kata, karena hati sudah menenun aksaranya. 
Kita sudahi saja, karena kisah kita telah sampai di ujung cerita. Apa yang kita bisa, sementara takdir pun seakan menutup mata. 

Kau ingin aku bahagia? Maka akupun meminta hal yang sama. 

Sudah cukup, Sayang... mari sama-sama belajar mengobati luka yang masih menganga, rindu yang kelak ada anggap saja sebagai pengingat jika pernah ada cinta yang sempat tercipta :)




Tersenyumlah, Sayang.


Senja kembali pergi meninggalkan jejak jingga yang kian samar. Sementara malam pun perlahan mulai merangkak, membawa serta rembulan untuk duduk di tahtanya. Tak ada selubung mendung, bahkan bintangpun tampak jelas bersinar.

Langit akan terus seperti ini, sayang... walau tak ada lagi kita di kakinya. 

Dengarkan aku, sayangku... walau gemerisik daun tak lagi membisikkan nama kita dan angin tak lagi menyampaikan pesan rindu, masih ada tetesan gerimis yang akan melagukan kisah lampau. Kita berbaik sangka saja pada sang waktu, biar dia yang tentukan kapan cerita ini berlalu.

Mungkin kita sekarang telah merupa kau dan aku, biar saja... toh seharusnya memang begitu. 

Cobalah tersenyum, tak apa sedikit kelu, setidaknya kau dan aku mampu meniadakan luka yang tak seharusnya ada.




Jumat, 16 Oktober 2015

Dear, Al... (Aku Rindu Merinduimu)

Aku lupa menghitung sudah berapa panjang garis waktu yang kulalui tanpa kamu. Isi kepalaku kosong, hati pun serasa tak berpenghuni, tak ada secuilpun rasa entah apa. Kau mencuri semuanya, Al.. seluruh hidupku.

Kau ingin aku bahagia, bodohkah kamu?Sementara kamu tahu jika aku pernah menitipkan seluruh bahagiaku di pundakmu. Dan saat kau menanyakan kabarku... percayakah kau kalau kubilang aku baik-baik saja?

Entah aku harus menyesal atau bagaimana, di satu sisi semua yang pernah terjadi di antara kita bisa kusebut indah, sementara di sisi lain aku mengutuki perpisahan.

Aku merindukanmu, Al... aku rindu merinduimu. Aku rindu saat dimana aku bisa menikmati seluruh senyummu,  merekam gelak tawamu, melahap rakus tatapan lembutmu. Aku merindukanmu, sungguh.

Puisiku tak lagi bernyawa, syair pun kehilangan suara. Aku bisu, Al... lidahku kelu, nadi pun seolah membeku. Jika Tuhan memberiku satu kesempatan untuk memutar waktu, mungkin aku memilih untuk meniadakan temu.

Al... 
Sebutlah aku lemah, karena tanpamu aku hanyalah remah. Aku lantak, tak hanya retak. Aku bukan lagi gadismu yang gemar menari di bawah gerimis, aku menjelma peri yang melagukan tangis. 

Entah berapa panjang waktu yang kuperlu untuk mengobati lukaku. Entah berapa banyak belanga yang kubutuh untuk menampung airmata. Entah... 

Al... aku rindu merinduimu, seperti dulu.




Sabtu, 26 September 2015

Seharusnya Aku Diam

Seharusnya sejak awal aku memilih diam, tak menyuarakan sedikitpun rasa yang tumbuh dan berkembang tanpa sengaja. Tak membisikkan kalimat rindu walaupun hanya sepintas lalu.

Seharusnya aku sendiri saja, tak menggantungkan diri pada sesiapa. Hingga rasa terbiasa ada itu tak pernah tercipta, lalu membuatku pada akhirnya menanamkan sebuah asa.

Seharusnya aku tetap bermimpi saja, tak keras kepala membuat semua menjadi nyata, yang pada ujungnya telah menunggu sebuah luka.

Seharusnya aku tetap mencintaimu sendiri saja, tak perlu berbalas dan akhirnya mengubah tawa menjadi airmata.

Seharusnya kita tak perlu berjalan bersisian, dan menentang sang waktu yang kita tahu telah merencanakan sebuah perpisahan, juga kehilangan.



Sabtu, 19 September 2015

Puisi - Andien Tyas


Aku yang pernah engkau kuatkan

Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa 

Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu

Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia 
Puisi terindahku hanya untukmu 

Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama 
Puisi terindahku hanya untukmu


Dan larik-larik syair pun tercipta dengan semu, melagukan kamu... puisi terindah yang selalu kutuliskan tanpa jemu.




Selasa, 15 September 2015

Dear, My Beloved 'A'

Beberapa tahun yang lalu kita dipertemukan oleh takdir, menjalin sebuah hubungan yang biasa-biasa saja, tanpa perasaan apa-apa. Lalu jeda hadir di antara kita tanpa sua dan berita, walau kita masih tinggal di kota yang sama. Hingga pada akhirnya takdir membawaku kembali ke hadapanmu lebih dari setahun yang lalu, dimana kita sama-sama merasa ada yang berbeda dari tatapan mata. Ada aksara tak terbaca di sana, aksara yang tak mampu dilagukan oleh suara.

Ada sebuah rasa yang tak mampu kita tahan setelahnya, rasa saling butuh dan ingin selalu ada. Bersamamu aku mampu menyanyikan ribuan lagu, menuliskan ribuan syair hati yang telah lama mati. 
Bersamamu aku merasa utuh, berguna karena aku didengar, berharga karena aku dijaga. Kau berikan lenganmu untukku bermanja, kau hujani aku dengan tatapan memuja, kau biarkan aku melakukan apa saja yang tak mampu kulakukan saat kamu tak ada.

Aku tenggelam oleh senyuman yang selalu kau bagi setiap hari, aku terperangkap oleh tatapan hangat yang selalu kau kirim setiap saat. Aku serakah oleh semua keindahan yang kau tawarkan tanpa meminta balasan. Aku terbuai oleh genggaman tanganmu yang tak sekalipun melepasku saat aku merasa sendiri dan sepi. Pelukmu pun seolah candu yang terus saja aku rindu jika aku tak ada di sisimu.
Hingga pada akhirnya kita menyadari telah tumbuh sebuah rasa yang kita sebut cinta.

Tapi takdir menertawakan kebodohan kita, dan kita menutup mata untuk segala salah. Kita tetap bertahan dengan kekeraskepalaan, melabuhkan sampan walau tahu kalau kita tak memiliki dermaga untuk bersandar. Kita berlayar di tengah ombak yang terus menghantam. Menulikan telinga akan deru angin yang menjelma badai. 
Tapi sekuat apa kita akan terus bersama? Sementara kita sama-sama tahu jika sampan kita tak akan pernah bisa bermuara.

Mungkin kalau kita boleh memilih, kita akan memilih tenggelam dan karam. Tapi mampukah kita disebut kejam oleh mereka yang tak seharusnya terluka?

Kita menyerah saja, tak usah lagi melawan takdir yang tak mengenal kata akhir.

Akupun hancur, dan menjadi serpihan saat tanganmu tak lagi kugenggam. Aku pun lantak, lemas tak berdaya saat pelukmu kulepas. Tapi kita bisa apa?

Jangan dulu menatapku jika nanti kita bertemu, karena airmataku masih terus mengalir dengan tidak tahu malu. Jangan mendekat, atau aku akan langsung memelukmu dengan erat.
Berikan aku sedikit waktu untuk menyendiri, bukan untuk terus menangisi hati yang patah dan mati, tapi untuk mengemasi apa yang sudah terserak lalu menatanya kembali.

Akan kutulis kisah ini sebagai kenangan, yang kelak jika lembarannya terbuka lagi aku akan mampu membacanya dengan senyuman, bukan dengan luka dan airmata.

Dear, my beloved 'A'...
.
.
.
Aku mencintaimu.






Minggu, 13 September 2015

The Lonely - Christina Perri


2am; where do I begin,
Crying off my face again.
The silent sound of loneliness
Wants to follow me to bed.

I'm the ghost of a girl that I want to be most.
I'm the shell of a girl that I used to know well.

Dancing slowly in an empty room,
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby.
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Too afraid to go inside
For the pain of one more loveless night.
Cause the loneliness will stay with me
And hold me till I fall asleep.

I'm the ghost of a girl that I want to be most.
I'm the shell of a girl that I used to know well.

Dancing slowly in an empty room,
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby.
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Broken pieces of
A barely breathing story
Where there once was love
Now there's only me and the lonely.

Dancing slowly in an empty room
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Mungkin akan semakin menyakiti diri sendiri, tapi tak apa... kurasa aku akan bisa menghasilkan sebuah tulisan dari lagu ini :D

There's Something In September

Aku lupa, sudah berapa lembaran almanak bertanggalan sejak aku menghabiskan waktuku bersama dia, mengisi hari-hariku dengan kehadirannya. Aku lupa, Ay... entah sudah berapa halaman buku yang kutuliskan tentang dia, hanya dia.

Aku kembali bermain dengan takdir, meletakkan hati pada tempat yang salah. Kenapa selalu salah, Ay? Mungkin karena apa yang seharusnya sudah benar tak pernah menjadi benar untukku, mungkin. Atau aku saja yang tak pernah berusaha membuatnya menjadi benar? Entah.

Aku tertawa dan terus tersenyum, menyimpan ribuan airmata di baliknya, tapi bukan kuat yang terlihat, justru aku semakin tampak konyol, Ay... hah :D

Aku hanya mencari sebuah tempat yang bisa kusebut rumah, Ay... tempat aku pulang dan melepaskan segala penatku, tempat aku melepaskan tangis kala lelah melanda, tempat dimana aku selalu didengar, tempat dimana ada tangan yang terulur dan menggenggamku erat.
Tapi ternyata aku salah, dan dengan bodohnya aku menutup mata selama ini, membiarkan diriku semakin tenggelam dan karam.

Aku sakit, Ay... aku terluka, lagi. 

Tapi bukan separuhmu namanya kalau aku tak mampu kembali berdiri dan berlari. Aku hanya butuh waktu dimana aku hanya ingin sendiri, bukan untuk melarikan diri, tapi hanya sekedar untuk menenangkan hati.

Seharusnya aku tak pernah keluar dari dunia yang pernah kuciptakan, dimana sebuah pertemuan tak akan pernah berakhir dengan kehilangan.
Tak apa... aku bisa kembali lagi ke sana untuk menata kembali apa yang sudah terberai. Aku akan kembali ke sana untuk menutup sedikit demi sedikit luka yang terlanjur menganga.

Ada sesuatu di bulan September, Ay... saat rintikan hujan tak juga menyapa, saat kering menggerogoti dada, ada sebuah kisah yang harus kembali tiada :) 





Terakhir

Saat kita tak lagi mampu menahan diri, bukankah sebaiknya kita sudahi?

Tugas kita hanya mencari jalan untuk kembali menata hati, dan memperbaiki semua yang salah saat kita mengawali.

Kita sudah sama-sama memilih, tak apa sedikit perih asal tak ada lagi yang tersakiti. Cukup kita saja yang terluka, jangan mereka.

Kisah seribu cinta ini mari kita penggal, dan kemudian ucapkan selamat tinggal.

Jika kelak kau teringat akan masa lalu, ingatlah pernah ada hari-hari dimana aku sangat mencintaimu.








Sabtu, 12 September 2015

Senja Lagi

Senja kembali membawa pergi sekeping hati, menorehkan segaris luka dengan belati.
Lagi aku seperti mati, selaksa terapung tak bertepi.


Aku hanya mampu menatap nanar dari pinggir dermaga, menahan rasa kering dan dahaga. 
Lagi aku mencoba rela, walau hanya serpihan duka yang tertinggal di dada.

Kita yang putuskan, aku dan kamu mencoba kembali ke titik awal pertemuan. 
Lalu pertanyaan kembali terulang : Mampukah kita meniadakan kenang?

Lagi-lagi senja melagukan hal yang sama, menyuarakan lagi syair kehilangan.



Jumat, 11 September 2015

Sebenarnya Ada Apa?

Kutuliskan puisiku berupa airmata, 
kulukiskan pada dinding-dinding hati yang entah kenapa terasa begitu hampa. 
Ada apa sebenarnya?

Kulagukan syairku berupa isak tangis, 
kurekam pada relung-relung dada dimana rindu tak pernah habis.
Lalu harus dengan cara apa luka ini kukikis?

Sebenarnya kenapa?
Saat kubuka mata yang kujumpai adalah duka
yang bahkan tak pernah aku tahu dari mana datangnya.