Senin, 14 Desember 2015

Dear, Al... ( Pengharapan )

Al...
Aku mencoba mengeja binar pada mata teduhmu, mencoba membaca isyarat tanpa kata yang terpancar di sana, apakah itu rindu? Setelah jeda memisahkan kita beberapa waktu yang lalu, apakah kau juga begitu ingin bertemu?

Sentuhan itu masih sehangat dulu, Al. Rasa nyaman memelukku kala jemarimu membuai kulitku.

Tidakkah kau bertanya kenapa takdir mempertemukan kita? Sementara dia tahu jika semua hanya fana. Kenapa takdir membiarkan rasa itu tumbuh tak terkendali, padahal dia tahu itu tak kan abadi.

Terkadang ego berteriak, menjeritkan keputusasaan, memanggil semua asa untuk kembali. Sedangkan kita tau kalau semua ini telah usai, sudah selesai.

Apa yang aku bisa, Al? Hanya bisikan doa yang terus kusenandungkan setiap malam sebelum mimpi merampas semua kesadaranku. Hanya mampu  mengucapkan seribu pengharapan agar takdir tak merampas senyuman dari bibirmu.

Al.... jika nanti kita diberi kesempatan untuk kembali hidup di kehidupan berikutnya... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar