Minggu, 22 November 2015

Dear, Al... ( Gerimis di Masa Lalu )

Al.... 
Coba buka kembali lembaran kenang yang pasti belum usang.

Ingatkah kamu saat pertama kali tanganku kau genggam? Kenapa? Apa kau juga merasakan getaran yang sama saat mata kita berjumpa? 

Pada sebuah senja, kau letakkan mawar jingga di atas meja kerja, apakah memiliki makna? Kau hanya tersenyum dan berlalu tanpa kata. 

Kau melambungkanku saat pelukanmu mampu hentikan tangisku. Kau bilang aku kepala batu, tapi hatiku tak memiliki titik beku. Al... kau meluluhkanku.

Setelahnya aku tak menemui satu senjapun tanpa kamu, pun kamu yang tak memiliki satu malampun tanpaku. Rindu katamu, saat sapaku tak hadir. Pilu kataku, saat senyummu tak terukir.
Kita sama-sama terjebak dalam sebuah rasa, dimana tak seharusnya ada. 

Entah berapa panjang benang yang kita pintal menjadi sebuah cerita, berapa lembar almanak yang kita lingkari dan menuliskan catatan kecil di atasnya. Semua tentang kita, Al.
Entah sudah berapa dalam aku tenggelam dalam pesonamu, memanjakan diriku dan berdiam lama di dalam pelukmu. Untuk beberapa saat aku merasakan bagaimana seharusnya hidup, merasakan udara yang sama seperti yang kau hirup.

Kau ajari aku bagaimana menjadi berani, kau ajari juga bagaimana cara mengasihi. Karena katamu tak ada manusia yang ditakdirkan sendiri.
Kau ubah airmataku menjadi tawa, kau ubah dukaku menjadi ceria. Hingga aku memahami makna bahagia yang sesungguhnya.

Hingga sang waktu menjerat kita semakin erat, menunjukkan rasa takut yang sejak awal kita sembunyikan di balik kabut.
Kita lupa, Al... kita lupa jika semua hanya hampa. Kita lupa jika semua rasa ini kelak akan kehilangan muara. Kita lupa... jika kita tak memiliki dermaga.

Dan saat takdir memaksakan pisah, kita hanya bisa pasrah. Kita terhempas, menangispun rasanya tak pantas.

Al... ketika kini rindu merupa belati, siapa yang pada akhirnya tersakiti?
Kita nikmati saja apa yang tersisa, walau hanya berupa airmata.



4 komentar:

  1. sekali lagi kau berhasil membuatku meleleh dengan kenangan indah tentang sebuah cinta
    sakit yang kau tularkan melalui kata kadang membuatku berpikir betapa labilnya hati manusia
    ketika di satu waktu dia mengagungkan cinta dan di waktu yang lain menghempaskannya begitu saja ke palung terdalam
    sehingga akhirnya hanya waktu yang bisa membuktikan kalau hanya manusia hebatlah yang mampu menjaga cinta sejati berada di tahta tertinggi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dirimu jangan ikutan galau dong, cin... #pukpuk.
      Buat aku cinta itu misteri yang paling dalam, ga tau kapan datangnya dan ga nyangka kapan perginya. Indahnya banget, sakitnya juga luar biasa xDD
      Haaaah cintaaa... deritanya tiada akhir #eeh
      Thanks udah mampir ya? muaaach...

      Hapus
    2. aku ga galau kok cin
      cuma mencoba mengungkapkan rasa...#halah
      dulu aku merasakan sakitnya cinta
      tapi beruntung kalau sekaang aku tinggal meneguk manisnya
      emang misteri tu tapi selalu indah untuk di dalami
      aku seneng kok baca tulisanmu
      tapi karena telat kenalnya jadi marathon bacanya
      ditunggu kado natalku...hahahha
      muahhhh

      Hapus
    3. kadomu udah on process nih, udah 3000 words, huehehe...

      Hapus