Terdiam sendiri di bawah langit Oktober yang sepi, apa yang aku cari? Serpihan hati kah? Atau sepetak harapan yang sebenarnya sudah mati?
Aku merangkak, mencoba menolak apa yang telah retak. Aku menutup mata, enggan melihat apa yang sebenarnya nyata. Bohongi aku, tak apa tipulah aku, agar luka ini tak semakin terbuka.
Hhh... Entah...
Rasa ini kuberi nama entah. Saat aku tak mampu lagi memberi fungsi bagi panca indera, akupun hanya bisa pasrah.
Layaknya sampan, aku hanya terapung tak bertepian. Tak kulihat dermaga untukku singgah. Tak ada dayung, tak ada sauh, aku terus berlayar tak tentu arah.
Kutatap langit oktober dari tengah samudera, menikmati gelombang yang kian lama kian keras menghempas. Keduanya biru, keduanya bisu. Mana yang sebaiknya kupilih? Terbang lepas tanpa tujuan, atau tenggelam hingga karam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar