"Al..." panggilku saat kumasuki ruangan bercat putih itu.
Pria separuh baya yang sejak tadi serius menekuni dokumen di atas mejanya mendongak, saat melihatku dia segera tersenyum, "Hai," jawabnya sambil memutar kursinya ke samping.
Segera saja aku mendekat dan berdiri di antara kakinya yang terbuka, kukalungkan lenganku di bahunya. Pria itu terkekeh pelan, setelah melepas kacamata beningnya dan meletakkannya di atas meja dia pun melingkarkan tangannya di pinggangku, wajahnya menengadah, matanya yang teduh lurus menatap mataku, "Merindukanku?" tanyanya penuh percaya diri.
"Sangat," bisikku.
Pria berkulit putih itu tersenyum begitu lembut, "Maafkan aku karena tak memberimu kabar selama aku pergi," katanya dengan penuh penyesalan.
Aku hanya menggeleng pelan dan membalas senyumnya, "Tak apa, selama kau baik-baik saja," jawabku.
Segera saja aku mendekat dan berdiri di antara kakinya yang terbuka, kukalungkan lenganku di bahunya. Pria itu terkekeh pelan, setelah melepas kacamata beningnya dan meletakkannya di atas meja dia pun melingkarkan tangannya di pinggangku, wajahnya menengadah, matanya yang teduh lurus menatap mataku, "Merindukanku?" tanyanya penuh percaya diri.
"Sangat," bisikku.
Pria berkulit putih itu tersenyum begitu lembut, "Maafkan aku karena tak memberimu kabar selama aku pergi," katanya dengan penuh penyesalan.
Aku hanya menggeleng pelan dan membalas senyumnya, "Tak apa, selama kau baik-baik saja," jawabku.
Setelahnya hanya ada hening di antara kami. Kubelai rambutnya yang hitam. Ada beberapa helai yang sudah memutih tapi aku suka melihatnya, dia terlihat begitu matang dan berwibawa. Kuusap pipinya yang sedikit kasar, kutelusuri bentuknya hingga ke dagu dengan ujung-ujung jariku. Kusentuh sudut bibirnya yang tipis dan sedikit memerah, dan aku tersenyum saat matanya terpejam.
"Akupun begitu merindukanmu," bisiknya.
Aku terdiam. Baru seminggu kami tak berjumpa, tapi rasanya jantungku nyaris berhenti karena merindu. Bagaimana jika ikatan ini kelak harus terputus? Masih mampukah aku bernafas tanpanya? Sementara hanya dengan berada di dekatnya seperti ini saja aku bisa merasakan hidup. Hanya agar bisa menyentuhnya seperti ini saja aku mampu menukar semua yang kumiliki.
Sesak itu datang lagi, sakit.. juga bahagia bercampur menjadi satu hingga akhirnya sebutir gerimis yang tercipta dari mataku jatuh di wajahnya.
Mata teduh itu kembali terbuka, ada segores luka di sana saat melihatku, "Tapi yang kubisa hanya memberimu airmata," sambungnya, "Maafkan aku."
Aku menggeleng, "Bukankah sejak awal kita sudah tahu jika kita bersama maka kita akan berteman dengan luka dan airmata?" ingatku.
Pria itu memindahkan tangannya ke tengkukku, memaksaku untuk menunduk dan mendekatkan wajahku padanya, setelahnya bibir kami tenggelam dalam sebuah kecupan singkat yang penuh arti.
"Andai aku diijinkan memberimu bahagia, maka akan kuletakkan pantai dan senja di pangkuanmu," ucapnya setelah bibir kami terpisah.
Aku terdiam, kucerna kata-katanya dan kulihat ketulusan di mata yang begitu kupuja itu. Bagaimana mungkin bahagia bisa terasa seperih ini?
"Kita terlalu banyak bermain dengan kata andai, Al... yang pada akhirnya justru menjadi boomerang untuk diri kita sendiri," kataku sambil mengusap lembut sisi bibirnya yang basah. Bisa kurasakan tatapannya yang terus tertuju padaku, tangannya mengusap lembut lengan-lenganku yang tergantung di bahunya, lalu dia menoleh sedikit untuk mencium nadiku yang menempel di dekat pipinya. Perlakuannya selalu mampu membuatku berdebar, membuatku merasa menjadi wanita tercantik di muka bumi. Dan caranya menjagaku selama ini membuatku merasa begitu dihargai.
"Kita terlalu banyak bermain dengan kata andai, Al... yang pada akhirnya justru menjadi boomerang untuk diri kita sendiri," kataku sambil mengusap lembut sisi bibirnya yang basah. Bisa kurasakan tatapannya yang terus tertuju padaku, tangannya mengusap lembut lengan-lenganku yang tergantung di bahunya, lalu dia menoleh sedikit untuk mencium nadiku yang menempel di dekat pipinya. Perlakuannya selalu mampu membuatku berdebar, membuatku merasa menjadi wanita tercantik di muka bumi. Dan caranya menjagaku selama ini membuatku merasa begitu dihargai.
Dia tersenyum tipis setelah kembali menengadahkan wajahnya untuk menatapku, "Bermain kata andai denganmu sudah menjadi candu. Tak kupungkiri jika itu bisa menjadi pemicu asa saat aku meragu."
"Dan menempatkan semua mimpi kita di atas segalanya? Al... sungguh aku berharap jika semua ini hanya sekedar mimpi. Agar saat aku terbangun nanti seluruh rasa takut ini akan terlupakan," kataku lagi.
"Rasa takut?" tanyanya bingung.
Aku mengangguk pelan, "Rasa takut kehilangan kamu, Al..."
Ya... aku harap semua ini hanya ilusi, agar luka dan rasa bersalah ini tak terus menghantui.
Pria itu mengambil tanganku yang sejak tadi membelai tengkuknya lalu dia menciumi buku-buku jariku dengan bibirnya yang hangat.
Pria itu mengambil tanganku yang sejak tadi membelai tengkuknya lalu dia menciumi buku-buku jariku dengan bibirnya yang hangat.
"Kalau kamu ingin terus bermimpi apakah itu berarti ciumanku tak akan bisa membangunkanmu lagi? Lalu siapa yang akan menjadi Sleeping Beauty-ku nanti?"
Aku tertawa mendengar kata-katanya. Begitulah dia, selalu tak suka jika aku mulai berduka atas rasa yang memang tak seharusnya pernah ada.
Dia berdiri, kedua tangannya menangkup wajahku yang mulai pias. Diciumnya keningku cukup lama, lalu mengecup ujung hidungku dengan singkat, "Aku merindukanmu, sangat. Karena itu lupakan dulu masalah itu, habiskan sisa siang ini bersamaku, mau?" tanyanya.
Aku tak menjawab, rindu yang tadi begitu basah telah berubah menjadi resah.
"Atau aku harus menciummu lagi agar kamu mau menjawab iya?" godanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Aku mendengus dan memukul pelan dadanya. Setelah itu aku tenggelam dalam hangat dekapnya. Bisa kurasakan dia menghela nafas panjang, "Biar saja begini dulu, sampai takdir muak melihat kebersamaan kita. Dan jika saat itu tiba... aku akan tetap menjagamu, walau tanpa sepengetahuanmu. Tapi untuk saat ini berbahagialah bersamaku," katanya sambil membelai lembut rambutku.
Ya dia benar, aku sudah cukup lelah, jadi aku memilih pasrah saja, "Berjanjilah satu hal, Al... satu hal saja," pintaku.
Pria itu meletakkan dagunya di ubun-ubunku, "Apa?" tanyanya.
"Berjanjilah kalau kau akan terus berada di sisiku, sebagai apapun nantinya," bisikku sambil memeluk erat pinggangnya, kuhirup aroma parfumnya yang sangat kusuka.
Kudengar tawanya yang renyah, yang mencipta getar pada dadanya, "Asal kamu juga mau berjanji kalau kamu akan berbahagia... walaupun itu bukan denganku," jawabnya.
Aku tersenyum miris dalam pelukannya, aku hanya mampu terpejam saat kurasakan bibirnya mencium lembut puncak kepalaku, "Kau juga harus berjanji untuk hal yang sama," jawabku.
Pria jangkung itu terbahak, dia menjauhkan tubuhku dan kembali menatapku lekat, "Cukup, sayang... tadi kamu bilang aku hanya harus berjanji satu hal, kan? Jangan ditambah lagi, kamu curang," tuduhnya.
"Tapi, Al..."
"Tapi, Al..."
"Cuma satu, tadi itu kan katamu?" godanya, dan aku hanya bisa cemberut karena kesal.
Pria setengah baya itu tersenyum menahan geli, ditariknya pelan kedua sudut bibirku agar tercipta sebentuk senyum di sana, "Kukabulkan asal kamu mau memenuhi permintaanku," katanya.
Segera saja aku menatapnya serius, "Apa?" tanyaku kali ini.
"Kita pergi makan siang sekarang, ya? Aku sudah lapar sejak sebelum kamu datang, please?" jawabnya yang segera saja membuatku tertawa.
"Kita pergi makan siang sekarang, ya? Aku sudah lapar sejak sebelum kamu datang, please?" jawabnya yang segera saja membuatku tertawa.
Aku mengangguk, "Ambil kuncimu, Sir... aku juga mulai lapar," jawabku.
Pria itu segera saja menyambar kunci mobil di atas meja dan menarik tanganku agar mengikutinya.
Genggamannya yang hangat adalah tempatku pulang, tempat yang kujuluki sebagai rumah.
Ah... aku mencintaimu, Al.
Semoga takdir masih mau memberikan sedikit lagi waktunya untuk kita. Sedikit lagi saja.
Semoga takdir masih mau memberikan sedikit lagi waktunya untuk kita. Sedikit lagi saja.
Dan jika tiba waktunya kita kembali menjadi aku dan kamu, maka akan kusimpan semua cerita dengan rapi pada sebuah peti di sudut hati. Peti berisi kenang tentang kita, yang tak akan menua seiring usia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar