Di sudut halte tua, di bawah rinai gerimis senja, sebuah wajah tertunduk saja. Payung besar tak mampu menghalangi apa yang ada di baliknya.
Matanya menatap genangan dengan senyuman, tapi sudut bibirnya bergetar pelan. Mungkinkah dia tengah merangkai kenang dengan airmata yang tertahan? Dia hanya diam hingga gerimis merupa hujan.
Apa yang dia rasa?
Matanya menatap genangan dengan senyuman, tapi sudut bibirnya bergetar pelan. Mungkinkah dia tengah merangkai kenang dengan airmata yang tertahan? Dia hanya diam hingga gerimis merupa hujan.
Apa yang dia rasa?
Sinar matanya tampak resah, alunan nafasnya terdengar serupa desah, jemarinya pun bergetar lelah. Dingin kah?
Perlahan dia menengadah, menyapa hujan dengan sudut matanya yang mulai basah, "Sayang... airmatamu tumpah," bisiknya.
Kudekati dia lalu bertanya, "Apa yang kau rasa?"
Wajah cantiknya tampak pias, bibirnya yang selembut kapas tersenyum lepas, "Aku hanya merindukan dia yang tengah merindukanku dari surga," jawabnya.
Aku terdiam, hanya mampu menatap maniknya yang sehitam malam.
Langit kembali bergemuruh, suaranya riuh.
Bibirnya terbuka, melantunkan nada, ataukah sebait doa? Airmatanya turun perlahan, dia bernyanyi seiring irama hujan.
Aku terdiam, hanya mampu menatap maniknya yang sehitam malam.
Langit kembali bergemuruh, suaranya riuh.
Bibirnya terbuka, melantunkan nada, ataukah sebait doa? Airmatanya turun perlahan, dia bernyanyi seiring irama hujan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar