Sabtu, 26 September 2015

Seharusnya Aku Diam

Seharusnya sejak awal aku memilih diam, tak menyuarakan sedikitpun rasa yang tumbuh dan berkembang tanpa sengaja. Tak membisikkan kalimat rindu walaupun hanya sepintas lalu.

Seharusnya aku sendiri saja, tak menggantungkan diri pada sesiapa. Hingga rasa terbiasa ada itu tak pernah tercipta, lalu membuatku pada akhirnya menanamkan sebuah asa.

Seharusnya aku tetap bermimpi saja, tak keras kepala membuat semua menjadi nyata, yang pada ujungnya telah menunggu sebuah luka.

Seharusnya aku tetap mencintaimu sendiri saja, tak perlu berbalas dan akhirnya mengubah tawa menjadi airmata.

Seharusnya kita tak perlu berjalan bersisian, dan menentang sang waktu yang kita tahu telah merencanakan sebuah perpisahan, juga kehilangan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar