Kutuliskan puisiku berupa airmata,
kulukiskan pada dinding-dinding hati yang entah kenapa terasa begitu hampa.
Ada apa sebenarnya?
Kulagukan syairku berupa isak tangis,
kurekam pada relung-relung dada dimana rindu tak pernah habis.
Lalu harus dengan cara apa luka ini kukikis?
Sebenarnya kenapa?
Saat kubuka mata yang kujumpai adalah duka
yang bahkan tak pernah aku tahu dari mana datangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar