Dear, Al...
Sebenarnya kemana kau bawa pergi semua isi kepala? Kemana kau sembunyikan isi dalam dada? Aku menjelma dedaun kering yang rapuh dan tak lagi memiliki warna.
Ada masa kita saling bersitatap, tapi yang tercipta hanya pandangan penuh ratap.
Aku tergagap, Al... aku tergagap mengeja luka yang masih terbuka, aku tergagap menelan airmata yang masih saja ada.
Kita bisa berpura-pura lupa, seolah tak pernah ada apa-apa, tapi bisakah semua kenang kau hapus seketika?
Aku berang, Al... aku meradang. Kusesali semua yang pernah terjadi, sebuah tawa dari pertemuan pertama pada suatu pagi.
Kucipta beribu andai di dalam kepala, andai tak ada jumpa, andai masih bisa memilah rasa hingga tak terukir cinta, andai tak pernah ada pisah, andai tak ada yang terluka karena kita, andai... andai... mampu kuubah semua kenang saat masih bersama.
Kusesali semuanya, Al... kusesali juga akan takdir yang ikut andil meracik duka, kusesali setiap hela napas yang meneriakkan rindu dan asa yang patah.
Tapi apa yang kita bisa? Kita hanya mampu menyembunyikan tangis di balik dinding kepalsuan. Senyum kita, tawa kita, dan juga canda yang kita bagi setelah kita memutuskan rasa, adakah yang nyata?
Aku terluka, Al... dan akupun tahu kau merasakan hal yang sama.
Maafkan aku, tapi aku sungguh menyesali semua, hingga harus tercipta airmata di antara kita.
Lentera kita sudah padam, tapi jeritan rindu tak akan mampu kuredam.
Aku rindu merindukanmu, Al... rindu.
Ada masa kita saling bersitatap, tapi yang tercipta hanya pandangan penuh ratap.
Aku tergagap, Al... aku tergagap mengeja luka yang masih terbuka, aku tergagap menelan airmata yang masih saja ada.
Kita bisa berpura-pura lupa, seolah tak pernah ada apa-apa, tapi bisakah semua kenang kau hapus seketika?
Aku berang, Al... aku meradang. Kusesali semua yang pernah terjadi, sebuah tawa dari pertemuan pertama pada suatu pagi.
Kucipta beribu andai di dalam kepala, andai tak ada jumpa, andai masih bisa memilah rasa hingga tak terukir cinta, andai tak pernah ada pisah, andai tak ada yang terluka karena kita, andai... andai... mampu kuubah semua kenang saat masih bersama.
Kusesali semuanya, Al... kusesali juga akan takdir yang ikut andil meracik duka, kusesali setiap hela napas yang meneriakkan rindu dan asa yang patah.
Tapi apa yang kita bisa? Kita hanya mampu menyembunyikan tangis di balik dinding kepalsuan. Senyum kita, tawa kita, dan juga canda yang kita bagi setelah kita memutuskan rasa, adakah yang nyata?
Aku terluka, Al... dan akupun tahu kau merasakan hal yang sama.
Maafkan aku, tapi aku sungguh menyesali semua, hingga harus tercipta airmata di antara kita.
Lentera kita sudah padam, tapi jeritan rindu tak akan mampu kuredam.
Aku rindu merindukanmu, Al... rindu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar