Dua tahun yang lalu, saat kata kita tercipta, saat aku dan kamu memutuskan sebagai satu.
Apa yang harus diingat? Tawa canda kita, ataukah airmata? Bukankah kamu selalu tahu, jika aku masih memiliki rindu untukmu?
Dua tahun yang lalu...
.
.
.
.
Bahkan aku kehilangan seluruh aksaraku. Kehilangan kata-kata di antara cekat yang menyesak oleh luka.
Apa yang harus aku ingat? Sementara tak satupun kisah mampu terhapus dari kepala.
Aku akan bahagia, aku berjanji.
Tapi kali ini saja ijinkan aku membuka kembali ruang itu dengan sebuah kunci. Kunci rumah tempat kita selalu berbagi hati, tempat kita pulang dan melepaskan segala resah, penat, juga airmata.
Rumah dimana kita selalu berbagi tawa, tempat kita menautkan dua kelingking dan berjanji untuk selalu bersama, sembari menatap indahnya senja di ujung cakrawala dari balik jendela kaca yang basah.
Biarkan aku tinggal sejenak di dalamnya, hanya untuk melihat sisa-sisa kenangan yang tertinggal bersama secangkir Cappuchino dingin di atas meja berdebu yang tampak tua.
Hanya ada aku. Tak kulihat jejak sepatumu yang selalu kotor oleh lumpur. Tak ada tetesan air dari jas hujanmu yang selalu membasahi lantai.
Hanya ada aku dan sofa usang, yang tak pernah bosan menunggumu pulang.
Dua tahun yang lalu... hingga dua purnama kemarin...
Selalu ada kita di sini, di ruang kosong yang tak lagi berpenghuni.
Dua tahun yang lalu... mencipta rindu yang tak juga berlalu.
Masih kusimpan senja terindah darimu :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar