Senin, 01 Desember 2014

Surat Untuk Eri

Ri...
Kamu tahu? Terkadang aku merindukan masa lalu, dimana tawa dan canda juga pertengkaran menghiasi hari-hari kita. Aku rindu menghabiskan malam bersama. Walau hanya sekedar melihat lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung bertingkat, juga apartemen di pinggiran kota seraya berkhayal kelak kita akan ada di dalamnya, berdua.

Ah...
Kamu ingat tukang mie ayam yang warungnya ada di tepi laut itu? Mie kesukaan kamu, juga aku. Abangnya makin tua loh. Dia agak lupa-lupa ingat waktu lihat aku, trus aku ingatkan dia kalau dulu kita sering duduk di sana sampai diusir karena mau tutup. Setelah si Abang ingat dia ketawa keras sambil menepuk-nepuk bahuku. Kamu tahu apa yang langsung dia lakukan saat itu? Mengeluarkan semua persediaan sambalnya. Hahaha... dia ingat kalau dulu kita selalu bikin dia bangkrut sambal.

Setelah itu si Abang manggil teman di sebelahnya. Ingat? Ibu seksi yang jualan ice cream kesukaan kamu? Errr... maksudku es krim-nya yang kamu suka, bukan yang jual. 
Si Ibu langsung heboh waktu ngenalin aku, akhirnya dia malah ikutan gabung di warung mie ayam, hehe. Banyak sekali pertanyaan terlontar, Ri... juga canda saat mengenang masa lalu. Tapi itu tak lama, mereka langsung terdiam, bahkan mata bulat si Ibu berkaca-kaca saat aku menjawab pertanyaan yang menanyakan bagaimana kabar kamu.

Aku bilang kalau kamu sudah tidur dengan tenang di atas sana. Si Ibu menangis pelan waktu tahu kalau kepergian kamu begitu mendadak, bahkan tanpa pesan apapun. 

Iya, Ri...
Aku kembali lagi ke tempat ini, sendiri tanpa kamu. Aku duduk di sini juga sendiri, di bawah pondok kayu yang menjorok ke laut. Yang terdengar hanya suara debur ombak, tanpa iringan tawa dan petikan gitarmu. Yang bernyanyi hanya pekik burung senja, bukan syair-syair yang melantun dari bibir-bibir kita.

Kupandangi botol yang ada di tanganku. Aku ingin mencoba sebuah mitos yang mengatakan kalau sebuah pesan yang dimasukkan ke dalam botol dan dilarutkan ke lautan, kelak akan sampai kepada yang dimaksud. Benarkah? 
Kalau kamu menemukan surat ini jangan terkejut kalau isinya hanya namamu, ya? Karena seluruh perasaanku hanya kusimpan di dalam hatiku saja, bukan untuk kularutkan di lautan. 

Tidurlah dengan tenang, Ri... di sini aku baik-baik saja. Akan kutepati janjiku untuk tak sering menangis, kecuali saat merindukanmu. Tapi sepertinya aku terlalu sering merindukanmu, ya? hehe.
Terima kasih telah membuatku merasakan bentuk cinta yang sesungguhnya.

Tidurlah dengan tenang... di hatiku, selamanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar