Rabu, 03 Desember 2014

Sebentuk Rindu

"Aku akan pergi akhir bulan ini. Agak sedikit lama, dua minggu."

Aku mendongak saat suara yang terdengar sedikit berat itu mengusik lamunanku. Ada resah yang tiba-tiba lahir, "Kemana?" Tanyaku.

Manik hitam itu menatapku lekat, "Ada urusan kerja di Singapore," jawabnya.

Aku balas menatapnya lurus, entah apa yang kucari pada sepasang bola mata yang teduh itu. "Haruskah selama itu?" Tanyaku lagi.

Pemilik wajah putih dengan bibir tipis itu tersenyum lembut, manik hitam di balik kacamata beningnya sedikit menyipit, "Itu tak lama," katanya.

Aku semakin gelisah hingga rasanya malas bicara. Kumainkan ballpoint biru di atas meja kerjanya, mencoba meredakan ribuan rasa yang tak mampu kutebak artinya. Mungkin karena aku sudah terbiasa ada di dekatnya maka berita itu sedikit membuatku kacau.

"Kenapa diam? Kan aku belum pergi?" Godanya.

"Tapi aku sudah rindu," jawabku tanpa berpikir panjang. Bisa kurasakan wajahku memanas saat sadar apa yang baru saja kukatakan.

Lelaki itu tertawa renyah. Tawa khas yang begitu familiar di telingaku. Ditariknya tanganku lalu digenggamnya dengan lembut. Kehangatannya sampai ke hati.
"Selama dua minggu nanti kita kumpulkan rindu sebanyak-banyaknya, ya? Saat aku pulang kita lihat rindu siapa yang menjadi juara," hiburnya dengan senyum yang selalu mampu membuatku berdebar.

Aku yang sedang merajuk tertular tawanya. Ah... mudah sekali rasa rindu ini tercipta jika dengan dia.

-----------------

Author's notes :
Entah kenapa rasanya pengen banget bikin tulisan ini. Kebawa suasana sore tadi kali ya? Hehehe...



.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar