Aku ingin berbincang dengan hati, sembari mencari jawaban yang tak pasti.
Aku duduk pada anak tangga kayu yang menghubungkan teras dengan halaman belakang. Kusandarkan kepalaku ke samping pada tiang kayu penyangga pagar teras. Kupandangi padang ilalang di depan sana, dimana tangkai-tangkai ilalang seolah saling kait lalu menari bersama iringan angin senja yang sedikit dingin.
"Kenapa kembali ke sini?"
Sebuah suara mengejutkanku. Kucari sekeliling, tapi yang tampak hanya sepasang kursi kayu tempat aku biasa menghabiskan sore dengan secangkir coklat panas dalam genggaman. 'Mungkin hanya halusinasi', jawabku pada diri sendiri. lalu aku kembali menyandarkan kepalaku.
"Aku bertanya, kenapa kau kembali ke sini?"
Suara itu muncul lagi, dan aku kembali menyusuri sekelilingku. Tak ada siapa-siapa, yang bersuara hanya kelintingan besi yang digantungkan di ujung atap teras yang sedang bernyanyi bersama angin.
"Bukankah katamu kau ingin berbicang dengan hati? Aku adalah hatimu," kata suara itu lagi.
Aku tercenung sesaat, lalu tersenyum dan menyandarkan kepalaku ke samping lagi. Manik coklat gelapku kembali menikmati pertunjukan alam di depan sana.
"Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah sudah lama kau melupakan tempat ini?"
Aku terdiam sebentar saat suara itu kembali bertanya. "Aku bukan lupa, aku hanya merasa malu untuk kembali setelah semua yang terjadi padaku dan kamu, hatiku, selama ini. Lagipula... hanya di sinilah tempatku pulang," jawabku.
"Tahukah kalau apa yang kau lakukan selama ini sangat menyakitiku?"
Sudah kuduga kalau pertanyaan, atau pernyataan, itu akan muncul. Aku terus memandang tarian ilalang di depan sana dengan diam, "Maaf," bisikku.
"Kenapa kau selalu tega padaku? Kenapa kau selalu menyakiti hatimu sendiri? Tak bosan kah kamu dengan tangisan?"
Aku kembali diam, mencoba meresapi pertanyaan itu dalam-dalam. Kutatap langit senja yang semakin hitam. Mendung tebal tampak menggumpal di atas kepala.
"Mari berbicara denganku, berbicara dengan hati kecilmu. Kau tak akan kuberi kesempatan untuk berbohong kali ini."
Aku tersenyum getir, "Maaf... sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku tak pernah ingin menyakitimu, juga diriku sendiri," jawabku lirih.
"Tapi kau melakukannya."
Aku mengangguk pelan, "Aku hanya ingin bahagia, salah kah?" tanyaku sembari merapatkan lengan di dada karena hembusan angin yang semakin dingin. Tetesan gerimis mulai turun perlahan, membasahi tanah kering di depanku lalu membentuk ceruk-ceruk kecil seperti tanda titik di sana.
Suara itu hening sesaat, "Tidak, kamu tak salah. Hanya saja caramu yang keliru. Tak seharusnya kamu hanya mendengarkan pikiranmu, logikamu. Masih ada aku di sini, seharusnya kau dulu juga bertanya padaku apakah aku setuju dengan keputusanmu untuk menerima uluran hatinya?"
Lagi aku tersenyum, miris, "Sejak dulu banyak orang yang berkata jika dicintai itu jauh lebih baik daripada mencintai..."
"Apakah cukup hanya dengan dicintai? Tanpa mencintai?" potong suara itu.
Aku mendengus pelan, "Dulu kupikir itu sudah cukup, dan aku akan bahagia hanya dengan dicintai saja tanpa..."
"Berhentilah berpikir hanya dengan otakmu. Kubilang masih ada aku di sini, di dalam tubuhmu. Dan aku masih berfungsi," suara itu terdengar semakin emosi.
Aku memijat keningku yang mulai terasa sakit, "Aku hanya mengikuti apa yang orang-orang bilang, itu saja. Karena kupikir semakin banyak yang mengatakan seperti itu maka itu adalah benar!" Kesalku karena selalu dipotong sejak tadi.
"Dan sekarang kau masih membenarkan kata-kata itu?"
Aku langsung terdiam saat suara itu kembali bertanya, "Entah..." jawabku lagi. Aku mulai kesulitan menghitungi tetesan gerimis yang semakin deras.
"Kau berbohong. Berhentilah membohongiku. Aku muak dengan kebohonganmu."
Aku mencoba mencerna kata-katanya yang membaur dengan derap air yang berbunyi halus di atas atap juga kelintingan besi yang semakin nyaring oleh tiupan angin, "Kubilang entah, aku sendiri tak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini," tegasku.
"Kau menyesal."
Kepalaku berdenyut saat suara itu semakin memojokkanku, "Kumohon... aku bahkan tak bisa membaca hatiku sendiri," kerasku.
"Kau menyesali semuanya, kan? Kau menyesali pilihanmu, JAWAB AKU!!!" suara itu menggelegar seiring suara gemuruh langit yang seakan ikut marah padaku.
"YA!!! AKU MENYESAL!! PUAS?!!" teriakku kali ini. Aku menangis bersama rinai hujan yang turun semakin deras. Kubiarkan air hujan yang terbawa angin membasahi wajahku, membasahi tubuhku. Emosiku meluap, amarahku meledak. Kali ini aku menyuarakan apa yang selama ini mengganjal di hidupku. Aku lelah berlari, aku lelah merasa baik-baik saja. Aku lelah dengan semua yg telah terjadi.
"Kenapa kembali ke sini?"
Sebuah suara mengejutkanku. Kucari sekeliling, tapi yang tampak hanya sepasang kursi kayu tempat aku biasa menghabiskan sore dengan secangkir coklat panas dalam genggaman. 'Mungkin hanya halusinasi', jawabku pada diri sendiri. lalu aku kembali menyandarkan kepalaku.
"Aku bertanya, kenapa kau kembali ke sini?"
Suara itu muncul lagi, dan aku kembali menyusuri sekelilingku. Tak ada siapa-siapa, yang bersuara hanya kelintingan besi yang digantungkan di ujung atap teras yang sedang bernyanyi bersama angin.
"Bukankah katamu kau ingin berbicang dengan hati? Aku adalah hatimu," kata suara itu lagi.
Aku tercenung sesaat, lalu tersenyum dan menyandarkan kepalaku ke samping lagi. Manik coklat gelapku kembali menikmati pertunjukan alam di depan sana.
"Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah sudah lama kau melupakan tempat ini?"
Aku terdiam sebentar saat suara itu kembali bertanya. "Aku bukan lupa, aku hanya merasa malu untuk kembali setelah semua yang terjadi padaku dan kamu, hatiku, selama ini. Lagipula... hanya di sinilah tempatku pulang," jawabku.
"Tahukah kalau apa yang kau lakukan selama ini sangat menyakitiku?"
Sudah kuduga kalau pertanyaan, atau pernyataan, itu akan muncul. Aku terus memandang tarian ilalang di depan sana dengan diam, "Maaf," bisikku.
"Kenapa kau selalu tega padaku? Kenapa kau selalu menyakiti hatimu sendiri? Tak bosan kah kamu dengan tangisan?"
Aku kembali diam, mencoba meresapi pertanyaan itu dalam-dalam. Kutatap langit senja yang semakin hitam. Mendung tebal tampak menggumpal di atas kepala.
"Mari berbicara denganku, berbicara dengan hati kecilmu. Kau tak akan kuberi kesempatan untuk berbohong kali ini."
Aku tersenyum getir, "Maaf... sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku tak pernah ingin menyakitimu, juga diriku sendiri," jawabku lirih.
"Tapi kau melakukannya."
Aku mengangguk pelan, "Aku hanya ingin bahagia, salah kah?" tanyaku sembari merapatkan lengan di dada karena hembusan angin yang semakin dingin. Tetesan gerimis mulai turun perlahan, membasahi tanah kering di depanku lalu membentuk ceruk-ceruk kecil seperti tanda titik di sana.
Suara itu hening sesaat, "Tidak, kamu tak salah. Hanya saja caramu yang keliru. Tak seharusnya kamu hanya mendengarkan pikiranmu, logikamu. Masih ada aku di sini, seharusnya kau dulu juga bertanya padaku apakah aku setuju dengan keputusanmu untuk menerima uluran hatinya?"
Lagi aku tersenyum, miris, "Sejak dulu banyak orang yang berkata jika dicintai itu jauh lebih baik daripada mencintai..."
"Apakah cukup hanya dengan dicintai? Tanpa mencintai?" potong suara itu.
Aku mendengus pelan, "Dulu kupikir itu sudah cukup, dan aku akan bahagia hanya dengan dicintai saja tanpa..."
"Berhentilah berpikir hanya dengan otakmu. Kubilang masih ada aku di sini, di dalam tubuhmu. Dan aku masih berfungsi," suara itu terdengar semakin emosi.
Aku memijat keningku yang mulai terasa sakit, "Aku hanya mengikuti apa yang orang-orang bilang, itu saja. Karena kupikir semakin banyak yang mengatakan seperti itu maka itu adalah benar!" Kesalku karena selalu dipotong sejak tadi.
"Dan sekarang kau masih membenarkan kata-kata itu?"
Aku langsung terdiam saat suara itu kembali bertanya, "Entah..." jawabku lagi. Aku mulai kesulitan menghitungi tetesan gerimis yang semakin deras.
"Kau berbohong. Berhentilah membohongiku. Aku muak dengan kebohonganmu."
Aku mencoba mencerna kata-katanya yang membaur dengan derap air yang berbunyi halus di atas atap juga kelintingan besi yang semakin nyaring oleh tiupan angin, "Kubilang entah, aku sendiri tak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini," tegasku.
"Kau menyesal."
Kepalaku berdenyut saat suara itu semakin memojokkanku, "Kumohon... aku bahkan tak bisa membaca hatiku sendiri," kerasku.
"Kau menyesali semuanya, kan? Kau menyesali pilihanmu, JAWAB AKU!!!" suara itu menggelegar seiring suara gemuruh langit yang seakan ikut marah padaku.
"YA!!! AKU MENYESAL!! PUAS?!!" teriakku kali ini. Aku menangis bersama rinai hujan yang turun semakin deras. Kubiarkan air hujan yang terbawa angin membasahi wajahku, membasahi tubuhku. Emosiku meluap, amarahku meledak. Kali ini aku menyuarakan apa yang selama ini mengganjal di hidupku. Aku lelah berlari, aku lelah merasa baik-baik saja. Aku lelah dengan semua yg telah terjadi.
"Ya... aku menyesal, apa kau puas?" tanyaku lagi, kali ini begitu lirih sembari memeluk tubuhku yang gemetar dengan semakin erat.
Di antara tangisku kudengar suara itu terkekeh pelan, "Ya, aku puas karena kali ini kau jujur padaku. Tahukah kau jika terkadang aku benci melihat senyummu, sementara aku merasakan sakit? Aku benci mendengarmu tertawa sementara aku menangis sendiri. Kenapa kita tak pernah sejalan? Padahal kita ada pada satu jiwa? Aku benci dianggap tak ada."
Aku masih menangis, apa yang hatiku rasakan kini kurasakan juga dengan nyata, sakit. Kuayun sendiri tubuhku dalam diam, kudekap erat dadaku agar tak meledak oleh luka.
Kali ini suara itu diam, tapi dari rasa dingin yang membuncah di dada aku tahu kalau diapun tengah menangis, bersamaku.
Airmataku berhenti, menyisakan basah di pipi juga bibir. Kuterawang panggung alam di depan sana, dan yang terlihat hanyalah deras hujan serupa tirai. Putih.
Kubiarkan tubuh dan bajuku basah oleh hujan yang memercik hingga ke teras tempat aku duduk. Kunikmati dingin yang menggigit tulang dalam diam.
"Apakah menurutmu penyesalan ini berguna?" suara itu hadir kembali serupa bisik.
Aku masih diam, lalu tersenyum perih. Kugelengkan kepalaku dengan lemah.
"Berapa tahun kau biarkan hatinya berjalan sendiri di sisimu? Berapa tahun kau bohongi dia dengan kata cinta yang sebenarnya tak ada?"
Pandanganku masih menerawang, dan aku masih diam. Rasa lelah itu memang ada, tapi tak kalah besar oleh rasa berdosa yang selalu ikut di dalamnya.
"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Apakah dia yang selalu memberikan pundaknya untukmu mengadu dan menangis? Apakah dia yang kau sebut sahabat walau aku tahu kau tengah menipuku lagi. Kau mencintai pria itu, kan? Yang lebih sering kau temui daripada dia yang telah kau bohongi bertahun-tahun."
Aku menggigil dalam diam, pertanyaan kali ini begitu menamparku. Dan mataku kembali memanas oleh genangan airmata sebelum akhirnya kembali luruh perlahan. Aku teringat pada sebuah hati yang hadir setahun belakangan ini, yang mencuri semua cintaku yang tak seharusnya kuberikan untuknya.
"Kau tak bisa mencintainya, tidak! Kalian telah sama-sama terikat," ingat suara itu padaku. "Kenapa kau biarkan aku merasakan cinta yang tak pernah mungkin kumiliki? Bukankah pada akhirnya kau kembali menyakitiku?"
Kubiarkan pipiku kembali basah, "Maaf," lirihku.
"Apa kau ingin berhenti bersandiwara lalu mengakhiri semuanya?"
Aku tercekat. Kutatap cincin emas yang melingkar di jari manisku. Ada sebentuk sumpah di sana, yang kuucapkan dihadapan Tuhan.
"Apa kau ingin mengingkari sumpahmu lalu pergi mencari cinta semu yang belum tentu bisa kau raih?"
Kuusap lembut cincin itu. Kenangan lima tahun silam kembali terbayang. Saat pria itu hadir di hidupku yang tengah hancur. Saat perhatian dan kepeduliannya mengikis kesedihanku. Saat aku tak mampu berkata tidak ketika ikatan itu ditawarkannya. Walau cinta untuknya tak pernah ada, tapi dia terus menghujaniku dengan kasih sayang. "Setega itukah aku?"
Sesaat hanya hening.
"Kalau kau bertanya padaku maka jawabanku adalah tidak. Aku tak akan mampu melakukan hal sekeji itu. Entah kalau kau bertanya pada otak sok pintarmu itu."
Aku kembali diam.
"Kau sudah memutuskan, jadi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya pada keputusanmu itu."
"Walau aku harus terus membohonginya?" tanyaku
Suara itu tertawa pelan, "Kenapa kau tak mencoba untuk belajar mencintainya saja?"
"Aku sudah terlalu sering mencoba," jawabku.
"Tapi kau mencobanya tak sepenuh hati, kan? Jujurlah," tebak suara itu.
Aku kembali diam lalu tersenyum tipis, "Mungkin."
"Kali ini kita harus bekerjasama dengan baik, ya? Kau harus punya keinginan kuat untuk mempertahankan ikatan kalian, dan di sini aku akan mulai belajar untuk mencintai dia. Bagaimana? Apa kau bisa?"
Aku tak menjawab, mataku masih menatap derasnya hujan yang tak kunjung reda.
"Kau juga tak ingin kehilangan dia, kan?" bisik suara itu parau. Dia sedang menangis, airmatanya kembali menyapu pipiku yang dingin.
"Ya," jawabku dengan gemetar.
"Hei... angkat wajahmu. Kau harus terus menjalani hidupmu. Kau sudah berjalan terlalu jauh, jadi teruslah melangkah, jangan menyerah," semangatnya.
Aku kembali meresapi kata-katanya, "Apakah aku bisa?" Tanyaku ragu.
Di antara tangisku kudengar suara itu terkekeh pelan, "Ya, aku puas karena kali ini kau jujur padaku. Tahukah kau jika terkadang aku benci melihat senyummu, sementara aku merasakan sakit? Aku benci mendengarmu tertawa sementara aku menangis sendiri. Kenapa kita tak pernah sejalan? Padahal kita ada pada satu jiwa? Aku benci dianggap tak ada."
Aku masih menangis, apa yang hatiku rasakan kini kurasakan juga dengan nyata, sakit. Kuayun sendiri tubuhku dalam diam, kudekap erat dadaku agar tak meledak oleh luka.
Kali ini suara itu diam, tapi dari rasa dingin yang membuncah di dada aku tahu kalau diapun tengah menangis, bersamaku.
Airmataku berhenti, menyisakan basah di pipi juga bibir. Kuterawang panggung alam di depan sana, dan yang terlihat hanyalah deras hujan serupa tirai. Putih.
Kubiarkan tubuh dan bajuku basah oleh hujan yang memercik hingga ke teras tempat aku duduk. Kunikmati dingin yang menggigit tulang dalam diam.
"Apakah menurutmu penyesalan ini berguna?" suara itu hadir kembali serupa bisik.
Aku masih diam, lalu tersenyum perih. Kugelengkan kepalaku dengan lemah.
"Berapa tahun kau biarkan hatinya berjalan sendiri di sisimu? Berapa tahun kau bohongi dia dengan kata cinta yang sebenarnya tak ada?"
Pandanganku masih menerawang, dan aku masih diam. Rasa lelah itu memang ada, tapi tak kalah besar oleh rasa berdosa yang selalu ikut di dalamnya.
"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Apakah dia yang selalu memberikan pundaknya untukmu mengadu dan menangis? Apakah dia yang kau sebut sahabat walau aku tahu kau tengah menipuku lagi. Kau mencintai pria itu, kan? Yang lebih sering kau temui daripada dia yang telah kau bohongi bertahun-tahun."
Aku menggigil dalam diam, pertanyaan kali ini begitu menamparku. Dan mataku kembali memanas oleh genangan airmata sebelum akhirnya kembali luruh perlahan. Aku teringat pada sebuah hati yang hadir setahun belakangan ini, yang mencuri semua cintaku yang tak seharusnya kuberikan untuknya.
"Kau tak bisa mencintainya, tidak! Kalian telah sama-sama terikat," ingat suara itu padaku. "Kenapa kau biarkan aku merasakan cinta yang tak pernah mungkin kumiliki? Bukankah pada akhirnya kau kembali menyakitiku?"
Kubiarkan pipiku kembali basah, "Maaf," lirihku.
"Apa kau ingin berhenti bersandiwara lalu mengakhiri semuanya?"
Aku tercekat. Kutatap cincin emas yang melingkar di jari manisku. Ada sebentuk sumpah di sana, yang kuucapkan dihadapan Tuhan.
"Apa kau ingin mengingkari sumpahmu lalu pergi mencari cinta semu yang belum tentu bisa kau raih?"
Kuusap lembut cincin itu. Kenangan lima tahun silam kembali terbayang. Saat pria itu hadir di hidupku yang tengah hancur. Saat perhatian dan kepeduliannya mengikis kesedihanku. Saat aku tak mampu berkata tidak ketika ikatan itu ditawarkannya. Walau cinta untuknya tak pernah ada, tapi dia terus menghujaniku dengan kasih sayang. "Setega itukah aku?"
Sesaat hanya hening.
"Kalau kau bertanya padaku maka jawabanku adalah tidak. Aku tak akan mampu melakukan hal sekeji itu. Entah kalau kau bertanya pada otak sok pintarmu itu."
Aku kembali diam.
"Kau sudah memutuskan, jadi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya pada keputusanmu itu."
"Walau aku harus terus membohonginya?" tanyaku
Suara itu tertawa pelan, "Kenapa kau tak mencoba untuk belajar mencintainya saja?"
"Aku sudah terlalu sering mencoba," jawabku.
"Tapi kau mencobanya tak sepenuh hati, kan? Jujurlah," tebak suara itu.
Aku kembali diam lalu tersenyum tipis, "Mungkin."
"Kali ini kita harus bekerjasama dengan baik, ya? Kau harus punya keinginan kuat untuk mempertahankan ikatan kalian, dan di sini aku akan mulai belajar untuk mencintai dia. Bagaimana? Apa kau bisa?"
Aku tak menjawab, mataku masih menatap derasnya hujan yang tak kunjung reda.
"Kau juga tak ingin kehilangan dia, kan?" bisik suara itu parau. Dia sedang menangis, airmatanya kembali menyapu pipiku yang dingin.
"Ya," jawabku dengan gemetar.
"Hei... angkat wajahmu. Kau harus terus menjalani hidupmu. Kau sudah berjalan terlalu jauh, jadi teruslah melangkah, jangan menyerah," semangatnya.
Aku kembali meresapi kata-katanya, "Apakah aku bisa?" Tanyaku ragu.
"Kau sudah berhasil bertahan selama ini, lalu kenapa tidak kau lanjutkan saja? Kita tidak hidup di dalam sinetron dimana semua akan berakhir baik. Ini kenyataan yang sudah kau pilih, kenyataan yang harus kau hadapi, jadi baik buruknya harus kau jalani. Jangan melarikan diri."
Aku terhenyak dan terdiam sesaat. Setelahnya aku menghela napas panjang, kata-katanya membuat dadaku sedikit lega. Kekuatan yang tadi hilang perlahan kembali. "Kau benar, aku harus menghadapi semuanya," jawabku.
Suara itu terkekeh pelan, "Ya sudah... kalau begitu berhentilah menangis. Kita perbaiki semuanya bersama-sama, ya? Aku yakin kita bisa," hiburnya.
Aku tersenyum di bawah siraman hujan dan sisa airmata. Perlahan aku berdiri dan mengusap wajahku yang pastinya pias oleh dingin yang menyerang sejak tadi.
"Baiklah, hatiku... mari kita berdamai," ucapku yang disambut tawa seriuh hujannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar