Sabtu, 13 Desember 2014

Resahku

"Kamu yakin? Lima belas jam perjalanan kamu bakal nyetir sendiri? Apa ga ada orang lain yang bisa gantiin?" kataku cemas.

Dia cuma tersenyum simpul sambil menggeleng pelan, "Aku masih bisa sendiri kok," jawabnya.

"Iya aku tahu, tapi itu kan bukan waktu yang sebentar? Kamu cuma sendirian, bawa mobil sendiri, lima belas jam, dari sore sampai pagi. Kamu ga capek? Kamu juga baru sembuh, kan?" aku terus meracau.

Pria berkacamata itu tertawa geli, "Kamu cemas?" godanya.

Aku langsung mendelik, "Nggak, aku lagi ketawa ngakak sama kamu," jawabku kesal sambil membuang muka ke arah lain.

Lagi-lagi dia terkekeh, "Kamu nggak percaya sama kemampuanku karena aku tak lagi muda?" tanyanya tanpa melepaskan pandangan ke arahku.

Aku berdecak, "Bukan... bukan itu. Mau muda, mau dewasa, mau tua, mau kakek-kakek, tapi klo emang cemas ya cemas aja dong, ngapain lihat umur?" jawabku ketus.

Senyum lembut dan sabar terpahat pada bibirnya yang tipis, "Tadi katanya ga cemas?"

Aku yakin pada warna wajahku saat ini kalau melihat dari panas yang menjalar di pipiku, "Tau ah, aku pulang. Terserah kamu mau pergi dengan cara apa," jawabku sambil meraih tas kerjaku yang kutaruh di kursi sebelahku.

Pria setengah baya dengan tatapan teduh sesejuk embun itu memutari cepat meja kerjanya dan meraih lenganku. Dengan lembut dia membawaku duduk di sofa putih yang ada di ruang kerjanya lalu duduk di sebelahku dengan satu tangan memeluk pundakku. "Kamu terlalu paranoid, tahu?" katanya masih dengan senyum.

Aku menghela napas panjang dan membiarkan tangannya membawa kepalaku bersandar di bahunya. Debaran jantungnya membuang segala resahku, nyaman. Ya... aku memang selalu merasa takut, aku memang mudah panik dan cemas. Aku hanya berkaca pada beberapa kehilangan yang kualami sepanjang hidupku, sehingga rasa takut kehilangan lagi selalu menguntitku. "Aku cuma takut terjadi sesuatu sama kamu, itu aja," jawabku lirih.

Aku memejamkan mata saat dia mencium lembut puncak kepalaku yang masih bersandar padanya, "Kenapa kamu nggak berdoa aja supaya aku bisa pulang dan bertemu kamu lagi?" bisiknya sambil mengusap lenganku.

Aku terdiam. Dia benar, aku terlalu berpikiran negatif hingga lupa bagaimana caranya berpikir lurus.

Ya... dibandingkan sifatku yang egois dan kekanakan dia memang tampak begitu dewasa. Selisih umur yang jauh di antara kami pasti menjadi salah satu penyebabnya.
Mungkin cuma dia yang sanggup menghadapi keegoisanku dengan senyuman. Dan mungkin... hanya dengan dia aku bisa bersikap egois mengingat begitu seringnya aku mengalah menghadapi seribu masalah selama ini. Bersamanya aku tak perlu selalu berpura-pura tersenyum, pura-pura sabar, dan pura-pura kuat. Dia selalu mengijinkanku menjadi seperti apapun yang aku mau.

"Hubungi aku selama kamu pergi nanti," pintaku setelah resah itu hilang, dan aku semakin menyamankan diri dalam dekapannya.

Dia memelukku semakin erat, "I will, Princess," jawabnya di telingaku sambil menarik lembut hidungku dan segera membuatku tertawa.

'Teruslah bersamaku, sebagai apapun nantinya', doaku dalam hati sebelum canda dan tawa kami memeriahkan ruangan yang tadinya hening ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar