“Dok, kasih ucapan selamat ke saya dong,” kata wanita muda berusia 25
tahun di depanku itu seraya tersenyum lebar. Matanya berbinar terang, begitu
cantik, seakan saat ini dia tengah begitu berbahagia. Bisakah kutebak?
“Selamat untuk apa?” tanyaku sambil kembali menuliskan resep untuknya. Gadis
itu, Luvia, pasien tetapku sejak dua tahun yang lalu, sejak dia bekerja pada
perusahaan eksport import dimana aku bertanggung jawab sebagai dokter
perusahaan. Gadis yang ceria, yang selalu tertawa dan membawa keceriaan
dimanapun dia berada. Gadis yang merupakan karyawan kesayangan Big Boss
ditempat dia bekerja. Darimana aku tahu? Karena Bos besar di perusahaan itu, Rudy
Wijaya, adalah teman baikku.
“Dok… saya mau menikah,” katanya lagi dengan suara tawa yang renyah. Aku
menghentikan kegiatanku dan kembali menatapnya seakan tak percaya, walau aku
sendiri sempat menebak begitu tadi.
“Oh ya?” hanya itu yang mampu keluar dari mulutku. Sementara dia
mengangguk dengan begitu bersemangat.
“Waaaah…. Selamat ya, mbak Via,” justru Naya yang menyambut berita itu
dengan antusias.
Naya, keponakanku yang kupekerjakan sebagai suster, asistenku, di klinik
yang kubuka sejak sepuluh tahun yang lalu ini, memang sangat akrab dengan
Luvia. Umur mereka yang hanya selisih tiga tahun itu membuat mereka sudah
seperti teman sendiri.
“Makasih, Nay,” jawabnya dengan nada bahagia yang tak bisa disembunyikan.
Walau saat ini dia sedang sakit tapi semangatnya tampak meluap. Tapi memang
beginilah Luvia yang kukenal sejak dulu, dia tak pernah mau memperlihatkan
kelemahannya di depan orang, tak manja, bahkan tak suka dikasihani. Saran yang
kuberi sering kali dibantah, karena dia tak akan pernah mau berisitirahat jika
tangan dan kakinya masih bisa digunakan untuk bekerja, selalu begitu
jawabannya.
“Kalau begitu undang aku ya? Aku ingin tahu seperti apa lelaki beruntung
yang akhirnya mampu meluluhkan hati kamu,” kataku sambil menyandarkan
punggungku ke sandaran kursi.
Dua manita muda di depanku itu justru tertawa, “Eh tumbenan loh Dokter
Alfian pake nada merayu gitu,” canda Naya, sementara aku hanya menaikkan satu
alisku, heran dengan pernyataannya.
“Dokter lagi belajar ngegombal, Nay,” sambung Via dan lagi-lagi tawa
berderai di ruang Klinikku.
Aku hanya menggeleng saja, dua gadis itu memang selalu kompak kalau urusan
menggodaku. Aku sebut saja mereka gadis, anggap sajalah mereka masih kecil
karena perbedaan usiaku dan Luvia terbilang cukup jauh, 17 tahun, apalagi
dengan Naya?
“Aku hanya memuji, dimana salahnya?” belaku.
Dan kedua makhluk cantik itu seakan tak mendengar pembelaan diriku.
Kutatap Luvia yang masih asik bercanda dengan Naya. Matanya tampak begitu hidup
dibandingkan hari-hari yang lalu. Yah… dia memang bisa menyembunyikan
perasaannya dibalik senyum dan tawanya, tapi aku tahu apa yang selalu duduk
manis di ruang hatinya. Banyak sekali yang kudengar mengenai gadis ini, Rudy banyak bercerita tentangnya, karena pria
yang usianya lebih tua sepuluh tahun dariku itu merupakan teman baik dari ayah
Luvia.
Banyak hal yang membuatku tercengang dan tak percaya, hal yang pada
akhirnya justru menumbuhkan perhatian yang begitu besar untuk gadis di depanku
ini. Gadis yang mampu mengakrabkan diri dengan siapa saja, kecuali dengan pria
tipe genit dan perayu. Dia selalu menghindar jika bertemu pria seperti itu, dan
memilih menjaga jarak. Dia pun sering berbincang dengan istri dan anak-anakku
jika mereka bertemu di suatu tempat. Gadis yang ramah, begitu istriku
menjulukinya.
Seakan tahu kalau tengah kuperhatikan, gadis berambut lurus sepunggung itu
memiringkan kepalanya dan tersenyum dengan begitu manisnya padaku. Percayalah,
aku tak mampu mengendalikan debaran jantungku saat ini.
.
#
.
Tiga tahun sudah dia menikah, dan belum juga dikarunia seorang anak.
Sebagai seorang wanita pasti itu akan menjadi hal yang sulit untuknya, tapi
sepertinya dia tak pernah kehilangan stock senyum dan tawanya. Walau terkadang
saat aku lewat di depan kantornya dia tampak tengah melamun di depan komputer
dengan pandangan mata yang seperti ingin menangis, tapi saat menyadari kalau
ada aku di depan pintu dia akan langsung memasang senyumnya dengan begitu
sempurna. Wanita yang sangat menarik.
Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya, satu sisi aku bersyukur
karena dia sehat-sehat saja, sisi yang lain ada rasa rindu mendengar canda
tawanya lagi seperti dulu.
Luvia rentan terkena tipes dan maag, dua penyakit yang selalu setia
menemaninya, apalagi di saat waktunya tersita habis untuk pekerjaan. Dulu sebulan
dua kali dia selalu rutin mengunjungiku dan berkata, ‘Dok… bisa usir mereka? Badan saya rasanya ga karuan,’ dengan bibir
yang sedikit cemberut.
Lucu sebenarnya, tapi dia juga sangat keras kepala. Setiap kali kubilang
kalau waktunya terlalu banyak untuk bekerja, dia akan menjawab, ‘Daripada habis dibuat tidur, hayo… kan malah
ga bermanfaat?’, setelahnya aku hanya bisa diam sambil memberikan vitamin
terbaik untuk tubuhnya.
Kudengar dari Rudy kalau setahun belakangan ini dia sedang sibuk
mondar-mandir ke Dokter kandungan, entah berapa biaya yang telah
dikeluarkannya, tapi dia tak juga menyerah. Rudy pernah menawarkan supaya Via
ke Singapore dan membantu biayanya, tapi gadis itu menolak dengan halus. Aku
tak heran, karena Luvia memang bukan seperti perempuan kebanyakan. Sifat
mandirinya sudah terdidik sejak kecil, itu kata Rudy.
Membicarakan gadis ini memang tak akan ada habisnya untukku.
.
.
Malam yang cukup melelahkan, setelah seharian menghabiskan waktu di Rumah
Sakit pusat untuk seminar akhirnya aku bisa pulang juga. Kusempatkan untuk
mampir ke klinik, mengambil data pasien hari ini yang pasti telah diselesaikan
oleh Naya. Tak begitu banyak, karena klinik memang sengaja kututup hari ini,
hanya data pasien yang memeriksakan darah di laboratorium saja.
Aku memutuskan segera pulang setelah semua data masuk ke dalam tasku, dan tidur
hingga pagi. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat melihat sosok yang lama tak
kujumpai tengah duduk di ruang tunggu, “Via,” sapaku seakan tak percaya.
Gadis yang sejak tadi menunduk dan tampak begitu lelah itu mendongakkan
wajahnya, lalu tersenyum. Dia berdiri dan menyambut uluran tanganku, “Malam,
Dok,” sapanya.
Senyum itu tak hilang, tapi nada suaranya begitu lemah, dan wajahnya
begitu tampak sakit, “Kamu kenapa? Pucat sekali?” tanyaku.
Gadis itu masih tersenyum, “Mau ambil hasil tes, Dok. Tadi pagi saya
periksa darah di sini,” jawabnya.
Aku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya, pasti ada yang salah, kenapa
dia tampak begini lemah? “Aku periksa sekalian yuk, Vi? Kamu beneran pucat
loh,” tawarku. Dan aku semakin heran saat gadis itu menganggukkan kepalanya,
tak ada bantahan seperti biasa.
“Kupikir Dokter ga praktek hari ini,” katanya sambil mengikutiku.
“Memang, sengaja klinik kututup. Inipun tadi rencana hanya mengambil data
saja, tapi ternyata bertemu pasien tak terduga,” candaku dan aku suka mendengar
tawanya.
“Berbaring dulu, Via,” kataku setelah membuka pintu ruanganku. Lagi-lagi
gadis itu hanya diam dan menurut.
Tak lama pintu ruang periksa itu terbuka lagi, “Ada pasien, Dok?” tanya
Naya.
Aku mengangguk sambil mengambil stateskop di laci, “Kamu periksa tensinya
dulu, ya?’ perintahku.
Naya membuka tirai yang menutup pembaringan pasien, “Mbak via?” aku bisa
mendengar nada terkejut dari suaranya. “Tuh kan apa kubilang? Mbak Via itu
bandel sih,” omel Naya yang memang tak pernah sungkan pada Luvia.
Aku masuk ke dalam bilik dan memperhatikan wajah Luvia yang semakin
memucat, “Bandel gimana, Nay?” tanyaku.
“Mbak Via tadi pagi cerita kalau dia baru keluar dari Rumah Sakit. Dia
mengalami pendarahan akut baru-baru ini dan harus di kuret,” jelas Naya yang
otomatis membuatku terkejut.
“Pendarahan? Kamu hamil?” tanyaku hati-hati.
Luvia menggeleng sambil memejamkan matanya, mungkin dia merasa begitu
pusing.
“Bukan hamil, Dok. Cuma pendarahan aja. Tapi sampai harus tranfusi darah
juga. Itu pun mbak Via keluarnya maksa loh, Dok,” jelas Naya lagi.
Aku hanya mampu menghela napas panjang. Mau marah pun dia sudah tampak
begitu layu.
“90/70, Dok. Terlalu rendah. Tadi cek HB darahnya pun masih rendah,” kata
Naya setelah selesai memeriksa tensi Luvia.
Aku mengangguk dan memintanya keluar. Mulai kuperiksa pasien keras
kepalaku itu, dan benar saja… detak jantungnya terdengar lemah, begitupun
dengan nadinya.
Ada rasa aneh yang perlahan menyusup ke dalam dadaku, rasa yang dulu juga
sempat hadir dan mungkin belum sepenuhnya hilang. Kugenggam tangannya yang
pucat dengan lembut seakan takut menyakitinya. Bisa kurasakan jarinya menegang,
dan aku mengusapnya perlahan mencoba menenangkannya. Setelah kurasakan jarinya
rileks kembali akupun membantu memijat keningnya yang terasa panas, “Pusing
sekali, Vi?” tanyaku, dan dia hanya mengangguk.
“Tekanan darah kamu terlalu rendah, aku beri suntikan ya?” kataku lagi.
Sekuat tenaga kutahan tanganku agar tak mengusap pipinya yang pias.
"Pasrah deh, Dok... Yang penting saya ga sampe
pingsan duluan," jawabnya masih sambil mencoba bercanda.
Setelah kuberi suntikan wajahnya perlahan mulai
tenang, tak lagi menahan sakit seperti tadi. “Via, untuk dua hari ke depan kamu
istirahat ya? jangan dibuat bekerja dulu,” saranku setelah memberikan obat dan
menjelaskan aturan minumnya.
“Dua hari, Dok? Dokter ga kasian sama saya?”
bantahnya sambil mengerutkan keningnya.
Aku tertawa, benar-benar tak bisa lepas dari kursi
kerjanya, “Dua hari, Via. Kamu berhak menuntut cuti pada bosmu itu setelah apa
yang sudah kamu kerjakan untuk dia lima tahun ini,” paksaku.”
Seakan malas membantah lagi, atau memang dia sedang
tak semangat untuk membantah, akhirnya gadis itupun mengangguk pelan.
.
Kondisi Via entah kenapa terus memenuhi pikiranku,
bahkan saat menjelang tidur.
“Mikirin apa, Pi?” tanya istriku.
Aku mencoba untuk tak tergagap, “Ga mikirin apa-apa, cuma
mencoba mengingat-ingat hasil seminar tadi,” jawabku.
Wanita yang telah menemaniku selama dua puluh tahun
itu tak bertanya lagi lalu mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba ada rasa sakit
yang menyusup perlahan ke dalam dadaku, rasa sakit karena aku telah memikirkan
wanita lain selain istriku.
Kucoba menghapus bayangan Via dan memeluk ibu dari
dua anakku itu. ‘Tidak, ini hanya rasa kuatir karena dia pasienku saja’, batinku
mencoba menghibur diri sendiri.
.
.
Siang itu aku bertemu Via lagi di ruang tamu kantor
Rudy. Aku masih harus menunggu giliran masuk karena Rudy sedang menerima tamu
di dalam.
“Siang, Dok,” sapanya ceria. Tangannya memeluk dua
buah map berwarna hijau yang cukup tebal. Gadis yang baru masuk itupun
meletakkan map-mapnya di meja sekretaris Rudy, Yunita, lalu menghampiri sofa
tamu dan duduk di depanku.
Aku masih melihat pias pada wajahnya, walau tak
sepucat malam itu, tapi aku tahu kalau dia belum pulih sepenuhnya. ‘Dasar gadis
nekat’, batinku gemas. “Gimana kondisi kamu sekarang, Via?” tanyaku, walau aku
sudah bisa menebak apa jawabnya.
“Baik dong, sehat banget malah. Sakitnya ga berani
nempel ke saya lama-lama, Dok.”
‘Kan? Pasti begitu jawabnya’, batinku lagi. “Kurasa
bawelmu kali ini ga bikin takut penyakitnya, Vi. Kamu masih sakit, kan? Mata
seorang Dokter tak pernah salah,” jawabku sedikit kesal.
Tapi sepertinya dia pun tak kalah kesal, bibirnya
yang diberi warna natural itu sedikit cemberut, “Susah banget sih bohongin
Dokter satu ini?” gerutunya.
Aku tertawa pelan sambil menggeleng menahan omelan
yang hampir tak bisa kutahan lagi, “Apa kata Dokter kandunganmu?” tanyaku
memilih mengalah.
Luvia terdiam sejenak, “Emang hormon saya belum
normal, Dok. Masih beberapa kali terjadi pendarahan, makanya saya harus cek
rutin ke sana. Tes HB terakhir pun masih di bawah normal,” jelasnya pelan tanpa
melihat mataku.
Aku bisa paham pada penjelasannya, dan kalau kulihat
kondisinya saat ini memang seperti itulah yang terjadi. “Bisa kulihat tanganmu,
Via?”
Tampaknya dia sedikit ragu sambil melihat sekeliling.
“Aku hanya ingin memeriksa denyut nadimu saja,”
jelasku, dan akhirnya Luvia menurut.
Ada getar pada sentuhan kami, entah dari tangannya
atau dari tanganku. Aku jadi membayangkan kembali kelembutan dan kehangatan
tangannya malam itu saat kugenggam.
Kucoba segera menghapus bayangan itu, dan kembali
berkonsentrasi pada nadinya. Memang masih lemah, dan dia tak bisa begini terus
dengan aktivitasnya yang selalu padat.
“Nanti jam tujuh malam ambil vitamin di klinik, ya,”
kataku.
Dan seperti biasa gadis itu terus saja membantah ini
dan itu. Aku sudah sangat terbiasa menghadapi sifatnya yang begitu, jadi tak
terlalu kutanggapi. “Terusin aja ngeyelnya, Via… atau aku kasih Pak Rudy
laporan tentang kesehatan kamu supaya kamu mendapatkan cuti tambahan,” ancamku.
Dan benar saja ancaman itu sangat ampuh untuknya.
Luvia pun memilih bungkam. Dia tahu benar kalau Bosnya itu menaruh perhatian
penuh terhadapnya dan Nia, partner kerjanya yang satu lagi.
Kalau tentang dua orang gadis ini Rudy memang sedikit
over protective. Rudy selalu akan
berusaha memberikan apa saja untuk dua karyawan teladannya itu mengingat
loyalitas mereka yang sangat besar untuk perusahaan. Dan sedikit saja laporan
dariku, sebagai Dokter kepercayaannya, tentang kesehatan Luvia atau Nia yang
negatif, maka Rudy pasti akan memberikan cuti tambahan untuk dua orang gadis keras
kepala yang mungkin lebih suka memilih tidur di kantor daripada di rumah itu.
Dan perintahnya mutlak, tak boleh dibantah. Hal yang paling ditakuti Luvia dan
Nia jika bos mereka sudah memberi titah cuti, maka mereka tak akan diijinkan
menyentuh pekerjaan mereka, yang berakibat pekerjaan mereka akan menumpuk saat
mereka masuk kembali.
Melihatnya yang semakin cemberut itu aku jadi tertawa
sendiri, “Jam tujuh ya? aku tunggu di klinik, Via,” godaku yang semakin geli
melihatnya sama sekali tak bisa membantah. Kali ini aku tak akan membiarkannya
menang, karena aku memikirkannya.
.
.
“Kok Cuma sedikit obatnya, Dok?” tanyanya seakan tak
percaya, “Biasanya kan Dokter paling suka ngeliat saya tersiksa dengan
obat-obat yang banyak dan besar-besar?” celotehnya lagi.
Aku hanya menahan tawa, sudah lama sekali ruangan ini
tak ramai oleh cerewetnya, “Itu untuk dua hari, setelahnya kembali lagi ke
sini, ya?” jawabku.
“Cuma buat dua hari aja?” tanyanya lagi.
Aku tak menjawab, hanya mengangguk saja sambil
memainkan ballpoint di tanganku.
Gadis itu memicingkan matanya dan tersenyum padaku,
“Dokter modus ya? Bilang aja mau ketemu saya terus,” godanya dengan nada genit
yang dibuat-buat dan malah terlihat makin menggemaskan di mataku.
Aku terbahak, bersama dia memang selalu menyenangkan.
Tanpa bisa kutahan lagi kuraih tangannya yang diletakkan di atas meja, lalu
menggenggamnya. Bisa kulihat keterkejutan di mata bulatnya, tapi tak lama, dan
aku lega, begitu lega karena dia ternyata tak menarik tangannya.
Saat ini rasa ingin melindunginya begitu kuat. Kumainkan
jemarinya di tanganku, terasa begitu lembut. Kukunya yang dipotong pendek,
bersih dan tak diberi pewarna benar-benar membuatnya tampak begitu sederhana di
mataku, tanpa mengurangi aura cantik kewanitaannya. "Aku hanya tak ingin
melihatmu terus sakit, Via. Jangan terus memaksakan diri untuk bekerja dan
bekerja, tubuhmu juga butuh istirahat. Aku mengkhawatirkanmu, percayalah,"
kataku pelan.
Luvia terdiam sejenak, dia memandangi tautan jari
kami dengan cukup lama sebelum akhirnya bersuara, "Saya ga bisa, Dok...
Saya harus bekerja semaksimal mungkin," jawabnya lirih sambil menundukkan
kepala.
Aku merasa begitu menyesal sudah meminta hal yang tak
mungkin padanya. Terlebih saat senyum itu memudar, berganti dengan senyuman
getir.
Dari cerita-cerita Rudy selama ini aku merasa sudah
mengenalnya sejak kecil. Bagaimana tentang kehidupannya yang selalu dituntut
mandiri oleh kedua orangtuanya yang memiliki kesibukan luar biasa, sementara
saudaranya yang lain bebas bermanja dan meminta. Aku juga tahu dari cerita Rudy
bagaimana Luvia selalu dituntut untuk menjadi kuat dan dewasa bahkan di usianya
yang belum matang saat itu. Saat ayahnya meninggal, lalu menyusul kakaknya dan
istrinya yang menitipkan tiga anaknya pada gadis ini. Lalu ibunya yang mulai
sakit.
Belum lagi kondisinya sendiri yang membutuhkan
perhatian dan dukungan yang besar dari orang-orang terdekatnya, yang nyatanya
lagi-lagi diapun harus berjuang seorang diri. Dan sampai saat inipun dia tetap
harus sendiri di sini, jauh dari suaminya yang harus bekerja di luar kota sejak
setahun yang lalu. Jadi dimana tempatnya bisa bersandar?
Aku hampir tak percaya saat Rudy menceritakan
semuanya, alasan dia menaruh perhatian lebih pada Luvia, yang akhirnya justru
menular padaku. Dimana dia menyembunyikan semua bebannya?
Jemari gadis itu mulai gemetar dan terasa dingin. Aku
membawanya pada bibirku, mengecupinya hingga terasa hangat kembali. "Kalau
kamu memang tak bisa menyingkirkan sedikit saja waktu untuk beristirahat, maka
turuti saja apa yang aku dan dokter kandunganmu katakan. Teruskan obatmu, dan
jaga pola makan serta tidurmu, oke?" Kataku.
Via tak menjawab, dia hanya mengangguk dengan kepala
yang semakin dalam tertunduk. Bahunya mulai bergetar, tawa renyah yang coba diciptakannya
sungguh tampak dipaksakan. Dia mungkin akan menangis, dan aku tak sanggup
melihat gadis luar biasaku itu meneteskan airmatanya.
Tanpa berpikir lagi aku berdiri, berjalan memutari
meja, lalu memeluknya seerat mungkin. Dan benar saja, saat itu juga airmatanya
tumpah di dadaku, tanpa suara. Cengkeraman erat jemarinya pada jubah dokterku
sudah cukup membuatku tahu kalau pertahanannya runtuh.
Kubiarkan dia menangis sepuasnya, melepaskan apa yang
mungkin sudah menyesak di dadanya selama ini. Dan sungguh... Aku begitu ingin
bisa melindunginya, menjaganya, menjadi kekuatannya. Walau aku tahu aku tak
berhak atasnya.
Kucium lembut puncak kepalanya, kuusap punggungnya
sembari berharap aku bisa memberikan seluruh kekuatanku untuknya saat ini.
"Sehatlah, Luvia... Berjanjilah untukku," bisikku akhirnya.
.
.
Sejak malam itu aku jadi semakin sering
memikirkannya. Rasanya sepi saat aku tak mendengar suaranya, tawanya, atau
bahkan jika tak menerima pesan singkatnya di Blackberry Messenger. Dia tak pernah memulai, semua selalu aku. Dan
sikapnya yang begitu menghormati privasi-ku
itu semakin membuatku tak mampu tanpanya walau hanya sehari.
Terlalu sering rasa bersalah itu muncul, terutama
jika aku sedang berkumpul bersama istri dan anak-anakku. Yang kusesalkan adalah
aku jadi sering membandingkan nasib baik mereka dengan nasib Luvia.
Aku melihat keluargaku begitu sempurna, mereka bahagia tanpa harus memikirkan kesulitan
apapun. Istriku hanya berdiam diri di rumah sambil mengawasi anak-anak, tak
perlu harus bekerja untuk membantuku, karena aku bisa mencukupi semua kebutuhan
mereka. Sedang Luvia?
Istriku hanya tinggal meminta jika dia membutuhkan
sesuatu, anak-anakku hanya tinggal sekolah dan belajar saja karena aku dan
istriku pasti akan memenuhi semua kebutuhan mereka tanpa mereka perlu meminta.
Sementara Luvia?
Mereka tak pernah mencurigaiku, karena memang sebisa
mungkin aku selalu mengutamakan mereka. Luvia selalu menolak jika kuajak
bertemu pada malam hari, alasannya simpel, 'Ada yang menunggumu di rumah, Dok'.
Hanya sesekali saja kami bersama pada malam hari,
terutama jika istri dan anak-anakku menghabiskan waktu di rumah ibu mertuaku di
luar kota dan aku tak ikut karena harus membuka praktek di klinik.
Maaf, maafkan aku, istriku. Sungguh aku tak bisa
berhenti memikirkan gadisku. Rasa kagumku pada kekuatan dan kemandiriannya
telah berubah menjadi rasa yang berbeda. Walau aku tahu ini salah, tapi aku tak
bisa berhenti. Maafkan aku.
Tak bisa kujelaskan bagaimana rasa sakit ini menyiksaku
setiap kali melihat wanita terhebat yang telah kunikahi itu tersenyum dan
memelukku dengan hangat, bagaimana rasa bersalah ini perlahan mungkin akan mampu
membunuhku. Aku yang telah menyisihkan sedikit ruang di hatiku untuk wanita
lain, menggeser sedikit tempatnya agar Luvia bisa masuk dan berdiam di sana
walau gadis itu tak pernah meminta, maafkan aku.
.
.
Semakin hari aku dan Luvia menjadi semakin dekat.
Bersamanya selalu tak pernah lepas dari tawa. Dan diapun menjadi lebih terbuka
padaku tentang segala hal. Kami sama-sama sadar jika apa yang kami lakukan ini
keliru, tapi rasa nyaman saat bersama sudah seperti candu.
Sebisa mungkin kami tak pernah membicarakan masalah
hati dan perasaan, walau kami sama-sama tahu kalau kami saling merindukan jika
tak bertemu. Obrolan seputar pekerjaan dan kesehatannya adalah menu wajib. Bisa
tahu apa yang sudah dilakukannya sepanjang hari itu sudah cukup bagiku. Dan
tawa yang dia bagi kuanggap sebagai bonus yang berlimpah. Aku suka melihat dia
tertawa.
Sebisa mungkin kami membatasi kontak fisik, karena
kami tak ingin benar-benar menjadi buta, walau nyatanya saat ini kami sama-sama
tak mampu melihat yang lain. Genggaman tangan dan ciuman di ujung-ujung jari
sudah cukup untukku tahu kalau diapun membutuhkanku.
Tapi semakin lama kami semakin tak bisa membohongi
perasaan masing-masing, kami mulai sulit menutupi rasa rindu. Penah kami
mencoba untuk sama-sama menghindar, tapi pada akhirnya kami menyerah dan
mengalah pada hati, seperti malam ini.
Di tepi laut ini kami sama-sama terdiam, menikmati
rasa takut yang semakin hari semakin memperjelas bentuknya. Berdiri
berdampingan di depan mobil dengan kedua tangan saling bertautan erat, kami
tahu kalau ini tak mungkin bisa diteruskan, walau kami juga tak ingin lembar
harian kami berakhir.
“Via…” panggilku pelan tanpa memandangnya, tapi aku
tahu dia mendengar. Rasa tegang pada jemarinya nyaris membuatku ingin
membatalkan apa yang ingin kuucapkan. Tapi aku tahu kalau diapun sudah siap
untuk malam ini. “Semakin hari aku semakin sulit membohongi perasaanku sendiri.
Aku tahu kalau aku sudah merasakan rasa yang berbeda setiap kali bersamamu. Dan
seharusnya aku bisa mencegah rasa ini hadir di antara kita. Tapi maaf, Via… aku
kalah, aku tak bisa mengendalikan hatiku,” ucapku pelan.
Dari ujung mataku yang memandang pada lautan lepas
aku bisa melihat kalau Luvia tengah menatapku, dan tersenyum.
“Saya tahu, Dokter… dan saya juga telah gagal. Saya juga
tak bisa mengendalikan hati saya, maaf,” bisiknya lirih. Lalu dia terdiam
sebentar, sebelum akhirnya tautan tangannya mengerat saat suaranya kembali
terdengar, “Kita sudah pada batasnya, kan? Kita harus usai.”
Aku kalah, aku berdiri di depannya lalu menangkupkan
tanganku pada kedua pipinya yang terasa begitu hangat. Kutatap kedua bola
matanya yang bening, ada bayangku di sana. Dadaku berdebar kencang, oleh
perasaanku terhadapnya, juga oleh rasa sakit yang tak bisa kutahan lagi. “Aku
tak mungkin bisa mengucapkan apa yang aku rasakan saat ini, Via. Tapi aku yakin
kamu mengerti dan bisa merasakannya,” kataku menahan emosi yang kian memuncak.
Lagi-lagi gadisku tersenyum, walau ada getir di sana,
“Ya, Dok… saya bisa merasakannya. Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini,
walau semua harus berakhir malam ini,” jawabnya tulus.
Gadisku tak menangis, tak ada airmata yang mengalir.
Tapi aku bisa mendengar ratapan hatinya, jeritan perasaannya, karena akupun
merasakan hal yang sama.
Kudekatkan wajahku padanya, lalu kucium pelan
bibirnya yang tak berani kusentuh selama ini. Luvia memejamkan matanya, lalu
tangannya meremas pelan lengan kemejaku. Bibirnya bergetar di bawah sentuhanku.
Dan lagi-lagi aku menyerah, aku memperdalam ciumanku, menguasai bibirnya yang
lembut dengan rakus. Menikmati setiap sudutnya yang selama ini hanya mampu
kulihat dengan mataku, kubayangkan dalam mimpiku.
Pelukan kami semakin erat, seakan kami ingin
menghabiskan sisa-sisa perasaan kami malam ini juga. Menumpahkan apa yang telah
kami tahan selama ini.
Saat kuantar dia pulang dia tetap bercerita seperti
biasa. Kurasa dia tak ingin malam ini menjadi mimpi buruk untuk kami. Kurasa
Via ingin mengembalikan hubungan kami seperti dulu, sebagai Dokter dan
pasiennya. Dia berusaha kembali menjadi Luvia yang dulu, pasienku yang bandel
dan keras kepala.
Hingga saat kuhentikan mobilku di depan pagar
rumahnya… dia menatapku dengan dalam, dan tersenyum dengan begitu manisnya.
“Sepulang dari sini jangan menangis ya? karena tak ada yang perlu ditangisi.
Kita sudah memutuskannya begini, kan?” godanya dengan nada jenaka.
Aku mencoba untuk tertawa, atau tersenyum, tapi
gagal. Aku hanya bisa menatapnya dengan diam seolah aku tak akan bertemu
dengannya lagi. Kuamati wajahnya, matanya, bibirnya, semuanya. Kubelai pelan
pipinya yang tanpa noda itu, “Jaga dirimu,” bisikku.
Luvia mengangguk pelan, lalu dia memelukku, “Dokter
juga ya?” ucapnya lirih, lalu menjauhkan tubuhnya dariku. “Good night, Dok…” katanya sebelum menutup pelan pintu mobilku. Dan
saat itu juga aku merasa terhempas, aku kehilangan.
‘Teruslah
tersenyum, jangan menangis, atau aku akan turun dari mobil ini dan kembali
memelukmu untuk tak kulepas lagi’, jeritku dalam hati saat melihatnya masih
berdiri di depan pagar sambil menunggu mobilku melaju pergi. Dan gadisku tetap
tersenyum, tanpa airmata.
.
.
Malam yang cukup berat untukku. Sampai siang ini aku
sama sekali tak bisa memejamkan mataku. Otakku terus merekam ulang semua waktu
yang telah aku habiskan bersama Luvia. Pekerjaanku sejak pagi kulakukan
setengah hati, malas. Hingga Rudy menelponku dan memintaku untuk menemaninya
makan siang. Rasanya enggan untuk menerima, aku hanya sedang ingin sendiri.
Tapi setelah kupikir tak ada salahnya kuterima ajakannya, setidaknya ada yang
mengalihkan pikiranku yang sedang kalut.
“Melamun, Fian?” tanya Rudy yang duduk bersila di
depanku. Kami memilih gazebo lesehan di restoran ini, agar lebih santai.
Aku menggeleng, “Cuma ngantuk aja,” jawabku sambil
memainkan sendok teh tawar panas di depanku.
“Lembur semalam? Kutelpon di rumah tak ada yang
angkat, hapemu tak aktif,” selidik Rudy.
Aku tertawa, “Aku ketiduran di klinik. Anak istriku
di rumah mertua,” jelasku lagi. Semalam aku memang menghabiskan waktu di
klinik. Entah laporan medik apa saja yang telah kuperiksa dan kuulang terus
menerus. Tapi tetap saja fokusku hanya Luvia.
“Siang, Pak! Maaf telat,” sebuah suara mau tak mau
membuatku mendongak. Dan jantung ini kembali berulah saat kulihat siapa yang
datang, Nia… dan Luvia. Kurasa diapun sama terkejutnya denganku.
“Lambat sekali kalian, mau kusisakan durinya saja
tadi,” seloroh Rudy yang tak pelit bercanda jika dengan dua orang kesayangannya
ini.
Nia tertawa, “Via nih, Pak, lambat dari tadi,” jawab
gadis berambut ikal itu sembari duduk di samping Rudy. Aku tak memperhatikan
apa yang mereka bicarakan, karena perhatianku telah tersita sepenuhnya pada
Luvia.
Mau tak mau Luvia harus duduk di sampingku. Kugeser
sedikit posisiku dan memberi tempat untuknya. Aku tahu kalau semalam Luvia juga
pasti tak bisa tidur, dan menangis. Wajanya pias, matanya sedikit bengkak dan
merah. Wajahnya begitu kuyu. ‘Akukah penyebabnya, Via?’ sesalku dalam hati.
Rasanya aku ingin menarik tubuh gadis itu dan menenggelamkannya ke dalam
pelukanku.
Luvia berusaha bersikap wajar. Senyumnya langsung
terpasang pada bibirnya yang tampak pucat, “Hai, Dok…” sapanya sambil duduk di
sampingku.
Orang mungkin akan menganggap sikapnya wajar, tapi
tidak denganku. Getar pada suaranya menunjukkan kalau dia sedang tidak
baik-baik saja, dan aku tahu karena apa. “Sehat, Vi?” tanyaku basa-basi.
Gadis itu hanya mengangguk, dia seperti ingin
menjawab, tapi suaranya tercekat. Dan aku tak ingin melihatnya tersiksa seperti
ini, akupun tak sanggup merasakan sakit pada dadaku saat kulihat dia menunduk
untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
‘Maafkan aku, maafkan
aku…’, bisikku dalam hati sebelum kugenggam dengan erat tangannya yang
gemetar di bawah meja.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar