Sabtu, 22 November 2014

Winter's Smile





Sore ini udara semakin dingin. Kudekap kedua lenganku di dada saat melangkah keluar dari gedung kantor. Kutatap jalanan yang memutih dengan tumpukan salju yang tebal, juga orang-orang yang berlalu lalang dengan atribut musim dinginnya. Tak ada permukaan yang tak putih, bahkan mobil yang terparkir di pinggir jalanpun atapnya sudah diselimuti salju.

kuadukan kedua telapak tanganku yang mulai terasa beku, kugosok-gosok agar terasa lebih hangat. 'Come on, Via... kau harus segera pulang sebelum berubah wujud menjadi boneka salju di sini', otakku sepertinya memahami isi hatiku yang enggan melangkah.

Kutatap lagi butiran putih serupa kapas yang lembut, yang masih turun di langit kota ini. Membayangkan aku harus berjalan di bawahnya saja rasanya bulu kudukku sudah meremang. Tapi jika tak segera maka aku tak akan sampai di rumah untuk menikmati coklat panas kesukaanku.

Setelah kuhela napas panjang kubulatkan tekad. Kubenahi topi rajutan tebalku, yang kudapat dari seseorang yang istimewa sebagai hadiah natal beberapa waktu yang lalu, agar aku merasa sedikit hangat. Kurapatkan mantel buluku yang tak kalah tebalnya agar angin musim dingin tak mampu menyusup ke dalam tubuh. Lalu dengan tergesa kulangkahkan kakiku dan membaur di antara kerumunan orang yang memenuhi sisi jalan. Kumasukkan tanganku yang berbalut sarung tangan ke dalam saku mantel.

Manik coklatku memandangi etalase-etalase toko yang mulai terang, ya... lampu-lampu kota mulai menyala menyambut malam yang akan tiba sebentar lagi. Euforia tahun baru telah berlalu, dan pernak-pernik serba pink meramaikan suasana menjelang Valentine minggu depan.

kuhentikan sejenak langkahku di depan jendela kaca besar sebuah toko, dan senyumku mengembang saat kulihat sepasang liontin berbentuk hati tergantung dengan cantiknya. Ada ukiran sederet huruf yang sangat indah pada permukaannya, 'With you, forever'. Dalam hati aku bertekad akan membelinya esok hari sebagai hadiah Valentine untuk Aya, gadis mungil dengan mata lebarnya yang cantik, separuh yang melengkapi utuhku.

Aku mengangguk sendiri sebelum melangkah pergi, memantapkan pilihanku pada sepasang liontin itu. Kalau saja sekarang tidak sedingin ini, dan kalau saja Aya tidak sedang menungguku di taman kota, pasti aku sudah masuk ke dalam toko.

Baru beberapa langkah, dan aku kembali berhenti di toko sebelahnya. Mataku terpaku pada sebuah boneka beruang coklat dengan secangkir kopi di depannya. Beruang itu memandang keluar jendela, memandang ke arahku.

Kudekati etalase kaca itu dan meletakkan tanganku di sana, ke arah boneka beruang yang mengingatkanku padanya. Sosok yang selalu menemaniku selama dua tahun ini, sosok pecinta kopi dan cappuchino yang baru saja berlalu bersama senja, membawa semua cerita yang terpaksa usai demi menjaga keutuhan sebuah hati.

Kupanggil dia beruang, entah kenapa, mungkinkah karena tubuhnya yang berbulu? Haha.. entahlah, entah. Walau awalnya mungkin Aya lah yang memberikan julukan itu padanya. Aya yang tengah kesal karena aku memutuskan untuk berkencan dengan pria itu dua tahun yang lalu. Aya yang menolak awalnya, dan menerima pada akhirnya karena gadis itu begitu menyayangiku dan memutuskan untuk memahami pilihanku. Gadis yang pada akhirnya juga menjadi yang pertama memelukku saat tangisku pecah di tengah hujan karena pria yang selalu mengirimiku senja melalui lensa kameranya itu. Gadis yang mampu menghargai keputusanku untuk pergi dan menghilang walau hatiku sendiri hancur tak berbentuk.

Kuletakkan keningku pada jendela kaca itu, dan menatap lekat mata sang beruang sembari berbisik, 'I miss you, so much. Maaf untuk janji yang terpaksa kuingkari, aku hanya ingin mengembalikan rindu pada tempat yang semestinya'.

Kurasakan mataku memanas dalam udara sedingin ini saat samar dalam bayangku kulihat boneka beruang itu tersenyum dan membalas bisikanku, 'Jaga janji kita, ya? Kita harus bahagia walau tak lagi bersama'.

Kuusap butiran bening yang mulai mengalir dari mataku. Kupaksakan sebentuk senyum pada bibirku yang mulai terasa kaku. Ya... aku harus tersenyum, harus. Aku harus mampu mengubah tangis menjadi senyum manis, seperti janjiku pada Aya. 'Hidup tak hanya tentang cinta, Via... hidup tak hanya tentang bahagia', bisikku dalam hati, mencoba menciptakan semangat dari kepingan hati yang terserak.

kembali kuayun langkahku, kusapu pandanganku pada lampu-lampu di sepanjang jalan, walau salju masih turun dan seluruh kota tampak begitu putih, tapi lampu-lampu jalanan yang berderet menciptakan bias jingga, yang mengingatkanku pada senja saat musim semi tiba. Aku menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan sesak yang menghimpit dada saat kenangan kembali menyeruak, dan aku tertawa kecil saat kulihat napasku menjadi putih seperti asap karena udara yang terlalu dingin.

Kembali kumasukkan tanganku ke saku mantel dan meneruskan perjalananku. Saat ini ingin rasanya aku meminjam tongkat sihir Harry Potter dan menciptakan mantel atau selubung yang bisa menghangatkanku di tengah hujan salju. Aku tertawa sendiri kalau mengingat betapa Aya dan aku sangat menyukai film itu, bahkan kami pernah bermimpi untuk dapat hidup di dalamnya dan menciptakan banyak hal yang tak bisa kami ciptakan saat ini. Seperti menciptakan ramuan Amortentia, misalnya. Ramuan yang mampu membuat siapapun jatuh cinta pada kami. Haha... wanita, hatinya memang tak pernah lepas dari cinta.

Tapi saat ini separuhku itu tengah jatuh cinta pada hal-hal yang berbau korea, dimana aku sama sekali tak bisa menikmatinya. Bahkan di antara banyak artis korea yang sedang tenar aku hanya mengenali wajah Jaejoong, Jejung, Jae, atau siapalah itu namanya, yang setiap hari tak pernah lepas dari layar televisi di rumah akibat perbuatan Aya, dan Rain... karena aku mencintai namanya, hujan.

Berapa lama keberadaan Aya telah membuatku terikat padanya? Sejak kapan kami selalu bersama? Bahkan memutuskan untuk tinggal berdua di sebuah rumah kayu yang berdiri di tengah padang ilalang yang kini telah berubah wujud menjadi padang luas yang tertutup salju. Entah... saat aku sadar aku telah bersamanya, menjadi bagian darinya. Hanya dia yang mampu mengerti bahasa diamku, dimana semua orang selalu mengartikan kalau aku baik-baik saja. Termasuk dia, lelaki masa laluku yang, kusebut saja, sudah mati urat pekanya. Hah... dia lagi, apapun yang kupikirkan pada akhirnya akan bermuara padanya. Lelaki dengan tawa seriuh ombak, dimana celotehnya selalu mengisi kekosongan hatiku. Lelaki yang selalu mengirimiku gambar senja dari berbagai tempat dan membuatku seolah selalu bersamanya sembari menikmati jingga, berdua.

Aku tersentak saat lenganku tersenggol keras oleh seorang pria bule yang memiliki tubuh besar, khas lelaki eropa. Dan aku hanya tersenyum saat dia meminta maaf. Lamunanku pun buyar, serapi mungkin kututup lembar kenang itu agar gurat resahku tak terbaca oleh Aya.

Semakin cepat kupacu langkahku saat kulihat taman kota sudah ada di depan mata. Aku berjalan sambil melihat pada bangku kayu yang sudah tua di utara taman, tempat dimana Aya telah berjanji untuk menunggu sore ini. Ah itu dia... aku nyaris terbahak melihat kondisinya. Tubuh mungil itu tampak tenggelam di dalam mantelnya yang tebal. Wajahnya nyaris tak terlihat karena tertutup payung hitam yang besar.

Kubalas lambaian tangannya yang bersemangat saat pandangan kami beradu. Senyum manisnya mengembang lebar walau aku tahu dia tengah kesal karena kedinginan. Kulihat sekilas arloji putihku, ah... aku terlambat lima belas menit, pasti gara-gara dua etalase toko yang menarik perhatianku tadi. Semoga Aya tak marah, atau aku tak akan mendapatkan coklat panas buatannya yang lezat itu.

“Maafkan aku, sayang… aku terlambat, ya? Ada pekerjaan tambahan tadi,” kataku segera dengan cengiran saat kulihat matanya yang bulat menatap tajam padaku. Sedikit berbohong tak apalah, tak mungkin juga aku bilang kalau aku tadi berhenti sebentar karena tertarik pada sebuah, err.. dua buah barang di etalase toko, kan? 

“Kau sampai menggigil begini, maafkan aku, ya? Ayo pulang, aku rindu coklat panas buatanmu,” kataku lagi kali ini dengan rasa bersalah karena melihat bibir mungilnya yang tampak sedikit pucat karena dingin.

Aku mengernyit saat separuhku itu tak menjawab, dia masih asik memandangiku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. “Ay..?” panggilku sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya. Kulihat Aya segera tersadar, gadis yang memiliki tubuh lebih pendek dariku itu sedikit berjinjit dan membersihkan salju di topi rajutanku juga mantelku. Dan aku tersenyum saat dia menggengam tangan kiriku dengan erat.

“Yuk kita pulang, akan kubuatkan coklat panas untukmu. Tapi jangan lupa… malam ini adalah jatahmu yang memasak makan malam. Jangan mangkir, ya?” celotehnya.

Kutepuk keningnya dengan gemas sambil tertawa.

“Yah! Tidak bisakah kau tidak mengorbankan jidatku sebagai sasaran tangan nakalmu itu? Bagaimana seandainya jidatku semakin lebar? Bagaimana jika tidak ada satu pun pria bule yang akan tertarik padaku karena jidatku yang lebar?”

Aku masih terus tertawa, “Bukannya idola koreamu itu, siapa namanya? Juga mempunyai jidat yang lebar? Tapi nyatanya toh dia masih tetap menjadi idola, kan? Siapa tahu kalau jidatmu lebar kau malah laris disukai para bule,” godaku lagi yang tertawa makin keras melihat Aya masih mengusap keningnya dengan wajah cemberut. Tapi kesalnya tak lama, setelahnya gadis mungil itu menggamit lenganku sambil meletakkan kepalanya di bahuku. ‘Separuhku yang manja’, bisikku dalam hati.

Lalu kami terus melangkah berdua di bawah salju dengan tangan yang tautannya tak akan pernah lepas. Ah Aya… kalau di dalam fim Harry Potter maka kuumpamakan kau sebagai Hermione Granger, penyihir perempuan yang cantik dan cerdas. Karena kau selalu tahu apa yang aku mau bahkan di saat aku diam.


------------------------------------------
Side Story dari tulisan Aya yang berjudul Winter's Promise :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar