Rabu, 26 November 2014

Pertemuan ( Fiction )



Aku sedikit lega karena pasienku hari ini tak begitu banyak. Setelah beraktifitas seharian dengan jadwal yang sangat padat kurasa aku berhak memiliki sedikit waktu untuk bersantai malam ini.
'Kemana Naya?' tanyaku dalam hati saat keponakanku yang lulus sekolah keperawatan dan kuangkat sebagai asistenku di klinik ini belum masuk lagi untuk melaporkan masih ada atau tidak pasien di luar. 'Mungkin dia sedang sibuk di gudang obat', batinku.
Lalu akupun memutuskan untuk melihat ke ruang tunggu di depan. Tubuhku rasanya benar-benar lelah, dan aku sangat berharap jika aku bisa menyegerakan jam praktekku malam ini.
Memang sepi, aku hanya melihat seorang ibu yang sedang memangku seorang anak lelaki berusia kurang lebih 5 tahun, dan seorang wanita, mungkin juga gadis, yang duduk di samping ibu itu, membelakangiku.
gadis itu berkulit sawo matang dengan rambut hitam lurus tergerai di punggungnya. Dia masih mengenakan baju resmi, mungkin seragam kerjanya. Dan kurasa gadis itu bukan kerabat dari si ibu dan anak itu, melihat si Ibu tampak tersenyum dan berbicara dengan nada sopan pada si gadis.
Langkahku terhenti di sudut ruangan, aku urung menyapa mereka karena mendengar si gadis tengah berbicara dengan anak kecil itu, mungkin juga setengah membujuk.
"Dengar ya, adik kecil... adik kan sedang sakit? Tau ga kalau sakit itu seperti monster?" tanya gadis dengan suara merdunya.
kulihat anak lelaki itu sedikit mengernyit, mungkin merasa takut mendengar kata-kata 'Monster'. Aku tetap diam dan terus mendengarkan.
"Kalau di film-film biasanya monster kalahnya dengan siapa?" tanya gadis itu dengan sabar.
Si anak tampak berpikir sejenak, "Ultraman," jawabnya dengan suara parau tapi lantang.
Si Gadis mengangguk cepat sambil bertepuk tangan, "Anak pintar," pujinya. "Nah kalau di dalam tubuh kita ini yang menjadi Ultraman-nya adalah sayur-sayuran. Jadi... adik kecil ga boleh malas makan sayur ya? Biar monster penyakitnya cepat mati dan adik bisa sehat lagi," bujuknya.
Anak lelaki itu memandang si gadis dengan tatapan mata yang begitu terang, sepertinya dia suka dengan cara gadis itu bercerita. "Berarti... Dio cuma makan sayuran aja ya, Kak? Ga minum obat ga apa-apa kan?"
Tanpa bisa kutahan akupun tertawa mendengar pertanyaan bocah bernama Dio yang polos itu, dan otomatis tiga pasang mata itu langsung memandang ke arahku.
Pandanganku langsung terarah pada si gadis. Wajah ovalnya yang bersih, matanya yang bersinar hangat, hidungnya yg cukup mancung, bibirnya yang dipoles lipstick dengan warna natural. Sederhana, tapi sedap dipandang.
"Ah.. Itu Pak Dokternya datang, kita tanya sama Pak Dokter aja yuk? Butuh ga kita minum obat?"
Si gadis sepertinya langsung bisa menebak kalau aku adalah Dokter di klinik ini. Mungkin dia melihat dari jubah putih yang melekat di tubuhku, juga stateskop yang menggantung di leherku. Sepertinya gadis itu pasien baru di sini, juga si Ibu dan anak itu.
Aku mendekat dan duduk di kursi yang kutarik hingga ke depan mereka. Kuraih tangan Dio yang terasa panas, "Dio tau Popeye?" tanyaku.
Bocah itu mengangguk tanpa melepaskan pandangannya padaku. Dan aku sadar kalau tak hanya dia yang menatapku lekat, tapi juga gadis dengan mata bulat bening yang duduk di sampingnya. Mata yang ramah.
"Popeye butuh apa untuk menjadi kuat?" tanyaku.
"Bayam!" jawab Dio cepat.
Aku, si Ibu dan gadis itu spontan tertawa mendengar betapa cerdasnya anak ini. "Begitupun dengan para sayur di dalam tubuh Dio. Sebutlah para pahlawan sayur itu bernama "Super Vita-Man", mereka juga butuh penguat untuk mengusir para monster penyakit, dan penguat itu bernama obat," jawabku sambil melirik pada si gadis yang tengah tersipu karena sadar kalau ternyata sejak tadi aku mendengar pembicaraan mereka.
Dio tampak berpikir lagi. Wajar, jarang sekali ada anak kecil yang mau minum obat, “Tapi kan obat itu pahit, Om Dokter,” kata bocah berpipi tembam itu pelan.
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Tapi kalau bisa mengalahkan monster penyakit kan ga apa-apa, Dio? Lagipula pahitnya juga cuma sebentar, kan?” bujukku.
"Emangnya Dio mau Super Vita-Man kalah sama monster penyakit?" si gadis tampak berusaha kembali mempengaruhi teman kecilnya.
Dio menggeleng keras, "Tapi kak... kalau monster penyakitnya udah kalah, Super Vita-Man ga perlu minum obat lagi, kan?"
Si gadis tertawa, suaranya renyah sekali, matanya berbinar indah saat mengangguk, "Iya. Kalau monster penyakitnya udah kalah Super Vita-Man ga perlu minum obat lagi. Tapi... Dio harus tetap makan sayur-sayuran, biar Super Vita-Man bisa terus menjaga tubuh Dio, biar monster penyakitnya ga datang-datang lagi. Bener kan, Dok?" tanyanya meminta dukungan padaku.
Aku langsung tersenyum dan mengangguk pelan. Rasanya mudah sekali tersenyum jika berbincang dengan gadis ini.
Bocah kecil itu ikut tersenyum lebar, "Ma, nanti Dio mau makan sayuran sama obat," kata bocah lucu itu pada ibunya yang disambut pelukan sang Ibu.
Aku berdiri dari dudukku dan menatap mereka bergantian, "Jadi siapa yang harus saya periksa duluan?" tanyaku pada mereka. Aku yakin gadis itu juga tengah sakit, walau bibirnya tak henti menyunggingkan senyum dan tawa, tapi wajahnya juga tampak pucat.
"Dio aja dulu, Dok," jawab si Gadis.
.
.
Setelah Dio dan Ibunya keluar, si gadis yang tadi kutemui di ruang tunggu langsung masuk. Kini aku semakin jelas memandang wajahnya, manis. Usianya masih muda, pasti berbeda jauh dengan usiaku yang sudah 40 tahun ini."Permisi, Dok," sapanya ramah, "Maaf tadi saya sedikit ribut di ruang tunggu," katanya lagi dengan nada sungkan dan cengiran kecil di bibirnya.
Aku hanya tertawa dan membiarkannya duduk di kursi pasien di depan mejaku, "Tak apa, saya justru berterima kasih karena kamu sudah membantu tugas Dokter untuk membujuk anak kecil yang susah minum obat," jawabku sambil terus memandang wajahnya. Memang orang yang selalu tersenyum itu tak akan pernah terasa bosan dilihat.
Gadis itupun ikut tertawa. Lalu dia mengulurkan tangannya yang berkuku pendek dan bersih, "Oh ya, perkenalkan nama saya Luvia, karyawan baru di perusahaan Rudy Wijaya. Pak Rudy yang meminta saya datang ke sini jika sedang merasa tak enak badan," kenalnya.
'Ah, ternyata karyawan Rudy', batinku. Rudy adalah teman baikku, dan aku adalah Dokter pribadinya, juga Dokter di perusahaanya. Aku menyambut uluran tangan gadis itu, terasa lembut dan hangat dalam genggamanku, "Alfian," kataku memperkenalkan diri.
Gadis itu kembali tersenyum, dan entah kenapa aku merasa kalau aku akan memiliki kisah dengannya.

END



Tidak ada komentar:

Posting Komentar