Aku sedikit lega karena
pasienku hari ini tak begitu banyak. Setelah beraktifitas seharian dengan
jadwal yang sangat padat kurasa aku berhak memiliki sedikit waktu untuk
bersantai malam ini.
'Kemana Naya?' tanyaku
dalam hati saat keponakanku yang lulus sekolah keperawatan dan kuangkat sebagai
asistenku di klinik ini belum masuk lagi untuk melaporkan masih ada atau tidak
pasien di luar. 'Mungkin dia sedang sibuk di gudang obat', batinku.
Lalu akupun memutuskan
untuk melihat ke ruang tunggu di depan. Tubuhku rasanya benar-benar lelah, dan
aku sangat berharap jika aku bisa menyegerakan jam praktekku malam ini.
Memang sepi, aku hanya
melihat seorang ibu yang sedang memangku seorang anak lelaki berusia kurang
lebih 5 tahun, dan seorang wanita, mungkin juga gadis, yang duduk di samping
ibu itu, membelakangiku.
gadis itu berkulit sawo
matang dengan rambut hitam lurus tergerai di punggungnya. Dia masih mengenakan
baju resmi, mungkin seragam kerjanya. Dan kurasa gadis itu bukan kerabat dari
si ibu dan anak itu, melihat si Ibu tampak tersenyum dan berbicara dengan nada
sopan pada si gadis.
Langkahku terhenti di
sudut ruangan, aku urung menyapa mereka karena mendengar si gadis tengah
berbicara dengan anak kecil itu, mungkin juga setengah membujuk.
"Dengar ya, adik kecil...
adik kan sedang sakit? Tau ga kalau sakit itu seperti monster?" tanya
gadis dengan suara merdunya.
kulihat anak lelaki itu
sedikit mengernyit, mungkin merasa takut mendengar kata-kata 'Monster'. Aku
tetap diam dan terus mendengarkan.
"Kalau di film-film
biasanya monster kalahnya dengan siapa?" tanya gadis itu dengan sabar.
Si anak tampak berpikir
sejenak, "Ultraman," jawabnya dengan suara parau tapi lantang.
Si Gadis mengangguk cepat
sambil bertepuk tangan, "Anak pintar," pujinya. "Nah kalau di
dalam tubuh kita ini yang menjadi Ultraman-nya adalah sayur-sayuran. Jadi...
adik kecil ga boleh malas makan sayur ya? Biar monster penyakitnya cepat mati
dan adik bisa sehat lagi," bujuknya.
Anak lelaki itu
memandang si gadis dengan tatapan mata yang begitu terang, sepertinya dia suka
dengan cara gadis itu bercerita. "Berarti... Dio cuma makan sayuran aja
ya, Kak? Ga minum obat ga apa-apa kan?"
Tanpa bisa kutahan
akupun tertawa mendengar pertanyaan bocah bernama Dio yang polos itu, dan
otomatis tiga pasang mata itu langsung memandang ke arahku.
Pandanganku langsung
terarah pada si gadis. Wajah ovalnya yang bersih, matanya yang bersinar hangat,
hidungnya yg cukup mancung, bibirnya yang dipoles lipstick dengan warna
natural. Sederhana, tapi sedap dipandang.
"Ah.. Itu Pak
Dokternya datang, kita tanya sama Pak Dokter aja yuk? Butuh ga kita minum
obat?"
Si gadis sepertinya
langsung bisa menebak kalau aku adalah Dokter di klinik ini. Mungkin dia
melihat dari jubah putih yang melekat di tubuhku, juga stateskop yang
menggantung di leherku. Sepertinya gadis itu pasien baru di sini, juga si Ibu
dan anak itu.
Aku mendekat dan duduk
di kursi yang kutarik hingga ke depan mereka. Kuraih tangan Dio yang terasa panas,
"Dio tau Popeye?" tanyaku.
Bocah itu mengangguk tanpa
melepaskan pandangannya padaku. Dan aku sadar kalau tak hanya dia yang
menatapku lekat, tapi juga gadis dengan mata bulat bening yang duduk di
sampingnya. Mata yang ramah.
"Popeye butuh apa
untuk menjadi kuat?" tanyaku.
"Bayam!" jawab
Dio cepat.
Aku, si Ibu dan gadis
itu spontan tertawa mendengar betapa cerdasnya anak ini. "Begitupun dengan
para sayur di dalam tubuh Dio. Sebutlah para pahlawan sayur itu bernama
"Super Vita-Man", mereka juga butuh penguat untuk mengusir para
monster penyakit, dan penguat itu bernama obat," jawabku sambil melirik
pada si gadis yang tengah tersipu karena sadar kalau ternyata sejak tadi aku
mendengar pembicaraan mereka.
Dio tampak berpikir
lagi. Wajar, jarang sekali ada anak kecil yang mau minum obat, “Tapi kan obat
itu pahit, Om Dokter,” kata bocah berpipi tembam itu pelan.
Aku mengangguk sambil
tersenyum, “Tapi kalau bisa mengalahkan monster penyakit kan ga apa-apa, Dio?
Lagipula pahitnya juga cuma sebentar, kan?” bujukku.
"Emangnya Dio mau
Super Vita-Man kalah sama monster penyakit?" si gadis tampak berusaha
kembali mempengaruhi teman kecilnya.
Dio menggeleng keras,
"Tapi kak... kalau monster penyakitnya udah kalah, Super Vita-Man ga perlu
minum obat lagi, kan?"
Si gadis tertawa,
suaranya renyah sekali, matanya berbinar indah saat mengangguk, "Iya.
Kalau monster penyakitnya udah kalah Super Vita-Man ga perlu minum obat lagi.
Tapi... Dio harus tetap makan sayur-sayuran, biar Super Vita-Man bisa terus
menjaga tubuh Dio, biar monster penyakitnya ga datang-datang lagi. Bener kan,
Dok?" tanyanya meminta dukungan padaku.
Aku langsung tersenyum
dan mengangguk pelan. Rasanya mudah sekali tersenyum jika berbincang dengan
gadis ini.
Bocah kecil itu ikut
tersenyum lebar, "Ma, nanti Dio mau makan sayuran sama obat," kata
bocah lucu itu pada ibunya yang disambut pelukan sang Ibu.
Aku berdiri dari dudukku
dan menatap mereka bergantian, "Jadi siapa yang harus saya periksa duluan?"
tanyaku pada mereka. Aku yakin gadis itu juga tengah sakit, walau bibirnya tak
henti menyunggingkan senyum dan tawa, tapi wajahnya juga tampak pucat.
"Dio aja dulu,
Dok," jawab si Gadis.
.
.
Setelah Dio dan Ibunya keluar, si gadis yang tadi kutemui di ruang tunggu langsung masuk. Kini aku semakin jelas memandang wajahnya, manis. Usianya masih muda, pasti berbeda jauh dengan usiaku yang sudah 40 tahun ini."Permisi, Dok," sapanya ramah, "Maaf tadi saya sedikit ribut di ruang tunggu," katanya lagi dengan nada sungkan dan cengiran kecil di bibirnya.
Setelah Dio dan Ibunya keluar, si gadis yang tadi kutemui di ruang tunggu langsung masuk. Kini aku semakin jelas memandang wajahnya, manis. Usianya masih muda, pasti berbeda jauh dengan usiaku yang sudah 40 tahun ini."Permisi, Dok," sapanya ramah, "Maaf tadi saya sedikit ribut di ruang tunggu," katanya lagi dengan nada sungkan dan cengiran kecil di bibirnya.
Aku hanya tertawa dan
membiarkannya duduk di kursi pasien di depan mejaku, "Tak apa, saya justru
berterima kasih karena kamu sudah membantu tugas Dokter untuk membujuk anak
kecil yang susah minum obat," jawabku sambil terus memandang wajahnya.
Memang orang yang selalu tersenyum itu tak akan pernah terasa bosan dilihat.
Gadis itupun ikut
tertawa. Lalu dia mengulurkan tangannya yang berkuku pendek dan bersih,
"Oh ya, perkenalkan nama saya Luvia, karyawan baru di perusahaan Rudy
Wijaya. Pak Rudy yang meminta saya datang ke sini jika sedang merasa tak enak
badan," kenalnya.
'Ah, ternyata karyawan
Rudy', batinku. Rudy adalah teman baikku, dan aku adalah Dokter pribadinya,
juga Dokter di perusahaanya. Aku menyambut uluran tangan gadis itu, terasa
lembut dan hangat dalam genggamanku, "Alfian," kataku memperkenalkan
diri.
Gadis itu kembali
tersenyum, dan entah kenapa aku merasa kalau aku akan memiliki kisah dengannya.
END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar