Jumat, 21 November 2014

Keputusan ( Epilog )




Kutatap senja yang membias di balik bukit. Jingganya memantul pada permukaan danau yang tenang, indah. Sekumpulan burung yang terbang di atasnya memberikan gambaran yang sempurna pada kanvas bening di bawahnya. 

Kuhirup dalam udara sore dari balkon kamar hotelku. Ada sebentuk rasa yang tak mampu kujabarkan bahkan oleh isi kepalaku yang terbilang pandai. Rasa lega, juga sesak yang menghimpit dada. Entah.


Begitu banyak hal yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Takdir yang mengikatku, kesetiaan yang dilukai, juga rasa yang tak seharusnya ada.


Aku sedikit tersentak saat sepasang lengan memelukku dari belakang, lalu aku segera merasa nyaman berada dalam dekapan pria di belakangku itu.


"Ada yang salah?" Tanyanya lembut.


Aku memejamkan mata, menikmati hangat yang ditawarkan dadanya pada punggungku.


"Via?" Panggilnya di telingaku.


Aku terdiam sebentar sebelum akhirnya menggeleng pelan sembari menangkup tangannya yang berada di perutku.


"Lalu kenapa kamu diam saja sejak tadi? Kamu tak suka tempat ini?" Tanyanya lagi.


Sekali lagi aku menggeleng, ada hangat merambati dada karena perhatiannya. Ya... selama ini pria yang tengah memelukku itu memang selalu mengutamakan pilihanku, kesukaanku, juga perasaanku.


"Besok kita cari tempat lain, ya? Pilih saja dimana yang kamu suka," katanya.


Aku tertawa pelan mendengar nada panik pada suaranya yang sedikit berat, "Bukan, Dok... aku suka tempat ini, sangat suka, karena itulah aku diam sejak tadi. Aku menikmati semua yang ada di sini. Indah," jawabku sambil terus menyamankan diriku dalam dekapannya.


Ada getar halus saat dia meletakkan dagunya pada puncak kepalaku, "Lalu kapan kamu akan berhenti?" Tanyanya yang membuatku bingung.


"Berhenti apa?" Balasku.


Kali ini lengannya berpindah melingkari bahu dan dadaku, "Berhenti memanggilku Dokter," jawabnya halus tapi mampu membuat jantungku berdebar keras.
"Kamu sekarang bukan pasienku lagi, Via. Kamu sekarang adalah istriku. Jadi berhentilah memanggilku seperti itu," sambungnya saat lidahku kelu tak mampu menjawab.


Aku tertawa lagi, "Ini seperti mimpi. Mengingat apa yang telah terjadi pada kita sebelumnya. Rasa bersalah itu masih ada, Dok. Aku tak bisa menipu hatiku sendiri," bisikku lirih pada pria yang terpaut usia dua belas tahun di atasku itu .


Pria berkacamata di belakangku itu semakin mengeratkan pelukannya, "Seharusnya itu hanya menjadi bagian dari kenangan saja, Via. Bukankah kita sudah membenahi semuanya? Tak ada lagi kesalahan masa lalu, mengingat apa yang telah kamu korbankan untuk keutuhan keluargamu... yang pada akhirnya justru membuatku nyaris kehilangan lagi wanita yang begitu berharga untukku, setelah kematian istriku. Kamu."


Aku kembali terdiam. Lembaran kenang itu kembali terbuka dari awal. Dimana cinta telah tumbuh di antara kami di saat yang tidak tepat, di saat yang kami sebut sebuah kesalahan. Dimana saat itu cincin pernikahan telah melingkari jari-jari manis kami dari orang-orang yang berbeda. Demi keutuhan banyak hati akhirnya kami memutuskan berpisah sebelum semua menjadi begitu dalam. Hingga waktu bekerjasama dengan takdir dan mempertemukan kami kembali. Menyatukan rasa yang tak lagi salah.


Aku tak membantah saat pria yang sejak tadi pagi telah menjadi suamiku itu memutar tubuhku untuk menghadapnya. Jemarinya yang halus mengusap lembut lenganku yang terbuka. "Sayang, dengarkan aku. Kita telah memutuskan akhir dari perjalanan kisah kita, bukan? Kita tahu bagaimana rasanya dulu saat kita berada di posisi yang salah, kita tahu bagaimana rasanya terluka. Lalu sekarang di saat semuanya benar kenapa masih harus ada keraguan di hati kamu?"

Aku tersenyum sambil menatap matanya yang sehangat senja, "Aku tidak ragu, Dok... sayang," ralatku yang langsung tersipu saat dia tersenyum dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya, "Aku hanya bilang kalau ini seperti mimpi. Memiliki kamu... juga keluarga besar yang memberikan doa juga restunya untuk kebahagiaan kita," jawabku.

Sesaat yang terdengar hanya lengkingan burung yang terbang tak terlalu tinggi. Mata kami saling bertatapan, jingga yang hampir tenggelam di balik bukit membias pada maniknya, indah. Tahukah dia jika hatiku saat ini tengah dipenuhi oleh cinta?

"Aku mencintaimu, Via, entah sejak kapan," bisiknya sambil merengkuh pinggangku dan merapatkan tubuh kami.

Aku memicing, "Jangan-jangan sejak aku menciptakan Super Vita-man di ruang tunggu klinikmu?" tebakku.

Aku suka mendengar tawanya yang renyah, "Kurasa iya," jawabnya.

Aku membelalakkan mataku, "Itu kan hampir sepuluh tahun yang lalu, Dok?" kataku tak percaya. 

"Sayang... sayang... sayang, demi Tuhan... kumohon terbiasalah menyebutku dengan panggilan itu, Via," erangnya.

Kali ini aku terbahak, kutangkupkan kedua tanganku pada pipinya yang putih, "Maafkan aku, sayangku, suamiku tercinta. Karena bagiku memanggilmu Dokter itu terdengar lebih seksi," godaku sambil mengerlingkan sebelah mataku, dan aku puas melihat senyumnya yang lebar.
"Tunggu... kalau sejak sepuluh tahun yang lalu kamu sudah mencintaiku... jangan bilang kalau saat ini aku tengah menikahi seorang pedofil," godaku lagi sambil sedikit menjauh.

Pria dewasa yang selalu bijaksana itu tertawa keras sambil kembali menarik pinggangku, "Bahkan aku bisa menjadi seorang Masochist kalau untuk kamu. Mau bukti?" godanya ditelingaku yang otomatis memerah. 

"No!" teriakku pelan sambil mendorong tubuhnya lalu berlari ke dalam kamar tempat kami berbulan madu. Aku berteriak lagi saat dia mengejar dan memeluk tubuhku dengan eratnya, lalu tawa-tawa kami tenggelam dalam sebuah ciuman yang dalam.

'Tuhan... aku ikuti jalan-Mu. Bahagiakanlah kami dalam makna yang sesungguhnya', doaku dalam hati menutup hari.

------------------------------------------------------
Entah kenapa justru epilog ini yang jadi duluan, padahal aku juga tengah menulis side story dari Winter's Promise milik Aya. Maaf, hunny... tapi tinggal dikit lagi kok.
Memutuskan menulis ending dari sekuel fiction Pertemuan, Rasa Sesaat, Maafkan, dan Tarian sang Waktu, yang bisa di baca pada akun fictionpressku Lluvia. Bukankah semua orang memiliki hak untuk bahagia? ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar