Minggu, 29 November 2015

Kenangan Kita

"Al..." panggilku saat kumasuki ruangan bercat putih itu.

Pria separuh baya yang sejak tadi serius menekuni dokumen di atas mejanya mendongak, saat melihatku dia segera tersenyum, "Hai," jawabnya sambil memutar kursinya ke samping.

Segera saja aku mendekat dan berdiri di antara kakinya yang terbuka, kukalungkan lenganku di bahunya. Pria itu terkekeh pelan, setelah melepas kacamata beningnya dan meletakkannya di atas meja dia pun melingkarkan tangannya di pinggangku, wajahnya menengadah, matanya yang teduh lurus menatap mataku, "Merindukanku?" tanyanya penuh percaya diri.

"Sangat," bisikku.

Pria berkulit putih itu tersenyum begitu lembut, "Maafkan aku karena tak memberimu kabar selama aku pergi," katanya dengan penuh penyesalan.

Aku hanya menggeleng pelan dan membalas senyumnya, "Tak apa, selama kau baik-baik saja," jawabku.

Setelahnya hanya ada hening di antara kami. Kubelai rambutnya yang hitam. Ada beberapa helai yang sudah memutih tapi aku suka melihatnya, dia terlihat begitu matang dan berwibawa. Kuusap pipinya yang sedikit kasar, kutelusuri bentuknya hingga ke dagu dengan ujung-ujung jariku. Kusentuh sudut bibirnya yang tipis dan sedikit memerah, dan aku tersenyum saat matanya terpejam. 

"Akupun begitu merindukanmu," bisiknya. 

Aku terdiam. Baru seminggu kami tak berjumpa, tapi rasanya jantungku nyaris berhenti karena merindu. Bagaimana jika ikatan ini kelak harus terputus? Masih mampukah aku bernafas tanpanya? Sementara hanya dengan berada di dekatnya seperti ini saja aku bisa merasakan hidup. Hanya agar bisa menyentuhnya seperti ini saja aku mampu menukar semua yang kumiliki.
Sesak itu datang lagi, sakit.. juga bahagia bercampur menjadi satu hingga akhirnya sebutir gerimis yang tercipta dari mataku jatuh di wajahnya.

Mata teduh itu kembali terbuka, ada segores luka di sana saat melihatku, "Tapi yang kubisa hanya memberimu airmata," sambungnya, "Maafkan aku."

Aku menggeleng, "Bukankah sejak awal kita sudah tahu jika kita bersama maka kita akan berteman dengan luka dan airmata?" ingatku.

Pria itu memindahkan tangannya ke tengkukku, memaksaku untuk menunduk dan mendekatkan wajahku padanya, setelahnya bibir kami tenggelam dalam sebuah kecupan singkat yang penuh arti.
"Andai aku diijinkan memberimu bahagia, maka akan kuletakkan pantai dan senja di pangkuanmu," ucapnya setelah bibir kami terpisah.

Aku terdiam, kucerna kata-katanya dan kulihat ketulusan di mata yang begitu kupuja itu. Bagaimana mungkin bahagia bisa terasa seperih ini?
"Kita terlalu banyak bermain dengan kata andai, Al... yang pada akhirnya justru menjadi boomerang untuk diri kita sendiri," kataku sambil mengusap lembut sisi bibirnya yang basah. Bisa kurasakan tatapannya yang terus tertuju padaku, tangannya mengusap lembut lengan-lenganku yang tergantung di bahunya, lalu dia menoleh sedikit untuk mencium nadiku yang menempel di dekat pipinya. Perlakuannya selalu mampu membuatku berdebar, membuatku merasa menjadi wanita tercantik di muka bumi. Dan caranya menjagaku selama ini membuatku merasa begitu dihargai.

Dia tersenyum tipis setelah kembali menengadahkan wajahnya untuk menatapku, "Bermain kata andai denganmu sudah menjadi candu. Tak kupungkiri jika itu bisa menjadi pemicu asa saat aku meragu." 

"Dan menempatkan semua mimpi kita di atas segalanya? Al... sungguh aku berharap jika semua ini hanya sekedar mimpi. Agar saat aku terbangun nanti seluruh rasa takut ini akan terlupakan," kataku lagi. 

"Rasa takut?" tanyanya bingung.

Aku mengangguk pelan, "Rasa takut kehilangan kamu, Al..."
Ya... aku harap semua ini hanya ilusi, agar luka dan rasa bersalah ini tak terus menghantui.

Pria itu mengambil tanganku yang sejak tadi membelai tengkuknya lalu dia menciumi buku-buku jariku dengan bibirnya yang hangat. 
"Kalau kamu ingin terus bermimpi apakah itu berarti ciumanku tak akan bisa membangunkanmu lagi? Lalu siapa yang akan menjadi Sleeping Beauty-ku nanti?"

Aku tertawa mendengar kata-katanya. Begitulah dia, selalu tak suka jika aku mulai berduka atas rasa yang memang tak seharusnya pernah ada.

Dia berdiri, kedua tangannya menangkup wajahku yang mulai pias. Diciumnya keningku cukup lama, lalu mengecup ujung hidungku dengan singkat, "Aku merindukanmu, sangat. Karena itu lupakan dulu masalah itu, habiskan sisa siang ini bersamaku, mau?" tanyanya.

Aku tak menjawab, rindu yang tadi begitu basah telah berubah menjadi resah.

"Atau aku harus menciummu lagi agar kamu mau menjawab iya?" godanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Aku mendengus dan memukul pelan dadanya. Setelah itu aku tenggelam dalam hangat dekapnya. Bisa kurasakan dia menghela nafas panjang, "Biar saja begini dulu, sampai takdir muak melihat kebersamaan kita. Dan jika saat itu tiba... aku akan tetap menjagamu, walau tanpa sepengetahuanmu. Tapi untuk saat ini berbahagialah bersamaku," katanya sambil membelai lembut rambutku.

Ya dia benar, aku sudah cukup lelah, jadi aku memilih pasrah saja, "Berjanjilah satu hal, Al... satu hal saja," pintaku. 

Pria itu meletakkan dagunya di ubun-ubunku, "Apa?" tanyanya. 

"Berjanjilah kalau kau akan terus berada di sisiku, sebagai apapun nantinya," bisikku sambil memeluk erat pinggangnya, kuhirup aroma parfumnya yang sangat kusuka.

Kudengar tawanya yang renyah, yang mencipta getar pada dadanya, "Asal kamu juga mau berjanji kalau kamu akan berbahagia... walaupun itu bukan denganku," jawabnya.

Aku tersenyum miris dalam pelukannya, aku hanya mampu terpejam saat kurasakan bibirnya mencium lembut puncak kepalaku, "Kau juga harus berjanji untuk hal yang sama," jawabku.

Pria jangkung itu terbahak, dia menjauhkan tubuhku dan kembali menatapku lekat, "Cukup, sayang... tadi kamu bilang aku hanya harus berjanji satu hal, kan? Jangan ditambah lagi, kamu curang," tuduhnya.

"Tapi, Al..."

"Cuma satu, tadi itu kan katamu?" godanya, dan aku hanya bisa cemberut karena kesal. 

Pria setengah baya itu tersenyum menahan geli, ditariknya pelan kedua sudut bibirku agar tercipta sebentuk senyum di sana, "Kukabulkan asal kamu mau memenuhi permintaanku," katanya.

Segera saja aku menatapnya serius, "Apa?" tanyaku kali ini.

"Kita pergi makan siang sekarang, ya? Aku sudah lapar sejak sebelum kamu datang, please?" jawabnya yang segera saja membuatku tertawa. 

Aku mengangguk, "Ambil kuncimu, Sir... aku juga mulai lapar," jawabku.

Pria itu segera saja menyambar kunci mobil di atas meja dan menarik tanganku agar mengikutinya.

Genggamannya yang hangat adalah tempatku pulang, tempat yang kujuluki sebagai rumah.

Ah... aku mencintaimu, Al.
Semoga takdir masih mau memberikan sedikit lagi waktunya untuk kita. Sedikit lagi saja.
Dan jika tiba waktunya kita kembali menjadi aku dan kamu, maka akan kusimpan semua cerita dengan rapi pada sebuah peti di sudut hati. Peti berisi kenang tentang kita, yang tak akan menua seiring usia.



Minggu, 22 November 2015

Dear, Al... ( Gerimis di Masa Lalu )

Al.... 
Coba buka kembali lembaran kenang yang pasti belum usang.

Ingatkah kamu saat pertama kali tanganku kau genggam? Kenapa? Apa kau juga merasakan getaran yang sama saat mata kita berjumpa? 

Pada sebuah senja, kau letakkan mawar jingga di atas meja kerja, apakah memiliki makna? Kau hanya tersenyum dan berlalu tanpa kata. 

Kau melambungkanku saat pelukanmu mampu hentikan tangisku. Kau bilang aku kepala batu, tapi hatiku tak memiliki titik beku. Al... kau meluluhkanku.

Setelahnya aku tak menemui satu senjapun tanpa kamu, pun kamu yang tak memiliki satu malampun tanpaku. Rindu katamu, saat sapaku tak hadir. Pilu kataku, saat senyummu tak terukir.
Kita sama-sama terjebak dalam sebuah rasa, dimana tak seharusnya ada. 

Entah berapa panjang benang yang kita pintal menjadi sebuah cerita, berapa lembar almanak yang kita lingkari dan menuliskan catatan kecil di atasnya. Semua tentang kita, Al.
Entah sudah berapa dalam aku tenggelam dalam pesonamu, memanjakan diriku dan berdiam lama di dalam pelukmu. Untuk beberapa saat aku merasakan bagaimana seharusnya hidup, merasakan udara yang sama seperti yang kau hirup.

Kau ajari aku bagaimana menjadi berani, kau ajari juga bagaimana cara mengasihi. Karena katamu tak ada manusia yang ditakdirkan sendiri.
Kau ubah airmataku menjadi tawa, kau ubah dukaku menjadi ceria. Hingga aku memahami makna bahagia yang sesungguhnya.

Hingga sang waktu menjerat kita semakin erat, menunjukkan rasa takut yang sejak awal kita sembunyikan di balik kabut.
Kita lupa, Al... kita lupa jika semua hanya hampa. Kita lupa jika semua rasa ini kelak akan kehilangan muara. Kita lupa... jika kita tak memiliki dermaga.

Dan saat takdir memaksakan pisah, kita hanya bisa pasrah. Kita terhempas, menangispun rasanya tak pantas.

Al... ketika kini rindu merupa belati, siapa yang pada akhirnya tersakiti?
Kita nikmati saja apa yang tersisa, walau hanya berupa airmata.



Jumat, 13 November 2015

Gadis Dan Irama Hujan

Di sudut halte tua, di bawah rinai gerimis senja, sebuah wajah tertunduk saja. Payung besar tak mampu menghalangi apa yang ada di baliknya.

Matanya menatap genangan dengan senyuman, tapi sudut bibirnya bergetar pelan. Mungkinkah dia tengah merangkai kenang dengan airmata yang tertahan? Dia hanya diam hingga gerimis merupa hujan.

Apa yang dia rasa? 

Sinar matanya tampak resah, alunan nafasnya terdengar serupa desah, jemarinya pun bergetar lelah. Dingin kah?

Perlahan dia menengadah, menyapa hujan dengan sudut matanya yang mulai basah, "Sayang... airmatamu tumpah," bisiknya.

Kudekati dia lalu bertanya, "Apa yang kau rasa?"

Wajah cantiknya tampak pias, bibirnya yang selembut kapas tersenyum lepas, "Aku hanya merindukan dia yang tengah merindukanku dari surga," jawabnya.

Aku terdiam, hanya mampu menatap maniknya yang sehitam malam.

Langit kembali bergemuruh, suaranya riuh.
Bibirnya terbuka, melantunkan nada, ataukah sebait doa? Airmatanya turun perlahan, dia bernyanyi seiring irama hujan.




Minggu, 01 November 2015

Aku Dan Langit Oktober

Terdiam sendiri di bawah langit Oktober yang sepi, apa yang aku cari? Serpihan hati kah? Atau sepetak harapan yang sebenarnya sudah mati?

Aku merangkak, mencoba menolak apa yang telah retak. Aku menutup mata, enggan melihat apa yang sebenarnya nyata. Bohongi aku, tak apa tipulah aku, agar luka ini tak semakin terbuka.

Hhh... Entah...
Rasa ini kuberi nama entah. Saat aku tak mampu lagi memberi fungsi bagi panca indera, akupun hanya bisa pasrah. 

Layaknya sampan, aku hanya terapung tak bertepian. Tak kulihat dermaga untukku singgah. Tak ada dayung, tak ada sauh, aku terus berlayar tak tentu arah.

Kutatap langit oktober dari tengah samudera, menikmati gelombang yang kian lama kian keras menghempas. Keduanya biru, keduanya bisu. Mana yang sebaiknya kupilih? Terbang lepas tanpa tujuan, atau tenggelam hingga karam?



Dear, Al... ( Rindu Ini Belum Mati )

Al....
Apa yang kau rasakan saat kita hanya mampu bersitatap? Ada makna di balik senyuman yang tak terungkap. Juga gagap saat lengan tak lagi saling dekap. Gelap.

Aku berjalan lesu melewati ribuan batu, meninggalkan jejak berdebu pada ujung sepatu. Sepanjang apa harus kutempuh waktu, agar luluh semua rindu yang kian membelenggu? Aku beku.

Al...
Saat gerimis tak lagi mengisahkan cerita manis, saat gerimis justru melagukan ribuan tangis, aku menyerah, Al. Sudah.
Cukup begini saja, jangan tumpahkan lagi airmata, jangan buat lagi sebuah luka, usaikan saja kita berduka. Sudah... bukankah kita sama-sama lelah?

Aku mencintaimu, Al... rasa itu masih utuh, pilar yang kita bangun juga belum runtuh. Tapi semuanya sudah tak tepat, sudah berkarat.

Rindu ini masih di sini, Al... Rindu ini juga belum mati.