Rabu, 17 Desember 2014

Salju Di Bulan Terakhir



Dengan hati-hati aku berjalan pada tumpukan salju yang menutupi aspal. Dinginnya udara pertengahan Desember ini membekukan napas hingga berupa asap putih. Kueratkan syal biruku di leher agar suhu  minimum ini tak membuatku semakin menggigil, begitupun dengan hoodie jaket hitamku yang kukenakan untuk menutupi kepala agar tak basah oleh salju yang masih turun perlahan.

Terlalu penat hari ini, baru semalam aku tiba di kota London yang mendapat julukan Big Smoke ini karena tugas kantor yang diberikan oleh perusahaan tempatku bekerja di Jerman selama tiga hari, rasanya masih jet lag. Tapi karena kehidupan di Jerman dan London tidak jauh berbeda mulai dari aktivitas masyarakatnya hingga kesibukan jalanan di kotanya jadi aku tak terlalu rikuh, begitupun saat menyesuaikan diri pada  musim dingin di bulan terakhir tahun 2014 ini.

Kupercepat langkahku menuju hotel tempatku tinggal sampai dua hari ke depan. Aku ingin berendam di bathtube yang berisi air hangat dan meregangkan otot-ototku yang terasa begitu kaku.
Sebenarnya banyak yang ingin aku lakukan di negara ini, salah satunya mengunjungi peron 9 3/4 di stasiun King's Cross yang kukenal baik dari serial Harry Potter kesukaanku dan Aya, separuhku yang kemarin sempat merajuk karena harus kutinggalkan beberapa hari. Haha... dan aku sudah merindukannya saat ini.

Besok aku akan mempercepat pekerjaanku. Aku akan mengunjungi beberapa tempat seperti, British Museum yang merupakan museum tertua di dunia, kemudian ke menara jam terbesar nomer dua di dunia yang terkenal dengan julukan Big Ben, lalu naik London Eye atau kincir angin raksasa dan menikmati kota London dari ketinggian 135 meter. Setelah itu aku akan ke sebuah tempat yang desain arsitekturnya adalah tipe yang sangat disukai olehku dan Aya, sebuah gereja bergaya gothic yang bernama Westminster Abbey.
Sebenarnya aku ingin datang ke tempat itu bersama Aya, dia pasti suka. Ahaa... akan aku agendakan tahun depan, berlibur berdua dengannya ke negara ini.

Mataku menatap langit musim dingin, tak kulihat jingga saat senja tiba, hanya putih. Ah jingga... warna yang selalu ditawarkan oleh masa lalu, dimana senja selalu menjadi hadiah terindah setiap kali petang hendak menyapa.

"AWAS!!!"

Teriakan seseorang mengejutkanku bersamaan dengan tubuhku yang terhempas ke belakang dan menabrak keras tubuh orang yang mungkin tengah menarik tanganku ini. Jantungku berdebar saat sebuah mobil melaju dengan sangat kencang di depanku, ternyata aku asik melamun sejak tadi dan tak menyadari bahaya yang hampir membuatku celaka karena tak melihat lampu untuk pejalan kaki saat akan menyeberang.

"Hampir saja."

Suara orang di belakangku yang masih mencengkeram erat lenganku itu terdengar lega. Di antara rasa terkejutku aku sedikit heran saat mengenali bahasa yang digunakan pria itu, bahasa yang berasal dari negara tempatku lahir sebelum aku bertolak ke Jerman. Dan suara itu... begitu familiar di telingaku, 'Tak mungkin', kataku dalam hati..

"Are you ok?"

Kali ini pria itu menggunakan bahasa Inggris, "I'm ok, thank you," jawabku dengan suara sedikit bergetar. Bisa kurasakan jari-jari di lenganku itu sedikit menegang.
Dengan sopan aku menarik lenganku dari cengkeramannya dan membalikkan tubuhku agar bisa melihat siapa pria yang telah menolongku itu, juga memastikan rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi otakku. Penasaran pada bahasa yang dia gunakan sebelumnya, juga oleh suaranya yang begitu kukenal. Betulkah tebakanku?

Saat aku berbalik hoodie yang menutupi kepalaku terjatuh ke punggung. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kacamata hitamnya tampak tercekat. Perlahan pria itu melepas kacamata hitamnya dan mata bulatku bertemu dengan sepasang manik hitam yang menatapku dengan terkejut, "Via," desisnya seakan tak percaya.

Hampir saja aku terjatuh lagi saat tanpa sadar aku mundur selangkah dan menabrak tubuh seseorang, tapi tangan pria di depanku itu kembali sigap menarikku yang entah kenapa rasanya begitu lemas saat mengetahui siapa yang kuhadapi sekarang, seseorang yang menorehkan sebuah kisah yang begitu ingin kuhapus dari ingatan.

"Via?" panggilnya lagi masih dengan nada bingung.

Aku mencoba mengendalikan hatiku dan tersenyum. Kulepas tangannya yang masih menahan lenganku, "Hai," jawabku dengan nada yang tak kalah bingungnya karena bertemu dia di sini, di sebuah negara yang begitu jauh dari tempat asal kami.

"B-bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanyanya heran, "Bukankah... bukankah kamu seharusnya ada di Jerman?"

Aku mengangguk pelan, "Ya. Aku di sini hanya karena ada tugas dari kantor," jawabku. "Kamu sendiri kenapa bisa ada di sini?" balasku.

Pria itu menatapku dengan begitu lekatnya, lurus pada mataku, dan itu membuatku sejenak mematung. Aku tahu ada rindu di sana, tapi aku bisa apa? Kami bisa apa?

"Rain?" panggilku, dan saat itu juga ada nyeri merambati dadaku. Baru empat bulan aku tak menyebut namanya, tapi rasanya sudah berabad-abad. Hanya menyebut namanya, dan aku merasa mataku memanas, entah oleh kenang atau oleh rindu.
Bukan... itu bukan namanya, itu sebutan yang kuberikan untuknya. Aku bahkan nyaris tak pernah memanggil nama aslinya sejak kami bersama.

Pria dengan alis mata tebal dan jambang tipis di pipinya itu sedikit terkesiap mendengar panggilanku, lalu tersenyum lebar, 'Tuhan... sungguh aku merindukannya', bisikku dalam hati.
"Aku juga ada tugas dari kantor," jawabnya sambil menggiring tubuhku agak menepi karena ternyata sejak tadi kami masih berada di tengah jalan, di antara lalu lalang orang-orang yang berjalan cepat.
Dengan lembut tangannya menyingkirkan butiran salju dari rambut hitam panjangku. Kehangatan dari jari-jarinya mengalir ke dada. Tapi entah kenapa rasanya justru sakit dan itu membuatku tanpa sadar menghindar. Aku bisa melihat keterkejutan di matanya, lalu kecewa, lalu sedih, mungkin.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kubicarakan dengannya, kembali kukenakan hoodie-ku, kali ini bukan hanya untuk menutupi kepalaku, tapi juga wajahku. Aku tak ingin dia membaca binar rindu yang pasti jelas terlihat di mataku, "A-aku harus kembali ke hotel, di sini dingin sekali," elakku sambil melambaikan tangan padanya. Tapi lenganku kembali ditahan dan aku tak mungkin meronta, ini tempat umum, aku tak ingin menjadi pusat perhatian, karena itu aku mengurungkan langkahku.

"Vi... bukankah sebuah keajaiban kita bisa bertemu di sini? Kenapa tak berbincang sebentar sambil menikmati secangkir kopi dan coklat panas di cafe itu?" pintanya sambil menunjuk sebuah cafe kecil di sudut jalan yang mulai tampak temaram oleh senja.
"Please," mohonnya lagi dengan senyum tersungging dari bibir tipisnya yang selalu mampu membuatku mabuk.

Aku segera menunduk untuk menghindari tatapan tajamnya, juga membuang bayangan yang mulai meracuni otakku.

"Via?"

Aku mendongak dan memasang senyum yang aku tak peduli bagaimana bentuknya, "Maaf, aku tak bisa, aku harus segera kembali untuk menyelesaikan semua pekerjaanku," tolakku.

"Via... aku..." kata-katanya terputus oleh telpon genggamnya yang berbunyi nyaring. Pria jangkung itu menatapku dengan sorot mata yang tampak rikuh setelah membaca tulisan yang tertera pada layar ponselnya. Dengan sedikit bingung dia menekan tombol hijau pada benda kecil berwarna hitam itu, "Ya, sayang?" sapanya yang tanpa bertanya aku sudah tahu itu panggilan dari siapa.

Pelan kusingkirkan tangannya yang masih menahan lenganku, dia ingin protes tapi tak mampu karena telpon genggam yang masih menyala dan menempel di telinganya. Kulafalkan kata 'Bye' tanpa suara padanya sambil melambaikan tangan dan berlalu secepatnya dari tempat itu. Tak akan kubiarkan dia mengejarku.


Lelah... itu yang kurasakan sekarang, pada tubuh juga hatiku. Dan berendam dengan air hangat di dalam bathtube kurasa adalah pilihan yang bijak.
Kuraih telpon genggam yang kuletakkan di meja kecil di sampingku. Aku tahu kalau tak mungkin ada pesan atau apapun di sana dari pria yang baru saja kutemui tadi setelah empat bulan kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya, karena aku sudah mengganti nomer telponku dengan yang baru. Tapi entah kenapa aku merasa akan ada pesan yang tertinggal pada salah satu media sosial milikku, dan benar saja. Saat aku membuka akun facebook aku menemukan sebuah pemberitahuan pada folder pesan lainnya, folder untuk menerima pesan dari mereka yang tidak berteman dengan akunku. Dia menggunakan akun yang berbeda, tapi aku tahu itu adalah dia jika melihat foto senja yang terpasang sebagai foto profilnya.

Dengan ragu kubuka pesan itu dan membaca baitan hurufnya dengan berdebar. 'Kamu tinggal dimana? Banyak yang ingin aku ceritakan, Via... kenapa kamu menghindar? Banyak senja yang ingin kubagi denganmu, bukankah kamu mencintai senja? Empat bulan ini aku mengumpulkannya sendiri, tanpa kamu. Temui aku di cafe ujung jalan tadi, aku tunggu sampai kamu datang.'

Aku menghela napas panjang setelah meletakkan telpon selulerku tanpa membalas pesannya. 'Masih saja egois', gerutuku dalam hati.
Kunyamankan tubuhku pada sandaran bathtube panjang ini sembari membaca lembaran kenang yang terbuka kembali karena kehadirannya tadi.

Lelaki itu, entah berapa banyak senja yang telah dia kirimkan padaku. Lelaki yang selalu mampu menghidupkan sebuah gambar melalui lensa kameranya. Kecintaan kami pada laut dan pantai membuat dia, dan aku, mengumpulkan semua senja yang didapatnya dari bibir samudera.
Dia begitu membenci hujan, bertolak belakang denganku yang sangat senang menarikan aksaraku di bawah rinainya. Pernah suatu ketika aku meminta foto hujan padanya. Tolakan kerasnya membuatku sedih dan kecewa. Tapi tak lama foto hujan sudah hadir di hadapanku melalui beranda sosial mediaku. Memang tak begitu indah seperti foto-foto senjanya, tapi aku menghargai usahanya walau aku tahu dia menggerutu kesal di belakangku. Itulah alasan kenapa aku memanggilnya Rain, aku suka menggodanya yang selalu cemberut setiap kali aku bercerita tentang hujan.
Dia sangat menyukai kopi, sementara aku tak bisa meminum cairan hitam dan pahit itu karena lambungku. Dan akhirnya cappuchino atau jus buah selalu menjadi pilihannya saat sedang bersamaku.
Tubuhnya yang dipenuhi banyak bulu membuatku juga memanggilnya beruang. Kusesuaikan dengan moodnya yang sering meledak-ledak.
Dia keras kepala dan mudah emosi. Suasana hatinya begitu gampang berubah, dan cepat bosan. Di antara begitu banyak orang di sekitarnya, hanya aku yang mampu meredakan amarahnya. Hanya aku yang tak pernah ditinggalkannya... ataupun meninggalkannya. Berkali-kali aku ingin lepas darinya karena lelah oleh sikapnya, lelah berada di balik bayangan, juga lelah merasakan sakit juga rasa bersalah yang begitu besar. Tapi dia selalu menolak, dia selalu menahanku. Dan karena aku begitu peduli padanya maka akupun selalu kembali dan memeluknya yang tampak sedih karena keputusanku.
Dia egois, sangat egois dan semaunya sendiri. Pria yang tak suka ditolak apapun permintaannya. Tapi selalu mengalah saat melihat airmataku. Seperti di ujung siang itu, saat senja hampir tiba.

 Aku menghela napas panjang. Percakapan kami saat itu masih terekam jelas di otakku.

"Kita harus usai, sekarang juga," putusku saat kami hanya berdua di pinggir danau ketika senja mulai membuka tirainya.

Dia tampak terkejut, "Kenapa?" tanyanya sambil menatapku yang menunduk.

Aku mencoba tersenyum di antara risauku, "Tak sadar kah jika kita sudah semakin jauh melangkah? Bukankah ada batasan yang tak boleh aku lewati?"

"Lalu?" tanyanya bingung.

Aku menggeleng pelan, "Aku takut tak bisa lagi membentengi hatiku. Aku takut tak mampu lagi menahan laju perasaanku dan merusak apa yang selama ini telah kita jaga dengan baik."

"Tapi bukankah selama ini semuanya baik-baik saja? Kita tak melakukan apa-apa, kita hanya berbagi cerita, berbagi tawa, juga senja. Apanya yang salah? Vi, kamu jangan bicara yang aneh-aneh, kita akan tetap bersama dan semuanya akan baik-baik saja..."

"Aku yang merasa tak baik!" potongku dan membungkamnya yang terus bicara. "Aku yang merasa tak baik," ulangku, "Aku terus dan semakin merasa bersalah padanya, kamu tahu?" kataku dengan suara gemetar menahan tangis.

Pria itu menatapku dengan pandangan kosong saat airmata mulai tumpah dari sepasang manik coklat tuaku.

"Kamu memang baik-baik saja, dia juga mungkin baik-baik saja karena dia tak tahu apa-apa. Sementara aku? Akan sampai kapan rasa bersalah ini terus memelukku? Aku menyayangi kamu? Ya! Sangat! Tapi aku bisa apa?" jelasku di antara isak. 

Pria itu masih terdiam. Hanya suara angin yang terdengar halus. "Bukankah kamu pernah berjanji akan selalu ada untukku? Itu janjimu, Vi," bisiknya.

Aku memejamkan mata dan mengangguk pelan, kunikmati rajaman luka yang mulai menggores hatiku, "Ya, itu janjiku. Dan maaf jika terpaksa aku harus mengingkarinya," jawabku.

Pria keras kepala itu kembali diam. Pandangannya menatap lurus ke tengah danau, entah apa yang dia cari di sana.

"Kali ini saja... pikirkan aku," pintaku lemah.
 
Dia mendesah sembari mengusap wajahnya yang pias. Dia kembali menatapku, "Inikah keputusanmu?" tanyanya dengan suara parau sambil mengangkat daguku, memintaku untuk membalas tatapannya. Ibu jarinya mengusap lembut airmata yang masih turun di pipiku.

Kutatap matanya yang tajam, yang memandangku lurus dan dalam. Ada kesedihan di sana, aku tahu. Tapi kutelan semua rasa sakit dan perih yang kami rasakan saat ini. Aku harus mengembalikan dia pada hati yang semestinya. Dan itu bukan aku.
Kugenggam tangannya yang masih mengusap pipiku, kucium lembut buku-buku jarinya sambil mengangguk tegas, "Ya," jawabku. 

Kembali kami terdiam dengan tangannya masih berada dalam genggamanku. Jingga mulai terlihat di langit barat, biasnya memantul indah pada permukaan danau yang bening. Dan suara sunyi mulai melantunkan seribu puisi dalam hening.

"Apa kau akan bahagia saat nanti tak ada lagi aku?" tanyanya pelan sambil mengusap lembut jari-jariku.

Mataku yang sudah kering kembali memanas, aku tertawa di antara pedihku. Aku tahu dia pun merasakan hal yang sama, tapi kami akan mencoba berdamai dengan luka. 
"Ya, aku akan bahagia. Aku berjanji," jawabku sambil menatapnya.

Pria itu mencium tanganku dengan dalam, "Kuharap ini adalah janji yang kelak tak akan pernah lagi kau ingkari, Via," bisiknya dengan senyum.

Aku membalas senyumnya di antara airmata yang kembali turun, "Maukah menjanjikan hal yang sama untukku?" balasku.

Lelaki dengan senyum sehangat matahari itu menyibak rambut yang menutupi sisi wajahku, lalu menangkup wajah ovalku dengan kedua tangannya, "I promise," jawabnya.

Dan senja hari itu adalah senja terakhir yang kami nikmati berdua.





Aku menghabiskan hari kedua sekaligus hari terakhir ku di negara Pangeran William ini dengan mewujudkan keinginanku kemarin. Sejak sore tadi aku tak henti berputar-putar kota, dan tanpa terasa hari semakin gelap. Tinggal satu tempat lagi yang belum kudatangi, gereja tua dengan gaya gothic-nya yang indah. 'Besok saja lah, bukankah aku masih punya waktu hingga sore hari sebelum kembali ke Jerman?' putusku dalam hati lalu melangkah cepat menuju hotel tempatku menginap.

Langkahku terhenti saat kulihat pria yang membuatku nyaris tak tidur semalaman itu duduk di teras Coffee Shop yang terletak di ujung jalan tempat kami bertemu kemarin. Dia duduk pada sebuah meja dengan dua kursi yang diletakkan di luar kedai sambil kepalanya tak henti menoleh ke segala penjuru. Dia tampak gusar dan mengabaikan kopi yang tersaji di depannya. 'Siapa yang dia tunggu? Aku kah? Apakah dia berharap akan bertemu denganku lagi jika dia berada di jalan ini?' tanyaku dalam hati. Aku tersenyum tipis, jujur ada rasa bahagia juga rindu yang teramat sangat saat ini, tapi segera kutepis keinginanku untuk mendatanginya, 'Tidak, Via... tidak lagi. Atau kau akan kembali terjebak oleh perasaanmu sendiri', cegahku dalam hati. Dengan segera aku membalikkan tubuhku dan mencari jalan memutar. Tak apa sedikit jauh, tak apa sedikit pedih, setidaknya aku tak membuat luka baru karena keputusanku sendiri.



Hampir tengah hari, tapi cuaca semakin dingin oleh salju yg turun perlahan. Kali ini kubiarkan hoodie jaketku tak terpasang di kepala agar tak mengganggu pandanganku yang tengah mengagumi bangunan tua yang begitu bersejarah di depanku, Westminster Abbey yang memiliki nama asli Collegiate Church St. Peter, gereja tua bergaya gothic yang menjadi tujuan utamaku di negara ini.

Setelah menjelajahi bagian dalamnya yang luar biasa indah dengan panduan seorang guide yang menceritakan sejarah pada setiap jengkal dindingnya, aku memilih untuk menikmatinya dari halaman luar, sembari mengambil beberapa gambar dari kamera dan ponselku yang segera kukirim melalui pesan bergambar pada Aya. Aku tertawa pelan saat dia membalas pesanku dengan antusias dan memaksaku untuk kembali lagi ke tempat ini bersamanya tahun depan.

Amazing... Itu yang terbersit di kepalaku saat berdiri di depan kemegahannya yang luar biasa. Walau usianya begitu tua tapi bangunan ini masih terlihat cantik tanpa cacat. Mungkin karena bangunan ini merupakan tempat yang penting untuk keluarga kerajaan Inggris, dimana Raja dan Ratu Inggris dinobatkan di sini, juga ada beberapa dari Raja dan Ratu terdahulu yang dimakamkan di sini. Pernikahan fenomenal Pangeran Charles dengan Putri Diana dan Pangeran William dengan Kate Middleton juga di adakan di gereja ini.

Aku kembali mengarahkan lensa kameraku untuk mencari titik yang pas agar keindahan bangunan ini bisa kuabadikan sebagai kenangan.

"Coba kamu ambil sedikit ke kanan, di sana pencahayaannya lebih indah."

Walau sedikit terkejut tapi aku tak berusaha menoleh pada si pemilik suara yang tiba-tiba muncul di sampingku itu. Siapa lagi kalau bukan dia? Dan kemampuannya memainkan kamera serta menghidupkan gambar melalui foto-fotonya memang tak bisa kubantah. Dia hebat dalam bidang fotografi.

Kuikuti sarannya, dan tersenyum puas saat melihat hasilnya pada layar besar kamera digitalku, "Thanks," jawabku sambil menoleh ke arahnya. Saat itu jantungku seperti berhenti berdetak. Dia mengenakan kemeja hitam dengan celana jeans gelapnya. Sejak dulu aku selalu suka kalau dia mengenakan pakaian itu. Kali ini tanpa kacamata hitam kesukaannya.
Sebenarnya aku tak suka kalau dia menggunakan kacamata hitam, terlihat garang dan angkuh. Padahal matanya selalu tampak hangat dan lembut, juga ramah. Aku suka matanya.

"Terpesona lagi?" godanya sambil mengangkat satu alisnya padaku yang masih belum berkedip menatapnya.

Aku segera sadar lalu mendengus sambil tertawa pelan, "Dalam mimpimu saja, Mr. Narsis," jawabku masih dengan debar yang belum hilang. Dan debar itu kembali mengencang saat jemarinya menyingkirkan butiran salju dari rambutku dengan lembut seperti dua hari yang lalu.

Pria itu terkekeh pelan sambil mengacak rambut panjangku, "Kita duduk di sana," ajaknya sambil menunjuk sebuah bangku kayu di bawah pohon sebuah taman yang letaknya tak jauh dari gereja tua ini. Aku ingin menolak tapi lidahku kelu saat tangannya menggandeng tanganku yang telah membeku karena dingin.

"Kenapa kamu tak memakai sarung tangan tebal? Lihat ini... jari-jarimu memutih dan dingin," omelnya setelah kami duduk sambil meniup-niup tanganku dengan napasnya yang hangat. Aku ingin menarik tanganku agar debar ini reda dan dadaku menjadi lega, tapi pria dengan alis tebal itu menahannya.
"Kamu ingat hari ini hari apa?" tanyanya pelan sambil menatap mataku, genggamannya semakin erat di tanganku.

Aku tersenyum kecil, bagaimana aku bisa lupa hari terpenting di dalam hidupnya? "Happy birthday, Rain," ucapku, "Maaf, tahun ini tak ada kado," godaku sambil mengalihkan mataku dari tatapan tajamnya.

Aku mendengarnya tertawa pelan, "Kamu salah, Via. Tahun ini aku masih mendapatkannya dari kamu," jawabnya yang otomatis membuatku kembali menatapnya dengan heran.
"Bertemu denganmu di tempat ini, tempat yang tak pernah ada dalam rencana kita untuk pergi berdua. Bukankah ini sebuah hadiah ulang tahun untukku?" katanya.

Aku terkesiap saat pria itu mencium lembut jari-jariku, aku panik dan ingin segera menjauh darinya. Karena aku tahu kalau kali ini jantungku tak bisa diajak berdamai, 'Tuhan... aku ingin memeluknya', bisikku dalam hati.

Bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis saat melihatku salah tingkah, "Nanti kita dinner bareng yuk?" ajaknya.

Aku terhenyak sesaat, mencoba mencerna kata-katanya barusan. Setelah yakin pada apa yang kudengar akupun menghela napas panjang dan segera menggeleng, "Maaf, Rain... aku tak bisa, aku.."

"Hari ini saja, Via. Aku ingin bersama kamu lagi... untuk hari ini saja," desaknya.

Aku hanya bisa menunduk saat tangannya masih menahan tanganku di dalam genggamannya, "Rain, aku..." suaraku terputus oleh isak yang tertahan. Sungguh aku ingin menerima, tapi aku takut jika kali ini akan sulit untukku mengakhirinya kembali. Aku takut tak mampu melepasnya lagi.

"Bukan hanya kamu, Via. Lihat aku... aku juga merasakan hal yang sama," katanya lagi sambil mengangkat daguku dengan satu tangannya yang tak menggenggamku.

Aku menatap manik hitam itu, ada kerinduan di sana, juga sepi dan sedih. Ternyata bukan hanya aku yang terluka.

"Kamu tahu bagaimana senangku saat bertemu kamu dua hari yang lalu? Kamu tahu sampai jam berapa aku menunggu di cafe itu tapi kamu tak juga datang hingga jalanan lengang dan tak ada seorangpun yang lewat? Kamu tahu seharian kemarin aku menunggu di jalan yang sama hanya agar aku bisa bertemu kamu lagi. Dan hari ini, Via... doaku semalam dikabulkan. Doaku agar kita dipertemukan kembali tepat di hari ulang tahunku."

Aku hanya terperangah mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir merahnya yang tipis, "A-aku... maaf..." hanya itu yang bisa kuucapkan di antara sesakku.

"Hari ini saja, Via... hari ini saja biarkan aku dan kamu kembali menjadi kita," pintanya dengan suara parau.

Aku menggigit bibir bawahku sembari menahan laju airmataku, "Maaf, Rain... aku tak bisa. Aku harus kembali ke Jerman saat ini juga," jawabku lirih tak berani menatap matanya. Aku takut kalah dan mengubah semua keputusanku.

"Kamu bohong. Kamu hanya ingin menghindariku, kan?" tuduhnya.

Aku menggeleng sambil mengeluarkan selembar tiket pesawat dari tas kecilku. Kutunjukkan jadwal keberangkatan yang tertera di sana, dan akhirnya dia percaya.
"Aku hanya tinggal berangkat. Barang-barangku sudah ada di bandara," kataku dengan nada bergetar.

Pria itu menatapku dalam-dalam, "Hari ini saja, Via," bisiknya lirih.

Aku mencoba tersenyum di antara pedihku, "Maaf," tolakku.
Pelan aku berdiri. Seakan tak rela pria itupun ikut berdiri, berhadapan denganku. Sekuat tenaga aku menahan tangis saat jemarinya mengusap lembut pipiku.

"Apa kamu bahagia?" tanyanya sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

Aku mengangguk pelan saat teringat janji kami pada senja terakhir itu.

"Apa kamu bahagia, Via? Jawab aku!" desaknya lagi.

Kali ini tangisku pecah. Maafkan aku untuk kelemahanku yang tak mampu menahan diri.

"Apa kamu bahagia?" kali ini dia bertanya dengan begitu lembut sembari menempelkan keningnya pada keningku.

Sekali lagi aku mengangguk, "Ya, aku bahagia, Rain," jawabku di antara isak dan mata yang terpejam. Kubiarkan kali ini tubuhku ditarik dan dipeluknya dengan sangat erat.

Beberapa saat kami biarkan salju menari dalam hening.  Kami biarkan hati kami saling bicara dalam sunyi. Kunikmati irama detak jantungnya di telingaku, irama yang selalu mampu membuatku nyaman. Baiklah... sebentar saja, aku mengalah untuk sebuah rasa yang belum juga hilang. Sebentar saja... biarkan aku tenggelam dalam hangat peluknya seperti saat-saat lalu dimana aku selalu melabuhkan penatku di dadanya. Sebentar saja... sebelum hari ini berakhir dan akan menjadi hari-hari biasanya, tanpa kita.

Setelah merasa lebih tenang akupun melepaskan diri dari pelukannya. Kutatap matanya yang berkaca lalu tersenyum, "Kamu itu tak pantas menangis, nanti wajah garangnya hilang," godaku dengan suara sengau sehabis menangis.

Pria itu tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis dalam diam sambil terus menatapku.

Kuambil sebutir salju yang menempel di rambut hitamnya, "Aku pergi sekarang, ya? Selamat tinggal, Rain," pamitku sebelum berbalik dan berjalan pelan meninggalkannya yang masih mematung di bawah pohon itu. Kubiarkan kepingan hatiku terserak di sana, biar saja... sampai salju menimbun dan membekukannya.

Kumasuki taxi hitam yang berhenti di depanku tanpa melihat lagi ke belakang. Untuk meredakan pedih yang terus menggedor relung hati, akupun memasang earphone yang kusambungkan dari telepon genggamku. Kucari acak lagu dari playlist-ku.

'Bahagia itu relatif, Rain. Ya... aku bahagia walau saat ini hatiku tak lagi berbentuk. Tapi setidaknya aku sudah mengambil keputusan yang tepat, bukan? Mungkin itulah bentuk bahagiaku... untukmu',  bisikku dalam hati.

Dan tangisku kembali pecah saat sebait lagu dari negara asalku melantun lembut di telinga, lagu yang kudengar saat aku usai mengambil keputusanku senja itu.

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini...

Kuabaikan supir taxi yang bertanya apakah aku baik-baik saja? Kuabaikan hati yang terus merutuki kebodohanku karena tak menerima uluran tangannya tadi dan justru kembali memilih menangis oleh keputusanku sendiri. Kuabaikan semuanya.
Aku hanya ingin pulang dan memeluk Aya, menumpahkan semua tangis dan lukaku di dalam pelukannya. Setelahnya aku akan mencari tempat lain yang bergaya gothic yang akan kudatangi bersama Aya tahun depan. Setidaknya bukan tempat yang baru saja kutinggalkan tadi.


SELESAI






Author's Note :
Sok bener lah sampe nyasar ke London segala, hahaha. Ini gara-gara Aya nih yang ngajakin bikin fiction untuk menyambut ultah mantan-mantan kami yang kebetulan tanggal ultahnya berdekatan. Sok-sokan pake ketemu lagi eh ujung-ujungnya mewek nulisnya. Beneran nulis ini sambil dengerin lagunya Sammy Simorangkir yang judulnya Kesedihanku #halaah xDD

Buat kamu yang sebenernya saat ini sedang ada di tempat yang dekaaaat banget dengan aku, Happy Birthday ya? Doaku masih sama seperti dulu, semoga kebahagiaan selalu menjadi milik kita ^_^


Sabtu, 13 Desember 2014

Resahku

"Kamu yakin? Lima belas jam perjalanan kamu bakal nyetir sendiri? Apa ga ada orang lain yang bisa gantiin?" kataku cemas.

Dia cuma tersenyum simpul sambil menggeleng pelan, "Aku masih bisa sendiri kok," jawabnya.

"Iya aku tahu, tapi itu kan bukan waktu yang sebentar? Kamu cuma sendirian, bawa mobil sendiri, lima belas jam, dari sore sampai pagi. Kamu ga capek? Kamu juga baru sembuh, kan?" aku terus meracau.

Pria berkacamata itu tertawa geli, "Kamu cemas?" godanya.

Aku langsung mendelik, "Nggak, aku lagi ketawa ngakak sama kamu," jawabku kesal sambil membuang muka ke arah lain.

Lagi-lagi dia terkekeh, "Kamu nggak percaya sama kemampuanku karena aku tak lagi muda?" tanyanya tanpa melepaskan pandangan ke arahku.

Aku berdecak, "Bukan... bukan itu. Mau muda, mau dewasa, mau tua, mau kakek-kakek, tapi klo emang cemas ya cemas aja dong, ngapain lihat umur?" jawabku ketus.

Senyum lembut dan sabar terpahat pada bibirnya yang tipis, "Tadi katanya ga cemas?"

Aku yakin pada warna wajahku saat ini kalau melihat dari panas yang menjalar di pipiku, "Tau ah, aku pulang. Terserah kamu mau pergi dengan cara apa," jawabku sambil meraih tas kerjaku yang kutaruh di kursi sebelahku.

Pria setengah baya dengan tatapan teduh sesejuk embun itu memutari cepat meja kerjanya dan meraih lenganku. Dengan lembut dia membawaku duduk di sofa putih yang ada di ruang kerjanya lalu duduk di sebelahku dengan satu tangan memeluk pundakku. "Kamu terlalu paranoid, tahu?" katanya masih dengan senyum.

Aku menghela napas panjang dan membiarkan tangannya membawa kepalaku bersandar di bahunya. Debaran jantungnya membuang segala resahku, nyaman. Ya... aku memang selalu merasa takut, aku memang mudah panik dan cemas. Aku hanya berkaca pada beberapa kehilangan yang kualami sepanjang hidupku, sehingga rasa takut kehilangan lagi selalu menguntitku. "Aku cuma takut terjadi sesuatu sama kamu, itu aja," jawabku lirih.

Aku memejamkan mata saat dia mencium lembut puncak kepalaku yang masih bersandar padanya, "Kenapa kamu nggak berdoa aja supaya aku bisa pulang dan bertemu kamu lagi?" bisiknya sambil mengusap lenganku.

Aku terdiam. Dia benar, aku terlalu berpikiran negatif hingga lupa bagaimana caranya berpikir lurus.

Ya... dibandingkan sifatku yang egois dan kekanakan dia memang tampak begitu dewasa. Selisih umur yang jauh di antara kami pasti menjadi salah satu penyebabnya.
Mungkin cuma dia yang sanggup menghadapi keegoisanku dengan senyuman. Dan mungkin... hanya dengan dia aku bisa bersikap egois mengingat begitu seringnya aku mengalah menghadapi seribu masalah selama ini. Bersamanya aku tak perlu selalu berpura-pura tersenyum, pura-pura sabar, dan pura-pura kuat. Dia selalu mengijinkanku menjadi seperti apapun yang aku mau.

"Hubungi aku selama kamu pergi nanti," pintaku setelah resah itu hilang, dan aku semakin menyamankan diri dalam dekapannya.

Dia memelukku semakin erat, "I will, Princess," jawabnya di telingaku sambil menarik lembut hidungku dan segera membuatku tertawa.

'Teruslah bersamaku, sebagai apapun nantinya', doaku dalam hati sebelum canda dan tawa kami memeriahkan ruangan yang tadinya hening ini.





Rabu, 03 Desember 2014

Sebentuk Rindu

"Aku akan pergi akhir bulan ini. Agak sedikit lama, dua minggu."

Aku mendongak saat suara yang terdengar sedikit berat itu mengusik lamunanku. Ada resah yang tiba-tiba lahir, "Kemana?" Tanyaku.

Manik hitam itu menatapku lekat, "Ada urusan kerja di Singapore," jawabnya.

Aku balas menatapnya lurus, entah apa yang kucari pada sepasang bola mata yang teduh itu. "Haruskah selama itu?" Tanyaku lagi.

Pemilik wajah putih dengan bibir tipis itu tersenyum lembut, manik hitam di balik kacamata beningnya sedikit menyipit, "Itu tak lama," katanya.

Aku semakin gelisah hingga rasanya malas bicara. Kumainkan ballpoint biru di atas meja kerjanya, mencoba meredakan ribuan rasa yang tak mampu kutebak artinya. Mungkin karena aku sudah terbiasa ada di dekatnya maka berita itu sedikit membuatku kacau.

"Kenapa diam? Kan aku belum pergi?" Godanya.

"Tapi aku sudah rindu," jawabku tanpa berpikir panjang. Bisa kurasakan wajahku memanas saat sadar apa yang baru saja kukatakan.

Lelaki itu tertawa renyah. Tawa khas yang begitu familiar di telingaku. Ditariknya tanganku lalu digenggamnya dengan lembut. Kehangatannya sampai ke hati.
"Selama dua minggu nanti kita kumpulkan rindu sebanyak-banyaknya, ya? Saat aku pulang kita lihat rindu siapa yang menjadi juara," hiburnya dengan senyum yang selalu mampu membuatku berdebar.

Aku yang sedang merajuk tertular tawanya. Ah... mudah sekali rasa rindu ini tercipta jika dengan dia.

-----------------

Author's notes :
Entah kenapa rasanya pengen banget bikin tulisan ini. Kebawa suasana sore tadi kali ya? Hehehe...



.

Di Teras Belakang ( Fiction )

Senja yang kelabu. Duduk di teras belakang rumah yang berdebu kurasa adalah pilihan yang paling baik saat ini. Sendiri... dan membisu.
Aku ingin berbincang dengan hati, sembari mencari jawaban yang tak pasti.

Aku duduk pada anak tangga kayu yang menghubungkan teras dengan halaman belakang. Kusandarkan kepalaku ke samping pada tiang kayu penyangga pagar teras. Kupandangi padang ilalang di depan sana, dimana tangkai-tangkai ilalang seolah saling kait lalu menari bersama iringan angin senja yang sedikit dingin.

"Kenapa kembali ke sini?"

Sebuah suara mengejutkanku. Kucari sekeliling, tapi yang tampak hanya sepasang kursi kayu tempat aku biasa menghabiskan sore dengan secangkir coklat panas dalam genggaman. 'Mungkin hanya halusinasi', jawabku pada diri sendiri. lalu aku kembali menyandarkan kepalaku.

"Aku bertanya, kenapa kau kembali ke sini?"

Suara itu muncul lagi, dan aku kembali menyusuri sekelilingku. Tak ada siapa-siapa, yang bersuara hanya kelintingan besi yang digantungkan di ujung atap teras yang sedang bernyanyi bersama angin.

"Bukankah katamu kau ingin berbicang dengan hati? Aku adalah hatimu," kata suara itu lagi.

Aku tercenung sesaat, lalu tersenyum dan menyandarkan kepalaku ke samping lagi. Manik coklat gelapku kembali menikmati pertunjukan alam di depan sana.

"Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah sudah lama kau melupakan tempat ini?"

Aku terdiam sebentar saat suara itu kembali bertanya. "Aku bukan lupa, aku hanya merasa malu untuk kembali setelah semua yang terjadi padaku dan kamu, hatiku, selama ini. Lagipula... hanya di sinilah tempatku pulang," jawabku.

"Tahukah kalau apa yang kau lakukan selama ini sangat menyakitiku?"

Sudah kuduga kalau pertanyaan, atau pernyataan, itu akan muncul. Aku terus memandang tarian ilalang di depan sana dengan diam, "Maaf," bisikku.

"Kenapa kau selalu tega padaku? Kenapa kau selalu menyakiti hatimu sendiri? Tak bosan kah kamu dengan tangisan?"

Aku kembali diam, mencoba meresapi pertanyaan itu dalam-dalam. Kutatap langit senja yang semakin hitam. Mendung tebal tampak menggumpal di atas kepala.

"Mari berbicara denganku, berbicara dengan hati kecilmu. Kau tak akan kuberi kesempatan untuk berbohong kali ini."

Aku tersenyum getir, "Maaf... sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku tak pernah ingin menyakitimu, juga diriku sendiri," jawabku lirih.

"Tapi kau melakukannya."

Aku mengangguk pelan, "Aku hanya ingin bahagia, salah kah?" tanyaku sembari merapatkan lengan di dada karena hembusan angin yang semakin dingin. Tetesan gerimis mulai turun perlahan, membasahi tanah kering di depanku lalu membentuk ceruk-ceruk kecil seperti tanda titik di sana.

Suara itu hening sesaat, "Tidak, kamu tak salah. Hanya saja caramu yang keliru. Tak seharusnya kamu hanya mendengarkan pikiranmu, logikamu. Masih ada aku di sini, seharusnya kau dulu juga bertanya padaku apakah aku setuju dengan keputusanmu untuk menerima uluran hatinya?"

Lagi aku tersenyum, miris, "Sejak dulu banyak orang yang berkata jika  dicintai itu jauh lebih baik daripada mencintai..."

"Apakah cukup hanya dengan dicintai? Tanpa mencintai?" potong suara itu.

Aku mendengus pelan, "Dulu kupikir itu sudah cukup, dan aku akan bahagia hanya dengan dicintai saja tanpa..."

"Berhentilah berpikir hanya dengan otakmu. Kubilang masih ada aku di sini, di dalam tubuhmu. Dan aku masih berfungsi," suara itu terdengar semakin emosi.

Aku memijat keningku yang mulai terasa sakit, "Aku hanya mengikuti apa yang orang-orang bilang, itu saja. Karena kupikir semakin banyak yang mengatakan seperti itu maka itu adalah benar!" Kesalku karena selalu dipotong sejak tadi.

"Dan sekarang kau masih membenarkan kata-kata itu?"

Aku langsung terdiam saat suara itu kembali bertanya, "Entah..." jawabku lagi. Aku mulai kesulitan menghitungi tetesan gerimis yang semakin deras.

"Kau berbohong. Berhentilah membohongiku. Aku muak dengan kebohonganmu."

Aku mencoba mencerna kata-katanya yang membaur dengan derap air yang berbunyi halus di atas atap juga kelintingan besi yang semakin nyaring oleh tiupan angin, "Kubilang entah, aku sendiri tak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini," tegasku.

"Kau menyesal."

Kepalaku berdenyut saat suara itu semakin memojokkanku, "Kumohon... aku bahkan tak bisa membaca hatiku sendiri," kerasku.

"Kau menyesali semuanya, kan? Kau menyesali pilihanmu, JAWAB AKU!!!" suara itu menggelegar seiring suara gemuruh langit yang seakan ikut marah padaku.

"YA!!! AKU MENYESAL!! PUAS?!!" teriakku kali ini. Aku menangis bersama rinai hujan yang turun semakin deras. Kubiarkan air hujan yang terbawa angin membasahi wajahku, membasahi tubuhku. Emosiku meluap, amarahku meledak. Kali ini aku menyuarakan apa yang selama ini mengganjal di hidupku. Aku lelah berlari, aku lelah merasa baik-baik saja. Aku lelah dengan semua yg telah terjadi.
"Ya... aku menyesal, apa kau puas?" tanyaku lagi, kali ini begitu lirih sembari memeluk tubuhku yang gemetar dengan semakin erat.

Di antara tangisku kudengar suara itu terkekeh pelan, "Ya, aku puas karena kali ini kau jujur padaku. Tahukah kau jika terkadang aku benci melihat senyummu, sementara aku merasakan sakit? Aku benci mendengarmu tertawa sementara aku menangis sendiri. Kenapa kita tak pernah sejalan? Padahal kita ada pada satu jiwa? Aku benci dianggap tak ada."

Aku masih menangis, apa yang hatiku rasakan kini kurasakan juga dengan nyata, sakit. Kuayun sendiri tubuhku dalam diam, kudekap erat dadaku agar tak meledak oleh luka.
Kali ini suara itu diam, tapi dari rasa dingin yang membuncah di dada aku tahu kalau diapun tengah menangis, bersamaku.

Airmataku berhenti, menyisakan basah di pipi juga bibir. Kuterawang panggung alam di depan sana, dan yang terlihat hanyalah deras hujan serupa tirai. Putih.
Kubiarkan tubuh dan bajuku basah oleh hujan yang memercik hingga ke teras tempat aku duduk. Kunikmati dingin yang menggigit tulang dalam diam.

"Apakah menurutmu penyesalan ini berguna?" suara itu hadir kembali serupa bisik.

Aku masih diam, lalu tersenyum perih. Kugelengkan kepalaku dengan lemah.

"Berapa tahun kau biarkan hatinya berjalan sendiri di sisimu? Berapa tahun kau bohongi dia dengan kata cinta yang sebenarnya tak ada?"

Pandanganku masih menerawang, dan aku masih diam. Rasa lelah itu memang ada, tapi tak kalah besar oleh rasa berdosa yang selalu ikut di dalamnya.

"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Apakah dia yang selalu memberikan pundaknya untukmu mengadu dan menangis? Apakah dia yang kau sebut sahabat walau aku tahu kau tengah menipuku lagi. Kau mencintai pria itu, kan? Yang lebih sering kau temui daripada dia yang telah kau bohongi bertahun-tahun."

Aku menggigil dalam diam, pertanyaan kali ini begitu menamparku. Dan mataku kembali memanas oleh genangan airmata sebelum akhirnya kembali luruh perlahan. Aku teringat pada sebuah hati yang hadir setahun belakangan ini, yang mencuri semua cintaku yang tak seharusnya kuberikan untuknya.

"Kau tak bisa mencintainya, tidak! Kalian telah sama-sama terikat," ingat suara itu padaku. "Kenapa kau biarkan aku merasakan cinta yang tak pernah mungkin kumiliki? Bukankah pada akhirnya kau kembali menyakitiku?"

Kubiarkan pipiku kembali basah, "Maaf," lirihku.

"Apa kau ingin berhenti bersandiwara lalu mengakhiri semuanya?"

Aku tercekat. Kutatap cincin emas yang melingkar di jari manisku. Ada sebentuk sumpah di sana, yang kuucapkan dihadapan Tuhan.

"Apa kau ingin mengingkari sumpahmu lalu pergi mencari cinta semu yang belum tentu bisa kau raih?"

Kuusap lembut cincin itu. Kenangan lima tahun silam kembali terbayang. Saat pria itu hadir di hidupku yang tengah hancur. Saat perhatian dan kepeduliannya mengikis kesedihanku. Saat aku tak mampu berkata tidak ketika ikatan itu ditawarkannya. Walau cinta untuknya tak pernah ada, tapi dia terus menghujaniku dengan kasih sayang. "Setega itukah aku?"

Sesaat hanya hening.
"Kalau kau bertanya padaku maka jawabanku adalah tidak. Aku tak akan mampu melakukan hal sekeji itu. Entah kalau kau bertanya pada otak sok pintarmu itu."

Aku kembali diam.

"Kau sudah memutuskan, jadi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya pada keputusanmu itu."

"Walau aku harus terus membohonginya?" tanyaku 

Suara itu tertawa pelan, "Kenapa kau tak mencoba untuk belajar mencintainya saja?"

"Aku sudah terlalu sering mencoba," jawabku.

"Tapi kau mencobanya tak sepenuh hati, kan? Jujurlah," tebak suara itu.

Aku kembali diam lalu tersenyum tipis, "Mungkin."

"Kali ini kita harus bekerjasama dengan baik, ya? Kau harus punya keinginan kuat untuk mempertahankan ikatan kalian, dan di sini aku akan mulai belajar untuk mencintai dia. Bagaimana? Apa kau bisa?"

Aku tak menjawab, mataku masih menatap derasnya hujan yang tak kunjung reda.

"Kau juga tak ingin kehilangan dia, kan?" bisik suara itu parau. Dia sedang menangis, airmatanya kembali menyapu pipiku yang dingin.

"Ya," jawabku dengan gemetar.

"Hei... angkat wajahmu. Kau harus terus menjalani hidupmu. Kau sudah berjalan terlalu jauh, jadi teruslah melangkah, jangan menyerah," semangatnya.

Aku kembali meresapi kata-katanya, "Apakah aku bisa?" Tanyaku ragu.

"Kau sudah berhasil bertahan selama ini, lalu kenapa tidak kau lanjutkan saja? Kita tidak hidup di dalam sinetron dimana semua akan berakhir baik. Ini kenyataan yang sudah kau pilih, kenyataan yang harus kau hadapi, jadi baik buruknya harus kau jalani. Jangan melarikan diri."

Aku terhenyak dan terdiam sesaat. Setelahnya aku menghela napas panjang, kata-katanya membuat dadaku sedikit lega. Kekuatan yang tadi hilang perlahan kembali. "Kau benar, aku harus menghadapi semuanya," jawabku.

Suara itu terkekeh pelan, "Ya sudah... kalau begitu berhentilah menangis. Kita perbaiki semuanya bersama-sama, ya? Aku yakin kita bisa," hiburnya.

Aku tersenyum di bawah siraman hujan dan sisa airmata. Perlahan aku berdiri dan mengusap wajahku yang pastinya pias oleh dingin yang menyerang sejak tadi. 

"Baiklah, hatiku... mari kita berdamai," ucapku yang disambut tawa seriuh hujannya. 




Senin, 01 Desember 2014

Surat Untuk Eri

Ri...
Kamu tahu? Terkadang aku merindukan masa lalu, dimana tawa dan canda juga pertengkaran menghiasi hari-hari kita. Aku rindu menghabiskan malam bersama. Walau hanya sekedar melihat lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung bertingkat, juga apartemen di pinggiran kota seraya berkhayal kelak kita akan ada di dalamnya, berdua.

Ah...
Kamu ingat tukang mie ayam yang warungnya ada di tepi laut itu? Mie kesukaan kamu, juga aku. Abangnya makin tua loh. Dia agak lupa-lupa ingat waktu lihat aku, trus aku ingatkan dia kalau dulu kita sering duduk di sana sampai diusir karena mau tutup. Setelah si Abang ingat dia ketawa keras sambil menepuk-nepuk bahuku. Kamu tahu apa yang langsung dia lakukan saat itu? Mengeluarkan semua persediaan sambalnya. Hahaha... dia ingat kalau dulu kita selalu bikin dia bangkrut sambal.

Setelah itu si Abang manggil teman di sebelahnya. Ingat? Ibu seksi yang jualan ice cream kesukaan kamu? Errr... maksudku es krim-nya yang kamu suka, bukan yang jual. 
Si Ibu langsung heboh waktu ngenalin aku, akhirnya dia malah ikutan gabung di warung mie ayam, hehe. Banyak sekali pertanyaan terlontar, Ri... juga canda saat mengenang masa lalu. Tapi itu tak lama, mereka langsung terdiam, bahkan mata bulat si Ibu berkaca-kaca saat aku menjawab pertanyaan yang menanyakan bagaimana kabar kamu.

Aku bilang kalau kamu sudah tidur dengan tenang di atas sana. Si Ibu menangis pelan waktu tahu kalau kepergian kamu begitu mendadak, bahkan tanpa pesan apapun. 

Iya, Ri...
Aku kembali lagi ke tempat ini, sendiri tanpa kamu. Aku duduk di sini juga sendiri, di bawah pondok kayu yang menjorok ke laut. Yang terdengar hanya suara debur ombak, tanpa iringan tawa dan petikan gitarmu. Yang bernyanyi hanya pekik burung senja, bukan syair-syair yang melantun dari bibir-bibir kita.

Kupandangi botol yang ada di tanganku. Aku ingin mencoba sebuah mitos yang mengatakan kalau sebuah pesan yang dimasukkan ke dalam botol dan dilarutkan ke lautan, kelak akan sampai kepada yang dimaksud. Benarkah? 
Kalau kamu menemukan surat ini jangan terkejut kalau isinya hanya namamu, ya? Karena seluruh perasaanku hanya kusimpan di dalam hatiku saja, bukan untuk kularutkan di lautan. 

Tidurlah dengan tenang, Ri... di sini aku baik-baik saja. Akan kutepati janjiku untuk tak sering menangis, kecuali saat merindukanmu. Tapi sepertinya aku terlalu sering merindukanmu, ya? hehe.
Terima kasih telah membuatku merasakan bentuk cinta yang sesungguhnya.

Tidurlah dengan tenang... di hatiku, selamanya.




Kamis, 27 November 2014

Dua Tahun Yang Lalu

Dua tahun yang lalu, saat kata kita tercipta, saat aku dan kamu memutuskan sebagai satu.
Apa yang harus diingat? Tawa canda kita, ataukah airmata? Bukankah kamu selalu tahu, jika aku masih memiliki rindu untukmu?

Dua tahun yang lalu...
.
.
.
.
Bahkan aku kehilangan seluruh aksaraku. Kehilangan kata-kata di antara cekat yang menyesak oleh luka.
Apa yang harus aku ingat? Sementara tak satupun kisah mampu terhapus dari kepala.

Aku akan bahagia, aku berjanji. 

Tapi kali ini saja ijinkan aku membuka kembali ruang itu dengan sebuah kunci. Kunci rumah tempat kita selalu berbagi hati, tempat kita pulang dan melepaskan segala resah, penat, juga airmata. 
Rumah dimana kita selalu berbagi tawa, tempat kita menautkan dua kelingking dan berjanji untuk selalu bersama, sembari menatap indahnya senja di ujung cakrawala dari balik jendela kaca yang basah.
Biarkan aku tinggal sejenak di dalamnya, hanya untuk melihat sisa-sisa kenangan yang tertinggal bersama secangkir Cappuchino dingin di atas meja berdebu yang tampak tua.

Hanya ada aku. Tak kulihat jejak sepatumu yang selalu kotor oleh lumpur. Tak ada tetesan air dari jas hujanmu yang selalu membasahi lantai.
Hanya ada aku dan sofa usang, yang tak pernah bosan menunggumu pulang.

Dua tahun yang lalu... hingga dua purnama kemarin...
Selalu ada kita di sini, di ruang kosong yang tak lagi berpenghuni. 

Dua tahun yang lalu... mencipta rindu yang tak juga berlalu.



Masih kusimpan senja terindah darimu :)

Tarian Sang Waktu ( Fiction )


( Side story dari fiction Pertemuan, Rasa sesaat dan Maafkan )
“Zee, aku harus gimana dong? Dia itu manis banget, kulitnya putih, bersih, dan wangi. Beneran seperti anak perempuan.”
Aku melirik sekilas pria yang tengah menyetir itu, lalu kembali melemparkan pandangan ke luar jendela. Rasanya malas menanggapi ocehannya yang tak pernah lepas dari target-target brondongnya.
“Zee? Zefanya…” panggilnya sambil mengambil sejumput rambut hitamku yang tergerai di bahu, “Kok diam aja? Marah?”
Aku menghela napas panjang dan kembali menatap wajah pria berkulit sawo matang di sampingku itu. Matanya yang jenaka dengan alis yang lebat, hidungnya yang tergolong mancung, kumis tipis serta jambang yang dibiarkan terlihat seperti transparan membuat wajahnya tampak begitu tampan.
Aditya, sahabat dekatku sejak kami masuk ke dalam perusahaan yang sama dua tahun yang lalu. Aku dibagian ke-karyawan-an, dan dia di bagian pemasaran. Saat itu kami masih sama-sama bekerja sambil kuliah.
Sifatnya yang supel dan ramah membuat dia begitu gampang disukai oleh orang-orang di sekitarnya. Banyak gadis yang ingin menjadi kekasihnya, tapi Aditya selalu menolak. Karena apa? Karena Adit lebih tertarik pada lelaki. Hanya aku satu-satunya teman wanita yang dia punya, hanya aku yang katanya bisa membuatnya merasa menjadi lelaki straight, dan hanya aku yang tahu dan bisa memahami perlakuan menyimpangnya.
Persahabatan kami bisa dikatakan unik juga, hampir semua orang justru menyangka kalau kami berpacaran. Itu karena kontak fisik antara kami yang sering kali menyiratkan hal tersebut.
Aku menyayangi Adit, begitupun dia. Bahkan rasa sayang itu telah berubah menjadi cinta untukku, hanya saja ketertarikan Adit terhadap sesama jenis membuatku tak berani berharap lebih, hanya kusimpan sendiri. Aku tak mau perasaanku justru merusak kedekatan kami.
“Zee…” panggil Adit lagi saat mobil kami berhenti di lampu merah. “Kamu ga cemburu, kan? Katanya kalau sama cowok kamu ga bakal cemburu?” godanya sambil mengusap pipiku dengan lembut.
Aku masih diam sambil menikmati senyum yang bermain di bibir tipisnya, “Ga cemburu kok, aku cuma lagi banyak pikiran,” jawabku bohong sembari menata kembali hatiku yang tadi sempat memanas.
“Masalah kerjaan? Udah ga usah dipikirin, ntar juga selesai sendiri,” katanya sambil mengacak rambutku lalu kembali berkonsentrasi ke jalan karena lampu lalu lintas sudah hijau.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam dan kembali melempar pandangan ke luar jendela. Selalu begitu, Adit tak pernah tertarik untuk bertanya atau mendengarkan ceritaku, semua hanya tentang dia dan kekasih-kekasih prianya, bukan tentang aku, atau kami.
“Mampir makan malam dulu, yuk?” ajaknya.
“Ga usah, Aya mau ke rumahku sebentar lagi,” tolakku sambil menyebutkan nama sahabat perempuanku sejak masih kuliah dulu.
Adit berdecak, “Ayolah… Restoran ayam goreng sambal hijau kesukaanmu pasti udah buka jam segini,” paksanya.
“Besok aja ya? Aku ga enak karena udah janji sama Aya,” alasanku lagi.
Aditya akhirnya mengangguk, “Ya udah deh, kalau gitu aku pergi sama Dicky aja. Rumahnya kan ga jauh dari tempat kamu,” katanya sambil memberikan cengiran lebar khasnya.
Aku ikut mengangguk setuju, mau melarang pun memangnya dia siapaku? Hhhh…
Kubuka pintu mobil Adit saat sudah berhenti di depan rumah besar bercat putih dan berpagar besi hitam, rumah peninggalan orangtuaku yang kini hanya kutempati sendirian. “Thanks, ‘Dit, Gnite…” ucapku sebelum turun. Gerakanku terhenti saat tangan Aditya menahan lenganku, dengan heran kupandang sahabatku itu.
“Tak ada ciuman selamat malam?” tanyanya sambil menyodorkan pipinya.
Aku mendengus pelan dan tersenyum simpul. Kudekati wajahnya untuk mencium pipinya. Tapi ternyata Adit justru menoleh dan mencium bibirku. Aku sedikit terkejut, berbagi ciuman pipi sering kami lakukan, sedang untuk bibir hanya saat-saat tertentu saja, saat kami sama-sama ingin. Atau saat dia sedang merayuku karena merajuk.
Kupejamkan mataku dan menikmati sentuhan bibirnya yang lembut, kubiarkan kedua tangannya menangkup pipiku untuk menahanku agar tak mengelak. Sebenarnya tak perlu begitu, karena akupun tak mungkin menolak.
Ciuman kami terputus saat kebutuhan akan oksigen menuntut untuk dipenuhi. Kutatap matanya yang memandangku dengan lembut, “Jangan cemberut, nanti cantikmu hilang loh,” guraunya setelah mengecup singkat ujung hidungku.
Aku tersenyum, ada getaran lembut yang merambati dada saat melihat senyumnya. ‘Ah… aku memang mencintai pria ini, bagaimanapun egoisnya dia’, batinku. Dia yang selalu bisa membuatku tertawa, dia yang bisa membuatku menjadi diri sendiri, dia yang selalu ceria, bersemangat dan bangga dengan kenakalan-kenakalannya.
.
#
.
Pagi ini aku merasa tubuhku begitu lemas, kepala juga terasa sangat pusing, mungkin karena hampir dua minggu ini aku bekerja tak peduli waktu, selalu pulang hampir larut malam. Boss banyak melimpahkan pekerjaan yang bukan bagianku, itu karena pegawai yang seharusnya mengerjakan tugas itu sedang mengambil cuti melahirkan.
Aku mencoba untuk tak mengeluh dan mengerjakan semua sebisaku. Aku belajar dari kakak perempuanku yang  bekerja demiku dan keluarga tanpa mengenal lelah, menggantikan ayah kami yang sudah meninggal. Kakak bekerja untuk menghidupi ketiga keponakan kami yang sudah yatim piatu, untuk pengobatan Ibu yang mulai sakit-sakitan dan harus menyerah pada takdir dua tahun yang lalu, juga untuk membiayai kuliahku hingga aku berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi-ku. Dia tak pernah menghitung jam kerjanya, semua dilakukan dengan senang hati walau aku tahu tubuhnya sering menolak untuk bertahan. Tapi tekad kakakku yang kuat selalu berhasil mengalahkan sakitnya. Perbedaan usia kami yang cukup jauh, sepuluh tahun, benar-benar membuatku tak mampu mengalahkan kedewasaannya. Kakak adalah panutanku dalam segala hal.
Jadi rasanya aku malu pada kakak jika pekerjaan yang sedikit ini saja sudah membuatku mengeluh dan menyerah. Lagipula gaji yang kuterima setiap bulannya bisa meringankan beban kakak sebagai tulang punggung keluarga. Di usiaku yang ke dua puluh tiga tahun ini rasanya aku sudah bisa bangga pada diriku sendiri, karena aku sudah bisa mandiri dan tak bergantung pada kakak lagi.
Aku bangun dari tempat tidur dan meraih handuk biruku. Berusaha menguatkan tubuhku yang masih terasa lesu, akupun berjalan ke kamar mandi. ‘Come on, Zee… kamu pasti bisa’, semangatku dalam hati.
#
/”Kamu masih demam?”/ tanya Aya saat menelponku siang ini.
“Masih, Ay… tapi ga apa-apa kok, aku masih bisa,” jawabku lesu sambil mengunyah makan siangku dengan malas.
/”Kuantar ke Dokter ya?”/ tawarnya.
Aku tersenyum sendiri, sahabatku itu memang sangat perhatian padaku, “Ga usah dulu deh, aku coba minum obat aja ya?”
Kudengar Aya menghela napas panjang di seberang sana, /”Bandel,”/ gerutunya, dan aku hanya tertawa pelan. /”Jangan maksain diri ya? Hubungi aku kalau ada apa-apa, nanti kujemput. Kamu ga bawa motor, kan?”/
Aku menelan makananku dengan susah payah, sepertinya tenggorokanku juga mulai berulah, “Ga, tadi aku naik taksi,” jawabku lagi. Karena pusing dan lemas ini aku tak mau beresiko pingsan di jalan jika harus naik motor sendiri. Aku sedikit menyesal karena waktu itu menolak tawaran kakak untuk membawa mobilnya yang jarang dipakai di rumah. Setidaknya kalau membawa mobil aku terhindar dari hujan dan panasnya kota Surabaya.
/”Ya udah, jaga dirimu, Zee,”/ pamit Aya sebelum menutup sambungan telpon kami.
Kuletakkan telpon genggamku dan kutatap kotak makan siangku yang masih utuh, masih kumakan tiga suap dan rasanya sudah tak berselera lagi, terasa begitu mual.
“Hai, kucari-cari di kantin ternyata malah semedi di ruangan,” sapa Adit yang langsung duduk di depan meja kerjaku. Alisnya mengernyit saat melihat makanan yang tak kusentuh, “Kok ga dimakan? Diet?” tanyanya.
Aku mencoba menahan rasa geram karena dia sama sekali tak memperhatikan kondisiku, sementara sejak pagi seluruh teman kantor bertanya kenapa wajahku pucat. Sedangkan sahabatku sendiri ini? Mungkin sadar saja dia tidak.
“Eh, semalam telpon ya? Maaf ga aku angkat, aku sedang jalan sama Ferry. Ga enak ntar, takutnya dia curiga aku telponan sama cowok lain. Padahal ngedapetin dia kan lumayan sulit, Zee,” katanya sambil mengambil sepotong udang goreng dari kotak makan siangku.
Ada rasa sakit yang membuatku meringis, bukan pada kepalaku yang sudah pusing sejak kemarin, tapi pada hatiku yang seperti diremas dengan paksa. Padahal semalam aku merasakan sakit yang teramat sangat pada tubuhku, berharap Adit bisa mengantarku ke dokter atau setidaknya menemaniku. Tapi apa nyatanya? Bahkan sampai pagi tadi pun dia tak berusaha bertanya ada apa denganku hingga harus menelponnya malam-malam? Smsku yang minta dia menjemputku pun tak berbalas.
“Lucu deh, Zee… Ferry itu cemburuan. Masa semalam aku Cuma ngelirik cowok sebelah aja dia udah cemberut? Gemesin banget pokoknya. Apalagi dia itu polos banget…”
Aku mencoba bersabar dengan Aditya yang terus saja bercerita tentang kencannya semalam. Aku berusaha tak meledakkan amarah karena kesal, ‘Kumohon mengertilah sedikit’, ingin rasanya kuteriakkan kata itu di wajah tampannya.
Kupijat keningku, mencoba meredakan sakit pada kepala yang terus berdenyut. Aku merasa duniaku mulai berputar. Dan aku tersentak saat sepasang tangan menyentuh pundakku. Tangan yang terasa sejuk di kulitku yang panas.
“Kamu belum pulang, Zee? Kan tadi sudah kusuruh pulang? Biar aku saja yang menggantikan tugas kamu,” kata sebuah suara di belakangku.
Sebenarnya tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa si pemilik suara itu, tapi untuk menghormatinya yang lebih senior akupun menatap wajahnya yang memandangku dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
“Ga apa-apa, kak Rio, aku masih bisa kok,” jawabku sambil mencoba tersenyum pada pria yang berusia dua tahun di atasku itu.
Mario, pria yang kukenal sejak lama bahkan sebelum aku mulai bekerja di kantor ini, pria yang begitu baik dan perhatian padaku. Aku tahu kalau dia menyukaiku sejak lama, sebenarnya sayang jika harus menolak pria sebaik dia. Hanya saja… ada sebuah alasan yang membuatku tak mampu menerima uluran kasihnya.
“Masih ada dua jam sebelum si boss datang, yuk kuantar ke tempat Papa untuk periksa. Aku yakin jam segini Papa ada di kliniknya,” ajaknya dengan nada cemas yang aku tahu tak dibuat-buat. Ya, Ayah kak Rio memang seorang dokter, dokter yang juga sudah kukenal sejak lama. Dan aku dulu berkenalan dengan Mario di klinik ayahnya itu, enam tahun yang lalu.
“Kamu sakit, Zee?” tanya Adit yang sejak tadi diam saja sambil melihat kami. Ingin rasanya kulemparkan map tebal di depanku ini ke wajahnya yang menyebalkan itu. Tapi aku memilih diam daripada sakit di kepalaku makin menjadi.
Tapi setelah kupikir lagi ada baiknya aku mengikuti saran kak Rio, selain aku ingin segera sembuh, akupun ingin segera menghindari makhluk tercuek di depanku ini. “Iya deh, kak. Maaf ya ngerepotin,” kataku akhirnya lalu berdiri.
Pria berpostur tinggi dan berkulit putih itu segera meraih bahuku. Dan kubiarkan saja karena aku memang benar-benar merasa lemas. Aku tak peduli pada Aditya, aku mencoba untuk tak menoleh ke belakang, karena aku sedang kesal, dan marah.
#
“Apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini, Fanya? Tensi kamu rendah sekali,” kata pria berusia lima puluh tahunan di depanku itu dengan nada prihatin. Hanya beliau satu-satunya orang yang tak ingin memanggilku Zee, aneh katanya. Panggilan Fanya lebih terdengar manis.
Sorot matanya yang selalu tampak lembut dan ramah memandangku dengan lurus. Setengah rambutnya sudah mulai memutih, tapi itu tak membuatnya tampak tua, justru membuatnya semakin berwibawa, menurutku. Wajahnya yang karismatik begitu mirip dengan Mario, putra sulungnya. Mereka berdua pun sama-sama selalu berpenampilan rapi dan wangi.
Aku tersenyum samar, “Agak sibuk sih, Dok,” jawabku.
Pria itu hanya menggeleng saja sambil menulis resep, “Kamu mengingatkan saya pada kakak kamu yang selalu sibuk bekerja dan bekerja,” katanya lagi. Setelah mengucapkan itu jemari sang dokter berhenti sejenak dengan tatapan mata tak lepas dari kertas resep. Setelah menghela napas panjang beliau kembali meneruskan tulisannya.
Ada rasa sesak di dadaku saat itu, masa lalu kembali terbayang dalam ingatanku. Masa lalu yang tak sengaja kuketahui. Masa lalu tentang kakakku… dan sang dokter.
Aku benar-benar terkejut saat ponselku berdering nyaring. Segera kukeluarkan dari dalam tas, dan lagi-lagi dadaku terasa pedih, kakak. Dengan bingung kutekan tombol hijau pada benda kecil berwarna hitam itu.
“Ya, kak?” jawabku pelan dengan nada ragu. Kulihat melalui ekor mataku sang dokter total menghentikan kegiatannya dan memandangku.
/”Zee… kamu dimana, sayang?/ tanya suara lembut di seberang sana.
“A-aku sedang di luar kantor, kak. Makan siang,” jawabku berbohong. Selain aku tak ingin kakak tahu kalau aku sedang sakit, akupun tak ingin kakak tahu aku sedang dengan siapa.
/”Nanti malam kakak sampai di Juanda jam 19.00, kamu sudah pulang belum?”/ tanya kakak dari seberang sana.
“Kakak pulang? Sungguh, kak? Ga bohong? Iya ntar aku usahain pulang cepat deh,” kataku penuh semangat, tak kuhiraukan sakit pada tenggorokan karena harus berbicara dengan suara kencang. Aku sungguh merindukan kakakku. Sejak kepindahannya ke Jakarta empat tahun yang lalu kami memang jadi jarang bertemu. Kakak memintaku ikut dengannya setelah Ibu meninggal, tapi aku tak mau, aku ingin belajar mandiri dan tak ingin terus merepotkan kakak. Kakakku yang baik, kakakku yang sabar dan begitu kuat hati. Hanya dia tempatku bersandar selama ini.
/”Kenapa harus bohong? Nanti kakak langsung pulang ke rumah ya? Jangan masak, nanti kakak bawakan makanan aja dari luar.”/ katanya lagi.
Setelah mengiyakan apa yang kakak katakan akupun menutup telpon. Entah mengapa aku yakin akan mendengar sebuah pertanyaan dari pria di depanku ini. Dan benar saja.
“Bagaimana kabar kakakmu?” tanya Ayah kak Mario itu.
Aku menatap sang dokter dan bisa kulihat binar kerinduan di matanya, “Baik, Dok,” jawabku lirih. Dan saat itu akupun tak sadar kalau sebutir airmata telah turun merambati pipiku. Dadaku begitu sesak kalau mengingat tangis kakak malam itu, malam dimana aku tak sengaja melihatnya turun dari mobil Dokter Alfian, pria yang saat ini tengah menggenggam tanganku dengan begitu lembutnya, lima tahun yang lalu.
“Fanya, kamu kenapa? Ada yang sakit lagi?” tanyanya penuh rasa cemas.
Aku hanya bisa menggeleng dan segera menarik tanganku dari genggamannya untuk mengusap sisa airmataku, “Enggak, Dok… cuma pusing,” elakku.
“Sebaiknya kamu segera pulang, ya? Minum obatnya dan istirahatlah,” sarannya. Lalu Dokter Alfian berdiri dan berjalan menuju pintu, membukanya lalu memanggil Mario.
“Zee kenapa, Pa? Dia sakit apa?” tanya senior di kantorku itu dengan cemas setelah masuk ke dalam ruang periksa.
“Gejala tipes. Sebaiknya kamu antar Fanya pulang ke rumahnya, dia benar-benar butuh istirahat,” jawab sang Ayah.
Aku hanya diam saat kak Rio mengusap bahuku dengan lembut, “Yuk, Zee? Nanti aku yang ijinkan sama boss kalau kamu sakit dan harus pulang,” katanya.
Aku hanya mengangguk dan berdiri.
“Sebaiknya kamu temani Fanya, Rio. Dia pasti butuh bantuan nanti di rumah,” saran dokter Alfian.
Aku langsung menggeleng, “Ga apa-apa, Dok. Saya cuma harus tidur aja, kan? Kak Rio banyak pekerjaan di kantor,” tolakku halus.
Dokter yang baik itu mengusap kepalaku dengan penuh kasih, sejak dulu beliau memang sudah menyayangiku seperti anaknya sendiri. Masih kuingat senyum pertamanya untukku saat kakak membawaku berobat ke sini dulu. Kata-kata pertamanya padaku, “Jadilah pasien yang manis ya, Fanya? Jangan bandel dan suka membantah seperti kakak kamu itu,” lalu kudengar tawa kakak yang lepas, tawa yang jarang kudengar saat kakak berada di rumah. Dan entah kenapa aku merasa kakak terlihat sangat cantik saat itu.
“Nanti sepulang dari kantor aku temani kamu di rumah,” kata Mario.
“Ga usah, Kak. Kakak kan udah capek juga. Nanti malam juga kakakku datang kok,” tolakku lagi.
“Kak Luvi pulang?” tanya kak Rio lagi. Kulihat saat itu Dokter Alfian membalikkan tubuhnya untuk mengambil sesuatu di lemari obat. Dan aku tahu itu hanya untuk menghindar saja agar dia bisa menyembunyikan ekspresinya.
“Iya, nanti malam,” jawabku.
Mario tersenyum lebar, “Baguslah, sekalian aku juga mau ketemu. Sudah lama ga ketemu dengan kak Luvia. Anak-anak diajak?”
Aku mengangguk, “Iya, anak-anak ikut, kan mereka sedang liburan sekolah?” jawabku. Anak-anak yang kami maksud adalah tiga keponakanku yang sudah yatim piatu. Karena kak Luvi sendiri… tidak bisa memiliki keturunan. Sebuah kenyataan yang membuat kami shock empat tahun yang lalu. Satu hal yang menjadi alasan kakakku berhenti kerja dan memilih pindah ke Jakarta, ke tempat suaminya. Di samping alasan lain yang juga cukup pelik, menurutku.
“Ya sudah, yuk aku antar pulang,” ajak kak Rio sambil merangkul bahuku. Setelah berpamitan dengan ayahnya kamipun meninggalkan tempat itu.
#
“Apa aku salah membawamu ke tempat Papa?” tanya Kak Rio saat singgah sebentar di rumahku.
Aku mencoba bersikap wajar lalu menggeleng, “Sama sekali enggak, kak. Kenapa kakak bilang gitu?”
Mario yang duduk di sampingku meraih tanganku yang panas dan menggenggamnya, “Wajahmu selalu tampak kalut setiap kali selesai bertemu Papa, apa kamu masih teringat akan masa lalu, Zee? Masa lalu yang tak seharusnya kita tahu?” tanyanya pelan.
Aku terdiam sebentar sambil mencoba meredakan sesakku, “Tak seharusnya kak Rio tetap baik padaku. Kakak boleh membenciku, bahkan juga boleh memakiku,” jawabku parau menahan tangis.
Kak Rio mengeratkan genggamannya, “Zee… itu masalah mereka, bukan kamu yang harus menanggung semuanya.” 
Aku merasakan tanganku makin gemetar.
“Aku menghargai keputusan mereka. Dengan pengorbanan yang seperti itu, bagaimana caraku bisa membenci kak Luvi maupun Papaku?” lanjutnya lagi. “Menyaksikan Mama menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Papa dengan senyum bahagia terukir di  bibirnya, itu sudah cukup mampu membuatku memaafkan Papa,” katanya lagi dengan lirih tapi mampu membuatku terisak.
“Cukup kita saja yang tahu, Zee. Biar saja mereka berdua menganggap jika tak ada yang tahu akan hal ini, karena itu mungkin akan semakin menyiksa mereka,” bisik Mario sambil mengusap airmataku.
Aku hanya mengangguk.
“Sekarang tidurlah, nanti malam aku ke sini lagi ya?”
Dan sekali lagi aku hanya mampu mengangguk.
“Aku menyayangimu, Zefanya, sungguh-sungguh mencintaimu,” bisiknya setelah mencium puncak kepalaku dengan lembut. Kali ini aku tak menjawab, aku memilih diam hingga pria itu pergi.
#
Walau sekujur tubuhku terasa sakit dan lemas, tapi mataku tak mampu juga terpejam. Pikiranku melayang kembali pada peristiwa lima sampai empat tahun silam.
.
.
Malam itu aku belum tidur, kamarku yang terletak paling depan otomatis membuatku mendengar semua suara di luar rumah. Aku bangkit dari tempat tidurku saat mendengar suara pintu mobil yang tertutup lalu mengintip dari jendela kamar yang menghadap ke jalan. Kulihat kak Luvi baru saja turun dari mobil yang sangat kukenal, mobil Dokter Alfian. Semula kupikir biasa saja, hingga akhirnya setelah mobil berwarna silver itu menghilang di balik tikungan aku melihat kakak berlutut lemas di depan pagar sambil menangis, satu tangannya mencengkeram erat besi pagar, sedang satu tangannya yang lain membekap mulutnya sendiri. Bahunya bergetar dengan kencang, seakan berusaha keras menyembunyikan isaknya.  Padahal saat melambaikan tangan tadi senyum kakak masih terukir di bibir merahnya. Ada apa?
Entah mengapa aku tak berani melangkahkan kaki untuk menghampiri kakak. Aku memilih jadi penonton saja dari balik jendela kamarku. Setelah itu kakak berdiri dan melangkah pelan ke dalam rumah. Berkali-kali dia mengusap wajahnya, mungkin takut ketahuan jika habis menangis. Lalu aku mendengar pintu ruang tamu terbuka dan tertutup, lalu tak lama kemudian hal serupa terdengar dari pintu kamar kakak. Berarti kakak langsung masuk ke dalam kamar. Apa yang terjadi?
Beribu pertanyaan berkecamuk di dalam kepalaku. Kenapa kakak pulang begini larut? Kenapa diantar oleh Dokter Alfian? Kenapa kakak menangis, padahal sebelumnya dia masih mampu tersenyum? Sakitkah kakak? Padahal kak Luvia adalah salah satu wanita terkuat yang aku kenal, dia hampir tak pernah memperlihatkan airmatanya pada kami, dia selalu tersenyum. Bersedihpun rasanya pantang untuknya. Bahkan saat dia harus tinggal terpisah dengan mas Andre, suaminya, karena mas Andre harus dimutasi ke Jakarta, kak Luvi sama sekali tak mengeluh.
Beberapa minggu terakhir kulihat kak Luvi begitu bersemangat, begitu ceria. Aku dan Ibu ikut bahagia melihat kakak yang seperti itu. Tapi kenapa malam ini airmata itu harus keluar dari mata beningnya? Siapa yang menyakiti kakakku? Dan apakah ada hubungannya dengan Dokter Alfian?
Sejak malam itu kulihat emosi kakak seringkali labil, sebentar senang, sebentar diam, sebentar sedih. Tapi senyumnya tetap tak pernah hilang dari wajahnya, terutama saat di depan Ibu. Wajahnya seringkali terlihat pucat, mungkin terapi hormon dan program kehamilan yang dilakukannya membuatnya lelah.
Beberapa bulan kemudian di suatu malam kakak pulang larut lagi. Kali ini dia tak langsung masuk ke kamarnya, tetapi memilih untuk mengetuk pintu kamarku. Tak biasanya kakak begitu. Kakak tak pernah membangunkanku saat malam hari, katanya aku sudah cukup lelah merawat ibu, mengasuh anak-anak dan sekolah. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan kakak.
Dengan bingung kubuka pintu kamarku. Aku tercekat melihat wajah kakak yang begitu pucat. Matanya yang biasanya berbinar terang kini redup tak bercahaya. Tapi senyumnya masih terpasang di bibirnya.
“Kakak kenapa?” tanyaku langsung.
Kakak masuk ke kamarku lalu menutup pelan pintu di belakangnya. Aku terkejut saat kakak langsung memelukku dengan erat, bahunya bergetar, lalu kudengar isaknya. Begitu memilukan, seperti malam itu. Tapi kali ini sepertinya kakak tak mampu lagi menahan sedihnya.
“Kakak kenapa?” tanyaku lagi dengan suara parau.
“Zee… kakak sudah kehilangan kesempatan menjadi seorang ibu,” jawabnya sambil terisak. “Tadi dokter kandungan bilang sel telur kakak sama sekali tak bisa berkembang,” lanjutnya lagi.
Tubuhku melemas, dan kami terduduk di lantai sambil berpelukan. Aku tak mampu berkata apa-apa, kakakku yang tegar saja sampai menangis seperti ini, apalagi aku? Aku memilih ikut menangis dalam diam. Hanya berharap pelukanku mampu memberikan sedikit kekuatan untuk kakak.
“Kakak ikhlas, kakak akan belajar ikhlas, mungkin ini cara Tuhan menghukum kakak,” bisiknya setelah tangisnya reda.
Aku bingung dengan kata-katanya, tapi aku memilih diam. Aku tak ingin membuatnya makin sedih. Dan kami tetap berpelukan hingga pagi tiba. Lalu kakak memutuskan untuk pindah ke Jakarta mengikuti mas Andre. Kata kakak walaupun dia tak bisa memberikan keturunan, setidaknya dia masih bisa berbakti pada suami.
Aku dan ibu hanya mampu menyetujui permintaan kakak, bahkan kami tak mampu melarang saat kakak bilang dia akan membawa anak-anak.
Kejadian itu sungguh membuatku terpukul, begitu membuatku sedih. Sehingga aku mengiyakan saja ajakan kak Rio yang saat itu sudah kukenal selama setahun untuk pergi. Kami pergi ke taman pinggir laut, karena kak Rio tau kalau aku suka laut. Sesampainya di sana kami dikejutkan oleh sesuatu. Kami melihat kak Luvia dan Ayah kak Mario, Dokter Alfian, di sebuah sudut taman. Mau tak mau kami pun memilih mendekat diam-diam dan mendengarkan percakapan mereka dari balik sebuah pohon besar yang cukup gelap.
"Tuhan sudah menegur saya, Dok. Dia tak mengijinkan saya memiliki keturunan mungkin karena saya telah salah meletakkan perasaan saya pada Dokter. Mau tak mau kita harus mengakui kalau ini salah, dan memang salah, maafkan saya," ucap kak Luvi dengan suara gemetar. "Saya telah mengingkari sumpah saya untuk setia pada suami saya."
"Via... Ini bukan hanya salahmu, ini juga salahku. Beberapa bulan ini akupun tak bisa menahan perasaanku sendiri terhadap kamu." Ucapan Dokter Alfian membuat kami begitu terkejut. Hampir saja aku terduduk lemas kalau kak Mario tak segera memelukku dan menutup mulutku.
"Istriku juga sakit, dan aku sungguh merasa berdosa padanya. Walau aku tak pernah meninggalkannya, tapi tanpa sadar aku telah memberikan sedikit tempatnya padamu di hatiku. Maafkan aku," kata Dokter Alfian lagi.
Kakak mengangguk, airmatanya yang begitu berharga meluncur mulus dari kedua matanya, tapi kali ini bibirnya tersenyum dengan tulus, "Kita harus mengakhiri semuanya ya, Dok? Semuanya, tanpa sisa," ucapnya setengah terisak. "Terima kasih karena Dokter telah memberikan bahu Dokter sebagai tempat saya bersandar. Terima kasih telah menjadi pendengar yang baik dan selalu mengerti saya. Terima kasih untuk ketulusan rasa yang tak akan pernah bisa saya terima walau saya begitu menginginkannya."
Dokter Alfian mengangguk sambil mengusap airmata kakak dengan jari-jarinya, "Begitupun denganku, Via... Terima kasih untuk waktu yang telah kita habiskan bersama. Walau tak banyak, tapi aku bahagia bisa berbagi tawa denganmu."
Kami tahu betapa mereka begitu ingin saling memeluk, tapi nyatanya kakak hanya mengulurkan tangannya pada dokter Alfian sembari mengucapkan kata "Selamat tinggal, Dokter." Senyum manis tetap terukir pada wajahnya yang telah basah oleh airmata. Setelah itu keduanya berjalan ke arah yang berlawanan dan masuk ke mobil masing-masing.
Aku benar-benar menangis dengan keras saat mobil keduanya hilang dari pandangan. Kak Rio memelukku dengan begitu eratnya seakan takut jika aku bertindak diluar akal.
"Zee... Tenanglah," bisik kak Rio yang kutahu hanya basa-basi, dia pasti sama tak tenangnya denganku.
Aku menangis cukup lama, hingga rasanya airmataku telah kering. Aku tak mampu berkata apa2. Kejadian barusan sungguh membuatku terkejut.
"Kalau kau ingin tahu bagaimana perasaanku saat ini, aku marah. Marah karena mereka tega menghianati pasangan masing-masing. Terutama Papa yang menghianati Mama. Tapi kalau melihat betapa tidak egoisnya perasaan mereka tadi, aku juga sedih, Zee," ucap kak Rio lirih.
Aku tetap diam. Kali ini aku melihat perasaan kakak yang sesungguhnya, betapa hancurnya dia tanpa bisa ditutupi. Inikah yang dia maksud dengan hukuman Tuhan?
"Aku hargai keputusan mereka untuk mengakhiri semuanya dengan kesadaran masing-masing," kata kak Rio lagi. Dan aku masih diam.
"Kita tak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi hingga mereka menjalin sebuah ikatan yang salah. Karena itu kita tak usah mengadili mereka, karena semuanya telah berakhir. Bukan begitu, Zee?" Tanyanya.
Aku kembali terisak, kepalaku rasanya penuh dengan hal-hal yang salah, "Kalau kak Rio ingin membenciku maka benci saja aku. Aku adalah adik dari perempuan yang hampir menghancurkan keluarga kakak."
"Demi Tuhan, Zee... Kamu bicara apa? Kenapa kamu tega mengatakan hal itu terhadap kakakmu sendiri? Mereka sudah mengakhiri semuanya, itu sudah cukup."
Aku kembali terisak, rasanya begitu malu berhadapan dengan lelaki di sampingku ini.
"Kan aku sudah bilang, kita sama-sama tak tahu apa yang telah terjadi. Anggap saja mereka memiliki alasan kuat hingga hal ini terjadi," kata Mario yang masih berusaha menghiburku.
"Kakakku tak bisa memiliki keturunan, dan Mama kak Rio sakit. Mungkinkah itu adalah hukuman Tuhan untuk mereka?" Tanyaku ditengah isak.
Kak Rio terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan, "Mama sudah sakit sejak hampir dua tahun yang lalu. Sedangkan tadi Papa bilang kalau perasaan mereka berkembang baru beberapa bulan ini saja, kan? Kak Luvia juga sudah susah memiliki keturunan sejak menikah hampir empat tahun yang lalu."
Aku mencoba mencerna semuanya dengan kepala dingin.
"Mungkin ini cara Tuhan mengingatkan mereka agar semuanya tidak menjadi semakin dalam. Dan aku cukup lega mereka cepat menyadarinya."
Ucapan Mario kali ini sedikit mampu membuatku tenang.
"Kita tak usah mengatakan apapun pada mereka, Zee. Cukup kita simpan sebagai cerita kita berdua saja, ya?"
Kali ini aku mengangguk. Aku diam saja saat Mario memelukku erat, "Maafkan aku, kak Rio. Maafkan kak Luvi juga, ya?" Bisikku.
Kak Rio mempererat pelukannya, "Maafkan aku juga, Zee... dan Papa," jawabnya.
Sejak malam itu perubahan tubuh kak Luvi semakin drastis. Tubuhnya menjadi begitu kurus, wajahnya terus memucat. Hingga dia berhenti dari pekerjaannya dan berangkat ke Jakarta bersama anak-anak. Sedang kak Rio sama sekali tak berubah, dia tetap menyayangiku dan terus menjagaku. Hanya saja aku menganggapnya tak lebih sebagai seorang kakak, lagipula kisah antara kakak dan Ayahnya membuatku tak berani menerima perasaannya.
.
.
Dadaku sesak, ingatan itu benar-benar membuatku sulit bernapas.
Aku tersentak saat bel pintu berbunyi dan membuyarkan lamunanku. Aku mencoba bangun dengan kepala yang terasa begitu sakit dan perasaan yang tak karuan.
Pelan aku berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu.
"Halo, cantik... Gimana keadaanmu?"
Sapa Aditya langsung membuat tangisku pecah. Kutubruk dadanya dan kubenamkan wajahku di sana. Kulingkarkan lenganku pada pinggangnya. Dan aku benar-benar menangis.
"Kamu kenapa, sayang? Sakit sekali kah?" Tanyanya sambil membawaku masuk dan mendudukkanku di sofa tamu. Dipeluknya tubuhku yang masih terguncang, "Apa yang sakit? Bagian mana yang sakit? Bilang sama aku."
Aku hanya menggeleng.
Adit tak berkata apa-apa lagi, dia hanya diam sambil mengayunku pelan dalam pelukannya. Dia menyanyikan sebait lagu untuk menghiburku, dan itu cukup membuat tangisku reda.
"Kamu sudah makan lagi?" Tanyanya. Aku hanya menggeleng.
"Kalau obat? Sudah?" Tanyanya lagi. Dan aku mengangguk pelan.
"Good girl. Itu baru gadisku yang hebat," pujinya.
Akupun tertawa pelan, rasanya aneh di telingaku kalau dia ngegombal begitu.
"Kupikir kamu ditemani Mario," kata Adit.
Aku menatapnya, mencari sebuah hal yang mungkin setidaknya bisa membuatku senang, "Tadi sih iya. Kenapa? Cemburu?" Tanyaku seolah bercanda.
Adit terkekeh pelan, "Mana ada kata cemburu dalam kamusku, Zee? Aku cuma tanya kok."
Senyum yang sejak tadi mulai terukir lagi di bibirku langsung menghilang. Kulepas pelukannya dan kusandarkan punggungku di sofa, "Nanti malam kak Luvi pulang, kamu bisa ke sini?"
Adit tak segera menjawab, dia menggaruk dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis dengan ibu jarinya, "Kayanya ga bisa deh. Aku udah terlanjur buat janji dengan Ferry," jawabnya tanpa melihatku. "Eh tau ga? Minggu depan dia ulang tahun. Aku harus belikan kado apa ya? Apa aku ajak aja dia liburan kemana gitu?" Tanyanya antusias.
Aku sedikit menyesal membiarkan Adit masuk tadi, seharusnya kubiarkan saja hingga dia pergi. "Tanggal berapa?" Tanyaku malas.
"Tanggal 23 Juli, pas banget hari jumat itu, jadi aku bisa pergi sampai hari minggu, kan?" Katanya lagi dengan nada senang.
Lagi-lagi perih itu datang, "Dit... Tanggal 24 kan ultahku? Kamu ga ingat?"
Adit tampak terkejut dan salah tingkah, "Err... Ingat kok. Kita rayakan minggu malam aja ya? Berdua. Kamu mau kemana? Mau dibelikan kado apa?"
Aku langsung pura-pura memijat keningku, "Kepalaku pusing banget, pengen tidur. Kamu pulang aja ya? Mumpung masih sore, jadi nanti pas kakak datang aku sudah bangun," usirku sambil berdiri.
Adit tahu kalau aku marah, diapun memegang bahuku, "Oke, sabtu aku akan ada untuk kamu. Aku janji," katanya sambil tersenyum.
Entah karena aku terlanjur sakit hati jadi membalas senyumnyapun rasanya enggan.
"Sayang... Senyum dong. Hari sabtu nanti kita pergi ya? Kita rayakan ultah kamu, berdua aja," janjinya.
Akhirnya akupun tersenyum dan mengangguk.
"Gitu dong, kan cantik jadinya," goda Aditya sambil mencium keningku. "Tidur gih, badan kamu masih panas. Aku pulang dulu ya?"
Sekali lagi aku mengangguk dan melepas kepergiannya di depan pintu.
#
"Kamu sakit, Zee?" Tanya kakak saat aku membukakan pintu. "Wajah kamu pucat sekali. Sudah berobat?"
"Tante... Ocha kangen," seru seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang langsung memelukku. Tingginya sudah sampai dadaku, jadi rambut ikalnya yang menyapu daguku membuatku geli dan tertawa.
"Aldi juga," sambung seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang ikut memelukku bersama kakaknya.
"Minggir... Aldo juga kangen sama tante," susul bocah lelaki lainnya, saudara kembar Aldi.
Jadilah tiga orang anak saling tumpuk memelukku. Aku tertawa makin keras dan sibuk membalas pelukan mereka.
"Ocha, Aldi, Aldo... Lepasin dulu tante Zee, tante sedang sakit tuh," perintah kakakku pada tiga keponakan kami yang sudah diangkatnya sebagai anak.
Ketiga bocah itupun menurut. Kali ini gantian kakak yang memelukku, "Kamu sakit apa, sayang? Sudah diperiksa?" Tanya kakak lagi yang tadi belum sempat kujawab.
"Sudah, kak. Tadi siang kak Rio bawa aku ke Papanya buat periksa," saat kuceritakan hal itu bisa kulihat ekspresi kakak yang berubah sendu, tapi senyumnya segera muncul lagi.
"Terus apa kata Dokter? Kamu sakit apa?" Tanya kakak lagi sambil membawaku duduk di sofa. Anak-anak sudah pergi ke kamar mereka dengan membawa tas-tasnya.
"Cuma gejala tipes aja kok," jawabku. "Dokter cuma minta aku istirahat aja."
"Tahu gitu tadi kakak ga bawa anak-anak ke sini ya? Jadi malah bikin kamu ga bisa istirahat," sesalnya.
"Eh enggak apa-apa dong kak, aku malah senang. Aku jadi punya hiburan juga, jadi ramai," bantahku. "Anak-anak liburan sekolah ya?"
Kakak mengangguk sambil mengusap rambutku yang ikal bergelombang, berbeda dengan rambut kakak yang lurus dan panjang.
"Pekerjaan kakak gimana? Kabar mas Andre baik?" Tanyaku lagi.
"Mas mu baik-baik aja. Bisnis butik kakak juga berkembang pesat, rencananya kakak mau buka cabang kecil di sini. Tapi baru rencana sih," jawabnya.
“Serius, kak? Aku bantu deh kalau memang jadi,” kataku senang. Kupandangi wajah kakakku. Tak banyak berubah, masih tetap cantik dengan dandanan yang sederhana. Hanya tubuhnya memang lebih kurus dibandingkan dulu. Senyumnya tetap tak pernah hilang, begitu keibuan.
Kenangan masa lalu kembali terbayang di kepalaku, dan spontan kupeluk kakak dengan erat. Kucium aroma parfum yang sejak dulu tak pernah dirubahnya, parfum kesayangannya yang juga ikut kupakai hingga sekarang. "Apa kakak bahagia?" Aku terkejut oleh pertanyaanku sendiri.
Bisa kurasakan tubuh kakak sedikit menegang, "Kenapa tanyanya begitu, Zee? Kakak terlihat tak bahagia kah?"
Aku cepat-cepat menggeleng, "Enggak, kak... Aku cuma pengen nanya aja," elakku.
Kakak tertawa, "Kakak bahagia, dan harus bahagia. Bukankah ini adalah jalan hidup yang sudah kakak pilih sendiri?"
Aku mengangguk dan mengangkat wajahku, "Kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita putuskan, iya kan, kak?" Kataku mengulangi kata-kata yang sering kakak ucapkan dulu.
Kakak tertawa kecil, "Iya, sayang," jawabnya sambil mengusap pipiku.
Aku dan kakak hampir mirip, mata kami sama-sama sedikit lebar, hidung kami juga cukup mancung dengan bibir yang tak seberapa tebal. Warna kulit kami sama-sama sawo matang, hanya saja kulit kakak sedikit lebih terang.Yang berbeda adalah postur tubuh kami. Tubuh kakak cenderung tinggi, sedang aku cukup mungil. Makanya Adit sering memperlakukan aku seperti anak kecil. Kakak lebih ceria dan selalu mudah bergaul dengan siapapun. Sementara aku lebih pendiam, cengeng, dan temanku hanya sedikit.
Ketukan di pintu yang terbuka mengalihkan perhatian kami. Kulihat kak Mario sudah berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang.
"Rio... Masuk," seru kakak yang langsung berdiri menyambutnya. Ciuman pipi selalu mereka bagi setiap kali bertemu.
"Wah kak Luvi makin cantik aja nih," puji Mario setelah kami duduk di sofa tamu.
Kakak tertawa renyah, "Sejak kapan kamu jadi perayu gitu?"
"Kebiasaan sih, kak. Tiap kali ketemu Zefanya bawaannya pengen ngerayu terus, jadinya kebawa-bawa juga waktu ketemu Kakaknya," candanya yang membuat kakak tergelak, sementara aku hanya bisa pasrah menikmati panas yang mulai merambati pipiku.
"Gimana kabar Dokter Alfian, 'Yo?" Tanya kakak. Memang aneh rasanya kalau tidak bertanya sementara Mario ada di sini.
"Baik, kak. Papa sehat kok. Tadi juga Papa menitipkan salam buat kakak, karena tadi aku bilang aku mau ke sini jenguk Zee sambil ketemu kakak," jawab Mario.
"Sukurlah. Lama sekali kakak ga berobat dengan beliau. Biasanya kita selalu adu argumen tentang obat dan segala macam," kakak berusaha bercerita dengan wajar sambil tertawa. Dan aku tahu kalau kakak tengah mengamati dengan seksama wajah Mario yang mirip dengan Ayahnya itu. Mungkin kakak rindu, dan aku rasa itu wajar.
"Ah kalian ngobrol dulu deh, kakak mau ganti baju sambil siapin makan malam buat kita ya? Tadi kakak beli masakan di restoran depan," kata kakak sambil berdiri.
Setelah kakak masuk ke kamarnya Mario mengusap lembut rambutku, "Gimana kamu? Bisa tidur tadi?" Tanyanya.
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Kata Papa kalau besok demam kamu belum turun disuruh balik lagi ke tempat Papa buat cek darah," kata kak Rio lagi.
"Mudah-mudahan udah turun ya, kak? Aku ga suka jarum suntik," kataku sambil mengernyit.
Mario tertawa sambil menarik pelan hidungku, "Makanya jangan bandel," godanya.
"Om Rioooo...!!!" Teriakan tiga orang anak langsung membuat suasana menjadi heboh. Semua langsung berebut duduk di dekat pria yang mereka sayangi ini. Dan kak Rio memang dekat dan selalu memanjakan mereka.
Aku memilih menyingkir dulu dan memberi waktu untuk mereka. Aku berjalan ke dapur untuk mengambilkan Mario minum, tapi saat melewati kamar kakak yang pintunya sedikit terbuka akupun tergoda untuk masuk dan berbincang lagi dengan saudaraku satu-satunya itu. Tapi betapa terkejutnya aku. Kulihat kakak baru saja membuka kemeja biru yang tadi dipakainya, rambut panjangnya digulung rapi dengan ikat rambut sehingga aku bisa melihat dengan jelas ada luka memar yang cukup besar di punggungnya saat membelakangiku.
"Kak..."
Kak Luvi tampak terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya, "Zee... Kok ga ngetuk pintu dulu?"
Aku masuk dan menutup pintu di belakangku, "Tadi pintunya tak tertutup rapat," jawabku. "Punggung kakak kenapa?" Tanyaku sambil mendekat.
Kakak berusaha menutupi paniknya dengan tersenyum, "Ga apa-apa, kemarin kakak terjatuh di rumah, makanya jadi memar gitu."
“Jatuh?” tanyaku tak percaya. Mataku kembali terbelalak saat kulihat memar yang sama di lengan sebelah kanannya yang belum sempat tertutup baju.
Tahu kemana arah mataku, kakak segera mengenakan baju gantinya.
“Kakak ga bohong? Banyak sekali lukanya,” kejarku. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan di dalam kepala. Ya aku memang tipe orang yang gampang panik.
“Enggak, sayang. Kemarin kakak memang jatuh karena terpeleset lalu menabrak meja, jadinya ya memar semua,” jawabnya sambil merapikan rambut.
Entah kenapa rasanya tak percaya, tapi aku juga tak ingin menduga yang macam-macam. “Sakit, kak?” tanyaku.
Kakak tersenyum dan kembali menatapku, “Kalau kakak bilang ga sakit nanti kamu ga percaya juga?” jawabnya.
“Kita ke dokter ya, kak? Kali aja nanti dikasih obat apa gitu buat ngilangin memarnya. Sampai biru keunguan gitu warnanya,” ajakku.
Kakak menggeleng, “Ga apa-apa, Zee… udah jangan kuatir gitu, ntar juga hilang sendiri.”
“Tapi, kak…”
“Kita siapin makan, yuk? Rio udah direpotin anak-anak ya?” hindar kakak sambil melangkah keluar kamar. Merasa tak bisa membantah akupun ikut saja.
.
#
.
Keesokan harinya ternyata demamku belum hilang, kakak memintaku kembali ke Dokter, tapi aku menolak. Sampai akhirnya kak Mario sendiri yang menjemputku. Karena kantor libur di hari sabtu, jadilah seniorku itu dengan senang hati menjemput untuk menyeretku ke klinik.
“Aku ga apa-apa, kak… ntar juga turun demamnya,” tolakku.
“Zee… jangan buat kakak dan Rio khawatir. Pergilah lagi ke dokter. Dokter Alfian pasti punya alasan kenapa kamu harus kembali kalau demammu belum turun,” paksa kakak.
“Kakak ga mau ngantar?” tanyaku, dan saat itu aku langsung sadar kalau aku menanyakan hal yang mungkin salah. Benar saja, kakak tampak sedikit gugup ditengah senyumnya.
“Nanti anak-anak sama siapa? Masa mau ramai-ramai ke dokter? Kamu sama Rio aja ya?” tolaknya, “Kakak akan masakkan sup kesukaan kamu,” lanjutnya lagi.
#
“Kamu positif tipes, Fanya. Opname ya?” saran Dokter Alfian setelah membaca hasil cek darahku.
Aku langsung menggeleng, “Saya masih kuat kok, Dok… ga harus opname bisa, kan? Please…?” pintaku memelas.
“Emangnya harus ya, Pa?” tanya kak Rio yang saat itu menemaniku di dalam.
Pria setengah baya di depan kami pun menghela napas panjang, “Belum begitu parah sih, Papa cuma ingin Fanya bisa segera pulih. Kalau opname kan semuanya sudah diatur, mulai dari istirahat, makan dan obat.”
“Saya janji deh ga akan bandel, akan benar-benar istirahat dan makan teratur,” rayuku lagi.
“Yakin?” tanya kak Rio tak percaya, “Paling juga ntar belum makan tapi bilangnya sudah,” godanya.
“Kak Rio jangan ngomporin dong, aku janji,” jawabku kesal. Mario dan ayahnya tertawa melihat wajahku yang cemberut.
“Iya… iya… maaf,” kata Mario sambil mengacak rambutku dengan sayang.
“Ya sudah, tapi tiga hari lagi harus kontrol ya? Kali ini ga bisa ditawar,” kata dokter Alfian akhirnya.
Aku tersenyum senang, lega rasanya tak harus menginap di rumah sakit. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Oh iya, Dok… kalau obat untuk memar atau lebam apa ya? Saya boleh minta resepnya?” tanyaku.
Dokter Alfian mengernyit, “Fanya ada luka lebam? Sini diperiksa sekalian,” katanya sambil berdiri.
Aku segera menggeleng, “Bukan, bukan saya, Dok,” jawabku cepat.
Dokter dan kak Rio memandangku dengan bingung, akupun ikut bingung dan serba salah, apakah aku benar menanyakan ini?
“Fanya? Lalu siapa kalau bukan kamu?” tanya Dokter Alfian setelah melihat aku diam saja. Beliau kembali duduk di kursinya.
Aku menatap kak Rio, karena aku sungguh bingung harus menjawab apa. Dan Mario segera tahu setelah melihat sorot mataku yang gelisah, “Kak Luvi?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Bisa kulihat ekspresi terkejut di mata ayah kak Rio, “Via? Kenapa dia?” ada getar di dadaku saat Dokter Alfian menyebut nama kakak, aku ingat panggilannya yang aku dengar malam itu bersama kak Rio.
Aku mencoba menjawab sebisaku, sesuai yang aku tahu, “Kemarin tak sengaja saya lihat di punggung kakak ada luka memar berwarna biru keunguan yang cukup lebar, juga di lengan kanannya. Kata kakak kemarin dia sempat terjatuh di rumah dan menabrak meja. Kakak bilang sih ga sakit, tapi saya ngeri liatnya.”
“Kok ga bilang daritadi sih, Zee? Kan kita bisa ajak kakak sekalian ke sini,” tanya kak Rio, entah dia sadar atau tidak dengan ucapannya.
“Kemarin aku sudah rayu kakak, tapi dia ga mau, katanya nanti juga hilang sendiri. Memang bisa gitu, Dok?” tanyaku.
Dokter Alfian tampak mendengarkan ceritaku dengan seksama, “Di punggung bagian atas atau bawah? Selebar apa lukanya?” tanyanya beruntun.
Aku sedikit mengingat-ingat, “Di punggung sebelah atas. Lebar sih, Dok, hampir selebar satu telapak tangan,” jawabku.
Dokter Alfian tampak khawatir, kali ini dia tak mampu menyembunyikan ekspresinya, “Apa kakakmu demam?”
 Aku mengangguk, “Kemarin rasanya badan kakak agak panas, tapi saya kira cuma karena kecapean aja.”
“Dengan panas tubuhmu, lebih tinggi siapa?” tanya sang Dokter lagi.
Aku kembali mencoba mengingat, “Tinggi demam saya, Dok,” jawabku.
“Sesak?” tanya Dokter Alfian lagi.
Aku menggeleng pelan, “Saya ga tahu, kakak ga bilang apa-apa.”
Pria berkacamata itu menghela napas panjang, aku dan kak Rio saling berpandangan saat Dokter Alfian menunduk untuk menuliskan resep. Kami sama-sama bisa melihat kecemasan di mata sang Dokter.
“Papa mau ikut kami ke rumah Zefanya? Biar Papa bisa lihat sendiri lukanya,” tawar Mario.
Aku spontan menoleh ke arahnya dengan tatapan mata yang menyimpan seribu pertanyaan, dan aku hanya bisa diam saat Kak Rio balas menatapku sambil mengangguk pelan, seolah berkata ‘Tak apa-apa, Zee’,
Dokter Alfian tampak diam sebentar sebelum akhirnya merobek kertas resepnya, “Kita lihat setelah dua hari saja, kalau masih belum baik Papa akan periksa sendiri,” jawabnya pelan. “Berikan resep ini pada Naya, suruh dia cari di lemari obat, Papa punya persediaannya,” kata Dokter saat menyerahkan resepnya pada kak Rio sambil menyebutkan nama suster di kliniknya.
Kak Rio segera berdiri dan berjalan keluar.
“Fanya, nanti kompres punggung kakak kamu pakai air es ya? Tanya juga apakah dia merasa sesak? Kalau memang nampak begitu mengkhawatirkan segera paksa kakakmu untuk periksa,” sarannya sebelum aku beranjak mengikuti kak Rio.
Aku mengangguk, “Apakah luka kakak akan sembuh, Dok?” tanyaku.
Dokter Alfian tersenyum, “Kalian berdua pasti akan sembuh, asal bandelnya harus sama-sama dikurangi, ya?” candanya.
Aku tertawa pelan, “Iya, Dok… janji,” jawabku sebelum keluar ruangan.
Sesampainya di luar aku teringat kalau kartu berobatku masih di dalam, pelan kubuka lagi pintu ruangan itu. Tapi langkahku terhenti saat kulihat Dokter Alfian menundukkan kepala sembari menangkupkan kedua tangannya di kening. Lamat kudengar sesuatu terucap dari bibirnya, seperti baitan doa, ‘Tuhan, kumohon jagalah Via’. Dan akupun membatalkan niatku, dadaku terasa begitu sesak mengetahui Dokter Alfian masih menyayangi kakakku.
.
#
.
Hari kamis sore kakak kembali ke Jakarta bersama anak-anak, rumahku kembali sepi. Aku sudah pulih seperti sedia kala, tapi kakak belum. Terakhir kulihat luka lebam di lengannya memang sudah hilang, tapi yang di punggung belum seluruhnya, masih ada bekasnya walau tinggal sedikit. Kakakku yang keras kepala itu tetap tak mau waktu aku dan kak Rio memaksanya ke Dokter.
Ada yang membuatku heran saat mereka berkemas malam sebelumnya, tak sengaja aku mendengar dari balik pintu suara Ocha yang merengek tak ingin kembali ke Jakarta, dia ingin mereka semua tinggal di Surabaya saja, di rumah peninggalan Kakek Neneknya ini. Kata-katanya membuatku kembali berpikiran buruk, “Ma… kita di sini aja ya? sama tante. Nanti kalau Mama kembali ke Jakarta pasti Om Andre bakalan marah-marah lagi sama Mama,” katanya pada kak Luvi yang diiyakan oleh adik-adiknya.
Ga bisa, sayang… Mama harus kembali ke Jakarta bersama kalian. Om Andre marah karena waktu itu dia sedang capek aja, dan yang salah mama kok,” jawab kakak dengan bijak. Sampai sekarangpun aku tak tahu kenapa Ocha, Aldi dan Aldo tak pernah mau memanggil mas Andre dengan sebutan Papa.
“Tapi kalaupun marah ga seharusnya Om Andre dorong Mama sampe…”
“Ocha… Mama jatuh sendiri, sayang… ingat itu ya?” tekan kakak yang membuat Ocha langsung terdiam.
Dadaku berdebar kencang, apa yang mau Ocha katakan? Mas Andre mendorong kakak? Atau kakak jatuh sendiri? Mana yang benar? Apa yang terjadi pada kakak dan mas Andre? Kepalaku kembali diserang oleh seribu pertanyaan.
“Ngelamunin apa sih?” pertanyaan Aya menyentakku. Kutatap mata bulat sahabatku yang tengah berbaring di sampingku ini. Malam ini dia memutuskan untuk tidur di rumahku.
Merasa kalau aku tak akan mungkin bisa memikirkan semuanya sendiri akupun memutuskan untuk bercerita pada Aya tentang kata-kata Ocha.
Positif thinking aja dulu, Zee… kali aja emang Ocha yang salah lihat,” hiburnya.
“Tapi kalau emang beneran mas Andre nyakitin kakak, gimana, Ay?” tanyaku semakin gelisah oleh pikiranku sendiri.
“Zee… aku juga ga pengen itu terjadi sama kak Luvi. Karena itu kita berdoa aja ya semoga apa yang dikatakan kakak itu benar, bukan kata-kata Ocha. Kita minta Tuhan untuk menjaga kakak,” hiburnya lagi sambil memelukku.
Aku mengangguk, ‘Seperti doa Dokter Alfian pada Tuhan’, batinku.
“Udah jangan sedih, coba lihat jam di dinding, ayo kita hitung detiknya pelan-pelan bersama,” kata Aya sambil menarikku untuk duduk. Kedua tangannya menggenggam erat dua tanganku.
Aku tersenyum lebar, “5… 4… 3… 2… 1…” hitung kami serempak.
“Selamat ulang tahun, Zefanya Aulia Amanda…!!!” seru Aya sambil memelukku erat, diciuminya kedua pipiku. “Doaku setiap tahun tetap sama, semoga Tuhan melimpahkan seluruh kebaikanNya untuk kamu, sahabatku tersayang,” ucapnya dengan mata berbinar.
“Dan ucap syukurku pada Tuhan setiap tahun juga selalu sama, terima kasih karena selalu ada untukku, Ay… sebagai separuhku, sebagai orang yang selalu mengerti aku,” kataku.
Keharuan kami dikejutkan oleh dering ponselku, nama Mario tertera di layar lebarnya. Aku dan Aya serentak tersenyum. Segera kutekan tombol hijaunya, “Ya, kak?” sapaku.
/”Selamat ulang tahun, Zee,”/ ucapnya seperti yang sudah kuduga.
Aku tertawa pelan, “Makasih, kak. Kak Rio kok belum tidur?”
/”Sengaja, nunggu tengah malam untuk menyambut ulang tahun kamu. Walau aku tahu kalau aku selalu gagal menjadi yang pertama,”/ candanya.
Aku tertawa lagi, “Iya, kakak selalu kalah cepat sama Aya,” kataku sambil melirik gadis berambut pendek di depanku yang tengah tersenyum jenaka.
Kudengar tawanya yang renyah di seberang sana, /”Semoga selalu diberikan kesehatan ya, Zee? Selalu diberikan kemudahan untuk semua urusan. Selalu tersenyum… dan bahagia. Luv you, Zefanya,”/ ucapnya tulus.
Ingin rasanya aku menangis karena dicintai dengan begini indahnya, Tuhan… andai aku bisa membalas cintanya, “Makasih, kak,” hanya itu jawabku.
/”Besok ada acara?”/ tanya kak Rio.
Aku mendadak gugup, “Iya, kak… besok Aditya ngajakin pergi,” jawabku sungkan.
Kak Rio terdiam sebentar, /”Oke ga apa-apa, minggu malam aja ya? kita pergi ke taman tepi laut dan makan malam di sana,”/ ajaknya lagi.
Aku tertawa kecil, “Iya deh, minggu malam ya, kak?”
/”Sekarang tidurlah, kamu baru sembuh dari sakit, kan?”/
“Iya, kak… habis ini aku dan Aya mau tidur kok.”
/”Bagus. Sampaikan salamku untuk Aya, ya? Good nite, Zee,”/ tutupnya.
Aku menatap layar hand phone yang sudah gelap itu dalam diam.
“Kenapa kamu ga nyoba untuk belajar mencintai dia?” tanya Aya.
Aku terdiam sejenak, “Aku ingin, Ay… aku ingin bisa mencintai kak Rio seperti dia yang tak pernah lelah mencintaiku, tapi…”
“Zee… apa yang kamu harapkan dari Aditya? Apa kamu ga capek terus mengalah dan mengalah? Selalu berusaha mengerti tanpa dia mencoba mengerti kamu?”
Aku mencoba mencerna kata-kata Aya, dia memang benar. Kapan Adit pernah peduli padaku? Bahkan tadipun dia tak pamit saat akan pergi untuk merayakan ulang tahun Ferry. Dan aku sengaja tak mengingatkan tentang janji kami besok malam untuk merayakan ulang tahunku.
“Kak Rio itu begitu peduli padamu, Zee… dia begitu menyayangimu, mencintaimu tanpa putus. Sejak dulu,” kata Aya lagi.
Aku hanya bisa mengangguk pelan dan menunduk. “Tapi, Ay… masa lalu kak Luvia dan Ayah kak Mario yang pernah kuceritakan padamu itu… hal itu juga yang membuatku takut untuk menerima perasaan kak Rio.”
Aya menghela napas panjang, “Zefanya… apakah kak Rio mempermasalahkan masalah itu? Apakah dia membencimu atau kak Luvi? Apakah dia menganggap kalau hal itu adalah perusak keluarganya?”
Aku menggeleng, “Nggak, kak Rio ga pernah mempermasalahkan itu, bahkan dia memintaku untuk memaafkan masa lalu mereka,” jawabku.
“Lalu?” kejar Aya.
Lagi-lagi aku hanya diam.
“Yang membuat semuanya rumit adalah dirimu sendiri, Hunny. Kamu hanya terlalu takut pada pikiran-pikiran burukmu akan Mario yang mungkin kelak akan menyalahkan kamu dan kak Luvi, iya kan?” tanyanya.
Aku mengangguk dan menangis pelan, ya… Aya memang selalu tahu apa yang aku pikirkan tanpa aku perlu mengatakannya. Aya mengangkat daguku dengan jarinya agar aku menatapnya, “Hei, Zefanya… seharusnya kamu lebih tahu bagaimana sifat kak Mario. Karena kamu mengenalnya jauuuuuh sebelum kamu mengenal Aditya.”
Dadaku hangat melihat senyum sahabatku yang selalu menguatkanku itu. “Pikirkan lagi semuanya dari awal, oke?” katanya.
Dan aku segera memeluk Aya dengan erat, “Thank you, Hunny,” bisikku. Lalu kami berdua tertawa dan bercerita tentang banyak hal hingga jatuh tertidur.
.
#
.
Sabtu malam ini sengaja aku berdandan maksimal. Aku menunggu Aditya untuk menjemputku, ini ulang tahunku, jadi tak mungkin dia lupa, dia pasti datang, semangatku dalam hati.
Kucoba satu persatu baju terbaik yang ada di dalam lemari pakaian. Kuputar tubuhku di depan kaca, mirip seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Kucoba menerka-nerka baju berwarna apa yang akan dipakai Adit malam ini? Dia lebih suka warna-warna gelap, jadi akupun mencari baju dengan warna yang tidak mencolok. Adit lebih suka jika rambutku tergerai, jadi kucoba menata serapi mungkin tanpa perlu mengikatnya. Adit suka lipstick dengan warna natural, maka kupuas bibirku dengan warna kesukaannya. Adit suka parfum asal tidak menyengat, dan kusemprotkan parfum sewajarnya ke tubuhku.
“Sempurna…!” seruku senang. Kulirik jam di dinding, jarum pendek sudah ada tepat pada angka tujuh. Aku sengaja tak menelpon Adit untuk mengingatkan janji kami, karena aku yakin dia akan memberikan kejutan untukku.
Aku duduk serapi mungkin di ruang tamu, karena aku tak ingin merusak tatanan baju juga rambutku. Aku bergerak seminim mungkin, karena aku tak ingin berkeringat dan merusak dandanan wajahku.
Tapi detak jarum jam tak akan pernah berhenti, terus berjalan dan meninggalkan semua di belakangnya. Aku mulai gelisah, jarum pendek sudah duduk manis pada angka sepuluh, dan belum ada tanda-tanda Aditya akan datang. Bahkan telpon atau pesan yang menyatakan dia terlambat pun tak muncul.
Kulepas sepatu yang sejak tadi sudah kupakai, rasanya pegal sekali pada tumit dan pergelangan kaki. Kuselonjorkan kaki pada sofa, mencoba bersabar dan kembali menunggu.
Karena terlalu lelah akupun tertidur di ruang tamu, entah berapa lama hingga aku terbangun oleh suara klakson mobil di depan rumah. Aku segera lompat dan mengintip dari balik gorden, dan harus menelan kecewa karena yang datang adalah mobil milik tetangga sebelah yang akan masuk ke garasi rumahnya.
Kulihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku mencoba menepis pikiran negatif, apakah ada sesuatu dengannya di jalan?
Kuambil telepon genggamku, aku akan coba mengirimkan pesan melalui Blackberry Messenger dulu. Tapi ternyata aku harus menahan pedih pada dada saat kulihat daftar updates di sana, Aditya baru saja mengganti foto profil di akun Blackberry-nya, foto sebuah pemandangan malam yang begitu indah dari puncak gunung dengan status ‘Bersama yang tercinta di atas bukit’, dan baru diganti lima menit yang lalu. Berarti Adit benar-benar lupa akan janji kami.
Aku terduduk di sofa dengan lemas. Berarti memang selama ini aku tak pernah memiliki arti apapun untuknya selain sebagai tempat curhatnya. Aku tak pernah memiliki sedikitpun hatinya. Aku tak berarti apa-apa. Lalu untuk apa selama ini dia memanggilku sayang? Untuk apa selama ini dia seolah tak ingin kehilanganku? Aku hanya terlalu besar kepala, berharap kelak dia akan memilihku dan menempatkanku sebagai si nomer satu.
Akupun hanya mampu menangis, menangisi semua kebodohanku hingga dada terasa sesak oleh himpitan luka.
Dengan jari gemetar dan basah oleh tetesan airmataku, kuketik sebaris pesan untuknya, ‘Selamat tinggal.’
.
#
.
Seharian kulalui hari dengan lesu, hanya berbaring saja di dalam kamar. tak kuhiraukan seribu pesan dan telpon dari Aditya. Aku terlalu lelah menangis semalaman.
“Zee… makan yuk? Udah hampir sore dan kamu belum makan sama sekali,” ajak Aya yang sengaja datang untukku pagi tadi.
Aku memandang ke arah pintu, tempatnya berdiri, “Aku ga lapar, Ay…” jawabku.
Aya masuk ke dalam kamar dan mengusap lenganku, “Zee… kita sudah sama-sama tahu bagaimana Adit, kan? Seharusnya kamu sudah siap sejak awal,” katanya.
Aku memeluk guling dan kembali terisak, sakitnya masih terasa. Semua yang kurencanakan, yang kubayangkan, hancur total karena ketidak peduliannya.
“Kamu masih ingin menunggunya? Menunggu Adit hingga kamu akan semakin hancur dan hancur?” tanya Aya lagi dengan nada lembut karena dia tak ingin membuatku semakin sedih.
Aku menggelengkan kepalaku dalam diam. Kubiarkan jemari Aya mengusap airmataku.
“Zefanya harus bangkit, ga boleh terpuruk seperti ini. Kamu ga malu sama kak Luvi yang pernah mengorbankan cintanya dan kembali bangkit demi anak-anak?” ingat Aya.
Aku tercekat oleh kata-kata gadis berparas manis di depanku ini, ‘Ya… aku harus bisa sekuat kakak. Ini hanya masalah kecil dibandingkan masalah yang dihadapi kakak, dan kakak tak pernah menangis’, ingatku dalam hati.  Kulepas guling yang sejak tadi kupeluk dan duduk di atas tempat tidur.
“Kita buka lembaran baru, yuk? Tinggalkan semua yang pernah membuatmu terluka, yang pernah membuatmu menangis. Kamu terlalu berharga untuk dilukai, Zee. Aku, kak Luvi dan kak Mario... Kami begitu menyayangimu, dan kami tak pernah ingin melihatmu bersedih," hibur Aya lagi.
Aku mengusap airmataku sendiri lalu mencoba untuk tersenyum, “Iya, Ay… maafin aku ya? Aku terlalu bodoh tak pernah mendengarkan nasehatmu. Aku terlalu keras kepala dan tak bisa berpikir panjang. Aku akan bangkit, aku harus bisa,” jawabku lebih pada diriku sendiri.
Aya pun memelukku dengan erat, “Sekarang makanlah, ini sudah hampir sore. Setelah itu mandi dan bersiap. Kamu jadi pergi dengan kak Mario, kan?”
Aku mengangguk setelah Aya melepaskan pelukannya.
#
Pukul setengah tujuh malam dan aku mendengar bel pintu berbunyi. Aku tersenyum, selama ini kak Mario selalu datang lebih awal dari jam yang dijanjikannya. Kuraih jaket dan tas kecilku. Sengaja kubawa jaket ini, karena kalau malam angin laut akan terasa sangat kencang.
Kubuka pintu dan tercekat melihat siapa yang berdiri di sana, Aditya. Wajahnya tampak kuyu, dan tak kulihat senyumnya seperti biasa. Lagi-lagi dadaku berdenyut kencang, perih.
“Zee…”
“Maaf, ‘Dit… aku mau keluar sebentar lagi,” potongku. Aku sengaja tak membiarkannya masuk.
“Zee, maafkan aku…” katanya dengan suara parau.
Aku mencoba tersenyum, walau terkesan miris, “Maaf? Untuk apa?”
“Karena aku… tak menepati janji kita,” jawabnya.
Aku menatap lurus matanya, “Kenapa?” tanyaku.
Pria berjambang tipis di depanku itu tak menjawab, dia hanya menatapku dengan penuh penyesalan lalu menunduk.
“Lupa?” jawabku sendiri.
“Zee…”
“Terhadap hari pentingku saja kamu lupa. Lalu apa arti aku buat kamu, Dit?” tanyaku lagi.
“Kamu berarti untukku, Zee. Maafkan aku, kemarin aku benar-benar lupa,” sesalnya lagi sambil meraih tanganku.
Aku menepis tangannya, “sudahlah, setelah ini kamu bisa melupakan semuanya, tak hanya hari ulang tahunku saja," jawabku.
"Zee, please... Biar aku jelaskan. Kemarin aku berencana pulang, tapi Ferry tak mau. Aku... Aku..."
Aku mendengus, "Aku sudah kenyang dengan semua alasan kamu. Tadi kamu bilang lupa, sekarang bilang lain lagi. Udahlah, Dit... Ada atau ga ada aku ga akan ada pengaruhnya buat kamu, kan?"
"Zee..."
"Aku sudah memutuskan, ‘Dit… mulai hari ini aku akan bersama kak Mario.”
Adit tampak terkejut, “Nggak, Zee… kamu ga boleh pacaran sama dia. Aku ga mau kehilangan kamu.”
“Apa kamu mau bilang kalau kamu mencintaiku?” tantangku dengan dada yang terasa panas.
Adit menyentuh bahuku dengan kedua tangannya, “Aku menyayangimu, Zee.. apa itu ga cukup?”
“Sebagai apa?” tanyaku lagi. "Sadarkah kamu kalau selama ini sebenarnya tak pernah ada kita? Yang ada hanyalah kamu dan semua tentang kamu," tegasku. "Aku butuh kepastian, Dit... Bukan cuma digantung dengan harapan yang melambung. Kamu terlalu serakah untuk bisa memiliki semuanya, kekasih-kekasihmu... dan aku."
Adit tampak putus asa, dia tampak begitu serba salah, “Zee… kumohon maafkan aku, aku memang salah kemarin. Tapi aku…”
Aku menggeleng pelan, “Nggak, ‘Dit… kali ini akulah yang akan meminta maaf. Maaf… aku sudah lelah merasa tak dianggap. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya bahagia saat bersama kamu."
Aditya hanya diam sambil menatapku, aku melihat luka di matanya. Biar saja, biar dia belajar merasakan bagaimana rasanya terluka.
"Kamu ingat kapan terakhir kali kamu membuatku tertawa gembira, 'Dit?" Tanyaku, dan Adit tetap tak menjawab. "Sudah lama sekali ya?" Sambungku lirih.
"Jika memang Kak Mario lebih bisa membutuhkanku, lebih bisa peduli padaku, dan lebih bisa menghargaiku… maka aku akan memilih dia,” kataku lagi.
“Tapi kamu ga cinta dia, Zee…” kata Adit memelas.
“Aku akan belajar. Belajar menerima dan belajar mencintai dia,” jawabku tegas.
“Tapi kamu mencintaiku,” paksa Adit lagi.
Aku tersenyum miris, “Ya, aku mencintai kamu, sampai aku rela hancur demi menunggu kamu yang bahkan pedulipun sama sekali tidak. Aku mencintai kamu, Aditya, tapi tak sekalipun kamu pernah mengerti dan memikirkan perasaanku, ga pernah.”
“Zee…”
Kulihat mobil kak Rio berhenti di depan pagar rumahku. Kutatap mata coklat Adit, sahabat yang begitu aku cintai dengan dalam, kusentuh tangannya dengan lembut, “Selamat tinggal,” ucapku sambil berlalu.
.
#
.
"Kenapa diam aja dari tadi? Ada sesuatu?" Tanya kak Rio.
Aku menggeleng pelan sambil terus menatap laut di depan kami dari dalam mobil.
"Ada sesuatu hal yang menganggumu? Tentang Adit, mungkin?" Tanyanya lagi.
Aku menunduk sebentar sebelum mengangguk.
Kak Rio mengubah posisi duduk yang tadinya menghadap ke depan menjadi menghadap ke samping, ke arahku. Tangannya menyelipkan sejumput rambut ikalku yang jatuh di pipi ke belakang telinga, "Ada apa, Zee? Mau cerita?" Tawarnya.
Aku agak ragu juga mau bicara, tapi mau tak mau aku harus memulainya, "Kak... Mulai hari ini aku akan berhenti memikirkan Aditya," sampaiku.
Kak Rio terdiam sejenak sebelum bicara, "Lalu?" Tanyanya.
Aku semakin gugup dan berkeringat, "A-aku... Bolehkah aku mulai belajar untuk mencintai kak Rio?" Tanyaku dengan suara gemetar. "Maaf, aku tak bermaksud untuk menjadikan kakak sebagai batu loncatan karena aku sudah tak mau memikirkan Adit lagi, aku benar-benar ingin..." Kata-kataku terhenti saat kak Rio menarik lenganku lalu memelukku dengan eratnya.
"Kamu serius, Zee?" Tanyanya tak percaya.
Aku terkesiap saat merasakan tangan yang melingkar di bahuku itu bergetar.
"Kamu ga mengatakan itu karena terpaksa, kan?" Tanya kak Rio lagi.
Aku terdiam, mencerna semua kata-kata dan sikapnya saat ini, lalu tersenyum. Aku memantapkan hatiku dan mengangguk, "Iya, kak... Bolehkah?"
Kak Rio menjauhkan tubuhku lalu menatap lurus mataku, senyum tersungging pada bibirnya yang tipis dan berkumis halus, "Kamu pikir untuk apa aku terus menyayangimu selama ini? Mencintaimu?"
Aku tersenyum dan menggeleng pelan, "Aku ga tau untuk apa," godaku.
Kak Rio meletakkan keningnya pada keningku, "Aku menunggumu, Zefanya... Selalu menunggumu. Menunggumu membuka hati untukku," jawabnya.
Aku menunduk, tiba-tiba ada perasaan bersalah menyusup ke dalam dadaku, "Maaf, kak... Aku egois ya? Kakak sudah menunggu begitu lama, sementara aku selalu sibuk dengan hatiku sendiri. Tapi disaat aku sudah memutuskan untuk berhenti memikirkan Aditya... Aku justru datang pada kak Rio," sesalku.
Kak Rio mengangkat daguku, matanya lurus menatap mataku, dan senyumnya masih tetap terukir di bibirnya, "Aku tak peduli, Zefanya. Sejak dulu aku sudah bilang kan kalau aku akan menunggumu hingga aku tak bisa lagi menunggu. Dan sekarang kamu sendiri yang datang padaku, jadi apa lagi yang bisa membuatku lebih bahagia? Kamu sendiri yang memilihku, dan itu sudah lebih dari cukup untukku."
Dadaku menghangat, 'Tuhan... Aku begitu dicintai olehnya, betapa butanya hatiku selama ini', bisikku dalam hati. Dan sebutir kristal bening meluncur dari mataku.
Pria yang tengah memandang wajahku itu terkejut, dengan segera dia menciumi mataku yang basah, "Jangan, sayang... jangan menangis. Apa kata-kataku menyakitimu? Maafkan aku," katanya cemas.
Aku menggeleng pelan, "Aku menangis karena aku bahagia, kak. Bahagia karena akhirnya aku tahu kemana seharusnya kutitipkan hatiku."
Kak Rio tersenyum, diusapnya pipiku dengan lembut, "Aku bersumpah akan menjaga hatimu, Zee. Terima kasih," bisiknya.
Aku ikut tersenyum, rasanya begitu lega, keraguanku hilang sepenuhnya. Kupejamkan mataku, kubiarkan pria di depanku itu menunjukkan perasaannya. Dan dadaku bergetar halus saat kurasakan bibirnya yang menyentuh bibirku. Begitu lembut, begitu tak memaksa, hanya memberi dan memberi. Kuputuskan untuk membalas, bisa kurasakan napas kak Rio tercekat, bibirnya yang hangat terdiam sebentar lalu dia kembali melanjutkan ciumannya, kali ini lebih dalam, lebih panas, saling memagut, saling menuntut, hingga kami nyaris lupa jika kami masih membutuhkan udara.
Kurasakan panas di pipi melihat tatapan pria yang kini telah menjadi kekasihku itu, begitu lembut dan penuh cinta.
Mario tertawa pelan lalu kembali memelukku, diciumnya puncak kepalaku, "Bukankah seharusnya aku yang memberikan hadiah di hari ulang tahunmu ini, Zee? Tapi nyatanya justru aku yang mendapatkan kado yang begitu  sempurna," katanya.
Aku tersenyum, kurebahkan kepalaku di bahunya, "Kak Rio sudah memberikan begitu banyak padaku selama ini."
Setelahnya kami terdiam cukup lama, mebiarkan angin laut membuai kami melalui kaca mobil yang terbuka, membiarkan jemari kami saling bertaut erat.
"Kakak ga mau bertanya kenapa aku memutuskan untuk berhenti memikirkan Adit?" Tanyaku akhirnya.
Kak Rio memainkan jemariku yang polos tanpa cat kuku, "Kurasa aku tak ingin terlalu mencampuri urusanmu dan Adit, Zee. Aku juga tak berhak mengadili kalian. Kamu pasti punya alasan, kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk, "Dia akan menjadi masa laluku, kak."
Pria yang tengah memelukku itu tertawa renyah, "Dan katakan padaku, apakah aku yang kelak akan menjadi masa depanmu?" Godanya.
Aku menyusupkan wajahku ke lehernya, "Kalau Tuhan memberikan restunya ya kenapa tidak?" Jawabku.
Kak Rio mencium keningku dengan lembut, "kalau begitu segeralah belajar untuk mulai  mencintaiku, Zefanya."
.
#
.
Tak terasa tiga bulan sudah kulalui hari sebagai kekasih kak Rio. Ternyata belajar mencintainya itu begitu mudah. Bersamanya aku merasa begitu dihargai, dia sama sekali tak mengekang dan tak banyak aturan. Bahkan di kantor dia juga tetap bersikap profesional sebagai senior dan atasanku saat jam kerja berlangsung. Hubungannya dengan Adit juga baik-baik saja, walau aku tahu kalau Aditya sekarang selalu menghindari kontak dengan kami.
"Yuk pulang, Zee?"
Aku menoleh ke arah pintu ruangan, dan kulihat kak Rio sudah berdiri di sana, "Sebentar, kak, aku beresin meja dulu ya?"
"Perlu dibantu?" Tawarnya sambil melangkah masuk.
"Cieeee.... Yang perhatian nih yeeee, kapan nih undangannya?" Aku cuma tersenyum saja menanggapi olok-olokan teman-teman seruangan, sudah terbiasa.
"Iya nih, pak Mario... Kapan undangannya?" Tanya seorang temanku dengan tawa berderai dari tiga orang lainnya.
Aku mencoba tak menghiraukan dan terus merapikan mejaku.
"Mau saya sih cepat-cepat, tapi terserah Zefanya aja, saya ngikut dia," jawab kak Rio yang langsung disambut olok-olokan lainnya.
Aku mengernyitkan keningku padanya berharap dia tak perlu menanggapi yang lain, dan kak Rio malah memberikan cengiran khas-nya.
"Dah ah, yuk pulang," ajakku sambil meraih tas hitamku.
#
"Kebiasaan deh, apa-apa ditanggapin aja, mereka jadi makin seru ngeledekinnya," gerutuku saat di dalam mobil.
"Ga apa-apa dong, sayang... Anggap aja mereka ikut bahagia untuk kita," jawab kak Rio, dan aku hanya bisa mengernyitkan hidungku padanya.
Perhatianku tersita saat ponselku berbunyi nyaring. Aku tersenyum lebar saat melihat nama yang tertera di layar, "Kakak..." seruku sambil tersenyum pada kak Rio yang menatapku.
"Ya, kak?" Sapaku setelah kutekan tombol hijaunya.
/"Zee... Kamu dimana?"/ tanyanya.
Aku menautkan kedua alisku, sepertinya ada yang berbeda dari suara kakak, seperti menahan sakit, seperti habis menangis. "Kak... Kakak kenapa?" Tanyaku cemas. Kak Rio segera menepikan mobilnya, berharap suara mesin mobil tak mengganggu pendengaranku.
/"Kakak sekarang ada di rumah kita... Cepat pulang,"/ mintanya dengan suara terbata-bata.
Aku terkejut sekali, "Kenapa kakak ga kasih kabar kalau kakak pulang? Kakak baik-baik aja? Aku udah di jalan kok, aku langsung pulang, ya? Tunggu aku, kak," kataku sebelum menutup telpon.
"Kak Luvi kenapa, Zee?" Tanya kak Rio.
Aku menggeleng, "Ga tahu, tapi pasti ada sesuatu. Kakak kedengaran aneh," jawabku. "Kak, kita langsung pulang ya? Agak ngebut kalau bisa, aku kuatir sama kakak," pintaku.
Kak Rio mengusap rambutku dengan lembut, "Oke, sayang... Kamu jangan panik ya, mudah-mudahan kak Luvi baik-baik aja," katanya sebelum menancap gas.
#
Aku segera melompat turun dan berlari ke dalam rumah begitu mobil kak Rio berhenti di depan pagar, "Kakak...!" Seruku memanggil kakakku.
"Tanteee.... Tolong Mama!!!" Teriak Ocha sambil menangis keras dari dalam kamar.
Aku segera berlari ke kamar, diikuti oleh kak Rio. Napasku seperti berhenti saat kulihat kakak sudah tergeletak dengan posisi terlentang di lantai dengan kepala dan hidung yang berdarah, "Ya Tuhan... Kakak!!!" Seruku sambil menghampiri tubuh kakak.
"Jangan, Zee... Jangan diguncang," tahan kak Rio sambil ikut berlutut di sampingku. Kulihat kak Rio mengeluarkan telpon genggamnya dan segera menelpon Ayahnya. Aku tak tahu apa yang dia katakan pada dokter Alfian, yang aku kuatirkan adalah kondisi kakak saat ini.
"Apa yang terjadi, sayang?" Tanya kak Rio yang segera memeluk tubuh Ocha yang gemetar sambil menangis, "Dimana adik-adikmu?" Tanyanya lagi.
Aku segera sadar kalau Aldi dan Aldo tak ada di situ, dan aku makin panik. Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin, ada apa ini?
"Om Andre... Om Andre tadi dorong Mama lagi sampai jatuh. Terus kepala Mama kena ujung meja. Habis itu Om Andre pergi, terus Mama telpon tante, terus... terus Mama jatuh dan ga bangun lagi," jelas Ocha dengan terbata. Kami belum bisa mencerna kata-kata Ocha yang bercerita sambil menangis.
"Lalu kemana adik-adikmu?" Tanya kak Rio.
Ocha terus terisak, "Aldi sama Aldo dikunci Om di gudang belakang, karena tadi Aldi dan Aldo memukuli Om Andre yang sedang  menarik rambut Mama."
Aku menjerit tertahan, airmata benar-benar membuat pandanganku kabur, sakit... rasanya begitu sakit membayangkan kakak yang begitu aku sayangi diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri.
"Sayang... Tenangkan dirimu. Kita tunggu Papa datang bersama Ambulance, oke?" Kak Rio ganti memelukku yang mulai kalap. Setelah menenangkanku dia segera berlari ke gudang belakang dan membukakan pintu untuk dua keponakanku.
Aldi dan Aldo segera menubruk dan memelukku dengan erat, tangis mereka pecah saat melihat Mamanya terbaring di Lantai. Aku mencoba tenang, kalau aku panik mereka akan lebih panik lagi. Kupeluk ketiganya sembari kuayun. Kuyakinkan mereka jika Mamanya masih hidup dan akan segera sadar.
Tak lama kudengar suara derum mobil berhenti di depan rumah lalu Dokter Alfian menghambur ke dalam ruangan bersama dua orang paramedik, "Ya Tuhan, Via..." desisnya saat berlutut di samping tubuh kakak. Dengan hati-hati dia mengangkat kepala kakak yang berdarah dan menyibak rambut panjang kakak yang menutupi sebagian wajahnya. Kami sama-sama terkejut saat melihat luka lebam di pipi kakak. Dirabanya beberapa bagian di wajah dan leher kakak lalu segera memerintahkan dua paramedik tadi untuk membawa kakak ke rumah sakit.
"Mama mau dibawa kemana?!" Teriak Ocha yang masih tampak shock.
Kak Rio segera meraih gadis kecil yang berlari mengikuti paramedik yang membawa kak Luvi itu, "Ocha, sayang, Mama harus dibawa ke rumah sakit," katanya sambil terus memeluk gadis kecil yang tak berhenti meronta itu.
"Mama ga boleh meninggal, Om... Ocha ga mau Mama meninggal," teriak keponakanku itu lagi di pelukan kak Rio sambil berusaha melepaskan diri.
Dokter Alfian menghampiri Ocha dan berlutut di depannya. Pria setengah baya itu meraih tangan gadis kecilku yang masih meronta lalu menciuminya, "Mama kamu ga akan meninggal, sayang. Mama akan segera sembuh. Jadi berhentilah menangis, ya?" Rayunya.
Ocha tampak tak percaya, tapi rontaannya sedikit mereda saat dokter Alfian tersenyum padanya, "Om Dokter janji?" Tanya Ocha disela isaknya.
"Asal kalian tidak terus menangis dan mau membantu dengan doa, Om mau janji," katanya lagi sambil melihat ke arah Aldi dan Aldo yang saat itu juga tengah menangis dalam pelukanku.
Ocha melepaskan diri dari pelukan kak Rio dan ganti memeluk Dokter Alfian, "Tolong Mamaku ya, Om Dokter? Ocha janji akan berdoa untuk Mama," ucap gadis yang sudah menghentikan tangisnya itu.
Aldi dan Aldo juga melepaskan diri dari pelukanku lalu berjalan ke arah dokter Alfian, "Kami juga janji, Om Dokter. Tolong Mama, ya?" Pinta mereka setelah sang Dokter memeluk mereka bertiga.
Dokter Afian mengusap lembut kepala mereka lalu mengangguk, "Sekarang kita ke rumah sakit, ya? Tugas kalian berdoa, dan tugas Om Dokter menyembuhkan Mama kalian, oke?" Katanya yang langsung disambut anggukan keras ketiganya.
#
Aku segera menghampiri Dokter Alfian yang baru keluar dari ruangan kakak, "Bagaimana, Dok?" Tanyaku dengan nada khawatir.
"Kemana anak-anak?" Tanya sang Dokter saat melihat aku hanya sendiri.
"Kak Rio mengajak mereka makan malam di luar," jawabku. "Gimana kak Luvi?"
Dokter Alfian menghela napas panjang, dia mengajakku duduk di kursi yang disediakan di depan ruangan pasien, "Syukurlah gegar otaknya tak parah. Yang membuatnya pingsan tadi mungkin karena dia sudah lemah dari sebelumnya. Saya temukan banyak luka lebam di sekujur tubuhnya, punggung, lengan dan bahu," jelasnya.
Aku menutup mulutku dengan tangan seakan tak percaya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Fanya? Apa yang terjadi pada Via?" Tanya sang dokter pelan.
Saat dokter mulai memeriksa kakak tadi aku dan kak Rio sempat mencari informasi tentang kejadian tadi sore pada Ocha, lalu menelpon adik mas Andre di Jakarta, Yuda.
"Ternyata tadi siang kakak datang ke Surabaya bersama mas Andre. Mas Andre sengaja ikut karena kakak memang akan pindah ke Surabaya untuk seterusnya. Mereka... Mereka sudah resmi bercerai dua hari yang lalu," ceritaku. Bisa kulihat raut  terkejut di wajah Dokter Alfian.
"Lalu?" Tanyanya.
"Kata Ocha tadi mas Andre sempat meminta kakak untuk menemaninya ke kamar, tapi kakak menolak. Saat itulah mas Andre marah, dia memukuli kakak. Aldi dan Aldo menyerang mas Andre karena mereka melihat Mamanya kesakitan. Mas Andre makin marah, dia menyeret dua anak itu ke gudang lalu menguncinya di sana. Kakak mencoba melepaskan Aldi dan Aldo, tapi mas Andre malah menyeret kakak ke kamar dan mendorong kakak dengan keras. Kepala kakak membentur ujung meja dan berdarah. Lalu kata Ocha mas Andre langsung pergi begitu aja," lanjutku.
"Tuhan..." Desah dokter Alfian sambil mengusap wajahnya.
Aku melanjutkan cerita yang kutahu, "Setelah mas Andre pergi kakak masih bisa menelpon saya, dan setelah itu langsung terjatuh di lantai sampai saya datang tadi, Dok."
"Kenapa Andre bisa jadi begitu tega pada istrinya?" Tanya pria di sampingku itu.
Aku menundukkan kepala sebelum mulai bercerita lagi, "Tadi saya menelpon Yuda, adik mas Andre yang kebetulan cukup akrab dengan saya. Kata Yuda mas Andre memang berubah sejak tahu kalau kak Luvi ga bisa memberikan keturunan. Mas Andre jadi kasar dan sering memukuli kak Luvi, bahkan di depan anak-anak. Keluarga mas Andre sudah menasehati jika memang hubungan mereka sudah tak bisa diperbaiki alangkah baiknya kalau bercerai saja, mereka kasihan melihat keadaan kak Luvi dan anak-anak. Tapi kak Luvi mencoba bertahan. Sampai akhirnya belakangan ini keluarga mas Andre semakin ga tega sama kak Luvi. Mereka lihat kak Luvi semakin hari semakin lemah. Banyak luka di sekujur tubuhnya. Bahkan bulan kemarin kakak harus dirawat di rumah sakit karena ga bisa bangun. Akhirnya Ibu mas Andre memaksa mas Andre untuk menceraikan kak Luvi dan membiarkan kak Luvi pulang dan hidup bebas. Awalnya mas Andre ga mau tapi karena paksaan dan ancaman banyak orang akhirnya  mas Andre mau menceraikan kak Luvi," tutupku.
Setelah aku selesai bercerita kami sama-sama terdiam.
"Apa kamu ingin meneruskan ini ke polisi?" Tanya dokter Alfian.
Aku menggeleng pelan, "Ga tau, Dok. Sebenarnya saya ingin, tapi saya yakin kalau kakak ga setuju," jawabku.
Dokter Alfian mengangguk paham, "Begitulah kakakmu, Fanya," katanya sambil merangkul bahuku dan mengusap puncak kepalaku.
"Yang penting saat ini Via harus pulih dulu, setelah itu baru kita pikirkan selanjutnya," katanya lagi mencoba menenangkanku.
Aku hanya mengangguk. Dipeluk seperti ini rasanya seperti dipeluk ayah, begitu nyaman.
"Lalu anak-anak gimana? Kamu bisa ngurus mereka sementara Mamanya di rumah sakit?" Tanya sang Dokter.
Aku berpikir sejenak, "Saya harus mengurus kepindahan sekolah mereka juga. Mungkin besok saya akan mulai memasukkan surat mereka ke sekolahan di dekat rumah. Sekolah Ocha dulu sebelum pindah ke Jakarta."
"Kalau kamu kerepotan kamu bisa bawa mereka ke rumah saya saat kamu dan Rio bekerja. Di rumah kan ada pembantu, setidaknya ada yang ngawasin mereka," saran sang dokter.
Aku menggeleng, "Jangan, Dok... Nanti pasti ngerepotin. Saya minta cuti dulu aja beberapa hari, boss pasti bisa memahami alasan saya," tolakku.
"Fanya, seharusnya kamu ga perlu sungkan begitu, kan? Jangan memaksakan dirimu sendiri," paksanya.
Aku hanya tersenyum, "Terima kasih, Dokter. Tapi saya ga nolak kok kalau dokter bantu tengokin anak-anak di rumah sesekali," candaku.
Dokter Alfian tertawa renyah dan mempererat rangkulannya di bahuku, "Kalian berdua adalah wanita-wanita yang sangat hebat, selain almarhumah istri saya tentunya." Dan kamipun tertawa bersama, merayakan kelegaan.
.
#
.
Tiga hari ini kondisi kakak mulai pulih, kalau besok sudah tidak ada keluhan yang mengkhawatirkan dokter Alfian mengijinkan kakak pulang. Sekolah anak-anakpun sudah beres urusannya.
"Anak-anak ga apa-apa nih di titipin di rumah kak Rio?" Tanyaku saat kami berjalan di koridor rumah sakit untuk menjenguk kakak.
Kak Rio memeluk bahuku, "Ga apa-apa, ada si mbok yang jagain, kan? Lagipula Seren juga pas pulang, dan dia cinta banget sama anak kecil," jawabnya sambil menyebut nama adik perempuannya yang kuliah di Bandung dan saat ini sedang ada di rumah.
Aku tersenyum pada kekasihku itu. Dia selalu tahu cara untuk membuatku tenang.
Ruangan kakak sudah dekat, tapi kami menahan langkah kami untuk masuk karena melihat pintu ruangan yang tak tertutup rapat. Dan lagi-lagi kami ditakdirkan untuk melihat dan mendengar sebuah kisah yang mungkin seharusnya tak usah kami tahu.
Kami melihat Dokter Alfian tengah duduk di samping tempat tidur kakak. Mereka tak bicara, hanya tatapan mata yang saling memandang. Wajah kakak masih tampak pucat dan lemah, tapi binar matanya mulai tampak hidup kembali.
Setelah beberapa saat saling diam kulihat kak Luvi mulai tersenyum, "Kenapa lihat-lihat? Rindu?" Godanya.
Dokter Alfian tertawa pelan, "Kapan kamu akan berhenti membuatku khawatir, Via?" Tanyanya.
Kakak memiringkan kepalanya, sebuah luka terbalut perban tampak di ujung keningnya, "Setelah ini, saya janji," jawabnya pelan.
Dokter Alfian meraih tangan kanan kakak yang tidak diinfus lalu menggenggamnya lembut, "Apa rencanamu setelah ini?" Tanyanya.
Kakak tersenyum sambil memandang tautan tangan mereka, "Saya akan memindahkan usaha butik saya ke sini dan tinggal bersama Zefanya di rumah peninggalan orangtua kami," jelasnya.
"Lalu?" Tanya dokter lagi.
"Saat ini fokus saya hanya anak-anak, Dok. Tugas saya sebagai seorang Ibu untuk mereka masih panjang," lanjut kakak.
Dokter Alfian mulai memainkan jemari kakak, sepertinya kebiasaan itu menurun pada kak Rio yang suka melakukan hal yang sama padaku. "Tak bisa kah kita kembali? Aku ingin menjagamu, Via, juga anak-anak," kata sang Dokter.
Aku berpandangan dengan Kak Rio, tapi kak Rio meletakkan telunjuk di depan bibirnya sambil tersenyum dan mengangguk, memintaku untuk tenang dan mendengarkan semuanya dalam diam.
Kak Luvia masih tersenyum, "Kembali sebagai apa? Memangnya kita pernah menjadi apa? Kembali menjadi pasiennya Dokter yang bandel dan keras kepala serta suka membantah? Oke, siapa takut?" Candanya, dan bisa kulihat senyum tersungging di bibir-bibir mereka.
Lalu raut wajah kak Luvi mulai tampak serius, "Dok... Sungguh egois kalau sekarang saya harus memikirkan perasaan saya sendiri. Saya masih lelah dengan cinta, saya masih lelah dengan sebuah hubungan. Sungguh saya hanya ingin memikirkan anak-anak saja," lanjut kakak tanpa melepaskan tautan tangan mereka.
Dokter Alfian membawa jemari kakak ke bibirnya, "Aku paham, Via. Maafkan aku yang mungkin terlalu terburu-buru. Hanya saja kejadian kemarin benar-benar membuatku shock. Melihatmu terbaring di lantai dengan darah di kepala, kamu pikir bagaimana perasaanku setelah begitu lama tak bertemu kamu? Padahal kita sudah berjanji untuk bahagia, kan?"
Kak Luvi memandang lurus pada sang Dokter, "Saya tahu, Dok. Saya bisa merasakan ketakutan dan kekhawatiran Dokter terhadap saya. Saya juga sudah berusaha menepati janji kita untuk sama-sama bahagia, walau pada kenyataannya... belum bisa saya dapatkan kemarin," jawabnya. "Tapi saat ini saya benar-benar sedang tak ingin terikat oleh apapun, maaf, saya masih merasa begitu lelah," bisiknya lirih.
Ayah kak Rio meletakkan tangan kakak di pipinya, lalu mengecup telapaknya dengan lembut, "Aku mengerti, Via, dan aku hargai apapun keputusanmu," jawabnya sambil berdiri lalu berpindah duduk di pinggiran tempat tidur kakak.
Dadaku sesak saat dokter Afian mengusap pipi kakak yang masih tampak lebam, "Sakit?" tanyanya pelan penuh rasa sayang.
Kakak memejamkan matanya lalu menggeleng. Sebutir airmata meluncur di pipinya yang masih nampak biru dan segera diusap oleh ibu jari sang Dokter.
"Setelah ini apakah kamu akan menepati janjimu untuk bahagia? Bersamaku ataupun bukan denganku?" Tanya dokter Alfian lagi.
Kakak mengangguk dan menangkup tangan dokter Alfian yang masih menempel di pipinya, "Iya, saya akan menepatinya, Dok. Demi anak-anak, demi Zefanya, ...dan demi Dokter," jawab kakak dengan suara parau.
Dokter Alfian membungkukkan tubuhnya untuk mencium kening kakak, dan saat itu aku mulai menangis melihat ketulusannya.
"Tapi masih mau kah kamu berpikir kalau kamu masih memiliki aku? Sebagai teman kamu? Sahabat kamu? Sebagai apapun untuk tempatmu berbagi?" Tanya ayah kak Mario itu.
Kakak kembali tersenyum, "Juga sebagai teman bertengkar? Saya rindu adu mulut dengan Dokter lagi," guraunya.
Dokter Alfian mengangguk, "Juga sebagai teman ribut. Sudah lama juga aku tak mengasah bakat keras kepalaku dalam menghadapi kamu," jawabnya sambil tertawa renyah.
 Kakak ikut mengangguk senang, "Oke, kita mulai adu kekuatan lagi ya?" Tantang kakak sambil ikut tertawa.
"Lagipula... Saat ini bukankah memberikan restu untuk Mario dan Zefanya jauh lebih penting?" Lanjut kakak.
Aku tercengang mendengar kata-kata kakak, begitupun dengan kak Rio.
"Ya, kamu benar, Via. Kita akan menjadi besan, ya?" canda Dokter Alfian yang berujung pada derai tawa mereka.
"Iya, bapak besan, nanti kalau mereka menikah serahkan semua urusannya padaku ya?" Kata kakak dengan mata berbinar terang.
"Baiklah Ibu besan, kamu urus aja sebaik-baiknya, aku pengennya sih tahu beres aja," balas sang Dokter dengan tawa tertahan.
Kakak tersenyum dengan mata berbinar terang, senyumnya yang dulu saat mereka masih bersama, "Semoga mereka berbahagia ya, Dok? Jauh lebih bahagia daripada kita saat ini. Semoga hati mereka tetap bersatu dan tak terpisahkan sampai selama-lamanya, amin," doa kak Luvi.
"Amiiin," jawab sang Dokter dengan senyum.  "Hatinya tidak terbagi seperti kita dulu, begitu maksudmu? Berhentilah menyindir, Via," ucapnya dengan canda yang langsung disambut tawa renyah kakak yang tampak begitu bahagia.
Setelah itu canda-canda lain mulai bermunculan dari bibir-bibir mereka. Gelak tawa menghiasi ruangan itu. Berbeda dengan kondisi di luar sini. Aku menangis dalam pelukan kak Rio, entah menangis karena apa, mungkin menangis bahagia karena aku bisa melihat kakak tertawa lagi, bangkit lagi. Sedang kak Rio memelukku dengan begitu eratnya.
"Kamu tahu, sayang? Jarang sekali selama ini aku mendengar canda dan tawa Papa, terutama sejak Mama tiada. Papa menjadi begitu pendiam dan serius. Tapi lihatlah saat ini... Papa begitu bahagia," kata kak Rio yang hanya bisa kujawab dengan anggukan.
"Zee..." Panggilnya pelan, "Maukah kamu mewujudkan mimpi mereka bersamaku? Maukah kamu menyempurnakan hidupku dengan menjadi pendampingku selamanya? Menjadi istriku sampai hembusan napas terakhirku, hingga Tuhan mempersatukan kita  kembali di surga?" Bisik Kak Rio di telingaku.
Isakku semakin keras, ini bukan cara melamar yang romantis, tapi begitu sempurna untukku. Mendengarkan lamaran dari bibir pria yang begitu aku cintai, dan di tengah tawa bahagia orang-orang yang kami sayangi, itu adalah yang terbaik yang aku inginkan.
Aku mendongak untuk menatap mata kekasihku, ada kesungguhan di sana. Dan saat itu aku yakin kalau di sanalah kebahagiaan akan kudapatkan dan abadi, di sisinya, bersamanya.
"Iya, kak... Aku mau mendampingimu hingga surga mempertemukan kita kembali," jawabku mantap.
Kak Rio tersenyum lebar, kedua tangannya menangkup pipiku, "Terima kasih, sayang. Aku mencintai kamu, Zefanya," bisiknya sebelum bibir kak Rio mencium bibirku dengan dalam. Ada sumpah yang terucap dalam hati kami masing-masing, sumpah untuk merajut kebahagiaan bersama, selamanya.
Waktu terus berputar dan berputar, menari dengan begitu cantiknya. Setiap detaknya telah menjadi musik pengiring perjalanan kami. Amarah, tangis dan luka kelak akan menjadi sebuah cerita yang akan kami kenang dengan tawa. Teruslah menari, sang waktu... Kami akan melangkah bersamamu.

EPILOG
"Tanteeee... Uwaaaah cantiknyaaaa..." Seru Ocha dan dua adik kembarnya saat masuk ke kamar gantiku. Kakak yang menyusul masuk pun tampak terpaku menatapku. Pelan dia mendekatiku yang sedang merapikan gaun pengantin putihku. Gaun dengan model yang simpel tapi tampak begitu pas pada tubuhku, tampak begitu indah. Gaun yang dihadiahkan kakak untukku.
"Kamu adalah pengantin yang paling cantik di muka bumi, Zee... Adikku tercinta," pujinya penuh haru. Mata bulatnya berkaca-kaca saat menyentuh lembut pipiku. Lalu jemarinya membelai rambut ikalku yang dibiarkan menjuntai sedikit dari seluruh rambutku yang digulung ke atas.
Aku jadi ingin menangis kalau saja Aya tidak berteriak, "Oh ayolah kalian... Jangan rusak make up pengantinnya dengan airmata. Nanti aja nangisnya, oke?"
Mau tak mau aku dan kakak pun tertawa. Aku bahagia melihat kakakku saat ini, tampak begitu cantik dengan gaun biru panjangnya. Rambut lurusnya digulung dengan hiasan rambut berwarna perak, sangat anggun.
"Mario mana?" Tanya kakak.
"Ada di ruangan sebelah, sebentar lagi dia akan menjemput ke sini," jawabku. Tapi tak lama pintu ruangan kembali terbuka. Kak Rio, Seren dan Dokter Alfian masuk bergantian.
Bisa kulihat tatapan kak Rio yang sama sekali tak mampu berkedip saat memandangku, "Inikah istriku?" Tanyanya sambil menggenggam tanganku.
"Bukan, kamu salah kamar, Rio... Ini istri orang lain," celetuk kak Luvi yang disambut tawa seisi ruangan.
Mario memberikan cengiran khas-nya, "Aku kan sedang mencoba merayu, kak. Ah kakak merusak momennya," gerutu kak Rio.
"Iiissh... Lagian kak Mario basa basi bener? Bilang aja 'Kamu cantik sekali, Zee'. Kaya ga ngenalin istrinya aja deh," protes Aya yang setelahnya melakukan high five dengan kakak.
"Kakak emang lambat dan serba basa basi, kalau ga lambat kan ga mungkin ngedapetin kak Zee sampai enam tahun?" Seren, adik Mario, ikut menyerang. Dan lagi-lagi ruangan itu kembali ramai oleh tawa.
"Kenapa jadi pada ngeledekin aku?" Gerutu kak Mario. "Belain dong, Pa... Kita sama-sama cowok, kan?" Mohonnya pada sang ayah yang berdiri di samping kak Luvi.
Sang Ayah berdehem pelan sebelum bicara, "Mmmh... Semua kan memang butuh proses, Seren... Begitu juga yang dialami kakakmu," bela dokter Alfian. "Tapi nggak harus sampai enam tahun juga sih, ya? Lambat." Sambungnya yang lagi-lagi mengundang tawa. Aku dan kak Rio pun jadi ikut tergelak.
Pelan dokter Alfian mendekatiku, "Putriku bertambah satu lagi," katanya sambil menyentuh pipiku. "Selamat datang di keluarga kami, Fanya... Papa begitu bahagia memilikimu saat ini, Sayang," ucapnya dengan tulus.
Senyum pria di depanku itu tak berubah, tetap sama seperti pertama kali dikenalkan oleh kakak enam tahun yang lalu. Selalu lembut dan penuh kasih. Dan aku tak peduli lagi pada gaun ataupun make up-ku, aku langsung menghempaskan diri dalam pelukannya, pelukan ayah mertuaku yang begitu baik. Kecupannya di keningku meluruhkan setetes airmata.
"Setelah ini rumah kita akan semakin ramai, ya Seren?" Tanya dokter pada putri bungsunya setelah dia melepaskan pelukan pada menantunya.
"Oh ga bisa, Dok... Mereka akan tinggal bersamaku," protes kak Luvi.
Dokter Alfian berdecak, "Ga mungkin, Via... Mereka akan bersamaku. Jarak dari tempatku ke kantor mereka kan dekat?"
"Jarak dari rumah kami juga ga sampai lima jam, kan?" Bantah kakak hiperbolis.
"Tapi kamu kan sudah ada anak-anak, sedangkan aku akan sendirian kalau Seren kembali ke Bandung untuk kuliah," sambung ayah mertuaku.
"Kan ada si mbok di rumah? Dokter sama si mbok aja," Kakak tetap ngotot. Dan kami kembali tertawa melihat mereka yang selalu ribut beradu argumen itu.
"Iiiih... Papa sama kak Luvi berisik deh, kalian tinggal serumah aja kalau gitu, biar ga rebutan," celetuk Seren yang akhirnya mampu membungkam mereka. Aku dan kak Rio juga Aya yang mengetahui masa lalu mereka langsung tergelak keras.
"Sepertinya itu ide yang bagus ya, Dek?" Dukung kak Rio di sela tawanya yang langsung dibalas anggukan sang adik.
Kakak langsung melihat jam tangannya, pipinya tampak begitu merah, "Sudah waktunya kita berangkat, ayo cepetan, ga baik kalau tamunya nunggu terlalu lama," seru kak Luvi mengalihkan perhatian kami.
Masih sambil tertawa kami pun akhirnya keluar dari ruangan. Bisa kulihat dari ekor mataku Papa mertuaku tengah membantu kakak merapikan selendang transparannya di bahu kakak yang terbuka. Senyum terpahat sempurna pada bibir-bibir mereka.
"Semoga semuanya berbahagia ya, sayang?" bisik kak Rio padaku.
"Amin," jawabku sambil menatap suamiku dengan senyum.

TAMAT