Katamu… impian itu hanya bunga tidur, hanya bayangan yang tak
semuanya dapat menjadi nyata. Saat yang terlihat manis, dia seperti obat
yang meredakan sakit. Saat terlihat buruk, dia laksana pedang yang siap
merobek tabir hidupmu.
Katamu… tak semua cinta akan terlihat indah. Adakalanya cinta harus
mengalah pada logika, menulikan jeritan perasaan yang terdengar
menyayat. Mengalah pada takdir yang suatu saat akan merenggut semua rasa
yang pernah tercipta.
Katamu… tak apa tak bersama, asal masih bisa mendengarkan syair yang
melantun dari kisi-kisi hati yang kosong. Mendengarkan gema suara rindu
yang melolong pada bias-bias asa yang tak berbalas.
Katamu… katamu dan katamu, selalu itu yang berputar pada poros
ingatanku. Hingga masa lalu nyaris menjadi kutukan yang siap menyerang
dan menghancurkan dinding harap.
Aku membencimu…
Membencimu yang mengajarkan rasa sakit dan kesedihan. Membencimu yang
membuatku menunggu penuh kepiluan di ambang kegelapan. Membencimu yang
meniupkan dan menanamkan bunga-bunga cinta di kebun hatiku, hingga
mereka terus bertumbuh dan aku tak mampu membakarnya.
Aku membencimu, sungguh…
Dengan segala kerinduan yang terus mencakar dinding kalbu.
-Untukmu yang telah pergi melintasi gerbang waktuku-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar