Rabu, 10 Juli 2013

Sebuah Kisah

Saat angin masa lalu kembali berhembus. Bisakah aku menolak?
Hanya menatap pasrah saat dia membuka perlahan sampul buku tebal yang telah tertutup rapat.
Meniup lembaran-lembaran usang yang telah rapuh dan menguning. Membiarkannya menyingkirkan debu yang menghiasi aksara kisah yang terukir indah di atasnya, dan kembali terbaca.


Lalu di saat jarum jam bekerja melawan arus, haruskah dihentikan?
Kenapa tak memberikan kesempatan padanya untuk memutar kembali pita-pita kenangan yang telah tergulung rapi pada lemari waktu?
Membiarkannya mengisahkan kembali cerita-cerita yang pernah tertulis pada halaman masa.
Menyuarakan lagi syair-syair berjuta rasa yang pernah terekam pada saat silam.


Apa yang harus disesali?
Tak ada...
Ini bukan kehendakmu, bukan juga kehendakku.
Bukankah kita cuma aktor yang berdiri dan berperan di atas panggung drama berjudul kehidupan?


Jalani saja, bukan begitu, Sayang?
Tak perlu ada airmata lagi, sudah cukup yang terbuang.
Harusnya hanya rasa syukur yang ada, karena kita pernah memiliki kesempatan untuk menciptakan sebuah kisah, berdua.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar