Aku memandang puas pada layar komputer, tersenyum lalu memencet tombol close. Selesai untuk hari ini. Kulirik jam bulat berwarna putih yang menempel di dinding ruangan, 18.30 wib, masih terlalu sore untuk ukuran standart jam kerjaku.
Aku dikejutkan oleh lagu just the way you are milik Bruno Mars yang terdengar keras dari ponselku. Tak perlu melihat siapa yang menelpon, karena lagu itu memang khusus kubuat menjadi nada dering untuk kamu.
"Ya, beib," jawabku. Kujepit ponsel hitam itu di antara telinga dan bahuku, sementara kedua tanganku sibuk membereskan peralatan tulis yang masih berserakan di atas meja kerjaku.
"Masih sibuk?" Tanyamu dengan suara khasmu yang lantang dan bersemangat. Suara yang selalu mampu membuatku tertawa.
"Nggak, nih udah selesai," jawabku yang masih sibuk dengan meja kerjaku.
"Jalan kita, beib?" Ajakmu.
Aku sedikit tertegun, ini ajakan pertamamu semenjak kita berpacaran. Kesibukan memaksa kita untuk menyingkirkan rasa egois. Dan malam ini kamu menelpon untuk mengajakku pergi? Benar-benar kejutan, kau tahu?
"Beib?" Panggilmu lagi yang segera menyadarkanku.
"Oh, oke..." Jawabku segera.
Kamu tertawa renyah, "Aku jemput ya! Pakai sesuatu yang berwarna biru, sebab jacketku juga biru."
Aku ikut tertawa, itulah kamu, pria yang selalu memikirkan penampilan. Dalam hal ini kau tak pernah ingin terlihat kacau. Walau kadang aku berpikir kalau kau terlalu 'lebay', tapi aku suka. Karena aku pun tak suka dengan pria yang berpenampilan asal-asalan. "Kemeja biru dengan celana panjang hitam, cocok kan?" Jawabku.
"Sip, aku berangkat sekarang. Tunggu aku ya?"
Aku hanya mengangkat bahu saat sambungan telepon sudah terputus sebelum kujawab. Dan lagi-lagi begitulah kamu, pria ku yang tak pernah basa-basi.
Kusegerakan kesibukanku, lalu kuraih tas kerjaku dan berlari menuju toilet. Kurapikan baju dan rambutku. Juga sedikit memperbaiki make up. Aku tak terlalu suka berdandan, tapi untuk malam ini akan kubuat perkecualian, untukmu.
Setelah dirasa rapi aku langsung berjalan menuju lobby hotel tempatku bekerja. Kuperkirakan kau akan sampai sepuluh menit lagi. Agar tak terlihat gelisah aku memilih duduk di sofa yang tak jauh dari pintu masuk, agar aku bisa segera melihat kehadiranmu saat memasuki pelataran hotel.
Tapi tetap saja gelisah, ini kencan pertamaku dengan kamu, dan aku tak bisa menolak debaran halus yang sejak tadi terus merambati dadaku.
Surat kabar hanya kubaca judul beritanya saja, setelah itu kulipat dan kuletakkan lagi di tempatnya. Majalah mingguan pun memiliki nasib yang sama seperti yang sebelumnya. Lima belas menit berlalu, dan aku belum melihat sosokmu. Salah satu sifat burukku langsung muncul, panik. Aku segera berdiri dan berjalan keluar, 'Dimana kamu? Nggak ada apa-apa di jalan, kan?' Tanyaku dalam hati dengan gelisah. Aku mondar-mandir di teras lobby sambil tak lepas memandang pintu masuk.
"Permisi, Bu. Ibu mau pulang sekarang? Biar saya panggilkan supirnya di belakang?"
Teguran security mengejutkanku, aku langsung menggeleng keras, "Nggak usah, Pak... Malam ini saya pulang sendiri, ada teman yang mau menjemput," tolakku, lalu laki-laki setengah baya itu mengangguk dan berjalan menjauh. Aku memang mendapatkan fasilitas antar jemput dari kantor, karena itu wajar kalau security bertanya begitu padaku.
Aku semakin gelisah dan segera saja kuraih ponselku. Kupilih satu nama sebelum kutekan tombol hijau. Tak sampai nada sambung terdengar di telingaku, aku segera menekan tombol merah dan memasukkan ponsel hitam itu kembali ke dalam tasku. Aku tersenyum saat derum motor dan bayanganmu mulai memasuki pelataran parkir dan berhenti di depanku. 'Ahh... Debaranku, kumohon diamlah,' bisikku dalam hati saat kamu membuka helm hitammu dan tersenyum padaku. Wajahmu yang tampak tegas dengan senyum yang tak pernah hilang. Warna kulit sawo matangmu dengan postur tubuh yang tak begitu besar. Semua itu selalu cukup membuatku... Mmmh... Terpesona?
"Berangkat sekarang kita?" Ajakmu sambil menyodorkan satu helm hitam lagi padaku.
Aku hanya mengangguk sembari menerima pelindung kepala itu darimu. Setelah yakin aku memakainya dengan benar kamu lalu kembali mengenakan helmu sendiri dan bersiap dengan motormu lagi.
"Sudah?" Tanyamu meyakinkan diri kalau aku sudah duduk dengan nyaman di belakangmu.
Aku memeluk pinggangmu dengan sedikit canggung, dan bisa kurasakan bahumu bergerak-gerak karena tawa. Aku diam saja, mau ngomel pun kamu tak akan dengar. Dan aku tersenyum saat motor mulai melaju di jalanan.
"Kemana kita, Beib?" Tanyamu sedikit keras mencoba mengalahkan deru motor dan angin.
Merasa tak punya ide aku pun hanya memasrahkan pada pilihanmu saja. Kamu tampak diam sebentar sebelum kembali sedikit menoleh ke belakang, "Gimana kalau ke pelabuhan? Ada mie kepiting yang enak banget di sana," tawarmu.
Aku tertawa senang, "Pelabuhan? Kamu kok tahu kalau aku suka laut?" Jawabku keras.
Kamu ikut tertawa dan membalas, "Karena kita sehati, kan?"
Ya Tuhan, debaran itu semakin kencang. Dan tanpa sadar aku semakin mengeratkan pelukanku di pinggangmu.
Setelah itu kita terdiam, kita menikmati lampu-lampu jalanan yang seakan berkejaran dalam diam. Menikmati hembusan angin yang mempermainkan rambut setengah panjangku juga dengan diam.
Kuhirup aroma tubuhmu yang memancarkan aroma parfum maskulin, harum. Kau suka parfum, dan aku selalu suka pilihanmu.
Senyumku semakin lebar saat kau membelai tanganku yang melingkari pinggangmu dengan lembut. Sekali lagi aku tenggelam dalam debaran yang semakin kuat saat jemari kita terjalin menjadi satu. Kalau saja helm ini tak menutupi wajahku, aku yakin kamu akan tertawa geli melihat bagaimana merahnya wajahku. Kau dengar debaranku? Dia meneriakkan sebuah kalimat, sayang... Aku mencintaimu, katanya.
Kau hampir tak pernah mengumbar kata-kata romantis yang penuh dengan gombalan dan omong kosong. Kau bahkan terkesan acuh tak acuh. Tapi sikap yang kau tunjukkan, pandangan matamu saat menatapku, senyum dan tawa yang tak pernah lepas dari bibirmu saat bersamaku... Itu sudah cukup untukku tahu kalau akupun memiliki arti untukmu.
Aku ingin roda motor ini terus berputar, berharap jarak ke pelabuhan masih memakan waktu berhari-hari lagi, karena aku enggan melepaskan pelukanku darimu.
Tapi apa dikata, aku justru tersenyum lebar saat kau menghentikan motormu di depan lautan yang maha luas. Walau gelap, tapi pantulan lampu-lampu pelabuhan yang terpantul di air justru menjadi pemandangan yang tampak begitu indah dan megah.
"Kita sampai, sayang," katamu setelah melepaskan helmmu.
Aku masih mengagumi keindahan malam di depanku. Helm hitampun lepas dari kepalaku dan berpindah ke tanganmu. Lalu aku turun perlahan dari motormu, berjalan mendekat ke batasan laut. Benar-benar indah. Aku tak peduli walau angin laut mempermainkan rambutku sedemikian rupa, aku masih belum puas dengan keterpanaanku akan kecantikan di depanku.
Aku sedikit terkejut saat lenganmu merangkul pundakku, "Suka?" Tanyamu.
Aku mengangguk cepat lalu melihat padamu yang ternyata tengah memandangku sambil tersenyum, "Ini cantik, Beib," bisikku yang entah kamu dengar atau tidak, karena deru angin cukup berisik di telingaku. Tapi senyummu yang semakin merekah dan rangkulanmu yang semakin kencang menjadi arti kalau kau puas dengan jawabanku.
"Kamu lihat itu? Pulau di tengah itu? Itu namanya pulau Sabang," terangmu sambil menunjuk sebuah pulau yang tampak kecil di tengah lautan. Kalau tak ada lampu-lampu dari mercusuar dan bangunan-bangunan di pulau itu, mungkin saat malam begini tak ada yang tahu kalau di tengah lautan luas ini ada sebuah pulau.
"Pulau sabang?" Ulangku. Aku memang termasuk penduduk baru di Banda Aceh ini, jadi belum begitu tahu tentang seluk beluk kota dan pulaunya.
Kau mengangguk, "Pulau Weh sebenarnya, tapi Ibukotanya bernama Sabang, jadilah pulau itu lebih terkenal dengan sebutan pulau sabang," terangmu lagi, dan aku kembali menganggukkan kepalaku.
"Setiap malam Tahun Baru di sana ramai sekali, selalu ada pesta kembang api yang meriah," katamu lagi sambil mengusap lenganku.
Aku tersenyum, "Benarkah? Kamu sudah pernah ke sana saat Tahun Baru?" Tanyaku.
Kamu menatap mataku dan tersenyum, "Pernah, beberapa kali dengan teman-teman. Tapi malam Tahun Baru besok aku ingin ke sana bersama kamu."
Sekali lagi aku terpana dengan kata-katamu. Aku tak bisa menahan bibirku untuk tersenyum.
"Mau?" Tanyamu lembut.
Aku lalu memeluk pinggangmu dengan erat dan menyandarkan kepalaku di dadamu, begitu hangat. Debaran jantungmu yang terdengar di telingaku sungguh membuatku nyaman. "Akhir tahun nanti akan kukerjakan semua pekerjaanku dengan cepat agar bisa pergi ke sana bersama kamu," jawabku. Dan aku kembali tersenyum saat dadamu menggemakan suara tawa.
Lalu setelah itu kami kembali terdiam, menikmati semua yang disajikan alam di depan kami. Tubuhku semakin hangat saat kamu memakaikan jacket birumu padaku, "Lenganmu dingin," jawabmu saat aku bertanya melalui kernyitan keningku.
"Beib..." Panggilku.
"Uan?" Jawabmu iya dalam bahasa aceh.
"Makasih sudah ada bersamaku malam ini ya?"
Kamu tertawa samar sambil mengeratkan pelukanmu padaku, dan aku hanya mampu memejamkan mata saat kau mengecup keningku dengan lembutnya. Hei, Dewi Laut dan Dewi Malam yang tengah mengintip kami dari kejauhan, kumohon hentikan waktuku, aku ingin bersama kekasihku seperti ini lebih lama lagi.
"Makan yuk?" Ajakmu membuyarkan lamunanku.
"Sebentar lagi, aku masih betah di sini," tolakku.
Lagi kamu tertawa pelan, "Nggak akan jauh, dari tempat kita makan nanti kamu masih bisa memandang lautan sebegini luasnya. Yuk..." Paksamu sambil menarik dan menggengam tanganku.
Kali ini aku tak membantah, toh dimanapun asal bersama kamu semua akan tampak indah, kan?
•
•
Tempatnya tak mewah, begitu sederhana. Warung tenda di pinggir laut. Tapi tempatnya yang bersih dan nyaman membuat siapapun tak enggan untuk masuk dan duduk di dalamnya.
"Dua mie kepiting, satu teh manis hangat dan satu jus buah naga," pesanmu setelah kita duduk di bangku panjang sebelah pojok, agar aku dapat leluasa memandang lautan di depanku. Kau tahu kalau aku tak begitu suka minuman dingin, dan kau selalu dengan minuman-minuman buah kesukaanmu. Memang tak pernah susah jika bersamamu, karena kau selalu mampu mengendalikan situasi.
"Kenapa?" Tanyamu heran karena melihatku tersenyum sendiri.
Aku hanya menggelengkan kepalaku masih dengan senyum terkulum.
"Selalu terpesona denganku, eh?" Tebakmu penuh percaya diri.
Aku spontan tertawa dan menarik hidungmu dengan gemas, "Dasar Mr. Narsis," ejekku.
"Kalau aku nggak narsis kamu ga akan suka, kan?" Jawabmu asal.
Sekali lagi aku tertawa, "Kalau kamu nggak narsis aku bakalan heran tujuh turunan," balasku dan kamu ikut tertawa sambil mengacak rambut panjangku dengan lembut.
Aku menarik napas panjang. Kuraih tanganmu yang masih memainkan helaian rambutku, lalu kucium perlahan buku-buku jarimu, kutempelkan di pipiku sejenak sebelum aku letakkan perlahan di atas meja dengan masih berada dalam genggamanmu.
Kau mengusap punggung tanganku dengan ibu jarimu, lalu tersenyum. Ah Tuhan... Aku tak membutuhkan aksara maupun lisan jika hati saja mampu saling berbicara seperti ini.
Aku sedikit terkejut saat ibu pemilik warung datang untuk menyajikan pesanan kita. Aku hanya berusaha menyembunyikan rona merah wajahku karena kamu tak juga melepaskan tanganku, bahkan saat si ibu sibuk menata pesanan kita di atas meja. Kau baru mau melepaskan genggamanku setelah aku ancam kalau kau harus menyuapiku sampai habis jika caranya begini.
Agak enggan sebenarnya jika harus berurusan dengan kepiting, tapi karena kau suka ya sudah, aku ikut saja. Dan sepertinya kau tahu isi hatiku. Pelan kau tarik piringku dan mulai meraih potongan kepiting dengan tanganmu yang sudah bersih. Dengan telaten kau buka kulit cangkangnya yang keras dan mengambil dagingnya, lalu kau sodorkan padaku.
Aku tertawa pelan, sedikit malu juga kalau melihat kita tak sendiri di sana. Tapi melihat kau tak peduli jadi akupun mencoba untuk tak peduli. Kubuka sedikit mulutku, membiarkan jarimu memasukkan potongan daging kepiting itu ke sana. Dengan jahil kugoda jarimu dengan lidahku, dan aku bisa melihat kau sedikit terkesiap dan memandangku dengan setengah mengancam. Lalu kita tertawa lagi bersama.
Sambil menghabiskan mie kepiting khas Aceh itu kau terus bercerita tentang kota ini dan seluruh isinya. Dari situ aku bisa tahu kalau kau begitu mencintai kota yang dijuluki Serambi Mekah ini. Matamu berbinar setiap kali kau bercerita tentang laut dan pantainya, yang membuat aku tahu kalau ternyata kita juga menyukai hal yang sama.
Tak terasa malam semakin larut. Piring dan gelas di depan kita telah menjadi dingin oleh angin, "Kita pulang sekarang yuk?" Ajakmu.
Aku menghela napas panjang, sungguh enggan rasanya beranjak dari sini. Aku benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tempat ini.
Aku mendengar tawamu untuk kesekian kalinya, "Kalau pekerjaanmu selesai lebih awal ingatkan aku untuk membawamu kembali ke tempat ini ya?"
Ada rasa lega saat kau mengatakan itu, dan aku hanya bisa mengangguk saja sambil tersenyum senang.
Setelah membayar semua kau lalu kembali meraih tanganku dan mengajakku ke tempat kau memarkir motormu tadi. Kau menahan tanganku yang hendak melepaskan jacket birumu yang masih melekat di tubuhku, "Kamu pakai aja, anginnya dingin. Aku nggak apa-apa, kamu aja," potongnya saat aku ingin membantah.
•
•
Benar saja, selama perjalanan pulang angin terasa jauh lebih dingin daripada saat kita berangkat tadi. Jalanan yang tadinya ramai mulai sedikit sepi. Hanya sekelompok anak-anak muda saja yang berkumpul di beberapa titik sudut kota.
Aku mengencangkan pelukanku saat aku tahu kalau sebentar lagi aku harus melepaskan genggaman tanganmu saat ini. Malam kita akan segera berakhir.
•
•
"Masuklah, dan jangan lupa minum air hangat biar nggak masuk angin ya?" Pesanmu saat mengantarku di depan pagar rumah.
Aku hanya mengangguk lesu.
"Hei, kenapa?" Tanyamu sambil menyisir rambutku dengan jari-jarimu. Pelan kau mengangkat wajahku agar melihatmu.
Sekali lagi debaran jantung menyekap suaraku saat aku menatap binar jenaka di matamu. Haruskah kukatakan kalau aku tak ingin malam ini berakhir?
Perlahan kau mendekatkan wajahmu, dan aku hanya bisa terpejam dan berpegang pada lenganmu saat satu kecupan lembutmu menyentuh bibirku. Hangat pelukmu menyusul setelahnya.
"Gut nite, Beib... Met istirahat ya?" Bisikmu setelah memberi satu kecupan lagi pada keningku. Lalu kau melangkah mundur dan bersiap lagi dengan motormu.
Aku tersenyum, kali ini tulus tanpa rasa enggan, karena saat itu aku berpikir kalau hanya malam ini yang berakhir, tidak malam-malam atau hari-hari berikutnya.
"Hati-hati di jalan, Sayang," pesanku sebelum lambaian tangan kita menjadi penutup hari.
Aku hanya bisa memandangi punggungmu yang perlahan menjauh dan menghilang ditelan gelapnya malam.
Kau memang tak sempurna, aku juga tak akan mengatakan kalau kau adalah segalanya. Tapi yakinlah pada satu hal, Sayang... Kau adalah satu dari warna indah pelangiku.
G'nite...
Author's Note :
Siapapun yang baca dan mengenal kami, jangan ketawa, pleaseeeeeeee...
awalnya cuma coretan iseng aja yang bermula dari inbox kami berdua duluuuu... duluuu waktu masih itu #tutupin muka.
Ada lanjutannya sih benernya. ceritanya sampe Valentine, tapi aku potong sampe sini aja ya :p
ini file dah terlanjur jadi segini, mau dibuang juga sayang. jadi ya aku simpan di sini ajalah sbg kenangan ( cieeee), lagian aya juga ga marah kok, hehehe thanks Hun #hugs (jangan ketawa kau, janji ya...).
Daaannnn... buat kamu, beruangku sayang... JANGAN PROTES!!! Fotonya udah aku ganti, bener yang ini bukan?