Napasku terengah-engah, peluh mulai membasahi wajah dan leherku. Sejak dari halte bis tadi aku terus berlari kecil di jalan yang berdebu. Panas lumayan terik siang ini.
Tapi aku segera tersenyum, sebentar lagi terik ini akan sedikit berkurang. Kuhela napas lega saat aku mulai melintasi jalan setapak di hutan kecil menuju padang rumput kita, rumah hujan kita. Hutan yang indah, tak rapat oleh pepohonan, tapi cukup sejuk. Setelah melewati hutan kecil ini padang rumput kita akan terbentang di depan sana.
Aku tersenyum saat melewati beberapa tempat, aku ingat kau dulu pernah memilih duduk di akar pohon besar sebelah sana. Kau bilang kakimu sakit oleh sepatu yang terus menempel sejak pagi. Aku hanya tertawa, aku bilang kalau itu alasanmu saja, kau pasti ingin menikmati hijau dedaunan kesukaanmu ini, kan? Tapi aku segera menyesal saat kulihat tumitmu tampak begitu merah, maafkan aku...
Akhirnya dengan sedikit tertatih kau meneruskan jalanmu dengan bertelanjang kaki. Andai aku punya kekuatan lebih, akan kugendong kau di belakang punggungku hingga sampai di rumah kita, aku menyesal.
Tapi kau tetap tersenyum, katamu tak apa, ini tak seberapa. Bahkan jalan tanpa alas kaki terasa lebih nyaman untukmu. Apalagi ada aku yang terus menggamit lenganmu. Ah... kau selalu bisa mengusir gundahku.
Lamunanku terpecah saat kulihat ada seekor burung kecil hinggap di pagaran jalan yang terbuat dari bambu. Dulu aku pernah ingin menangkapnya untukmu, tapi kau larang. Katamu sebaiknya mereka bebas saja, itu jauh lebih baik. Toh setiap hari kita juga bisa menikmati nyanyian mereka yang selalu bertandang ke kebun ilalang kita? Aku kembali tersenyum, rasanya benar-benar tak sabar untuk bertemu denganmu kali ini. Sudahkah kau datang?
Aku mempercepat langkahku, kembali setengah berlari. Untung tasku tak berat, jadi tak terlalu sulit untukku melangkah. Hembusan angin sejuk hutan ini memberikan semangat lebih. Setelah itu angin yang cukup kencang menerpa wajahku, angin padang rumput kita.
Aroma ini mengikat seluruhku, jiwaku, ragaku. Senyumku semakin lebar saat aku sekali lagi melintasi jalan setapak kecil di tengah ilalang yang semakin tinggi ini. Berusaha menjaga keseimbangan tubuhku agar aku tak terjatuh lagi seperti dulu. Masih jelas terekam gelak tawamu saat kakiku terjerembab pada tanah yang basah sehabis hujan dulu. Tapi entah kenapa aku tak bisa kesal, tawamu dan uluran tanganmu memusnahkan semua rasa itu.
Dadaku berdebar semakin kencang, atap rumah kita sudah nampak dari sini. Aku kembali berlari kecil, dan semakin cepat saat pagar kayu kita juga mulai terlihat. Jantungku serasa ingin meledak, bunga lily dan suplirmu sudah melambai padaku, aku rindu, Ay.... sudahkah kau di dalam? Kalau sudah, segeralah sambut aku. Dan kalau belum, aku akan menyiapkan segalanya untuk kepulanganmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar