Selasa, 29 Januari 2013

Miss you, Rain...

Aku tahu kau sibuk, sama... akupun begitu.
Mencoba tenggelam dalam rutinitas yang memabukkan, pasrah walau timbunan dokumen menghimpit.
Mengosongkan isi kepala dari semua masalah maya dan nyata, tapi sama saja.
Masih ada rindu yang terasa, rindu kamu, hujanku...

Menatap kosong pada layar di depan mata
Berharap menemukan sosokmu di sana
Ada... aku tahu kamu ada di sana
Tapi aku tak melihatmu.

Akhirnya hanya memilih diam
Menunggu entah siapa mengusik lamunku
Mencoba berbaur walau hanya hambar
Mencoba tersenyum walau terasa malas dan berat.

I MISS YOU, RAIN...!!! REALLY REALLY MISS YOU!!!!
(Dobrak kantor aya, hancurkan... !!!)


Jumat, 25 Januari 2013

Debaranku

Napasku terengah-engah, peluh mulai membasahi wajah dan leherku. Sejak dari halte bis tadi aku terus berlari kecil di jalan yang berdebu. Panas lumayan terik siang ini. 

Tapi aku segera tersenyum, sebentar lagi terik ini akan sedikit berkurang. Kuhela napas lega saat aku mulai melintasi jalan setapak di hutan kecil menuju padang rumput kita, rumah hujan kita. Hutan yang indah, tak rapat oleh pepohonan, tapi cukup sejuk. Setelah melewati hutan kecil ini padang rumput kita akan terbentang di depan sana. 

Aku tersenyum saat melewati beberapa tempat, aku ingat kau dulu pernah memilih duduk di akar pohon besar sebelah sana. Kau bilang kakimu sakit oleh sepatu yang terus menempel sejak pagi. Aku hanya tertawa, aku bilang kalau itu alasanmu saja, kau pasti ingin menikmati hijau dedaunan kesukaanmu ini, kan? Tapi aku segera menyesal saat kulihat tumitmu tampak begitu merah, maafkan aku...
Akhirnya dengan sedikit tertatih kau meneruskan jalanmu dengan bertelanjang kaki. Andai aku punya kekuatan lebih, akan kugendong kau di belakang punggungku hingga sampai di rumah kita, aku menyesal. 
Tapi kau tetap tersenyum, katamu tak apa, ini tak seberapa. Bahkan jalan tanpa alas kaki terasa lebih nyaman untukmu. Apalagi ada aku yang terus menggamit lenganmu. Ah... kau selalu bisa mengusir gundahku.

Lamunanku terpecah saat kulihat ada seekor burung kecil hinggap di pagaran jalan yang terbuat dari bambu. Dulu aku pernah ingin menangkapnya untukmu, tapi kau larang. Katamu sebaiknya mereka bebas saja, itu jauh lebih baik. Toh setiap hari kita juga bisa menikmati nyanyian mereka yang selalu bertandang ke kebun ilalang kita? Aku kembali tersenyum, rasanya benar-benar tak sabar untuk bertemu denganmu kali ini. Sudahkah kau datang?

Aku mempercepat langkahku, kembali setengah berlari. Untung tasku tak berat, jadi tak terlalu sulit untukku melangkah. Hembusan angin sejuk hutan ini memberikan semangat lebih. Setelah itu angin yang cukup kencang menerpa wajahku, angin padang rumput kita.

Aroma ini mengikat seluruhku, jiwaku, ragaku. Senyumku semakin lebar saat aku sekali lagi melintasi jalan setapak kecil di tengah ilalang yang semakin tinggi ini. Berusaha menjaga keseimbangan tubuhku agar aku tak terjatuh lagi seperti dulu. Masih jelas terekam gelak tawamu saat kakiku terjerembab pada tanah yang basah sehabis hujan dulu. Tapi entah kenapa aku tak bisa kesal, tawamu dan uluran tanganmu memusnahkan semua rasa itu.

Dadaku berdebar semakin kencang, atap rumah kita sudah nampak dari sini. Aku kembali berlari kecil, dan semakin cepat saat pagar kayu kita juga mulai terlihat. Jantungku serasa ingin meledak, bunga lily dan suplirmu sudah melambai padaku, aku rindu, Ay.... sudahkah kau di dalam? Kalau sudah, segeralah sambut aku. Dan kalau belum, aku akan menyiapkan segalanya untuk kepulanganmu.


Rabu, 23 Januari 2013

Maaf, Aku Terlambat (By. Aya)

Maaf, aku terlambat. Aku baru membaca pesan singkat darimu. Ada pekerjaan tambahan yang harus kulakukan, hingga tak bisa pulang ke rumah kita pada waktu yang telah kita sepakati sebelumnya. Lagi-lagi aku minta maaf.

Pekerjaanku baru berakhir 5 menit yang lalu. Aku langsung berlari kecil menuju halte. Tapi kenyataannya aku ketinggalan bis, hingga terpaksa harus menunggu bis berikutnya lewat. Tak apalah, menunggu 30 menit lagi. Walau akan sangat terlambat, aku tetap akan pulang. Aku merindukan suasana rumah kita.
 
Bis akhirnya muncul. Aku berdesakan naik dengaa calon penumpang yang lain. Tubuh kecilku bagaikan sehelai daun kering yang dipermainkan angin. Tapi aku tetap tersenyum menanggapinya. Kerinduanku padamu dan rumah kita mampu meredam emosiku.

Akhirnya aku sampai pada tempat pemberhentian. Berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju rumah kita. Kau mungkin sudah tertidur di teras belakang menunggu kepulanganku. Lain kali, kita duplikat satu lagi kunci, lalu kita simpan di dekat pot suplir samping tangga. Agar kalau salah satu dari kita ketinggalan kuncinya, kita tak perlu repot seperti ini. Iya, kan?

Ah, ladang ilalang memanja mataku setiap kali aku melewatinya. Memutar jalan menuju teras belakang. Kau mungkin satu-satunya orang yang tak menganggap aneh kebiasaanku mengagumi ilalang. Malah kau hanya tersenyum ketika aku menjadikan lahan sisa di samping rumah kita ini sebagai ladang ilalangku. Adakah perempuan waras yang memilih menanam ilalang yag selalu dianggap tanaman pengganggu? Mungkin hanya aku, separuhmu.

Tapi aku puas ketika akhirnya kau mengakui keindahan ladang ilalangku. Terlebih ketika akhirnya banyak burung kecil yang singgah di batang-batangnya. Bahkan kupu-kupu dan capung kadang juga suka terbang rendah di antara helaiannya. Kau bahkan sempat terpana ketika menyaksikan butiran-butiran hujan memahkotai ladang ilalangku. Hahaha, kegilaan yang tak sia-sia, bukan?

Eh, benarkan dugaanku? Kau tertidur di kursi kayu. Gurat lelah tersirat di wajahmu. Aku tak tega untuk membangunkanmu. Lebih baik kubiarkan saja kau tertidur sebentar lagi. Aku akan mengambil selimut, agar terpaan angin tak membuat tubuhmu menggigil.

Perlahan aku mengeluarkan kunci dari tasku, dan memasukkannya ke lubang kunci. Sepelan mungkin kuputar gagang pintu, agar deritnya tak mengganggu tidurmu. Kubuatkan teh hangat dulu ya, sebagai teman kue kering yang kubuat kemarin.

Istirahatlah. Karena di sini, di rumah kita ini, adalah satu-satunya pilihan kita untuk kembali. Melebur lelah, menyamarkan airmata, berbagi kisah. Hanya kau dan aku. Kita. 
 
 
 

Renungan Senja

Kali ini aku hanya terdiam di dermaga kecil tepi danau
yang terletak tak jauh dari halaman belakang rumah hujan kita.
Memandangi senja yang perlahan jingga-nya seakan tenggelam di kota sebelah.
Memandangi capung-capung kecil yang siap pulang ke peraduannya.
Memandangi bias bulan yang mulai nampak separuh wajah.

Mungkin lelahku terlalu berat kali ini.
Mungkin gelapku telah menjadi begitu pekat.
Ada asa yang nyaris terputus semalam, saat aku merasa begitu enggan melangkahkan kakiku lagi,
pada jalan kehidupan yang telah kupilih.

Pulang ke "Rumah Kemarau" dengan gontai...
Senyum seakan layu saat tak ada sambutan "Selamat datang"
Hanya miris yang terasa saat melihat semua telah terlelap
Sepertinya tak pulang pun tak berarti apa-apa.

Menenggak entah berapa obat flu,
berharap kantuk segera datang dan akupun segera terlelap.
Aku tak ingin memikirkan apapun lagi,
saat ruang hampa di dalam otak telah terisi ribuan penghuni.

Saat terjaga, bahkan mimpi pun tak mampu kuingat.

Tapi sapamu, Ay...
Juga senyum yang kau kirim dari jauh, membuatku hangat.
Dan aku mulai merasa kalau semua akan baik-baik saja.

Kau, separuhku...
Terima kasih untuk cintamu.
I LOVE YOU TOO, ALWAYS... :)


Agak bingung juga, ini sebenarnya gambar senja atau fajar? *plaaaak

Selasa, 22 Januari 2013

Pagi Untukmu ( By. Aya )

Suara itu…                                                                                                                                                    
Bukankah itu adalah suara kelintingan besi yang kita pasang di teras belakang? Terdengar begitu sayup, bak rintihan peri. Mengapa terasa lain di telingaku? Mungkinkah kali ini bunyinya sebagai isyarat agar aku terjaga lebih dahulu, dan memberikan kejutan untukmu? Mungkin saja.

Kulirik jam dinding yang berada tepat di depanku. Hemmm, tepat jam 4 pagi. Apa kau sudah bangun mendahuluiku, seperti biasanya? Bukankah tadi malam kau pulang begitu larut, karena meeting dadakanmu itu? Ada baiknya aku memastikannya nanti, setelah membereskan tempat tidurku. Hahaha, kau pasti menertawaiku jika kau lihat betapa kacaunya kondisi ranjangku ini. Guling yang berserakan di lantai, selimut yang entah bagaimana caranya bisa berada di kolong kasur. Pantas saja kau memilih kita berpisah kamar.

Nah, aku sudah selesai membereskan tempat tidurku yang kalau dilihat sepintas tadi bagaikan terkena badai. Saatnya untuk melihat ke kamarmu. Pintu kamarmu masih tertutup rapat. Itu artinya kau belum bangun. Tidak apa-apa, hari ini aku yang akan mengambil alih semua tugas rumah. Kau beristirahatlah lagi. Nanti jika semua telah selesai, aku akan membangunkanmu.

Dari mana aku harus memulai? Membuat sarapan, menyapu lantai, mencuci pakaian, mencuci piring, atau apa? Biar kupikirkan sejenak. Karena hari masih terlalu pagi, sebaiknya aku memulainya dengan merendam pakaian. Untunglah sebelum kau pulang tadi malam, aku sudah memasukkan semua pakaian kotor ke keranjang di tempat biasanya. Jadi aku tak perlu menyelinap ke kamarmu, dan mengganggu tidurmu. Well, merendam pakaian, sudah. Waktunya untuk menyapu lantai.

Syukurlah rumah kita tidak terlalu besar. Bisa patah juga tulang punggungku kalau terus-terusan menyapu lantainya. Kau kan tahu, aku paling benci menyapu. Hehehe. 

Gerah sekali rasanya. Aku sudah berkeringat. Aku ke teras belakang dulu ya, mau mendinginkan tubuhku dengan hembusan angin pagi. Dimana-mana masih gelap, Wa. Sunyi pula. Tapi aku menyukai sunyi yang seperti ini. Membuatku lebih tenang. Juga membuatku lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang ingin kulakukan.

Sepertinya sudah cukup aku mendinginkan tubuh. Waktunya membuat sarapan. Apa bahan makanan yang masih tersisa di kulkas kita? Aku belum sempat belanja kemarin. Coba kulihat. Telur, sedikit daging sapi, bawang daun, tomat. Tak apalah, biar kujadikan omelet daging sapi saja. Itukan kesukaanmu. Walau bahannya kurang, tapi kurasa rasanya akan tetap enak, sebab aku membuatnya untukmu dengan segenap hatiku.

Semoga aku tak terlalu membuat keributan di dapur. Takut akan mengusik tidur dan mimpi indahmu. Betapa aku selalu suka berada di dapur ini, satu-satunya bagian rumah yang menjadi kekuasaan mutlakku. Dari sini aku selalu mendapatkan ide untuk tulisan-tulisanku. Pemikiranku. Bahkan, dengan hanya melihat air yang mengucur dari keran di bak pencucian piring, aku bisa mengembangkan imajinasiku kemana-mana. Karena itu aku selalu berusaha mengindahkan dapur ini. Bunga Lily yang kau petik kemarin masih tetap segar di dalam jambangan yang kuletakkan di sudutnya.

Omelet daging sapi sudah siap. Aku  juga sudah merebus air. Nanti saja kubuatkan teh hangat untuk kita. Aku mau mencuci pakaian dulu. Cuma sedikit, jadi aku masih semangat. Hahaha, duduk sambil mengucek pakaian, aku seperti Upik Abu. 

Taraaa…. Waktunya membilas dan  menjemurnya. Walau masih gelap, tapi lentera yang tergantung di setiap sudut rumah kita mampu memberikan penerangan yang lumayan. Sinar bulannya juga masih ada. Iiih, dingin sekali. Kaki telanjangku menginjak rumput yang berhiaskan embun. Tak butuh waktu lama, kegiatan menjemur pakaianku akhirnya selesai. Aku cuci piring dulu yaaa?

Setelah ini, apalagi yang mau kulakukan? Permukaan bumi sudah mulai terang. Ayam tetangga juga sudah mulai bersahutan. Lebih baik aku memberi maka sepasang ikan Mas Koki kita, baru menyiram tanaman, membuatkan seteko teh hangat, baru membangunkanmu. 

Suplirku semakin subur, Wa. Juga bunga Lilyku. Bunganya bertambah. Wanginya menyebar ke seluruh ruangan. Bahkan ladang ilalangku kini penuh bunga. Putih. Indah seperti kapas. Eh, aku keasyikan mengagumi keindahan pagi hingga lupa membangunkanmu.

Ayo bangun, Waaa. Lihat, sinar matahari sudah muncul. Bergegaslah mandi, lalu sarapan. Aku kan masuk lebih siang darimu. Kau lihat saja kejutan yang kuberikan untukmu.

“Selamat menikmati omelet daging sapimu, Separuhku.
Tetaplah tersenyum. Tangisanmu kau tampakkan padaku saja, tapi itu nanti. Kalau hujan menyapa rumah kita. I love you. Always.”


 

Sabtu, 19 Januari 2013

Cepatlah Datang...

Ahaha... Rindunyaaaa....
Selamat pagi rumah hujanku tercinta, maaf aku baru pulang sekarang. Apa aya-ku sudah datang?
Belum?
Ah... kemana dia? apa tersesat? Tak mungkin, dengan memejamkan matapun dia akan tau arah pulang ke tempat ini. Kucoba menunggu dia di dalam saja sambil membersihkan apa-apa yang perlu dibersihkan. Aiiiish.... kunciku tertinggal di kantor, bodohnyaaaa!!!

Huuuft... aku di luar saja, sebentar lagi dia pasti sampai.

mataku menyapu halaman depan yang penuh dengan lily dan suplir. mereka tetap mekar dengan cantiknya, tak layu karena hujan masih memberi mereka kekuatan untuk hidup. aku berjalan di antara mereka yang tengah menari dengan lembut oleh desiran angin padang rumput. Liukannya begitu menggoda mata. Aku tersenyum. Kusentuh mereka dengan jemariku, aah... sepertinya mereka merindukanmu, Ay... mereka rindu senandung kecilmu saat kau merawat dan menyirami mereka setiap pagi.

Aku berjalan sedikit memutar ke samping, menatap kolam kecil yang terisi sepasang ikan. Akupun duduk di batu sungai yang mengelilingi pinggirnya. Lihat, Ay... mereka langsung berenang menghampiriku!!! kalian merindukanku? Baiklah, akan kuberi makan yang banyak setelah ini, walau aku sempat terkejut melihat kalian masih hidup setelah kami hampir lama tak pulang :p

Aku berdiri meninggalkan mereka yang sepertinya masih rindu, tapi aku pasti kembali nanti, tunggu ya? Kuhampiri halaman belakang rumah hujan kita, ilalang di sana semakin tinggi, tapi tak lebih tinggi dari tubuh-tubuh kita. Cantik, Ay...
Mereka menari dengan lincahnya, bersama burung-burung kecil dan kupu-kupu yang hinggap pada tangkai-tangkainya. Kelintingan besi dan kincir angin kertas kita seakan mengiringi pertunjukan terhebat yang hanya menjadi milik kita ini. Hhhhh.... Rindu...

Anginnya begitu sejuk, aku memilih duduk di kursi kayu kita sambil menikmati apa yang disajikan alam untuk memanja mataku yang letih dan kepalaku yang penat. Tak ada tempat seindah ini, Ay... tempat yang kita ciptakan berdua.
Hanya ada kau... dan aku, kita...
Seperti katamu, kemana lagi tempatku pulang?
Biarkan aku tertidur sejenak, setelah lama aku berlari dan tak berhenti. Cepatlah datang...


Senin, 07 Januari 2013

Note Pendek 2

Duduk sendiri di anak tangga kayu di teras belakang rumah hujan kita, sembari menikmati senja yang berselimut mendung, seperti ada sebuah rasa yang ganjil, rindu yang aneh.

Ilalangmu menari, Ay... cantik sekali.

Kusandarkan kepalaku pada tiang kayu, memeluk lenganku sendiri, dingin. Angin sore ini terasa menusuk tulang. Akupun malas membuat coklat panas untuk menghangatkan tubuhku.
Aku hanya ingin duduk diam di sini, sembari menunggumu pulang.


Sabtu, 05 Januari 2013

Pagi Kita

Uwaaaaaaaah... mataharinya hangat. Bangun, Rain... banyak yang harus kita kerjakan pagi ini. Kita bagi tugas, ya? Sebelum jam kerja berbunyi semua ini harus selesai, bisa?

Oke, aku akan mencuci dan menjemur pakaian kotor kita, juga membersihkan lantai dan perabot. Sedangkan kau, masak. Hahaha aku parah di dapur, jadi membuat makanan menjadi bagianmu, ya? Juga menyiram semua bunga lily dan suplir di halaman. Adil, kan?

Aku mulai ya? Mmmmh... Berapa kali kau berganti pakaian dalam sehari? Satu keranjang penuh, tiga perempatnya milikmu semua, aiiish... kau boros sekali, eiits.. jangan pukul aku, atau aku akan menyirammu dengan air dingin ini. Tugasmu di dapur, syuuh syuuh. Baiklah, aku habisi semua dalam sekejap, "Jangan lupa teh hangat ku, ya? Aku tak minum coklat saat pagi!"

Hei, baunya harum, apa yang kau masak untuk sarapan kita. Oh tidak, perutku mulai tak kompak. Coba aku intip sebentar. Oh, oke... aku tak akan mendekat, jangan acungkan pisau itu padaku, kau sadis pagi ini.
Saatnya menjemur, lumayan berat keranjang bajunya, tapi aku sanggup. "Rain...!!! Anginnya kencang, bisa bantu aku? Kalau tidak pakaian dan sprei yang baru aku cuci jatuh semua dan aku akan kerja lagi dua kali, please...!!!"
Kau pegang erat ujung sprei putih di sebelah sana ya? ya seperti itu, dan kita lempar bersamaan ke atas. Awas rambutmu, jangan sampai tersangkut. Hei, mau kemana? Sekalian saja kau bantu aku jemur yang lainnya, hehehe tak usah cemberut, lihat pipimu... jadi chubby begitu.
Kenapa kau diam saja? aiih... Lagi-lagi tarian ilalang menggoda pandangmu. Baiklah, kau duduk saja dan nikmati pertunjukan terhebat di padang rumput kita. Bernyanyilah, maka pagi ini akan menjadi sempurna untukku, untuk kita.

Sudah selesai, Ayo kubantu kau menyiram bunga, sembari memberi makan sepasang ikan di kolam kecil kita. Kau bertelanjang kaki? Baiklah, aku pun tak takut kotor. Aku ambil makanan ikan di belakang dulu, ya? 
Ah... aku iri dengan lily itu. Bagaimana tak iri jika aku melihatmu tersenyum begitu manis saat menyiraminya? Bahkan senandung kecil dari bibirmu mengiringi tariannya yang tertiup angin. Tapi aku suka, asal kau tersenyum... aku suka.
Rain, lihat... ikannya rakus sekali. Mereka berebut makanan yang kusebarkan di kolam, lucunya!!! Awas jangan terlalu dekat, aku tak mau tempat mandimu berpindah. Hahaha oke, jangan melotot, binarmu tak pantas untuk marah.

Dan kita melupakan satu hal, aku belum membersihkan lantai juga perabot, bisa kuganti nanti sore? Toh lantainya juga tak begitu kotor. Pleaseee... aku lapar. Ah kau memang bidadari terbaik yang aku miliki. Kita sarapan dulu, mmmh omelet daging sapi kesukaanku. Thanks, Rain... cepat kita habiskan, lalu mandi dan pergi bekerja. tak sabar rasanya berlomba denganmu untuk pulang lagi ke rumah ini saat senja hampir tiba.

Tetaplah tersenyum, Rain... :)