Rabu, 17 Desember 2014

Salju Di Bulan Terakhir



Dengan hati-hati aku berjalan pada tumpukan salju yang menutupi aspal. Dinginnya udara pertengahan Desember ini membekukan napas hingga berupa asap putih. Kueratkan syal biruku di leher agar suhu  minimum ini tak membuatku semakin menggigil, begitupun dengan hoodie jaket hitamku yang kukenakan untuk menutupi kepala agar tak basah oleh salju yang masih turun perlahan.

Terlalu penat hari ini, baru semalam aku tiba di kota London yang mendapat julukan Big Smoke ini karena tugas kantor yang diberikan oleh perusahaan tempatku bekerja di Jerman selama tiga hari, rasanya masih jet lag. Tapi karena kehidupan di Jerman dan London tidak jauh berbeda mulai dari aktivitas masyarakatnya hingga kesibukan jalanan di kotanya jadi aku tak terlalu rikuh, begitupun saat menyesuaikan diri pada  musim dingin di bulan terakhir tahun 2014 ini.

Kupercepat langkahku menuju hotel tempatku tinggal sampai dua hari ke depan. Aku ingin berendam di bathtube yang berisi air hangat dan meregangkan otot-ototku yang terasa begitu kaku.
Sebenarnya banyak yang ingin aku lakukan di negara ini, salah satunya mengunjungi peron 9 3/4 di stasiun King's Cross yang kukenal baik dari serial Harry Potter kesukaanku dan Aya, separuhku yang kemarin sempat merajuk karena harus kutinggalkan beberapa hari. Haha... dan aku sudah merindukannya saat ini.

Besok aku akan mempercepat pekerjaanku. Aku akan mengunjungi beberapa tempat seperti, British Museum yang merupakan museum tertua di dunia, kemudian ke menara jam terbesar nomer dua di dunia yang terkenal dengan julukan Big Ben, lalu naik London Eye atau kincir angin raksasa dan menikmati kota London dari ketinggian 135 meter. Setelah itu aku akan ke sebuah tempat yang desain arsitekturnya adalah tipe yang sangat disukai olehku dan Aya, sebuah gereja bergaya gothic yang bernama Westminster Abbey.
Sebenarnya aku ingin datang ke tempat itu bersama Aya, dia pasti suka. Ahaa... akan aku agendakan tahun depan, berlibur berdua dengannya ke negara ini.

Mataku menatap langit musim dingin, tak kulihat jingga saat senja tiba, hanya putih. Ah jingga... warna yang selalu ditawarkan oleh masa lalu, dimana senja selalu menjadi hadiah terindah setiap kali petang hendak menyapa.

"AWAS!!!"

Teriakan seseorang mengejutkanku bersamaan dengan tubuhku yang terhempas ke belakang dan menabrak keras tubuh orang yang mungkin tengah menarik tanganku ini. Jantungku berdebar saat sebuah mobil melaju dengan sangat kencang di depanku, ternyata aku asik melamun sejak tadi dan tak menyadari bahaya yang hampir membuatku celaka karena tak melihat lampu untuk pejalan kaki saat akan menyeberang.

"Hampir saja."

Suara orang di belakangku yang masih mencengkeram erat lenganku itu terdengar lega. Di antara rasa terkejutku aku sedikit heran saat mengenali bahasa yang digunakan pria itu, bahasa yang berasal dari negara tempatku lahir sebelum aku bertolak ke Jerman. Dan suara itu... begitu familiar di telingaku, 'Tak mungkin', kataku dalam hati..

"Are you ok?"

Kali ini pria itu menggunakan bahasa Inggris, "I'm ok, thank you," jawabku dengan suara sedikit bergetar. Bisa kurasakan jari-jari di lenganku itu sedikit menegang.
Dengan sopan aku menarik lenganku dari cengkeramannya dan membalikkan tubuhku agar bisa melihat siapa pria yang telah menolongku itu, juga memastikan rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi otakku. Penasaran pada bahasa yang dia gunakan sebelumnya, juga oleh suaranya yang begitu kukenal. Betulkah tebakanku?

Saat aku berbalik hoodie yang menutupi kepalaku terjatuh ke punggung. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kacamata hitamnya tampak tercekat. Perlahan pria itu melepas kacamata hitamnya dan mata bulatku bertemu dengan sepasang manik hitam yang menatapku dengan terkejut, "Via," desisnya seakan tak percaya.

Hampir saja aku terjatuh lagi saat tanpa sadar aku mundur selangkah dan menabrak tubuh seseorang, tapi tangan pria di depanku itu kembali sigap menarikku yang entah kenapa rasanya begitu lemas saat mengetahui siapa yang kuhadapi sekarang, seseorang yang menorehkan sebuah kisah yang begitu ingin kuhapus dari ingatan.

"Via?" panggilnya lagi masih dengan nada bingung.

Aku mencoba mengendalikan hatiku dan tersenyum. Kulepas tangannya yang masih menahan lenganku, "Hai," jawabku dengan nada yang tak kalah bingungnya karena bertemu dia di sini, di sebuah negara yang begitu jauh dari tempat asal kami.

"B-bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanyanya heran, "Bukankah... bukankah kamu seharusnya ada di Jerman?"

Aku mengangguk pelan, "Ya. Aku di sini hanya karena ada tugas dari kantor," jawabku. "Kamu sendiri kenapa bisa ada di sini?" balasku.

Pria itu menatapku dengan begitu lekatnya, lurus pada mataku, dan itu membuatku sejenak mematung. Aku tahu ada rindu di sana, tapi aku bisa apa? Kami bisa apa?

"Rain?" panggilku, dan saat itu juga ada nyeri merambati dadaku. Baru empat bulan aku tak menyebut namanya, tapi rasanya sudah berabad-abad. Hanya menyebut namanya, dan aku merasa mataku memanas, entah oleh kenang atau oleh rindu.
Bukan... itu bukan namanya, itu sebutan yang kuberikan untuknya. Aku bahkan nyaris tak pernah memanggil nama aslinya sejak kami bersama.

Pria dengan alis mata tebal dan jambang tipis di pipinya itu sedikit terkesiap mendengar panggilanku, lalu tersenyum lebar, 'Tuhan... sungguh aku merindukannya', bisikku dalam hati.
"Aku juga ada tugas dari kantor," jawabnya sambil menggiring tubuhku agak menepi karena ternyata sejak tadi kami masih berada di tengah jalan, di antara lalu lalang orang-orang yang berjalan cepat.
Dengan lembut tangannya menyingkirkan butiran salju dari rambut hitam panjangku. Kehangatan dari jari-jarinya mengalir ke dada. Tapi entah kenapa rasanya justru sakit dan itu membuatku tanpa sadar menghindar. Aku bisa melihat keterkejutan di matanya, lalu kecewa, lalu sedih, mungkin.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kubicarakan dengannya, kembali kukenakan hoodie-ku, kali ini bukan hanya untuk menutupi kepalaku, tapi juga wajahku. Aku tak ingin dia membaca binar rindu yang pasti jelas terlihat di mataku, "A-aku harus kembali ke hotel, di sini dingin sekali," elakku sambil melambaikan tangan padanya. Tapi lenganku kembali ditahan dan aku tak mungkin meronta, ini tempat umum, aku tak ingin menjadi pusat perhatian, karena itu aku mengurungkan langkahku.

"Vi... bukankah sebuah keajaiban kita bisa bertemu di sini? Kenapa tak berbincang sebentar sambil menikmati secangkir kopi dan coklat panas di cafe itu?" pintanya sambil menunjuk sebuah cafe kecil di sudut jalan yang mulai tampak temaram oleh senja.
"Please," mohonnya lagi dengan senyum tersungging dari bibir tipisnya yang selalu mampu membuatku mabuk.

Aku segera menunduk untuk menghindari tatapan tajamnya, juga membuang bayangan yang mulai meracuni otakku.

"Via?"

Aku mendongak dan memasang senyum yang aku tak peduli bagaimana bentuknya, "Maaf, aku tak bisa, aku harus segera kembali untuk menyelesaikan semua pekerjaanku," tolakku.

"Via... aku..." kata-katanya terputus oleh telpon genggamnya yang berbunyi nyaring. Pria jangkung itu menatapku dengan sorot mata yang tampak rikuh setelah membaca tulisan yang tertera pada layar ponselnya. Dengan sedikit bingung dia menekan tombol hijau pada benda kecil berwarna hitam itu, "Ya, sayang?" sapanya yang tanpa bertanya aku sudah tahu itu panggilan dari siapa.

Pelan kusingkirkan tangannya yang masih menahan lenganku, dia ingin protes tapi tak mampu karena telpon genggam yang masih menyala dan menempel di telinganya. Kulafalkan kata 'Bye' tanpa suara padanya sambil melambaikan tangan dan berlalu secepatnya dari tempat itu. Tak akan kubiarkan dia mengejarku.


Lelah... itu yang kurasakan sekarang, pada tubuh juga hatiku. Dan berendam dengan air hangat di dalam bathtube kurasa adalah pilihan yang bijak.
Kuraih telpon genggam yang kuletakkan di meja kecil di sampingku. Aku tahu kalau tak mungkin ada pesan atau apapun di sana dari pria yang baru saja kutemui tadi setelah empat bulan kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya, karena aku sudah mengganti nomer telponku dengan yang baru. Tapi entah kenapa aku merasa akan ada pesan yang tertinggal pada salah satu media sosial milikku, dan benar saja. Saat aku membuka akun facebook aku menemukan sebuah pemberitahuan pada folder pesan lainnya, folder untuk menerima pesan dari mereka yang tidak berteman dengan akunku. Dia menggunakan akun yang berbeda, tapi aku tahu itu adalah dia jika melihat foto senja yang terpasang sebagai foto profilnya.

Dengan ragu kubuka pesan itu dan membaca baitan hurufnya dengan berdebar. 'Kamu tinggal dimana? Banyak yang ingin aku ceritakan, Via... kenapa kamu menghindar? Banyak senja yang ingin kubagi denganmu, bukankah kamu mencintai senja? Empat bulan ini aku mengumpulkannya sendiri, tanpa kamu. Temui aku di cafe ujung jalan tadi, aku tunggu sampai kamu datang.'

Aku menghela napas panjang setelah meletakkan telpon selulerku tanpa membalas pesannya. 'Masih saja egois', gerutuku dalam hati.
Kunyamankan tubuhku pada sandaran bathtube panjang ini sembari membaca lembaran kenang yang terbuka kembali karena kehadirannya tadi.

Lelaki itu, entah berapa banyak senja yang telah dia kirimkan padaku. Lelaki yang selalu mampu menghidupkan sebuah gambar melalui lensa kameranya. Kecintaan kami pada laut dan pantai membuat dia, dan aku, mengumpulkan semua senja yang didapatnya dari bibir samudera.
Dia begitu membenci hujan, bertolak belakang denganku yang sangat senang menarikan aksaraku di bawah rinainya. Pernah suatu ketika aku meminta foto hujan padanya. Tolakan kerasnya membuatku sedih dan kecewa. Tapi tak lama foto hujan sudah hadir di hadapanku melalui beranda sosial mediaku. Memang tak begitu indah seperti foto-foto senjanya, tapi aku menghargai usahanya walau aku tahu dia menggerutu kesal di belakangku. Itulah alasan kenapa aku memanggilnya Rain, aku suka menggodanya yang selalu cemberut setiap kali aku bercerita tentang hujan.
Dia sangat menyukai kopi, sementara aku tak bisa meminum cairan hitam dan pahit itu karena lambungku. Dan akhirnya cappuchino atau jus buah selalu menjadi pilihannya saat sedang bersamaku.
Tubuhnya yang dipenuhi banyak bulu membuatku juga memanggilnya beruang. Kusesuaikan dengan moodnya yang sering meledak-ledak.
Dia keras kepala dan mudah emosi. Suasana hatinya begitu gampang berubah, dan cepat bosan. Di antara begitu banyak orang di sekitarnya, hanya aku yang mampu meredakan amarahnya. Hanya aku yang tak pernah ditinggalkannya... ataupun meninggalkannya. Berkali-kali aku ingin lepas darinya karena lelah oleh sikapnya, lelah berada di balik bayangan, juga lelah merasakan sakit juga rasa bersalah yang begitu besar. Tapi dia selalu menolak, dia selalu menahanku. Dan karena aku begitu peduli padanya maka akupun selalu kembali dan memeluknya yang tampak sedih karena keputusanku.
Dia egois, sangat egois dan semaunya sendiri. Pria yang tak suka ditolak apapun permintaannya. Tapi selalu mengalah saat melihat airmataku. Seperti di ujung siang itu, saat senja hampir tiba.

 Aku menghela napas panjang. Percakapan kami saat itu masih terekam jelas di otakku.

"Kita harus usai, sekarang juga," putusku saat kami hanya berdua di pinggir danau ketika senja mulai membuka tirainya.

Dia tampak terkejut, "Kenapa?" tanyanya sambil menatapku yang menunduk.

Aku mencoba tersenyum di antara risauku, "Tak sadar kah jika kita sudah semakin jauh melangkah? Bukankah ada batasan yang tak boleh aku lewati?"

"Lalu?" tanyanya bingung.

Aku menggeleng pelan, "Aku takut tak bisa lagi membentengi hatiku. Aku takut tak mampu lagi menahan laju perasaanku dan merusak apa yang selama ini telah kita jaga dengan baik."

"Tapi bukankah selama ini semuanya baik-baik saja? Kita tak melakukan apa-apa, kita hanya berbagi cerita, berbagi tawa, juga senja. Apanya yang salah? Vi, kamu jangan bicara yang aneh-aneh, kita akan tetap bersama dan semuanya akan baik-baik saja..."

"Aku yang merasa tak baik!" potongku dan membungkamnya yang terus bicara. "Aku yang merasa tak baik," ulangku, "Aku terus dan semakin merasa bersalah padanya, kamu tahu?" kataku dengan suara gemetar menahan tangis.

Pria itu menatapku dengan pandangan kosong saat airmata mulai tumpah dari sepasang manik coklat tuaku.

"Kamu memang baik-baik saja, dia juga mungkin baik-baik saja karena dia tak tahu apa-apa. Sementara aku? Akan sampai kapan rasa bersalah ini terus memelukku? Aku menyayangi kamu? Ya! Sangat! Tapi aku bisa apa?" jelasku di antara isak. 

Pria itu masih terdiam. Hanya suara angin yang terdengar halus. "Bukankah kamu pernah berjanji akan selalu ada untukku? Itu janjimu, Vi," bisiknya.

Aku memejamkan mata dan mengangguk pelan, kunikmati rajaman luka yang mulai menggores hatiku, "Ya, itu janjiku. Dan maaf jika terpaksa aku harus mengingkarinya," jawabku.

Pria keras kepala itu kembali diam. Pandangannya menatap lurus ke tengah danau, entah apa yang dia cari di sana.

"Kali ini saja... pikirkan aku," pintaku lemah.
 
Dia mendesah sembari mengusap wajahnya yang pias. Dia kembali menatapku, "Inikah keputusanmu?" tanyanya dengan suara parau sambil mengangkat daguku, memintaku untuk membalas tatapannya. Ibu jarinya mengusap lembut airmata yang masih turun di pipiku.

Kutatap matanya yang tajam, yang memandangku lurus dan dalam. Ada kesedihan di sana, aku tahu. Tapi kutelan semua rasa sakit dan perih yang kami rasakan saat ini. Aku harus mengembalikan dia pada hati yang semestinya. Dan itu bukan aku.
Kugenggam tangannya yang masih mengusap pipiku, kucium lembut buku-buku jarinya sambil mengangguk tegas, "Ya," jawabku. 

Kembali kami terdiam dengan tangannya masih berada dalam genggamanku. Jingga mulai terlihat di langit barat, biasnya memantul indah pada permukaan danau yang bening. Dan suara sunyi mulai melantunkan seribu puisi dalam hening.

"Apa kau akan bahagia saat nanti tak ada lagi aku?" tanyanya pelan sambil mengusap lembut jari-jariku.

Mataku yang sudah kering kembali memanas, aku tertawa di antara pedihku. Aku tahu dia pun merasakan hal yang sama, tapi kami akan mencoba berdamai dengan luka. 
"Ya, aku akan bahagia. Aku berjanji," jawabku sambil menatapnya.

Pria itu mencium tanganku dengan dalam, "Kuharap ini adalah janji yang kelak tak akan pernah lagi kau ingkari, Via," bisiknya dengan senyum.

Aku membalas senyumnya di antara airmata yang kembali turun, "Maukah menjanjikan hal yang sama untukku?" balasku.

Lelaki dengan senyum sehangat matahari itu menyibak rambut yang menutupi sisi wajahku, lalu menangkup wajah ovalku dengan kedua tangannya, "I promise," jawabnya.

Dan senja hari itu adalah senja terakhir yang kami nikmati berdua.





Aku menghabiskan hari kedua sekaligus hari terakhir ku di negara Pangeran William ini dengan mewujudkan keinginanku kemarin. Sejak sore tadi aku tak henti berputar-putar kota, dan tanpa terasa hari semakin gelap. Tinggal satu tempat lagi yang belum kudatangi, gereja tua dengan gaya gothic-nya yang indah. 'Besok saja lah, bukankah aku masih punya waktu hingga sore hari sebelum kembali ke Jerman?' putusku dalam hati lalu melangkah cepat menuju hotel tempatku menginap.

Langkahku terhenti saat kulihat pria yang membuatku nyaris tak tidur semalaman itu duduk di teras Coffee Shop yang terletak di ujung jalan tempat kami bertemu kemarin. Dia duduk pada sebuah meja dengan dua kursi yang diletakkan di luar kedai sambil kepalanya tak henti menoleh ke segala penjuru. Dia tampak gusar dan mengabaikan kopi yang tersaji di depannya. 'Siapa yang dia tunggu? Aku kah? Apakah dia berharap akan bertemu denganku lagi jika dia berada di jalan ini?' tanyaku dalam hati. Aku tersenyum tipis, jujur ada rasa bahagia juga rindu yang teramat sangat saat ini, tapi segera kutepis keinginanku untuk mendatanginya, 'Tidak, Via... tidak lagi. Atau kau akan kembali terjebak oleh perasaanmu sendiri', cegahku dalam hati. Dengan segera aku membalikkan tubuhku dan mencari jalan memutar. Tak apa sedikit jauh, tak apa sedikit pedih, setidaknya aku tak membuat luka baru karena keputusanku sendiri.



Hampir tengah hari, tapi cuaca semakin dingin oleh salju yg turun perlahan. Kali ini kubiarkan hoodie jaketku tak terpasang di kepala agar tak mengganggu pandanganku yang tengah mengagumi bangunan tua yang begitu bersejarah di depanku, Westminster Abbey yang memiliki nama asli Collegiate Church St. Peter, gereja tua bergaya gothic yang menjadi tujuan utamaku di negara ini.

Setelah menjelajahi bagian dalamnya yang luar biasa indah dengan panduan seorang guide yang menceritakan sejarah pada setiap jengkal dindingnya, aku memilih untuk menikmatinya dari halaman luar, sembari mengambil beberapa gambar dari kamera dan ponselku yang segera kukirim melalui pesan bergambar pada Aya. Aku tertawa pelan saat dia membalas pesanku dengan antusias dan memaksaku untuk kembali lagi ke tempat ini bersamanya tahun depan.

Amazing... Itu yang terbersit di kepalaku saat berdiri di depan kemegahannya yang luar biasa. Walau usianya begitu tua tapi bangunan ini masih terlihat cantik tanpa cacat. Mungkin karena bangunan ini merupakan tempat yang penting untuk keluarga kerajaan Inggris, dimana Raja dan Ratu Inggris dinobatkan di sini, juga ada beberapa dari Raja dan Ratu terdahulu yang dimakamkan di sini. Pernikahan fenomenal Pangeran Charles dengan Putri Diana dan Pangeran William dengan Kate Middleton juga di adakan di gereja ini.

Aku kembali mengarahkan lensa kameraku untuk mencari titik yang pas agar keindahan bangunan ini bisa kuabadikan sebagai kenangan.

"Coba kamu ambil sedikit ke kanan, di sana pencahayaannya lebih indah."

Walau sedikit terkejut tapi aku tak berusaha menoleh pada si pemilik suara yang tiba-tiba muncul di sampingku itu. Siapa lagi kalau bukan dia? Dan kemampuannya memainkan kamera serta menghidupkan gambar melalui foto-fotonya memang tak bisa kubantah. Dia hebat dalam bidang fotografi.

Kuikuti sarannya, dan tersenyum puas saat melihat hasilnya pada layar besar kamera digitalku, "Thanks," jawabku sambil menoleh ke arahnya. Saat itu jantungku seperti berhenti berdetak. Dia mengenakan kemeja hitam dengan celana jeans gelapnya. Sejak dulu aku selalu suka kalau dia mengenakan pakaian itu. Kali ini tanpa kacamata hitam kesukaannya.
Sebenarnya aku tak suka kalau dia menggunakan kacamata hitam, terlihat garang dan angkuh. Padahal matanya selalu tampak hangat dan lembut, juga ramah. Aku suka matanya.

"Terpesona lagi?" godanya sambil mengangkat satu alisnya padaku yang masih belum berkedip menatapnya.

Aku segera sadar lalu mendengus sambil tertawa pelan, "Dalam mimpimu saja, Mr. Narsis," jawabku masih dengan debar yang belum hilang. Dan debar itu kembali mengencang saat jemarinya menyingkirkan butiran salju dari rambutku dengan lembut seperti dua hari yang lalu.

Pria itu terkekeh pelan sambil mengacak rambut panjangku, "Kita duduk di sana," ajaknya sambil menunjuk sebuah bangku kayu di bawah pohon sebuah taman yang letaknya tak jauh dari gereja tua ini. Aku ingin menolak tapi lidahku kelu saat tangannya menggandeng tanganku yang telah membeku karena dingin.

"Kenapa kamu tak memakai sarung tangan tebal? Lihat ini... jari-jarimu memutih dan dingin," omelnya setelah kami duduk sambil meniup-niup tanganku dengan napasnya yang hangat. Aku ingin menarik tanganku agar debar ini reda dan dadaku menjadi lega, tapi pria dengan alis tebal itu menahannya.
"Kamu ingat hari ini hari apa?" tanyanya pelan sambil menatap mataku, genggamannya semakin erat di tanganku.

Aku tersenyum kecil, bagaimana aku bisa lupa hari terpenting di dalam hidupnya? "Happy birthday, Rain," ucapku, "Maaf, tahun ini tak ada kado," godaku sambil mengalihkan mataku dari tatapan tajamnya.

Aku mendengarnya tertawa pelan, "Kamu salah, Via. Tahun ini aku masih mendapatkannya dari kamu," jawabnya yang otomatis membuatku kembali menatapnya dengan heran.
"Bertemu denganmu di tempat ini, tempat yang tak pernah ada dalam rencana kita untuk pergi berdua. Bukankah ini sebuah hadiah ulang tahun untukku?" katanya.

Aku terkesiap saat pria itu mencium lembut jari-jariku, aku panik dan ingin segera menjauh darinya. Karena aku tahu kalau kali ini jantungku tak bisa diajak berdamai, 'Tuhan... aku ingin memeluknya', bisikku dalam hati.

Bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis saat melihatku salah tingkah, "Nanti kita dinner bareng yuk?" ajaknya.

Aku terhenyak sesaat, mencoba mencerna kata-katanya barusan. Setelah yakin pada apa yang kudengar akupun menghela napas panjang dan segera menggeleng, "Maaf, Rain... aku tak bisa, aku.."

"Hari ini saja, Via. Aku ingin bersama kamu lagi... untuk hari ini saja," desaknya.

Aku hanya bisa menunduk saat tangannya masih menahan tanganku di dalam genggamannya, "Rain, aku..." suaraku terputus oleh isak yang tertahan. Sungguh aku ingin menerima, tapi aku takut jika kali ini akan sulit untukku mengakhirinya kembali. Aku takut tak mampu melepasnya lagi.

"Bukan hanya kamu, Via. Lihat aku... aku juga merasakan hal yang sama," katanya lagi sambil mengangkat daguku dengan satu tangannya yang tak menggenggamku.

Aku menatap manik hitam itu, ada kerinduan di sana, juga sepi dan sedih. Ternyata bukan hanya aku yang terluka.

"Kamu tahu bagaimana senangku saat bertemu kamu dua hari yang lalu? Kamu tahu sampai jam berapa aku menunggu di cafe itu tapi kamu tak juga datang hingga jalanan lengang dan tak ada seorangpun yang lewat? Kamu tahu seharian kemarin aku menunggu di jalan yang sama hanya agar aku bisa bertemu kamu lagi. Dan hari ini, Via... doaku semalam dikabulkan. Doaku agar kita dipertemukan kembali tepat di hari ulang tahunku."

Aku hanya terperangah mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir merahnya yang tipis, "A-aku... maaf..." hanya itu yang bisa kuucapkan di antara sesakku.

"Hari ini saja, Via... hari ini saja biarkan aku dan kamu kembali menjadi kita," pintanya dengan suara parau.

Aku menggigit bibir bawahku sembari menahan laju airmataku, "Maaf, Rain... aku tak bisa. Aku harus kembali ke Jerman saat ini juga," jawabku lirih tak berani menatap matanya. Aku takut kalah dan mengubah semua keputusanku.

"Kamu bohong. Kamu hanya ingin menghindariku, kan?" tuduhnya.

Aku menggeleng sambil mengeluarkan selembar tiket pesawat dari tas kecilku. Kutunjukkan jadwal keberangkatan yang tertera di sana, dan akhirnya dia percaya.
"Aku hanya tinggal berangkat. Barang-barangku sudah ada di bandara," kataku dengan nada bergetar.

Pria itu menatapku dalam-dalam, "Hari ini saja, Via," bisiknya lirih.

Aku mencoba tersenyum di antara pedihku, "Maaf," tolakku.
Pelan aku berdiri. Seakan tak rela pria itupun ikut berdiri, berhadapan denganku. Sekuat tenaga aku menahan tangis saat jemarinya mengusap lembut pipiku.

"Apa kamu bahagia?" tanyanya sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

Aku mengangguk pelan saat teringat janji kami pada senja terakhir itu.

"Apa kamu bahagia, Via? Jawab aku!" desaknya lagi.

Kali ini tangisku pecah. Maafkan aku untuk kelemahanku yang tak mampu menahan diri.

"Apa kamu bahagia?" kali ini dia bertanya dengan begitu lembut sembari menempelkan keningnya pada keningku.

Sekali lagi aku mengangguk, "Ya, aku bahagia, Rain," jawabku di antara isak dan mata yang terpejam. Kubiarkan kali ini tubuhku ditarik dan dipeluknya dengan sangat erat.

Beberapa saat kami biarkan salju menari dalam hening.  Kami biarkan hati kami saling bicara dalam sunyi. Kunikmati irama detak jantungnya di telingaku, irama yang selalu mampu membuatku nyaman. Baiklah... sebentar saja, aku mengalah untuk sebuah rasa yang belum juga hilang. Sebentar saja... biarkan aku tenggelam dalam hangat peluknya seperti saat-saat lalu dimana aku selalu melabuhkan penatku di dadanya. Sebentar saja... sebelum hari ini berakhir dan akan menjadi hari-hari biasanya, tanpa kita.

Setelah merasa lebih tenang akupun melepaskan diri dari pelukannya. Kutatap matanya yang berkaca lalu tersenyum, "Kamu itu tak pantas menangis, nanti wajah garangnya hilang," godaku dengan suara sengau sehabis menangis.

Pria itu tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis dalam diam sambil terus menatapku.

Kuambil sebutir salju yang menempel di rambut hitamnya, "Aku pergi sekarang, ya? Selamat tinggal, Rain," pamitku sebelum berbalik dan berjalan pelan meninggalkannya yang masih mematung di bawah pohon itu. Kubiarkan kepingan hatiku terserak di sana, biar saja... sampai salju menimbun dan membekukannya.

Kumasuki taxi hitam yang berhenti di depanku tanpa melihat lagi ke belakang. Untuk meredakan pedih yang terus menggedor relung hati, akupun memasang earphone yang kusambungkan dari telepon genggamku. Kucari acak lagu dari playlist-ku.

'Bahagia itu relatif, Rain. Ya... aku bahagia walau saat ini hatiku tak lagi berbentuk. Tapi setidaknya aku sudah mengambil keputusan yang tepat, bukan? Mungkin itulah bentuk bahagiaku... untukmu',  bisikku dalam hati.

Dan tangisku kembali pecah saat sebait lagu dari negara asalku melantun lembut di telinga, lagu yang kudengar saat aku usai mengambil keputusanku senja itu.

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini...

Kuabaikan supir taxi yang bertanya apakah aku baik-baik saja? Kuabaikan hati yang terus merutuki kebodohanku karena tak menerima uluran tangannya tadi dan justru kembali memilih menangis oleh keputusanku sendiri. Kuabaikan semuanya.
Aku hanya ingin pulang dan memeluk Aya, menumpahkan semua tangis dan lukaku di dalam pelukannya. Setelahnya aku akan mencari tempat lain yang bergaya gothic yang akan kudatangi bersama Aya tahun depan. Setidaknya bukan tempat yang baru saja kutinggalkan tadi.


SELESAI






Author's Note :
Sok bener lah sampe nyasar ke London segala, hahaha. Ini gara-gara Aya nih yang ngajakin bikin fiction untuk menyambut ultah mantan-mantan kami yang kebetulan tanggal ultahnya berdekatan. Sok-sokan pake ketemu lagi eh ujung-ujungnya mewek nulisnya. Beneran nulis ini sambil dengerin lagunya Sammy Simorangkir yang judulnya Kesedihanku #halaah xDD

Buat kamu yang sebenernya saat ini sedang ada di tempat yang dekaaaat banget dengan aku, Happy Birthday ya? Doaku masih sama seperti dulu, semoga kebahagiaan selalu menjadi milik kita ^_^


Sabtu, 13 Desember 2014

Resahku

"Kamu yakin? Lima belas jam perjalanan kamu bakal nyetir sendiri? Apa ga ada orang lain yang bisa gantiin?" kataku cemas.

Dia cuma tersenyum simpul sambil menggeleng pelan, "Aku masih bisa sendiri kok," jawabnya.

"Iya aku tahu, tapi itu kan bukan waktu yang sebentar? Kamu cuma sendirian, bawa mobil sendiri, lima belas jam, dari sore sampai pagi. Kamu ga capek? Kamu juga baru sembuh, kan?" aku terus meracau.

Pria berkacamata itu tertawa geli, "Kamu cemas?" godanya.

Aku langsung mendelik, "Nggak, aku lagi ketawa ngakak sama kamu," jawabku kesal sambil membuang muka ke arah lain.

Lagi-lagi dia terkekeh, "Kamu nggak percaya sama kemampuanku karena aku tak lagi muda?" tanyanya tanpa melepaskan pandangan ke arahku.

Aku berdecak, "Bukan... bukan itu. Mau muda, mau dewasa, mau tua, mau kakek-kakek, tapi klo emang cemas ya cemas aja dong, ngapain lihat umur?" jawabku ketus.

Senyum lembut dan sabar terpahat pada bibirnya yang tipis, "Tadi katanya ga cemas?"

Aku yakin pada warna wajahku saat ini kalau melihat dari panas yang menjalar di pipiku, "Tau ah, aku pulang. Terserah kamu mau pergi dengan cara apa," jawabku sambil meraih tas kerjaku yang kutaruh di kursi sebelahku.

Pria setengah baya dengan tatapan teduh sesejuk embun itu memutari cepat meja kerjanya dan meraih lenganku. Dengan lembut dia membawaku duduk di sofa putih yang ada di ruang kerjanya lalu duduk di sebelahku dengan satu tangan memeluk pundakku. "Kamu terlalu paranoid, tahu?" katanya masih dengan senyum.

Aku menghela napas panjang dan membiarkan tangannya membawa kepalaku bersandar di bahunya. Debaran jantungnya membuang segala resahku, nyaman. Ya... aku memang selalu merasa takut, aku memang mudah panik dan cemas. Aku hanya berkaca pada beberapa kehilangan yang kualami sepanjang hidupku, sehingga rasa takut kehilangan lagi selalu menguntitku. "Aku cuma takut terjadi sesuatu sama kamu, itu aja," jawabku lirih.

Aku memejamkan mata saat dia mencium lembut puncak kepalaku yang masih bersandar padanya, "Kenapa kamu nggak berdoa aja supaya aku bisa pulang dan bertemu kamu lagi?" bisiknya sambil mengusap lenganku.

Aku terdiam. Dia benar, aku terlalu berpikiran negatif hingga lupa bagaimana caranya berpikir lurus.

Ya... dibandingkan sifatku yang egois dan kekanakan dia memang tampak begitu dewasa. Selisih umur yang jauh di antara kami pasti menjadi salah satu penyebabnya.
Mungkin cuma dia yang sanggup menghadapi keegoisanku dengan senyuman. Dan mungkin... hanya dengan dia aku bisa bersikap egois mengingat begitu seringnya aku mengalah menghadapi seribu masalah selama ini. Bersamanya aku tak perlu selalu berpura-pura tersenyum, pura-pura sabar, dan pura-pura kuat. Dia selalu mengijinkanku menjadi seperti apapun yang aku mau.

"Hubungi aku selama kamu pergi nanti," pintaku setelah resah itu hilang, dan aku semakin menyamankan diri dalam dekapannya.

Dia memelukku semakin erat, "I will, Princess," jawabnya di telingaku sambil menarik lembut hidungku dan segera membuatku tertawa.

'Teruslah bersamaku, sebagai apapun nantinya', doaku dalam hati sebelum canda dan tawa kami memeriahkan ruangan yang tadinya hening ini.





Rabu, 03 Desember 2014

Sebentuk Rindu

"Aku akan pergi akhir bulan ini. Agak sedikit lama, dua minggu."

Aku mendongak saat suara yang terdengar sedikit berat itu mengusik lamunanku. Ada resah yang tiba-tiba lahir, "Kemana?" Tanyaku.

Manik hitam itu menatapku lekat, "Ada urusan kerja di Singapore," jawabnya.

Aku balas menatapnya lurus, entah apa yang kucari pada sepasang bola mata yang teduh itu. "Haruskah selama itu?" Tanyaku lagi.

Pemilik wajah putih dengan bibir tipis itu tersenyum lembut, manik hitam di balik kacamata beningnya sedikit menyipit, "Itu tak lama," katanya.

Aku semakin gelisah hingga rasanya malas bicara. Kumainkan ballpoint biru di atas meja kerjanya, mencoba meredakan ribuan rasa yang tak mampu kutebak artinya. Mungkin karena aku sudah terbiasa ada di dekatnya maka berita itu sedikit membuatku kacau.

"Kenapa diam? Kan aku belum pergi?" Godanya.

"Tapi aku sudah rindu," jawabku tanpa berpikir panjang. Bisa kurasakan wajahku memanas saat sadar apa yang baru saja kukatakan.

Lelaki itu tertawa renyah. Tawa khas yang begitu familiar di telingaku. Ditariknya tanganku lalu digenggamnya dengan lembut. Kehangatannya sampai ke hati.
"Selama dua minggu nanti kita kumpulkan rindu sebanyak-banyaknya, ya? Saat aku pulang kita lihat rindu siapa yang menjadi juara," hiburnya dengan senyum yang selalu mampu membuatku berdebar.

Aku yang sedang merajuk tertular tawanya. Ah... mudah sekali rasa rindu ini tercipta jika dengan dia.

-----------------

Author's notes :
Entah kenapa rasanya pengen banget bikin tulisan ini. Kebawa suasana sore tadi kali ya? Hehehe...



.

Di Teras Belakang ( Fiction )

Senja yang kelabu. Duduk di teras belakang rumah yang berdebu kurasa adalah pilihan yang paling baik saat ini. Sendiri... dan membisu.
Aku ingin berbincang dengan hati, sembari mencari jawaban yang tak pasti.

Aku duduk pada anak tangga kayu yang menghubungkan teras dengan halaman belakang. Kusandarkan kepalaku ke samping pada tiang kayu penyangga pagar teras. Kupandangi padang ilalang di depan sana, dimana tangkai-tangkai ilalang seolah saling kait lalu menari bersama iringan angin senja yang sedikit dingin.

"Kenapa kembali ke sini?"

Sebuah suara mengejutkanku. Kucari sekeliling, tapi yang tampak hanya sepasang kursi kayu tempat aku biasa menghabiskan sore dengan secangkir coklat panas dalam genggaman. 'Mungkin hanya halusinasi', jawabku pada diri sendiri. lalu aku kembali menyandarkan kepalaku.

"Aku bertanya, kenapa kau kembali ke sini?"

Suara itu muncul lagi, dan aku kembali menyusuri sekelilingku. Tak ada siapa-siapa, yang bersuara hanya kelintingan besi yang digantungkan di ujung atap teras yang sedang bernyanyi bersama angin.

"Bukankah katamu kau ingin berbicang dengan hati? Aku adalah hatimu," kata suara itu lagi.

Aku tercenung sesaat, lalu tersenyum dan menyandarkan kepalaku ke samping lagi. Manik coklat gelapku kembali menikmati pertunjukan alam di depan sana.

"Kenapa kau kembali ke sini? Bukankah sudah lama kau melupakan tempat ini?"

Aku terdiam sebentar saat suara itu kembali bertanya. "Aku bukan lupa, aku hanya merasa malu untuk kembali setelah semua yang terjadi padaku dan kamu, hatiku, selama ini. Lagipula... hanya di sinilah tempatku pulang," jawabku.

"Tahukah kalau apa yang kau lakukan selama ini sangat menyakitiku?"

Sudah kuduga kalau pertanyaan, atau pernyataan, itu akan muncul. Aku terus memandang tarian ilalang di depan sana dengan diam, "Maaf," bisikku.

"Kenapa kau selalu tega padaku? Kenapa kau selalu menyakiti hatimu sendiri? Tak bosan kah kamu dengan tangisan?"

Aku kembali diam, mencoba meresapi pertanyaan itu dalam-dalam. Kutatap langit senja yang semakin hitam. Mendung tebal tampak menggumpal di atas kepala.

"Mari berbicara denganku, berbicara dengan hati kecilmu. Kau tak akan kuberi kesempatan untuk berbohong kali ini."

Aku tersenyum getir, "Maaf... sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku tak pernah ingin menyakitimu, juga diriku sendiri," jawabku lirih.

"Tapi kau melakukannya."

Aku mengangguk pelan, "Aku hanya ingin bahagia, salah kah?" tanyaku sembari merapatkan lengan di dada karena hembusan angin yang semakin dingin. Tetesan gerimis mulai turun perlahan, membasahi tanah kering di depanku lalu membentuk ceruk-ceruk kecil seperti tanda titik di sana.

Suara itu hening sesaat, "Tidak, kamu tak salah. Hanya saja caramu yang keliru. Tak seharusnya kamu hanya mendengarkan pikiranmu, logikamu. Masih ada aku di sini, seharusnya kau dulu juga bertanya padaku apakah aku setuju dengan keputusanmu untuk menerima uluran hatinya?"

Lagi aku tersenyum, miris, "Sejak dulu banyak orang yang berkata jika  dicintai itu jauh lebih baik daripada mencintai..."

"Apakah cukup hanya dengan dicintai? Tanpa mencintai?" potong suara itu.

Aku mendengus pelan, "Dulu kupikir itu sudah cukup, dan aku akan bahagia hanya dengan dicintai saja tanpa..."

"Berhentilah berpikir hanya dengan otakmu. Kubilang masih ada aku di sini, di dalam tubuhmu. Dan aku masih berfungsi," suara itu terdengar semakin emosi.

Aku memijat keningku yang mulai terasa sakit, "Aku hanya mengikuti apa yang orang-orang bilang, itu saja. Karena kupikir semakin banyak yang mengatakan seperti itu maka itu adalah benar!" Kesalku karena selalu dipotong sejak tadi.

"Dan sekarang kau masih membenarkan kata-kata itu?"

Aku langsung terdiam saat suara itu kembali bertanya, "Entah..." jawabku lagi. Aku mulai kesulitan menghitungi tetesan gerimis yang semakin deras.

"Kau berbohong. Berhentilah membohongiku. Aku muak dengan kebohonganmu."

Aku mencoba mencerna kata-katanya yang membaur dengan derap air yang berbunyi halus di atas atap juga kelintingan besi yang semakin nyaring oleh tiupan angin, "Kubilang entah, aku sendiri tak mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini," tegasku.

"Kau menyesal."

Kepalaku berdenyut saat suara itu semakin memojokkanku, "Kumohon... aku bahkan tak bisa membaca hatiku sendiri," kerasku.

"Kau menyesali semuanya, kan? Kau menyesali pilihanmu, JAWAB AKU!!!" suara itu menggelegar seiring suara gemuruh langit yang seakan ikut marah padaku.

"YA!!! AKU MENYESAL!! PUAS?!!" teriakku kali ini. Aku menangis bersama rinai hujan yang turun semakin deras. Kubiarkan air hujan yang terbawa angin membasahi wajahku, membasahi tubuhku. Emosiku meluap, amarahku meledak. Kali ini aku menyuarakan apa yang selama ini mengganjal di hidupku. Aku lelah berlari, aku lelah merasa baik-baik saja. Aku lelah dengan semua yg telah terjadi.
"Ya... aku menyesal, apa kau puas?" tanyaku lagi, kali ini begitu lirih sembari memeluk tubuhku yang gemetar dengan semakin erat.

Di antara tangisku kudengar suara itu terkekeh pelan, "Ya, aku puas karena kali ini kau jujur padaku. Tahukah kau jika terkadang aku benci melihat senyummu, sementara aku merasakan sakit? Aku benci mendengarmu tertawa sementara aku menangis sendiri. Kenapa kita tak pernah sejalan? Padahal kita ada pada satu jiwa? Aku benci dianggap tak ada."

Aku masih menangis, apa yang hatiku rasakan kini kurasakan juga dengan nyata, sakit. Kuayun sendiri tubuhku dalam diam, kudekap erat dadaku agar tak meledak oleh luka.
Kali ini suara itu diam, tapi dari rasa dingin yang membuncah di dada aku tahu kalau diapun tengah menangis, bersamaku.

Airmataku berhenti, menyisakan basah di pipi juga bibir. Kuterawang panggung alam di depan sana, dan yang terlihat hanyalah deras hujan serupa tirai. Putih.
Kubiarkan tubuh dan bajuku basah oleh hujan yang memercik hingga ke teras tempat aku duduk. Kunikmati dingin yang menggigit tulang dalam diam.

"Apakah menurutmu penyesalan ini berguna?" suara itu hadir kembali serupa bisik.

Aku masih diam, lalu tersenyum perih. Kugelengkan kepalaku dengan lemah.

"Berapa tahun kau biarkan hatinya berjalan sendiri di sisimu? Berapa tahun kau bohongi dia dengan kata cinta yang sebenarnya tak ada?"

Pandanganku masih menerawang, dan aku masih diam. Rasa lelah itu memang ada, tapi tak kalah besar oleh rasa berdosa yang selalu ikut di dalamnya.

"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Apakah dia yang selalu memberikan pundaknya untukmu mengadu dan menangis? Apakah dia yang kau sebut sahabat walau aku tahu kau tengah menipuku lagi. Kau mencintai pria itu, kan? Yang lebih sering kau temui daripada dia yang telah kau bohongi bertahun-tahun."

Aku menggigil dalam diam, pertanyaan kali ini begitu menamparku. Dan mataku kembali memanas oleh genangan airmata sebelum akhirnya kembali luruh perlahan. Aku teringat pada sebuah hati yang hadir setahun belakangan ini, yang mencuri semua cintaku yang tak seharusnya kuberikan untuknya.

"Kau tak bisa mencintainya, tidak! Kalian telah sama-sama terikat," ingat suara itu padaku. "Kenapa kau biarkan aku merasakan cinta yang tak pernah mungkin kumiliki? Bukankah pada akhirnya kau kembali menyakitiku?"

Kubiarkan pipiku kembali basah, "Maaf," lirihku.

"Apa kau ingin berhenti bersandiwara lalu mengakhiri semuanya?"

Aku tercekat. Kutatap cincin emas yang melingkar di jari manisku. Ada sebentuk sumpah di sana, yang kuucapkan dihadapan Tuhan.

"Apa kau ingin mengingkari sumpahmu lalu pergi mencari cinta semu yang belum tentu bisa kau raih?"

Kuusap lembut cincin itu. Kenangan lima tahun silam kembali terbayang. Saat pria itu hadir di hidupku yang tengah hancur. Saat perhatian dan kepeduliannya mengikis kesedihanku. Saat aku tak mampu berkata tidak ketika ikatan itu ditawarkannya. Walau cinta untuknya tak pernah ada, tapi dia terus menghujaniku dengan kasih sayang. "Setega itukah aku?"

Sesaat hanya hening.
"Kalau kau bertanya padaku maka jawabanku adalah tidak. Aku tak akan mampu melakukan hal sekeji itu. Entah kalau kau bertanya pada otak sok pintarmu itu."

Aku kembali diam.

"Kau sudah memutuskan, jadi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya pada keputusanmu itu."

"Walau aku harus terus membohonginya?" tanyaku 

Suara itu tertawa pelan, "Kenapa kau tak mencoba untuk belajar mencintainya saja?"

"Aku sudah terlalu sering mencoba," jawabku.

"Tapi kau mencobanya tak sepenuh hati, kan? Jujurlah," tebak suara itu.

Aku kembali diam lalu tersenyum tipis, "Mungkin."

"Kali ini kita harus bekerjasama dengan baik, ya? Kau harus punya keinginan kuat untuk mempertahankan ikatan kalian, dan di sini aku akan mulai belajar untuk mencintai dia. Bagaimana? Apa kau bisa?"

Aku tak menjawab, mataku masih menatap derasnya hujan yang tak kunjung reda.

"Kau juga tak ingin kehilangan dia, kan?" bisik suara itu parau. Dia sedang menangis, airmatanya kembali menyapu pipiku yang dingin.

"Ya," jawabku dengan gemetar.

"Hei... angkat wajahmu. Kau harus terus menjalani hidupmu. Kau sudah berjalan terlalu jauh, jadi teruslah melangkah, jangan menyerah," semangatnya.

Aku kembali meresapi kata-katanya, "Apakah aku bisa?" Tanyaku ragu.

"Kau sudah berhasil bertahan selama ini, lalu kenapa tidak kau lanjutkan saja? Kita tidak hidup di dalam sinetron dimana semua akan berakhir baik. Ini kenyataan yang sudah kau pilih, kenyataan yang harus kau hadapi, jadi baik buruknya harus kau jalani. Jangan melarikan diri."

Aku terhenyak dan terdiam sesaat. Setelahnya aku menghela napas panjang, kata-katanya membuat dadaku sedikit lega. Kekuatan yang tadi hilang perlahan kembali. "Kau benar, aku harus menghadapi semuanya," jawabku.

Suara itu terkekeh pelan, "Ya sudah... kalau begitu berhentilah menangis. Kita perbaiki semuanya bersama-sama, ya? Aku yakin kita bisa," hiburnya.

Aku tersenyum di bawah siraman hujan dan sisa airmata. Perlahan aku berdiri dan mengusap wajahku yang pastinya pias oleh dingin yang menyerang sejak tadi. 

"Baiklah, hatiku... mari kita berdamai," ucapku yang disambut tawa seriuh hujannya. 




Senin, 01 Desember 2014

Surat Untuk Eri

Ri...
Kamu tahu? Terkadang aku merindukan masa lalu, dimana tawa dan canda juga pertengkaran menghiasi hari-hari kita. Aku rindu menghabiskan malam bersama. Walau hanya sekedar melihat lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung bertingkat, juga apartemen di pinggiran kota seraya berkhayal kelak kita akan ada di dalamnya, berdua.

Ah...
Kamu ingat tukang mie ayam yang warungnya ada di tepi laut itu? Mie kesukaan kamu, juga aku. Abangnya makin tua loh. Dia agak lupa-lupa ingat waktu lihat aku, trus aku ingatkan dia kalau dulu kita sering duduk di sana sampai diusir karena mau tutup. Setelah si Abang ingat dia ketawa keras sambil menepuk-nepuk bahuku. Kamu tahu apa yang langsung dia lakukan saat itu? Mengeluarkan semua persediaan sambalnya. Hahaha... dia ingat kalau dulu kita selalu bikin dia bangkrut sambal.

Setelah itu si Abang manggil teman di sebelahnya. Ingat? Ibu seksi yang jualan ice cream kesukaan kamu? Errr... maksudku es krim-nya yang kamu suka, bukan yang jual. 
Si Ibu langsung heboh waktu ngenalin aku, akhirnya dia malah ikutan gabung di warung mie ayam, hehe. Banyak sekali pertanyaan terlontar, Ri... juga canda saat mengenang masa lalu. Tapi itu tak lama, mereka langsung terdiam, bahkan mata bulat si Ibu berkaca-kaca saat aku menjawab pertanyaan yang menanyakan bagaimana kabar kamu.

Aku bilang kalau kamu sudah tidur dengan tenang di atas sana. Si Ibu menangis pelan waktu tahu kalau kepergian kamu begitu mendadak, bahkan tanpa pesan apapun. 

Iya, Ri...
Aku kembali lagi ke tempat ini, sendiri tanpa kamu. Aku duduk di sini juga sendiri, di bawah pondok kayu yang menjorok ke laut. Yang terdengar hanya suara debur ombak, tanpa iringan tawa dan petikan gitarmu. Yang bernyanyi hanya pekik burung senja, bukan syair-syair yang melantun dari bibir-bibir kita.

Kupandangi botol yang ada di tanganku. Aku ingin mencoba sebuah mitos yang mengatakan kalau sebuah pesan yang dimasukkan ke dalam botol dan dilarutkan ke lautan, kelak akan sampai kepada yang dimaksud. Benarkah? 
Kalau kamu menemukan surat ini jangan terkejut kalau isinya hanya namamu, ya? Karena seluruh perasaanku hanya kusimpan di dalam hatiku saja, bukan untuk kularutkan di lautan. 

Tidurlah dengan tenang, Ri... di sini aku baik-baik saja. Akan kutepati janjiku untuk tak sering menangis, kecuali saat merindukanmu. Tapi sepertinya aku terlalu sering merindukanmu, ya? hehe.
Terima kasih telah membuatku merasakan bentuk cinta yang sesungguhnya.

Tidurlah dengan tenang... di hatiku, selamanya.