Rabu, 27 November 2013

Saat Kata "Kita" Tercipta

Hari ini, setahun yang lalu, semuanya dimulai. Sebuah rasa yang terikat erat, rasa tak jelas yang mengawali seluruh kisah.
Kamu dan aku, yang awalnya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa, lalu menjadi kita. Entah berapa lembar harian yang tertulis di dalamnya, mengisahkan banyak cerita yang juga tentang kita. Entah itu cerita romantis, jenaka ataupun tragis, tapi selalu tertulis kata kita.
Kamu... Tak hanya menyuguhkan tawa, ataupun senyuman. Terkadang amarah juga tangis menjadi sajian kita di saat bersama. Dan kukatakan padamu, aku menikmatinya, karena hidup tak hanya dipenuhi mimpi, kan?
Setahun sudah kata "kita" tercipta di antara kamu dan aku, entah kita sebagai apa, tapi kita selalu ada. 365 hari, 8760 jam berjalan, coba hitung dengan jari tanganmu, berapa menit saja yang terlewati tanpa sapa kita?
Sejak awal matahari terbit, say good morning tak pernah lepas. Hingga mata terasa berat oleh kantuk, G'nite and have a nice dream selalu menjadi pengantar hingga kedua bulu mata kita bersatu. Bahkan saat tengah malam kita terjaga, say hai juga selalu ada. Benar-benar eksis kan?
Terkadang jenuh dan lelah menciptakan perseteruan di antara kita. Salah paham dan perbedaan pendapat menjadi alasan untuk tak bertegur sapa. Tapi toh nyatanya hanya seperempat hari yang kita sia-siakan, karena aku membutuhkanmu, mungkin begitupun denganmu. 

Berkali penat dan kesal menjadikan alasan untukku pergi dan menjauh darimu, membalikkan badan dan berlalu dari hadapanmu, tapi semua tak terwujud, hanya sebatas angan saja. Hingga rasa sakit yang teramat sangat menyadarkanku untuk memikirkan ulang semuanya lagi dan meraih tanganmu kembali.
Kamu... Lelaki bengal yang kukenal dari dunia maya. Kamu memang tak sempurna, kamu juga bukan yang terbaik yang pernah singgah dalam detakan hariku sepanjang hidup. Tapi kamu masih ingat akan satu hal, kan? Kamu tetap menjadi satu dari warna-warna indah pelangiku, dan itu belum berubah hingga detik ini. Kulewati setahun ini bersama kamu yang benar-benar kamu, kamu sebagai dirimu sendiri, kamu yang ku kenal di maya maupun di nyata.
Kita pernah berbagi tawa, juga tangisan, untuk itu kumohon... tetaplah bersamaku, hingga waktu bosan dan mengikis kata "kita" dalam harian katanya. Hingga sang waktu mengambil "kita" dan mengembalikannya menjadi kamu dan aku. Walau aku masih berharap sang waktu berbaik hati dan membiarkan "kita" terus ada dan terus berjalan bersamanya, tanpa melanggar batasan yang telah kita tetapkan.
Terima kasih telah hadir untukku, sebagai apapun itu. Menemaniku saat cercaan serta makian tertuju padaku. Memelukku saat amarah dan kecewa bertandang dan membelenggu. Terima kasih untuk semua rasa yang pernah kau beri, sayang yang begitu besar yang tak selalu terucap melalui aksara maupun kata, karena kita membuktikannya dengan tingkah laku dan perbuatan.
Aku menyayangimu, sungguh... Dari dasar hati yang paling dalam

'Hawa'




Kamis, 14 November 2013

Setelah Hujan Reda



Apa yang kau pikirkan saat melihat ini?

Berjalan berdua denganku sepulang kerja, dengan jaket tebal bertopi yang membungkus kulit serta kepala kita, lalu berbincang tentang kegiatan hari ini sembari mencecap coklat panas dengan gelas kertas dalam genggaman.
Tertawa bersama tanpa peduli pada angin malam yang semakin dingin oleh sisa-sisa hujan yang baru saja reda. 

Katakan padaku...
Sepinya jalanan malam ini serta nyala temaram lampu berwarna senja yang menghiasi pagar-pagar besi yang kokoh dan dingin, tidakkah tampak sedemikian cantik?
Kecipak suara tapak kaki kita yang menginjak genangan air pada cekungan-cekungan dangkal di tengah jalan, tidakkah terdengar merdu? Seperti alunan musik yang mengiringi senandung kecil dari bibir-bibir kita yang menyanyikan dongeng hujan malam ini. 

Walau malam semakin larut, langkah kita tetap tak tergesa. 
Walau isi dalam gelas kertas telah habis tak bersisa, kita mengganti kehangatannya dengan saling menggenggam. 

Dengarkan aku, esok kita akan melewati jalan ini lagi saat malam tiba. Entah itu saat hujan turun, atau setelah hujan reda... :) 

I'm Fairy

Kita memang bukan kanak-kanak lagi 
yang hidup dalam dunia dimana kita berpikir peri-peri akan datang menghibur di kala sedih 
dengan kepak sayap-sayap perak mereka terbang di udara
dan taburan bubuk penebar tawa yang berkilau saat mereka menari di antara dedaunan. 

Kita bukan lagi gadis kecil 
yang menangis jika apa yang kita minta tak terpenuhi 
yang mengunci pintu kamar dan membanting semua barang
jika sedih juga amarah mendera dan menguasai hati. 

Kini kita adalah wanita dewasa
yang seharusnya mampu menelan tangis dan menikmatinya seorang diri 
belajar dari apa yang disebut sakit dan kecewa
lalu menjadi peri... untuk diri kita sendiri.



Hanya Tentangku



Tak ada yang berubah, semua tetap sama.
Bukan... Ini bukan tentang siapa-siapa, hanya tentangku.

Saat ragu mulai menyusup dan berubah menjadi racun.
Saat ketidakpedulian menjelma menjadi candu.
Saat hati mulai enggan merasa lagi,
maka... Apa tak sebaiknya dimatikan saja?

Saat otak mulai malas melakukan kewajibannya,
tak ingin berpikir atau terpikir,
hanya melihat dan pasrah pada kata hati,
maka sebaiknya sudahi saja.

Malam semakin merangkak,
hanya sepi yang membisikkan irama tak jelas,
hanya sunyi yang bernyanyi,
melagukan syair tanpa makna,
dimana detak jarum jam menjadi satu-satunya tepukan pemirsa.

Sudahlah...
Kepalaku sudah cukup berat dengan semua,
jadi sebaiknya aku berperan sebagai penikmat saja.
Lakukan apa yang ingin dilakukan,
tugasku hanya tersenyum dan tersenyum.

Sekali lagi kukatakan, ini bukan tentang siapa-siapa,
pemeran di sini hanya aku. Bukan kau, apalagi kita.







Minggu, 06 Oktober 2013

Tak Berubah



Dan lagi...

Keraguan itu kembali datang setelah sebuah keputusan hampir tercipta.

Serupa mendung yang tak juga menurunkan hujan,

menggantung tebal pada bayang-bayang senja yang membias jingga.


Lagi...

Aku memilih terkurung dalam sangkar bernama bimbang.

Saat sayap-sayap mulai terentang dan aku siap terbang,

lagi-lagi aku memilih diam saat yang terlihat hanya serupa gersang.


Aku mencintaimu,

seperti bintang yang selalu menemani bulan.

Aku merindukanmu,

seperti siang yang terus mengejar malam.

Aku membutuhkanmu,

seperti kemarau yang menanti hujan.


Tapi ternyata semua begitu melelahkan, percayalah...

Aku ingin berlari dan menghilang

Karena rapalan namamu saja mampu mencipta luka


Tapi lagi-lagi aku diam, gerak maupun lisan.


Tak berubah,

selalu pada akhirnya keraguanlah yang menjawab

dan aku masih tetap di sini, pada tempat yang selalu ingin kutinggalkan...





Berhenti Mencinta

Kosongkan semuanya...
Aku ingin menjadi buta, tuli bahkan bisu
Menutup mata, telinga dan mulut... juga hati

Berhentilah berpikir...
Sesekali bersikap egois itu tak mengapa
Karena aku menghargai diriku sendiri

Berhentilah merasa...
Habiskan semua waktu untuk memanjakan hati
Karena akupun menyayangi diriku sendiri

Diam, dan berhentilah bicara...
Karena aksara yang kucipta melalui bibirku
sama bernilainya dengan kecantikan jingga di ujung senja

Dan hentikan laju airmata yang merusak keindahan kornea
Karena hujanku tak selalu datang sesuai pinta

Lalu berhentilah mencinta, selagi lubang yang tergali belum begitu dalam...




Selasa, 10 September 2013

Aku, Kamu dan Bintang-Bintang di Bawah Telapak Kaki Kita

"Terakhir kali, please... Masa aku pulang ke Surabaya tapi ga bisa sama kamu? Tinggalkan semua kesibukanmu. Kamu packing, bawa sleeping bag dan aku jemput kamu, kita ke kampus bareng."

Aku hanya menghela napas saja mendengar nada memaksa dari seberang sana. Acara camping tahunan yg rutin diselenggarakan oleh kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Acara yg sudah absen kita ikuti dua tahun ini karena kita mulai sibuk dengan pekerjaan setelah lulus.

"Tapi, 'Ri... Apa ga aneh? Kita sudah alumnus loh," kataku mencoba membantah. 
Bukannya aku tak suka, sejak SMP aku justru tak pernah melewatkan kegiatan alam seperti ini. Hanya saja kalau memikirkan tanggung jawab pekerjaan...

"Para junior itu sendiri yang mengundang kita, Wa. Mereka ingin kita hadir. Ga cuma angkatan kita kok, senior kita juga akan ada beberapa yang datang. Kan kita bisa sekalian reuni?" Paksamu lagi.


Reuni? Setelah kita berpisah sejak kamu lulus dua tahun yang lalu dan jarang bertemu, kenapa justru harus bertemu di acara ramai begini? Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan kamu, kalau bisa.


Seakan bisa membaca isi hatiku, aku mendengar kamu tertawa kecil di seberang sana, "Akan ada waktu untuk kita, aku berjanji. Di puncak gunung nanti aku akan memetikkan banyak bintang untuk kamu. Aku yakin bisa. Setelah ini aku akan membuat janji juga dengan para bintang itu, agar tak melayang jauh dari pucuk-pucuk cemara."


Spontan tawaku lepas, mendengar kamu yang slengean bicara puitis begitu sungguh terdengar lucu di telingaku, "Kamu lagi baca buku panduan merayu ya?" Ejekku.


Dia ikut tertawa kencang, "Kok tahu? Entah catatan siapa yang tertinggal di meja kamarku ini, aku cuma baca aja karena kupikir tulisannya juga pas buat ngerayu kamu," jawabmu asal.


Sekali lagi aku tertawa. Eri Satria, teman sekelasku di bangku kuliah. Pria unik yang akhirnya menjadi sahabat terdekatku, lalu menjadi kekasihku hingga saat ini. Kukatakan unik karena dibalik sifatnya yang acuh dan masa bodo itu tersimpan pemikiran yang begitu dewasa.

Tak banyak yang mengetahui hubungan kami, teman-teman yang lain selalu berpikir kalau hubungan kami tak lebih dari persahabatan saja. Itu karena kami selalu ribut dan bertengkar setiap kali bertemu. Selera humornya yang tinggi sering kali justru membuat kami seperti sedang mengadakan pertunjukan lawak dadakan. Tapi saat sedang berdua, dia bisa menjadi kekasih yang baik, yang sempurna, walau sisi romantisnya begitu tipis.

"Oke ya, Wa? Aku anggap kamu oke karena kamu diam aja dari tadi," paksamu lagi.


Dan aku kembali menghela napas, "Ya udah, tapi cuma dua malam kan? Setelah itu kamu langsung antar aku pulang ya? Aku ga mungkin ga masuk kerja senin paginya," negoku.


"Siiiip... As you wish, my love," rayunya senang.






Terdampar juga akhirnya di tempat ini. Aku melihat sekeliling, tiga buah tenda besar sudah berdiri di tengah lahan kosong yang dikelilingi hutan. Satu tenda perempuan, satu tenda laki-laki, dan satu lagi tenda campuran untuk senior dan dosen.


Kutaruh ras ransel dan sleeping bag biruku di sudut tenda, tempat yang dipilih Eri untuk angkatan kami.


"Capek?"


Suara penuh semangat itu serta merta membuatku menoleh. Kuamati wajah yang masih begitu kurindukan itu dengan seksama. Jenggot tipis menghias dagumu yang runcing. Pipimu sedikit memerah karena berkeringat, mirip seperti tomat. Kacamata bening duduk manis di pangkal hidungmu. Kacamata yang baru saja kamu kenakan beberapa bulan ini. Dan entah kenapa aku selalu suka melihat pria berkacamata.


"Aku makin cakep ya?" Tanyamu penuh percaya diri saat menyadari kalau aku masih terus memandangimu tanpa suara.


Aku langsung mengernyitkan keningku dan tertawa terbahak. Mataku melihat sebuah sedotan air mineral dalam kemasan gelas di dekatku, kuambil, kututup satu mataku lalu langsung kudekatkan ujungnya pada mataku yang terbuka, "Iya, cakep banget," jawabku menggoda.


Handuk kecil berwarna biru langsung dilemparnya ke arahku, dan kita mulai ribut. Lagi-lagi pertunjukan lawak dadakan pun banyak penontonnya.


"Tak berubah, tetap saja seperti Tom and Jerry," celetuk seorang senior yang cukup dekat dengan kita.


"Biarin, mas, kalau mereka ga ribut ga bakalan seru," sambut salah seorang sahabatku.


Kamu hanya tertawa renyah sambil mengacak rambutku dan melepaskan ikatannya. Kamu selalu tak suka melihat rambutku terikat, "Ke air terjun yuk?" Ajakmu.


"Ayuk...!" Jawabku bersemangat. Teman-teman yang lain pun sepertinya tertarik dan ingin ikut. 


"Eh... Kalian nanti aja, setengah jam lagi nyusul ya? Ini waktuku dan Hawa," katamu sambil mengerling nakal ke arahku. Dan lagi-lagi semua tertawa melihat betapa merahnya wajahku saat itu. Keributan season kedua pun dimulai. 






Sepertinya kamu benar, sekali-sekali aku memang harus keluar dari rutinitasku di kantor. Nyatanya aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, bersama teman, sahabat, dan kamu. 

Menikmati saat-saat dimana aku bisa mendengar tawa kamu, celoteh-celoteh riang kamu, keusilan kamu yang kerap kali membuatku menjadi sorotan dari banyak mata yang tertawa. Cck... kamu memang tak pernah bisa membiarkanku duduk manis dan diam, selalu saja menyulut keributan. 

"Minggu depan aku dipindah ke kalimantan," katamu setelah semua kekacauan itu reda dan setiap orang asik dengan kegiatannya masing-masing.


"Kalimantan?" tanyaku meyakinkan. Aku menatap matanya yang duduk bersila di sampingku. Dibawah rindangnya pohon tak jauh dari api unggun. 


Kamu mengangguk, "Jauh ya?" katanya seakan membaca hatiku. 


Aku hanya menghela napas panjang sebelum kembali menatap lurus ke arah kerumunan orang yang bercanda riang di depan perapian. 'Dia di Jakarta yang dekat saja begitu jarang pulang, apalagi ini?' batinku.


Agak lama kami terdiam. Aku masih asik memeluk lututku sambil melamun, sedangkan kamu bersandar di batang pohon sambil tanganmu memainkan rambut panjangku yang tak terikat. 

"Aku ga mungkin bisa nolak, Wa. Kamu tahu sendiri kan, aku masih termasuk baru di perusahaan ini."

Aku masih terdiam, lidahku terasa kelu. Entah kenapa kali ini terasa begitu berat melepasmu. 


"Makanya itu aku memaksa kamu untuk ikut acara ini. Aku ingin bersama kamu di saat-saat terakhir sebelum aku pergi semakin jauh dan..."


"Aku benci kata-kata terakhir, Ri. Jarak ini saja sudah terlalu jauh, jangan kamu tambah lagi dengan kata terakhir," bentakku pelan agar tak terdengar yang lain.


Kamu tersenyum, tidak kesal ataupun marah mendengar bentakanku, "Maaf ya? Nggak akan lagi," jawabmu lembut. 

"Jangan sedih dong, kan masih banyak pesawat yang terbang? Aku masih bisa pulang seperti biasa," rayumu masih sambil memainkan ujung rambutku di jemarimu. "Kamu mau dibawain apa nanti? Oleh-oleh khas Kalimantan apaan sih? Aku taunya cuma kayu, manik-manik, rotan, mmmh... sama monyet."

"Kok monyet?" tanyaku bingung. 


"Ya kan dekat hutan? Aku bisa bawain kamu satu kalau mau? Gimana?" tawarmu sambil mengangkat sebelah alis. 


Aku tersenyum geli, "Boleh, terus nanti aku kasih nama dia Eri ya?" godaku. 


Kamu memiringkan bibirmu seakan berpikir, "Kalau tidurnya sama kamu sih ga apa-apa," balasmu sambil mendekatkan wajah padaku. 


Kali ini aku terbahak keras, "Kamu minta aku tidur sama monyet? Nggak...!!!" jawabku keras sambil menarik hidungmu dengan kesal. 


"Kan kamu bisa peluk dia kalau rindu? terus bisa panggil dia dengan namaku," jawabmu tak mau kalah.


"What?? Tapi nggak sama monyet juga kali, Ri...!!" kataku di antara derai tawa kita. Itulah kamu, kamu tak pernah memberi kesempatan pada airmata untuk mengalir di pipiku. 


"Aku langsung berangkat dari Jakarta, ga apa-apa kan?" tanyamu setelah tawa kita reda. 


Aku menghela napas panjang, diam sebentar, lalu mengangguk, "Iya. Sudah kamu siapkan semua yang mau dibawa?" tanyaku. 


"Belum." 


Dan aku hanya bisa menahan kesal melihat cengiran tak bersalah di bibirmu. 


Seakan tahu kalau aku akan meledak lagi, kamu langsung memberi seribu alasan, "Abisnya ga ada kamu sih. Dulu waktu aku mau ke Jakarta kan kamu yang bantu aku siapin semua, Wa.. kamu yang ingatin aku apa-apa aja yang perlu dibawa. Kamu juga yang masukin semua ke dalam koper." 


"Perasaan aku dah mirip mbok Inah aja ya?" jawabku ketus sambil menyebut nama pembantu di rumah kamu.


Dan kamu kembali tergelak sambil merangkulkan sebelah lenganmu ke bahuku, "Pasti beres kok, believe me, honey," bisikmu sambil memberi kecupan singkat di keningku sebelum akhirnya kamu berdiri dan menarik tanganku untuk bergabung kembali dengan yang lain. Sayup telingaku mendengar senandung lirih dari bibirmu, "Aku masih di sini untuk setia." Aku tersenyum, lagu Setia dari Jikustik yang akhir-akhir ini menjadi lagu favoritmu.






Malam kedua di perkemahan ternyata tak mulus, gerimis turun saat acara puncak hampir selesai, membuat udara menjadi semakin beku. Aku melihat kamu berlari kecil menuju ke arahku, "Kita pergi sebentar yuk?" ajakmu. 

Aku mengernyitkan kening, "Kemana? Masih gerimis, Ri."

"Ayolah, aku kan belum tepatin janji sama kamu?" jawabmu sambil menarik tanganku setengah memaksa.

'Janji?' tanyaku dalam hati, sedikit bingung dengan maksudmu. 
Setelah berpamitan sebentar dengan rekan lain, kamu langsung mengajakku berlari menembus gerimis ke tempat parkir mobil di bawah area perkemahan. Sedikit sulit karena gelap dan licin. Lalu kamu memacu mobilmu perlahan ke arah jalan beraspal. 

"Kita mau kemana?" tanyaku bingung. 

"Ke atas sedikit, siapa tahu di atas nggak hujan," jawabmu tanpa melepaskan pandangan dari jalan. 

Aku makin bingung, "Memangnya kita mau ngapain sih?" 

Kamu hanya tersenyum sambil terus berkonsentrasi pada jalan gunung yang menanjak dan berliku. Setelah itu kita hanya diam, sambil sesekali kamu melihat ke arahku hanya untuk mengusap pipi atau kepalaku. 
Lalu aku mendengar kamu mendesah sedikit kesal dan menepikan mobilmu di pinggir jalan, di dekat warung-warung kecil yang menjual jagung rebus dan minuman panas "Masih gerimis juga," gumammu. 

"Kamu kenapa sih, Ri? Mau nepatin janji apa?" tanyaku lagi untuk kesekian kalinya. 

Kamu belum menjawab, "Kita ke sana yuk?" katamu sambil menunjuk sebuah tempat duduk kayu di pinggir jurang yang dibatasi pagar besi dan dilindungi oleh payung besar. 

Aku mengangguk dan keluar dari mobil. Kudengar kamu memesan dua gelas teh panas juga jagung bakar pada pemilik warung terdekat.

Aku berdiri sambil memegang pagar besi yang kokoh itu. Agak merinding juga sebenarnya. Dan aku sedikit terkejut saat tiba-tiba kamu memelukku dari belakang, dengan diam. 
Aku masih bingung dengan sikapmu yang mendadak aneh ini, tapi kudiamkan saja. Aku hanya menautkan jari-jari kita yang menempel di perutku. 

"Maaf," bisikmu akhirnya. 

"Untuk apa?" 

"Karena tak bisa memetik bintang yang banyak untuk kamu. Bintangnya ternyata tak menepati janji." 

Aku terhenyak, 'soal itu? Bahkan akupun tak ingat lagi,' batinku. Aku memandang ke arah langit, pekat, bahkan bulanpun mengalah pada mendung. Aku tersenyum dan makin menyandarkan punggungku di dadamu, "Tak apa, mungkin para bintang sedang menjalankan tugas di tempat lain," hiburku agar kamu tak sedih. 

kamupun tertawa pelan sambil menggesekkan ujung dagumu yang ditumbuhi jenggot tipis ke ubun-ubunku. "Mau kuganti dengan bintang yang lain?" tanyamu. 

Aku tersenyum, mendekap tangannya yang masih melingkari perutku dengan erat lalu mengangguk sambil mendongakkan kepala untuk menatapmu. Aku memejamkan mata saat bibir merahmu yang sama sekali tak tersentuh rokok mengecup ujung dahiku sedikit lama. 
"Lihat ke bawah," bisikmu lagi. 

Aku memberanikan diri untuk memandang ke arah jurang yang begitu dalam itu, tapi bukan rasa ngeri yang kudapat, melainkan takjub. Lampu-lampu kota malang tampak begitu indah dari atas sini, seperti lautan bintang.

"Tak kalah kan cantiknya dengan bintang-bintang yang ada di atas? Bintang-bintang yang ada di bawah sana akan tetap menyala walau hujan," katamu lagi. 

Aku nyaris terisak, kamu tak pernah begini, tak pernah seromantis ini. Tapi aku tak ingin merusak malam ini dengan airmata, apapun bentuknya itu. Aku hanya bisa membalikkan tubuhku dan memeluk pinggangmu dengan erat, tanpa melepaskan pandangan dari lautan bintang di bawah telapak kaki kita. 

"Untuk kepulanganku yang pertama mungkin belum bisa dua bulan ke depan, mungkin harus menunggu sekitar lima atau enam bulan dulu, nggak apa-apa ya?" katamu pelan sambil mengusap punggungku. 

Aku hanya bisa mengangguk. Kita bukan remaja lagi yang hanya memikirkan kesenangan.

"Setelah itu aku janji akan segera pulang dan kita pergi lagi ke tempat ini, untuk memandang bintang dari dua arah," katamu dengan yakin. 

Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dalam pelukanmu. Setelahnya kita hanya diam, membiarkan angin malam pegunungan membekukan kulit kita. Biar saja, toh hati kita tetap terasa hangat, kan? 





Lima bulan setelahnya kamu pulang, tapi ada yang berbeda. Wajahmu begitu pucat, pipimu yang biasanya memerah tampak pias. Bibirmu yang biasanya tertawa ceria kini terkatup rapat. Bahkan matamu yang selalu berbinar jenaka pun tak terbuka. Sama sekali tak memandangku yang terus membisikkan namamu. Tidurmu terlalu lelap, di sana, di dalam peti berwarna cokelat itu. Kamu diam, sama sekali tak mempedulikan isakku.


Kamu yang selalu menciptakan senyum dan tawa dari bibirku, kali ini kamu kalah. 

Kamu yang tak pernah membiarkan airmata mengalir di pipiku, kali ini kamu kalah. 
Kamu yang selalu menepati janji sekecil apapun, kali ini kamu kalah. 

Kamu memang pulang, benar-benar pulang. Tapi bukan untukku... 








-Untuk kamu, dan kenangan kita-

Kini kutahu tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi
Lirih - Chrisye )



Mantan Terindah

By. Hawa & Nara

Hujan tiba-tiba bertandang tanpa diundang. Memberi ketukan-ketukan dengan irama senada pada kaca jendela yang perlahan mengembun. Pada petak-petak ubin di luar, telaga-telaga mungil yang tersamar seolah berlomba menampakkan rupa. Buru-buru kututup tirai berwarna hijau lumut yang menggeliat manja dicumbu angin, lalu beralih menatap seorang gadis yang ku-klaim sebagai separuh jiwaku, yang berbaring menelungkup di atas ranjang beralaskan satin sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.

Sebuah album usang bersampul biru dengan warna yang mulai memudar terhampar di depannya. Kuarahkan kakiku,mendekatinya, lalu duduk di tepi pembaringan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan rasa penasaran membuncah, menampar-nampar sisi benak.

“Membuka kembali lembar kenang,tentangku dan Eri,” sahutnya tanpa mengalihkan pandang. Tangan kanannya yang semula menopang dagu perlahan turun dan mulai membalikkan satu-persatu halaman album foto itu.

“Ah…! Mantan terindah!” seruku dengan raut wajah menunjukkan ketertarikan. “Ceritakan kembali padaku soal dia,”pintaku bersemangat sembari menyandarkan punggung di kepala tempat tidur.

Gadis itu menghentikan gerakannya, lalu menatapku. Nuansa suram mendadak menyelimuti pancaran matanya yang seolah berkata kau-tahu-betapa-sakitnya-menguak-kenang. Kuberikan senyum terbaikku yang selama ini tak pernah gagal untuk meyakinkannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Akan kubuat ia menanak kenang tak lagi dengan belanga duka.

“Aku akan ceritakan tentang Eri,kalau kau juga mau menceritakan padaku tentang Shin-mu,” tawarnya. “Kau tahu, aku sangat penasaran dengan mantanmu yang satu itu. Kau sangat pelit untuk menyulam tutur kalau sudah menyangkut Shin.”

Deg!

Aku terdiam sesaat. Sedikit keberatan, namun akhirnya kuanggukkan kepalaku. Menyetujui tawarannya.
Perlahan gadis itu menghela napas panjang, sebelum mulai bertutur. “Eri adalah satu-satunya kekasih yang pernah menulis puisi untukku. Tak seperti kau yang beruntung medapatkan mantan dengan keahlian meramu kata bak pujangga, mantan-mantanku tak ada yang berjiwa seni. Dan kembali pada puisi yang Eri tulis, isinya sangat pas dengan kata pepatah:jauh panggang dari api, alias gak nyambung,” tuturnya sambil sedikit tersenyum.

“Eh? Kok bisa?”

“Tentu saja. Dia membuatkan sebuah puisi saat kami sedang berada di pinggir pantai dan memakan semangkok ice cream berdua. Alih-alih menulis keindahan pantai dan kebersamaan kami, dia malah menulis tentang warna dan rasa ice cream di dalam mangkok,”terangnya sambil cemberut. Mataku membulat sempurna mendengar penjelasannya, sebelum akhirnya tawaku pecah, menyaingi derap hujan.

“Hahaha, well, setidaknya dia sudah berusaha, walau gagal,” jawabku sambil terus tertawa.

Separuhku ikut tertawa, sebelum melanjutkan ceritanya. “Aku dan Eri itu seperti Tom dan Jerry. Kami ribut tanpa mengenal tempat. Meskipun begitu,teman-teman kami tahu kalau kami berdua saling menyayangi. Yaaah, cara kami berdua mengungkapkan perasaan memang sedikit berbeda dari pasangan lainnya.Kalau menggunakan persentase, maka sisi romantis kami hanya 20 persen, sisanya ngelawak,” katanya memberi jeda sambil terkekeh pelan. “Dia tipikal pria yang acuh tak acuh di depan orang banyak, tapi pada saat sedang berdua dia bisa berubah menjadi sosok yang begitu posesif,” lanjutnya.

Gadisku memiringkan tubuhnya menghadapku, dengan tangan kiri menopang kepalanya. “Lalu Shin-mu? Bagaimana dia?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Aku tersenyum kecil dan menerawang, mencoba menggali kenanganku bersama lelaki itu. Shin-ku. Ah, bahkan sekedar menyebut ulang namanya di dalam hati membuatku ingin tersenyum.

“Mmmm…, Shin-ku tipikal lelakiyang jarang mengumbar kata cinta. Dia lebih memilih mengungkapkan perasaannya melalui lirik-lirik lagu yang ia ciptakan. Ia tak menyukai kekasih yang posesif, bahkan terkadang menolak perhatian. Di awal-awal hubungan kami, aku cukup sering mengiriminya sms sekedar menanyakan apakah ia sudah makan atau belum,dan sejenisnya, dan kau tahu reaksinya? Ia terus terang mengatakan ketidaksukaannya. Sejak saat itu aku tak lagi mengiriminya sms ataupun menelpon, hingga akhirnya 5 hari kemudian dia yang blingsatan menghubungiku,hahaha,” aku tertawa renyah mengingat kembali tentang lelaki itu.

“Kok bisa? Kalau Eri…, handphone-ku bisa meledak kalau sehari saja aku nggak kasih kabar ke dia. Hampir sama sih denganku, aku selalu panik kalau dia tak memberi kabar,” jelas gadis berkacamata di depanku itu. Ya, aku percaya. Separuhku itu memang memiliki sifat panik yang kadarnya menurutku berlebihan. Entahlah, itu salah satu kelebihannya atau kekurangannya.

Gadis itu lalu kembali menelungkup dan membuka lembar lain dari albumnya. “Lihat ini, Eri-ku sangat menjaga penampilan. Bukan maksudku memuji berlebihan, tapi dia selalu rapi dan wangi. Dia suka pakai parfum atau cologne, dan selalu ribut kalau dua barang itu habis,” katanya sambil menunjuk pada sebuah foto sambil tertawa.

“Kebalikan dari Shin,” sambungku.“Shin suka tampil seadanya. Cenderung slebor, menjurus ke slengean. Celana jeans berkaki lebar dengan kaos putih kurasa penampilan terbaiknya. Terkadang, dia akan memanjangkan jenggotnya,membuat tampangnya terlihat semakin menyeramkan. Dengan rambut ikalnya yang mirip sarang burung itu, ditambah jenggot pula, kurasa kau bisa membayangkan seperti apa rupanya. Tapi entah kenapa, aku selalu takluk dengan pria model begitu,” kataku.

Gadis yang selalu mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda itu terpingkal-pingkal mendengar penuturanku.

“Kau tahu, Shin itu memiliki tubuh yang tinggi menjulang seperti jerapah. Kalau berjalan bersisian, kami akan terlihat seperti jari jempol dan telunjuk. Hal itu yang terkadang membuatku sering berjalan mendahuluinya,” lanjutku sambil menutup mulut,menahan tawaku yang juga ingin meledak mengakhiri penjelasanku yang cukup panjang.

Kedua bola mata soulmate-ku itu membulat.

“Benarkah?!” serunya. Dia membalik posisi tubuhnya menjadi telentang. Kelopak matanya terpejam sebentar sebelum kembali terbuka untuk meneruskan ceritanya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang dibiarkan polos tanpa polesan pemerah bibir.

“Kalau kumat genitnya, Eri juga suka pelihara jenggot. Nggak tebal sih, cuma tipis aja. Dia selalu suka menggesekkan ujung dagunya di ubun-ubunku saat dia sedang memelukku dari belakang. Satu hal yang tak pernah dia lewati saat kami sedang berdua,”kenangnya. “Orang yang melihat kami begitu pasti akan merasa seperti sedang mendapatkan pertanda buruk, mengingat kami yang biasanya selalu ribut di mana saja kapan saja,” katanya lagi sambil tertawa.

“So sweet,” balasku. Aku ikut merasakan kegembiraannya saat menceritakan masa lalunya bersama orang yang sangat ia cintai, mungkin hingga hari ini.

“Shin tak terlalu suka melakukan kontak fisik di depan publik, palingan hanya sebatas berpegangan tangan saja. Tapi itu sudah sangat luar biasa untukku. Aha, ciuman pertamaku dan Shin di depan umum itu terjadi pada suatu senja saat kami menikmati keindahan purnama yang tercetak sempurna di atas Danau Toba. Aku yakin saat itu wajah kami sama-sama memerah. Tapi untunglah suasananya cukup gelap. Kalau tidak aku tak bisa membayangkan betapa kikuknya kami saat melewati pasangan lain yang juga sedang menikmati suasana serupa,” ujarku.

Tiba-tiba aku terlonjak, setengah tertawa aku bertanya pada separuhku. “Kau sadar nggak sih kalau kita benar-benar soulmate?”

“Maksudmu?” tanyanya bingung seraya mengerutkan kening.

Aku melipat kedua kakiku di atas ranjang dan duduk bersila sambil menatapnya. “Coba kau dengar ini, Eri Satria dan Herry Shinatria, mirip kan? Walau aku selalu kesal kalau mengingat nama Satria,” sungutku.

“Kesal kenapa?”

“Namanya sama dengan lelaki yang terus berusaha merebut perhatianmu itu. Lelaki yang selalu mengirimimu puisi itu,” aku menjawab sambil cemberut.

Kali ini dia kembali tertawa. “Oh ayolah, kau masih kesal dengan dia? Satria yang itu, aku berteman dengannya di facebook karena kupikir dia akan bisa sedikit saja menggantikan Eri-ku karena nama akhirnya yang sama, tapi ternyata cuma namanya saja yang sama."

“Aissshhh…, dasar kau,” kataku sambil ikut tertawa dan mencubit lengannya pelan.

“Sayang sekali ya hubunganmu dengan Shin harus berakhir? Padahal aku ingin bisa mengenal seorang pria yang menyukai puisi seperti kita,” katanya dengan nada sedikit sedih.

Aku mengangguk sambil tersenyum.“Itu yang terbaik buat kami berdua. Ada satu hal yang sangat mendasar yang membuat kami tidak bisa bersama. Lagipula, setelah hampir 2 bulan menjalin kasih, kami mulai kehilangan getar-getar perasaan yang membuat kami pada awalnya berpacaran. Kami merasa hubungan kami tak seindah seperti sebelum kami memutuskan untuk berada pada satu komitmen berpacaran. Maka berpisah adalah jalan terbaik yang kami pikirkan pada saat itu.”

“Tapi kau tahu? Setelah putus dengan Shin-ku, aku berhubungan lagi dengan seorang lelaki yang mungkin hampir mirip dengan Eri-mu.”

“Oh ya?” tanyanya dengan antusias.

Aku mengangguk. “Dia sangat menjaga penampilan. Of course, itu modalnya untuk menarik perhatian wanita, bukan? Tapi selama 6 bulan menjalin hubungan denganku, dia kerap kali meributkan masalah alat vitalnya yang berukuran kecil. Dia takut sekali tak bisa memuaskan pasangannya. Dan akhirnya aku hanya bisa berujar sok bijak bahwa kebahagiaan itu tidak dilihat dari seberapa besar ukuran alat vitalnya. Oh gosh, betapa salah besarnya aku ketika mengucapkan kata-kata itu,” kuluruskan kembali kakiku, lalu berbaring menelentang sepertinya. Kurasakan tempat tidur bergerak sedikit liar ketika tiba-tiba gadis itu membangunkan tubuhnya.

“Wakakakakaka. Kau tahu? Itu M-A-S-A-L-A-H, Ayaaa! Tujuh huruf dengan kapital. Ukuran itu menentukan kerasan atau enggaknya kita sama dia. Hahaha, kebalikan sama mantanku setelah Eri yang justru selalu membanggakan miliknya yang besar dan panjang. Ya Tuhaaan, aku beneran tak bisa menahan tawa!
” 

Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi miring hingga wajah kami saling berhadapan. Untuk sejenak kami hanya saling berpandangan sebelum akhirnya derai tawa meluncur dari sudut bibir seolah hendak mengalahkan gemuruh hujan di luar sana. Kami sama terpingkal demi mengingat kembali obrolan kami yang sudah merembet kemana-mana, hahaha. 

Tapi setidaknya aku membuktikan kalau teoriku benar pada gadis itu,bahwa tak selamanya menguak kenang akan menghadirkan kristal bening yang menyulam renda di sudut bulu mata. Right? 




Minggu, 25 Agustus 2013

Lagi...

Aku tak pernah membutuhkan itu
jika apa yang ditawarkan hanyalah airmata dan luka.
Aku pun tak pernah ingin memiliki itu
jika semua yang nampak adalah apa yang telah kumiliki selama ini.

Aku hanya membutuhkan kamu
membutuhkan masa dimana canda dan tawa mengalir tak ubahnya arus sungai
membutuhkan masa dimana rindu dan kasih turun laksana hujan
menyejukkan...

Sebuah kebodohan kah?
Mungkin...

Jika memang yang kau inginkan adalah waktu
untuk dapat memulihkan semua yang tergores
maka akan kuberikan tanpa cela.
Tapi apabila waktupun ternyata tak mampu membenahi
maka aku memilih pergi

karena aku tak pernah membutuhkan airmata,
lagi...





Jumat, 23 Agustus 2013

Nina Bobo ( By. Budiman S Hartojo 1962 )

Seakan akulah kini yang tegak berdiri
di pantai
memandang laut lepas tenang membiru
yang hidup dalam gejolak rindu
yang berkata-kata dalam bahasa bisu
Aku berdiri
berkawan anak-anak angin, pasir putih
dan cakrawala yang angkuh
dan gaib
Bersatu aku dengan suasana
dalam haru
dalam kenang
dalam ketiadaan bentuk alam
Aku lebur

Seakan akulah laut, angin, cakrawala
akulah semesta
Aku lebur

Dari sini kupandang engkau
di sini kukenang engkau
kekasih yang jauh memanggil
dan jiwaku yang menggigil
Aku lebur

Dari sini kulihat kotaku
Musim hujan di sana telah jatuh
berderai satu per satu
mencari cintaku
di mana ia berlabuh
Kemudian dibasuhnya keningku
dan bayangmu pun berkilau
Engkaukah itu
yang melenggang di pematang ombak
lautku?

Dulu pernah sekali aku pulang
seperti anak ayam hilang
tanpa induk tanpa sarang
Kukayuh sepeda dalam hujan
di atas becek jalanan berlumpur hitam
di atas aspal berkilap dalam kelam
Sekarang baru kurasakan di rumah ini
betapa indahnya ketenteraman
alangkah nikmatnya
alangkah hangatnya
kehidupan
Dulu pernah aku tiada semalam pun
pulang
keluar mengembara
Dan setelah kutemukan engkau
betapa kini bisa kurasakan
pulang ke rumah dalam kehangatan
Dulu pernah kuabaikan
suasana cinta-kasih bapa-bunda
sanak-saudara dan keakraban rumah kita
Dan setelah kini kulihat engkau
maka kulihat semuanya
Engkau telah pulangkan daku
dan kini kuantar engkau dalam impian
Duduklah di sampingku
berlayar menengok segala pantai dan laut
berlabuh di setiap kota sambil bercerita juga
tentang anak-anak kita
tentang penghuni tanah air yang bakal tiba
Sementara itu istirahatlah engkau
dan dengarkan ceritaku sebentar saja

Sekarang, karna kita bukanlah lagi kanak
yang terlena oleh bayang-bayang cinta usia pandak
atau terdesak oleh pikiran belum masak
mari kita bangunkan cinta menggunung
kekal bagai gurun
abadi bagai samudera
luas bagai angkasa
Diamlah, jangan lagi tangiskan
sajak sedih yang getir
cucuran darah penyair
Jangan lagi risaukan
suara langkahku yang membanjir
karna semuanya belum berakhir
Pandanglah aku
pandanglah laut depanmu

Kini kubawa engkau pulang dari segala impian
berjalan menyusuri setiap lorong dan jalanan
pulang menabikkan salam selamat malam
pada setiap orang
Mereka akan berbisik memperhatikan kita:
"Seperti hidup dalam cerita pendek saja
keduanya lupa segalanya."
(Aku jadi ingat sebuah syair pendek
waktu masih sekolah di kota, kata seorang perempuan tua)

Maka seperti lautan di sana itu
kita pun berjalan terus
Maka seperti anak-anak angin
kita pun bersiulan bertembangan
seperti bunga-bunga dan dedaunan di pagar tetamanan
seperi dua ekor angsa di kolam renang

Maka kita pun bercakap, bercerita
dan berkata-kata juga
Dan seperti banjir yang tanpa surut
cintaku pun hadir pantang berkawan maut

Maka inilah ninabobo
lagu penidur
sebelum kau terlena dalam mimpi
melupakanku

Maka malam yang panjang pun terasa sumbang

dan cintaku berkelana dalam diam

------------------------------------------------------------------

Gara-gara seseorang yang baru untukku, dan yang baru kau temui kembali, aku jadi tertarik membuka banyak karya sastra. Ini salah satu rekomendasi dari dia. 
Aku seperti membaca sebuah dongeng, sajak tentang "Pulang" :) 



Sabtu, 20 Juli 2013

Be Strong, Honey...

Kamu ingat kata-kata ini?
Di antara lelahku, kutitipkan senyumku pada selendang cahaya yang menudungi langit kotaku. jangan menyerah dengan keadaan, separuhku. aku di sini, meski tak tampak, akan selalu kurapalkan doa-doa untuk ketabahan tanpa jeda. kita. 
Ini?
Kau dan aku. Dua Hawa yang ternyata memilih tulang rusuk yang salah. Pada hakekatnya, kita hanya dua hawa yang tak mampu lagi merasakan getar cinta dari pengelana kata. Tapi tak ada airmata di antaranya, sebab kita saling memiliki, dengan rusuk yang juga sebelah.
Ini? 
Selama jantungku masih berdetak, selama itu pula aku akan menjadi ksatria penumpas masalahku
Lalu ini? 
Ada kalanya kita harus berhenti. tak untuk menyerah, tapi beristirahat. mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan perjalanan.
kau ingat ikrar kita, kan? bahwa hanya di bawah sapa hujan kita akan membiarkan airmata kita turut turun. membaur bersama titik-titik air. tak untuk terlihat kuat, tapi agar tak menambah beban pikiran orang lain
Itu semua adalah apa yang kau kirim untuk menjadi penguatku. 

Bukan kita yang membuat garis takdir, sayang. Kita hanya memutuskan apa yang kita pikir baik untuk kita. Dan tugas kita sekarang hanyalah bertanggung jawab pada keputusan itu, kan? Baik dan buruk awalnya juga dari kita sendiri.

Jadi....
Be Strong, Honey... kita ikuti saja apa mau-Nya. Kau kuat, dan aku yakin kau bisa. Apa yang kau anggap karang saat ini, kelak hanya akan menjadi sebuah kerikil di matamu. 

Jangan menyerah, kau itu cuma separuh, jadi tak akan hancur seluruhnya. Karena separuhmu lagi ada padaku, kan? 
Kita masih memiliki mimpi dan padang ilalang kita...



Rabu, 17 Juli 2013

Tentang Kita

Aku memandang puas pada layar komputer, tersenyum lalu memencet tombol close. Selesai untuk hari ini. Kulirik jam bulat berwarna putih yang menempel di dinding ruangan, 18.30 wib, masih terlalu sore untuk ukuran standart jam kerjaku.
Aku dikejutkan oleh lagu just the way you are milik Bruno Mars yang terdengar keras dari ponselku. Tak perlu melihat siapa yang menelpon, karena lagu itu memang khusus kubuat menjadi nada dering untuk kamu. 
"Ya, beib," jawabku. Kujepit ponsel hitam itu di antara telinga dan bahuku, sementara kedua tanganku sibuk membereskan peralatan tulis yang masih berserakan di atas meja kerjaku.
"Masih sibuk?" Tanyamu dengan suara khasmu yang lantang dan bersemangat. Suara yang selalu mampu membuatku tertawa.
"Nggak, nih udah selesai," jawabku yang masih sibuk dengan meja kerjaku.
"Jalan kita, beib?" Ajakmu.
Aku sedikit tertegun, ini ajakan pertamamu semenjak kita berpacaran. Kesibukan memaksa kita untuk menyingkirkan rasa egois. Dan malam ini kamu menelpon untuk mengajakku pergi? Benar-benar kejutan, kau tahu?
"Beib?" Panggilmu lagi yang segera menyadarkanku.
"Oh, oke..." Jawabku segera.
Kamu tertawa renyah, "Aku jemput ya! Pakai sesuatu yang berwarna biru, sebab jacketku juga biru."
Aku ikut tertawa, itulah kamu, pria yang selalu memikirkan penampilan. Dalam hal ini kau tak pernah ingin terlihat kacau. Walau kadang aku berpikir kalau kau terlalu 'lebay', tapi aku suka. Karena aku pun tak suka dengan pria yang berpenampilan asal-asalan. "Kemeja biru dengan celana panjang hitam, cocok kan?" Jawabku.
"Sip, aku berangkat sekarang. Tunggu aku ya?"
Aku hanya mengangkat bahu saat sambungan telepon sudah terputus sebelum kujawab. Dan lagi-lagi begitulah kamu, pria ku yang tak pernah basa-basi.
Kusegerakan kesibukanku, lalu kuraih tas kerjaku dan berlari menuju toilet. Kurapikan baju dan rambutku. Juga sedikit memperbaiki make up. Aku tak terlalu suka berdandan, tapi untuk malam ini akan kubuat perkecualian, untukmu.

Setelah dirasa rapi aku langsung berjalan menuju lobby hotel tempatku bekerja. Kuperkirakan kau akan sampai sepuluh menit lagi. Agar tak terlihat gelisah aku memilih duduk di sofa yang tak jauh dari pintu masuk, agar aku bisa segera melihat kehadiranmu saat memasuki pelataran hotel.

Tapi tetap saja gelisah, ini kencan pertamaku dengan kamu, dan aku tak bisa menolak debaran halus yang sejak tadi terus merambati dadaku.

Surat kabar hanya kubaca judul beritanya saja, setelah itu kulipat dan kuletakkan lagi di tempatnya. Majalah mingguan pun memiliki nasib yang sama seperti yang sebelumnya. Lima belas menit berlalu, dan aku belum melihat sosokmu. Salah satu sifat burukku langsung muncul, panik. Aku segera berdiri dan berjalan keluar, 'Dimana kamu? Nggak ada apa-apa di jalan, kan?' Tanyaku dalam hati dengan gelisah. Aku mondar-mandir di teras lobby sambil tak lepas memandang pintu masuk.
"Permisi, Bu. Ibu mau pulang sekarang? Biar saya panggilkan supirnya di belakang?"

Teguran security mengejutkanku, aku langsung menggeleng keras, "Nggak usah, Pak... Malam ini saya pulang sendiri, ada teman yang mau menjemput," tolakku, lalu laki-laki setengah baya itu mengangguk dan berjalan menjauh. Aku memang mendapatkan fasilitas antar jemput dari kantor, karena itu wajar kalau security bertanya begitu padaku.

Aku semakin gelisah dan segera saja kuraih ponselku. Kupilih satu nama sebelum kutekan tombol hijau. Tak sampai nada sambung terdengar di telingaku, aku segera menekan tombol merah dan memasukkan ponsel hitam itu kembali ke dalam tasku. Aku tersenyum saat derum motor dan bayanganmu mulai memasuki pelataran parkir dan berhenti di depanku. 'Ahh... Debaranku, kumohon diamlah,' bisikku dalam hati saat kamu membuka helm hitammu dan tersenyum padaku. Wajahmu yang tampak tegas dengan senyum yang tak pernah hilang. Warna kulit sawo matangmu dengan postur tubuh yang tak begitu besar. Semua itu selalu cukup membuatku... Mmmh... Terpesona?

"Berangkat sekarang kita?" Ajakmu sambil menyodorkan satu helm hitam lagi padaku.

Aku hanya mengangguk sembari menerima pelindung kepala itu darimu. Setelah yakin aku memakainya dengan benar kamu lalu kembali mengenakan helmu sendiri dan bersiap dengan motormu lagi.

"Sudah?" Tanyamu meyakinkan diri kalau aku sudah duduk dengan nyaman di belakangmu.

Aku memeluk pinggangmu dengan sedikit canggung, dan bisa kurasakan bahumu bergerak-gerak karena tawa. Aku diam saja, mau ngomel pun kamu tak akan dengar. Dan aku tersenyum saat motor mulai melaju di jalanan.

"Kemana kita, Beib?" Tanyamu sedikit keras mencoba mengalahkan deru motor dan angin.

Merasa tak punya ide aku pun hanya memasrahkan pada pilihanmu saja. Kamu tampak diam sebentar sebelum kembali sedikit menoleh ke belakang, "Gimana kalau ke pelabuhan? Ada mie kepiting yang enak banget di sana," tawarmu.

Aku tertawa senang, "Pelabuhan? Kamu kok tahu kalau aku suka laut?" Jawabku keras.
Kamu ikut tertawa dan membalas, "Karena kita sehati, kan?"

Ya Tuhan, debaran itu semakin kencang. Dan tanpa sadar aku semakin mengeratkan pelukanku di pinggangmu.

Setelah itu kita terdiam, kita menikmati lampu-lampu jalanan yang seakan berkejaran dalam diam. Menikmati hembusan angin yang mempermainkan rambut setengah panjangku juga dengan diam.

Kuhirup aroma tubuhmu yang memancarkan aroma parfum maskulin, harum. Kau suka parfum, dan aku selalu suka pilihanmu.

Senyumku semakin lebar saat kau membelai tanganku yang melingkari pinggangmu dengan lembut. Sekali lagi aku tenggelam dalam debaran yang semakin kuat saat jemari kita terjalin menjadi satu. Kalau saja helm ini tak menutupi wajahku, aku yakin kamu akan tertawa geli melihat bagaimana merahnya wajahku. Kau dengar debaranku? Dia meneriakkan sebuah kalimat, sayang... Aku mencintaimu, katanya.

Kau hampir tak pernah mengumbar kata-kata romantis yang penuh dengan gombalan dan omong kosong. Kau bahkan terkesan acuh tak acuh. Tapi sikap yang kau tunjukkan, pandangan matamu saat menatapku, senyum dan tawa yang tak pernah lepas dari bibirmu saat bersamaku... Itu sudah cukup untukku tahu kalau akupun memiliki arti untukmu.

Aku ingin roda motor ini terus berputar, berharap jarak ke pelabuhan masih memakan waktu berhari-hari lagi, karena aku enggan melepaskan pelukanku darimu.

Tapi apa dikata, aku justru tersenyum lebar saat kau menghentikan motormu di depan lautan yang maha luas. Walau gelap, tapi pantulan lampu-lampu pelabuhan yang terpantul di air justru menjadi pemandangan yang tampak begitu indah dan megah.

"Kita sampai, sayang," katamu setelah melepaskan helmmu.

Aku masih mengagumi keindahan malam di depanku. Helm hitampun lepas dari kepalaku dan berpindah ke tanganmu. Lalu aku turun perlahan dari motormu, berjalan mendekat ke batasan laut. Benar-benar indah. Aku tak peduli walau angin laut mempermainkan rambutku sedemikian rupa, aku masih belum puas dengan keterpanaanku akan kecantikan di depanku.

Aku sedikit terkejut saat lenganmu merangkul pundakku, "Suka?" Tanyamu.

Aku mengangguk cepat lalu melihat padamu yang ternyata tengah memandangku sambil tersenyum, "Ini cantik, Beib," bisikku yang entah kamu dengar atau tidak, karena deru angin cukup berisik di telingaku. Tapi senyummu yang semakin merekah dan rangkulanmu yang semakin kencang menjadi arti kalau kau puas dengan jawabanku.

"Kamu lihat itu? Pulau di tengah itu? Itu namanya pulau Sabang," terangmu sambil menunjuk sebuah pulau yang tampak kecil di tengah lautan. Kalau tak ada lampu-lampu dari mercusuar dan bangunan-bangunan di pulau itu, mungkin saat malam begini tak ada yang tahu kalau di tengah lautan luas ini ada sebuah pulau.

"Pulau sabang?" Ulangku. Aku memang termasuk penduduk baru di Banda Aceh ini, jadi belum begitu tahu tentang seluk beluk kota dan pulaunya.

Kau mengangguk, "Pulau Weh sebenarnya, tapi Ibukotanya bernama Sabang, jadilah pulau itu lebih terkenal dengan sebutan pulau sabang," terangmu lagi, dan aku kembali menganggukkan kepalaku.

"Setiap malam Tahun Baru di sana ramai sekali, selalu ada pesta kembang api yang meriah," katamu lagi sambil mengusap lenganku.

Aku tersenyum, "Benarkah? Kamu sudah pernah ke sana saat Tahun Baru?" Tanyaku.

Kamu menatap mataku dan tersenyum, "Pernah, beberapa kali dengan teman-teman. Tapi malam Tahun Baru besok aku ingin ke sana bersama kamu."

Sekali lagi aku terpana dengan kata-katamu. Aku tak bisa menahan bibirku untuk tersenyum.

"Mau?" Tanyamu lembut.

Aku lalu memeluk pinggangmu dengan erat dan menyandarkan kepalaku di dadamu, begitu hangat. Debaran jantungmu yang terdengar di telingaku sungguh membuatku nyaman. "Akhir tahun nanti akan kukerjakan semua pekerjaanku dengan cepat agar bisa pergi ke sana bersama kamu," jawabku. Dan aku kembali tersenyum saat dadamu menggemakan suara tawa.

Lalu setelah itu kami kembali terdiam, menikmati semua yang disajikan alam di depan kami. Tubuhku semakin hangat saat kamu memakaikan jacket birumu padaku, "Lenganmu dingin," jawabmu saat aku bertanya melalui kernyitan keningku.

"Beib..." Panggilku.

"Uan?" Jawabmu iya dalam bahasa aceh.

"Makasih sudah ada bersamaku malam ini ya?"

Kamu tertawa samar sambil mengeratkan pelukanmu padaku, dan aku hanya mampu memejamkan mata saat kau mengecup keningku dengan lembutnya. Hei, Dewi Laut dan Dewi Malam yang tengah mengintip kami dari kejauhan, kumohon hentikan waktuku, aku ingin bersama kekasihku seperti ini lebih lama lagi.

"Makan yuk?" Ajakmu membuyarkan lamunanku.

"Sebentar lagi, aku masih betah di sini," tolakku.

Lagi kamu tertawa pelan, "Nggak akan jauh, dari tempat kita makan nanti kamu masih bisa memandang lautan sebegini luasnya. Yuk..." Paksamu sambil menarik dan menggengam tanganku.

Kali ini aku tak membantah, toh dimanapun asal bersama kamu semua akan tampak indah, kan?



Tempatnya tak mewah, begitu sederhana. Warung tenda di pinggir laut. Tapi tempatnya yang bersih dan nyaman membuat siapapun tak enggan untuk masuk dan duduk di dalamnya.

"Dua mie kepiting, satu teh manis hangat dan satu jus buah naga," pesanmu setelah kita duduk di bangku panjang sebelah pojok, agar aku dapat leluasa memandang lautan di depanku. Kau tahu kalau aku tak begitu suka minuman dingin, dan kau selalu dengan minuman-minuman buah kesukaanmu. Memang tak pernah susah jika bersamamu, karena kau selalu mampu mengendalikan situasi.

"Kenapa?" Tanyamu heran karena melihatku tersenyum sendiri.

Aku hanya menggelengkan kepalaku masih dengan senyum terkulum.

"Selalu terpesona denganku, eh?" Tebakmu penuh percaya diri.

Aku spontan tertawa dan menarik hidungmu dengan gemas, "Dasar Mr. Narsis," ejekku.

"Kalau aku nggak narsis kamu ga akan suka, kan?" Jawabmu asal.

Sekali lagi aku tertawa, "Kalau kamu nggak narsis aku bakalan heran tujuh turunan," balasku dan kamu ikut tertawa sambil mengacak rambut panjangku dengan lembut.

Aku menarik napas panjang. Kuraih tanganmu yang masih memainkan helaian rambutku, lalu kucium perlahan buku-buku jarimu, kutempelkan di pipiku sejenak sebelum aku letakkan perlahan di atas meja dengan masih berada dalam genggamanmu.

Kau mengusap punggung tanganku dengan ibu jarimu, lalu tersenyum. Ah Tuhan... Aku tak membutuhkan aksara maupun lisan jika hati saja mampu saling berbicara seperti ini.

Aku sedikit terkejut saat ibu pemilik warung datang untuk menyajikan pesanan kita. Aku hanya berusaha menyembunyikan rona merah wajahku karena kamu tak juga melepaskan tanganku, bahkan saat si ibu sibuk menata pesanan kita di atas meja. Kau baru mau melepaskan genggamanku setelah aku ancam kalau kau harus menyuapiku sampai habis jika caranya begini.

Agak enggan sebenarnya jika harus berurusan dengan kepiting, tapi karena kau suka ya sudah, aku ikut saja. Dan sepertinya kau tahu isi hatiku. Pelan kau tarik piringku dan mulai meraih potongan kepiting dengan tanganmu yang sudah bersih. Dengan telaten kau buka kulit cangkangnya yang keras dan mengambil dagingnya, lalu kau sodorkan padaku.

Aku tertawa pelan, sedikit malu juga kalau melihat kita tak sendiri di sana. Tapi melihat kau tak peduli jadi akupun mencoba untuk tak peduli. Kubuka sedikit mulutku, membiarkan jarimu memasukkan potongan daging kepiting itu ke sana. Dengan jahil kugoda jarimu dengan lidahku, dan aku bisa melihat kau sedikit terkesiap dan memandangku dengan setengah mengancam. Lalu kita tertawa lagi bersama.

Sambil menghabiskan mie kepiting khas Aceh itu kau terus bercerita tentang kota ini dan seluruh isinya. Dari situ aku bisa tahu kalau kau begitu mencintai kota yang dijuluki Serambi Mekah ini. Matamu berbinar setiap kali kau bercerita tentang laut dan pantainya, yang membuat aku tahu kalau ternyata kita juga menyukai hal yang sama.

Tak terasa malam semakin larut. Piring dan gelas di depan kita telah menjadi dingin oleh angin, "Kita pulang sekarang yuk?" Ajakmu.

Aku menghela napas panjang, sungguh enggan rasanya beranjak dari sini. Aku benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tempat ini.

Aku mendengar tawamu untuk kesekian kalinya, "Kalau pekerjaanmu selesai lebih awal ingatkan aku untuk membawamu kembali ke tempat ini ya?"

Ada rasa lega saat kau mengatakan itu, dan aku hanya bisa mengangguk saja sambil tersenyum senang.

Setelah membayar semua kau lalu kembali meraih tanganku dan mengajakku ke tempat kau memarkir motormu tadi. Kau menahan tanganku yang hendak melepaskan jacket birumu yang masih melekat di tubuhku, "Kamu pakai aja, anginnya dingin. Aku nggak apa-apa, kamu aja," potongnya saat aku ingin membantah.



Benar saja, selama perjalanan pulang angin terasa jauh lebih dingin daripada saat kita berangkat tadi. Jalanan yang tadinya ramai mulai sedikit sepi. Hanya sekelompok anak-anak muda saja yang berkumpul di beberapa titik sudut kota.

Aku mengencangkan pelukanku saat aku tahu kalau sebentar lagi aku harus melepaskan genggaman tanganmu saat ini. Malam kita akan segera berakhir.



"Masuklah, dan jangan lupa minum air hangat biar nggak masuk angin ya?" Pesanmu saat mengantarku di depan pagar rumah.

Aku hanya mengangguk lesu.

"Hei, kenapa?" Tanyamu sambil menyisir rambutku dengan jari-jarimu. Pelan kau mengangkat wajahku agar melihatmu.

Sekali lagi debaran jantung menyekap suaraku saat aku menatap binar jenaka di matamu. Haruskah kukatakan kalau aku tak ingin malam ini berakhir?

Perlahan kau mendekatkan wajahmu, dan aku hanya bisa terpejam dan berpegang pada lenganmu saat satu kecupan lembutmu menyentuh bibirku. Hangat pelukmu menyusul setelahnya.

"Gut nite, Beib... Met istirahat ya?" Bisikmu setelah memberi satu kecupan lagi pada keningku. Lalu kau melangkah mundur dan bersiap lagi dengan motormu.

Aku tersenyum, kali ini tulus tanpa rasa enggan, karena saat itu aku berpikir kalau hanya malam ini yang berakhir, tidak malam-malam atau hari-hari berikutnya. 

"Hati-hati di jalan, Sayang," pesanku sebelum lambaian tangan kita menjadi penutup hari.

Aku hanya bisa memandangi punggungmu yang perlahan menjauh dan menghilang ditelan gelapnya malam. 

Kau memang tak sempurna, aku juga tak akan mengatakan kalau kau adalah segalanya. Tapi yakinlah pada satu hal, Sayang... Kau adalah satu dari warna indah pelangiku.



G'nite...





Author's Note : 
Siapapun yang baca dan mengenal kami, jangan ketawa, pleaseeeeeeee... 
awalnya cuma coretan iseng aja yang bermula dari inbox kami berdua duluuuu... duluuu waktu masih itu #tutupin muka. 
Ada lanjutannya sih benernya. ceritanya sampe Valentine, tapi aku potong sampe sini aja ya :p 
ini file dah terlanjur jadi segini, mau dibuang juga sayang. jadi ya aku simpan di sini ajalah sbg kenangan ( cieeee), lagian aya juga ga marah kok, hehehe thanks Hun #hugs (jangan ketawa kau, janji ya...). 

Daaannnn... buat kamu, beruangku sayang... JANGAN PROTES!!! Fotonya udah aku ganti, bener yang ini bukan?