Jumat, 23 Agustus 2013

Nina Bobo ( By. Budiman S Hartojo 1962 )

Seakan akulah kini yang tegak berdiri
di pantai
memandang laut lepas tenang membiru
yang hidup dalam gejolak rindu
yang berkata-kata dalam bahasa bisu
Aku berdiri
berkawan anak-anak angin, pasir putih
dan cakrawala yang angkuh
dan gaib
Bersatu aku dengan suasana
dalam haru
dalam kenang
dalam ketiadaan bentuk alam
Aku lebur

Seakan akulah laut, angin, cakrawala
akulah semesta
Aku lebur

Dari sini kupandang engkau
di sini kukenang engkau
kekasih yang jauh memanggil
dan jiwaku yang menggigil
Aku lebur

Dari sini kulihat kotaku
Musim hujan di sana telah jatuh
berderai satu per satu
mencari cintaku
di mana ia berlabuh
Kemudian dibasuhnya keningku
dan bayangmu pun berkilau
Engkaukah itu
yang melenggang di pematang ombak
lautku?

Dulu pernah sekali aku pulang
seperti anak ayam hilang
tanpa induk tanpa sarang
Kukayuh sepeda dalam hujan
di atas becek jalanan berlumpur hitam
di atas aspal berkilap dalam kelam
Sekarang baru kurasakan di rumah ini
betapa indahnya ketenteraman
alangkah nikmatnya
alangkah hangatnya
kehidupan
Dulu pernah aku tiada semalam pun
pulang
keluar mengembara
Dan setelah kutemukan engkau
betapa kini bisa kurasakan
pulang ke rumah dalam kehangatan
Dulu pernah kuabaikan
suasana cinta-kasih bapa-bunda
sanak-saudara dan keakraban rumah kita
Dan setelah kini kulihat engkau
maka kulihat semuanya
Engkau telah pulangkan daku
dan kini kuantar engkau dalam impian
Duduklah di sampingku
berlayar menengok segala pantai dan laut
berlabuh di setiap kota sambil bercerita juga
tentang anak-anak kita
tentang penghuni tanah air yang bakal tiba
Sementara itu istirahatlah engkau
dan dengarkan ceritaku sebentar saja

Sekarang, karna kita bukanlah lagi kanak
yang terlena oleh bayang-bayang cinta usia pandak
atau terdesak oleh pikiran belum masak
mari kita bangunkan cinta menggunung
kekal bagai gurun
abadi bagai samudera
luas bagai angkasa
Diamlah, jangan lagi tangiskan
sajak sedih yang getir
cucuran darah penyair
Jangan lagi risaukan
suara langkahku yang membanjir
karna semuanya belum berakhir
Pandanglah aku
pandanglah laut depanmu

Kini kubawa engkau pulang dari segala impian
berjalan menyusuri setiap lorong dan jalanan
pulang menabikkan salam selamat malam
pada setiap orang
Mereka akan berbisik memperhatikan kita:
"Seperti hidup dalam cerita pendek saja
keduanya lupa segalanya."
(Aku jadi ingat sebuah syair pendek
waktu masih sekolah di kota, kata seorang perempuan tua)

Maka seperti lautan di sana itu
kita pun berjalan terus
Maka seperti anak-anak angin
kita pun bersiulan bertembangan
seperti bunga-bunga dan dedaunan di pagar tetamanan
seperi dua ekor angsa di kolam renang

Maka kita pun bercakap, bercerita
dan berkata-kata juga
Dan seperti banjir yang tanpa surut
cintaku pun hadir pantang berkawan maut

Maka inilah ninabobo
lagu penidur
sebelum kau terlena dalam mimpi
melupakanku

Maka malam yang panjang pun terasa sumbang

dan cintaku berkelana dalam diam

------------------------------------------------------------------

Gara-gara seseorang yang baru untukku, dan yang baru kau temui kembali, aku jadi tertarik membuka banyak karya sastra. Ini salah satu rekomendasi dari dia. 
Aku seperti membaca sebuah dongeng, sajak tentang "Pulang" :) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar