Kamis, 31 Desember 2015

Makna Sepi

Menatap langit malam yang entah kenapa tampak lebih kelam, lebih hitam. Ada sebuah misteri tersembunyi di sana, misteri akan masa lalu yang tak pernah kita tahu bagaimana tercipta. 

Aku memujamu dalam diam, melagukan senandung doa saat memejam, tanpa aksara pun suara. Aku memilih sembunyi, tanpa menghentikan langkah tuk mengikuti. Apa yang kucari? Secuil mimpi ataukah sepotong asa yang telah mati?

Dan kini disaat jarak menjadi jeda di antara kita, aku disibukkan oleh rindu yang merajalela. Disaat mata tak menemukan bayangmu.. aku memilih diam dan melagukan bisu dengan nada pilu.

Tahu kah kamu jika aku telah terjebak pada labirin waktu yang kusebut masa lalu?




Senin, 14 Desember 2015

Dear, Al... ( Pengharapan )

Al...
Aku mencoba mengeja binar pada mata teduhmu, mencoba membaca isyarat tanpa kata yang terpancar di sana, apakah itu rindu? Setelah jeda memisahkan kita beberapa waktu yang lalu, apakah kau juga begitu ingin bertemu?

Sentuhan itu masih sehangat dulu, Al. Rasa nyaman memelukku kala jemarimu membuai kulitku.

Tidakkah kau bertanya kenapa takdir mempertemukan kita? Sementara dia tahu jika semua hanya fana. Kenapa takdir membiarkan rasa itu tumbuh tak terkendali, padahal dia tahu itu tak kan abadi.

Terkadang ego berteriak, menjeritkan keputusasaan, memanggil semua asa untuk kembali. Sedangkan kita tau kalau semua ini telah usai, sudah selesai.

Apa yang aku bisa, Al? Hanya bisikan doa yang terus kusenandungkan setiap malam sebelum mimpi merampas semua kesadaranku. Hanya mampu  mengucapkan seribu pengharapan agar takdir tak merampas senyuman dari bibirmu.

Al.... jika nanti kita diberi kesempatan untuk kembali hidup di kehidupan berikutnya... maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? 



Kamis, 03 Desember 2015

Di Ambang Lelahku

Sepertinya aku sudah berdiri di ambang lelahku. Aku hanya tinggal memilih meneruskan keputusanku untuk berhenti selamanya atau kembali dan memulai semuanya dari awal?

Aku terjebak, tenggelam semakin dalam, karam. Masa lalu mengikatku, meleburkanku bersama murka, dendam, juga kebencian yang tak juga redam. 

Ingin menyerah, entah bagaimana  caraku meniadakan semua salah. Lelah.
Andai aku marah apakah takdir akan mengalah? Yang kubisa hanya pasrah.

Bagaimana aku bisa berdiri jika hanya berjuang sendiri? Bagaimana bisa kubangun kekuatan diri jika hanya berteman ilusi?

Aku manusia yang katanya memiliki hati. Tapi bagaimana bisa merasa jika semua indera seperti mati?

Muak dengan realita.
Aku ingin terlelap dalam mimpi yang tak bertepi. Ingin menangispun percuma, karena air mata tak akan pernah bisa menyelesaikan apa-apa.