Sabtu, 26 September 2015

Seharusnya Aku Diam

Seharusnya sejak awal aku memilih diam, tak menyuarakan sedikitpun rasa yang tumbuh dan berkembang tanpa sengaja. Tak membisikkan kalimat rindu walaupun hanya sepintas lalu.

Seharusnya aku sendiri saja, tak menggantungkan diri pada sesiapa. Hingga rasa terbiasa ada itu tak pernah tercipta, lalu membuatku pada akhirnya menanamkan sebuah asa.

Seharusnya aku tetap bermimpi saja, tak keras kepala membuat semua menjadi nyata, yang pada ujungnya telah menunggu sebuah luka.

Seharusnya aku tetap mencintaimu sendiri saja, tak perlu berbalas dan akhirnya mengubah tawa menjadi airmata.

Seharusnya kita tak perlu berjalan bersisian, dan menentang sang waktu yang kita tahu telah merencanakan sebuah perpisahan, juga kehilangan.



Sabtu, 19 September 2015

Puisi - Andien Tyas


Aku yang pernah engkau kuatkan

Aku yang pernah kau bangkitkan
Aku yang pernah kau beri rasa 

Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu

Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia 
Puisi terindahku hanya untukmu 

Mungkinkah kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama 
Puisi terindahku hanya untukmu


Dan larik-larik syair pun tercipta dengan semu, melagukan kamu... puisi terindah yang selalu kutuliskan tanpa jemu.




Selasa, 15 September 2015

Dear, My Beloved 'A'

Beberapa tahun yang lalu kita dipertemukan oleh takdir, menjalin sebuah hubungan yang biasa-biasa saja, tanpa perasaan apa-apa. Lalu jeda hadir di antara kita tanpa sua dan berita, walau kita masih tinggal di kota yang sama. Hingga pada akhirnya takdir membawaku kembali ke hadapanmu lebih dari setahun yang lalu, dimana kita sama-sama merasa ada yang berbeda dari tatapan mata. Ada aksara tak terbaca di sana, aksara yang tak mampu dilagukan oleh suara.

Ada sebuah rasa yang tak mampu kita tahan setelahnya, rasa saling butuh dan ingin selalu ada. Bersamamu aku mampu menyanyikan ribuan lagu, menuliskan ribuan syair hati yang telah lama mati. 
Bersamamu aku merasa utuh, berguna karena aku didengar, berharga karena aku dijaga. Kau berikan lenganmu untukku bermanja, kau hujani aku dengan tatapan memuja, kau biarkan aku melakukan apa saja yang tak mampu kulakukan saat kamu tak ada.

Aku tenggelam oleh senyuman yang selalu kau bagi setiap hari, aku terperangkap oleh tatapan hangat yang selalu kau kirim setiap saat. Aku serakah oleh semua keindahan yang kau tawarkan tanpa meminta balasan. Aku terbuai oleh genggaman tanganmu yang tak sekalipun melepasku saat aku merasa sendiri dan sepi. Pelukmu pun seolah candu yang terus saja aku rindu jika aku tak ada di sisimu.
Hingga pada akhirnya kita menyadari telah tumbuh sebuah rasa yang kita sebut cinta.

Tapi takdir menertawakan kebodohan kita, dan kita menutup mata untuk segala salah. Kita tetap bertahan dengan kekeraskepalaan, melabuhkan sampan walau tahu kalau kita tak memiliki dermaga untuk bersandar. Kita berlayar di tengah ombak yang terus menghantam. Menulikan telinga akan deru angin yang menjelma badai. 
Tapi sekuat apa kita akan terus bersama? Sementara kita sama-sama tahu jika sampan kita tak akan pernah bisa bermuara.

Mungkin kalau kita boleh memilih, kita akan memilih tenggelam dan karam. Tapi mampukah kita disebut kejam oleh mereka yang tak seharusnya terluka?

Kita menyerah saja, tak usah lagi melawan takdir yang tak mengenal kata akhir.

Akupun hancur, dan menjadi serpihan saat tanganmu tak lagi kugenggam. Aku pun lantak, lemas tak berdaya saat pelukmu kulepas. Tapi kita bisa apa?

Jangan dulu menatapku jika nanti kita bertemu, karena airmataku masih terus mengalir dengan tidak tahu malu. Jangan mendekat, atau aku akan langsung memelukmu dengan erat.
Berikan aku sedikit waktu untuk menyendiri, bukan untuk terus menangisi hati yang patah dan mati, tapi untuk mengemasi apa yang sudah terserak lalu menatanya kembali.

Akan kutulis kisah ini sebagai kenangan, yang kelak jika lembarannya terbuka lagi aku akan mampu membacanya dengan senyuman, bukan dengan luka dan airmata.

Dear, my beloved 'A'...
.
.
.
Aku mencintaimu.






Minggu, 13 September 2015

The Lonely - Christina Perri


2am; where do I begin,
Crying off my face again.
The silent sound of loneliness
Wants to follow me to bed.

I'm the ghost of a girl that I want to be most.
I'm the shell of a girl that I used to know well.

Dancing slowly in an empty room,
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby.
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Too afraid to go inside
For the pain of one more loveless night.
Cause the loneliness will stay with me
And hold me till I fall asleep.

I'm the ghost of a girl that I want to be most.
I'm the shell of a girl that I used to know well.

Dancing slowly in an empty room,
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby.
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Broken pieces of
A barely breathing story
Where there once was love
Now there's only me and the lonely.

Dancing slowly in an empty room
Can the lonely take the place of you?
I sing myself a quiet lullaby
Let you go and let the lonely in
To take my heart again.

Mungkin akan semakin menyakiti diri sendiri, tapi tak apa... kurasa aku akan bisa menghasilkan sebuah tulisan dari lagu ini :D

There's Something In September

Aku lupa, sudah berapa lembaran almanak bertanggalan sejak aku menghabiskan waktuku bersama dia, mengisi hari-hariku dengan kehadirannya. Aku lupa, Ay... entah sudah berapa halaman buku yang kutuliskan tentang dia, hanya dia.

Aku kembali bermain dengan takdir, meletakkan hati pada tempat yang salah. Kenapa selalu salah, Ay? Mungkin karena apa yang seharusnya sudah benar tak pernah menjadi benar untukku, mungkin. Atau aku saja yang tak pernah berusaha membuatnya menjadi benar? Entah.

Aku tertawa dan terus tersenyum, menyimpan ribuan airmata di baliknya, tapi bukan kuat yang terlihat, justru aku semakin tampak konyol, Ay... hah :D

Aku hanya mencari sebuah tempat yang bisa kusebut rumah, Ay... tempat aku pulang dan melepaskan segala penatku, tempat aku melepaskan tangis kala lelah melanda, tempat dimana aku selalu didengar, tempat dimana ada tangan yang terulur dan menggenggamku erat.
Tapi ternyata aku salah, dan dengan bodohnya aku menutup mata selama ini, membiarkan diriku semakin tenggelam dan karam.

Aku sakit, Ay... aku terluka, lagi. 

Tapi bukan separuhmu namanya kalau aku tak mampu kembali berdiri dan berlari. Aku hanya butuh waktu dimana aku hanya ingin sendiri, bukan untuk melarikan diri, tapi hanya sekedar untuk menenangkan hati.

Seharusnya aku tak pernah keluar dari dunia yang pernah kuciptakan, dimana sebuah pertemuan tak akan pernah berakhir dengan kehilangan.
Tak apa... aku bisa kembali lagi ke sana untuk menata kembali apa yang sudah terberai. Aku akan kembali ke sana untuk menutup sedikit demi sedikit luka yang terlanjur menganga.

Ada sesuatu di bulan September, Ay... saat rintikan hujan tak juga menyapa, saat kering menggerogoti dada, ada sebuah kisah yang harus kembali tiada :) 





Terakhir

Saat kita tak lagi mampu menahan diri, bukankah sebaiknya kita sudahi?

Tugas kita hanya mencari jalan untuk kembali menata hati, dan memperbaiki semua yang salah saat kita mengawali.

Kita sudah sama-sama memilih, tak apa sedikit perih asal tak ada lagi yang tersakiti. Cukup kita saja yang terluka, jangan mereka.

Kisah seribu cinta ini mari kita penggal, dan kemudian ucapkan selamat tinggal.

Jika kelak kau teringat akan masa lalu, ingatlah pernah ada hari-hari dimana aku sangat mencintaimu.








Sabtu, 12 September 2015

Senja Lagi

Senja kembali membawa pergi sekeping hati, menorehkan segaris luka dengan belati.
Lagi aku seperti mati, selaksa terapung tak bertepi.


Aku hanya mampu menatap nanar dari pinggir dermaga, menahan rasa kering dan dahaga. 
Lagi aku mencoba rela, walau hanya serpihan duka yang tertinggal di dada.

Kita yang putuskan, aku dan kamu mencoba kembali ke titik awal pertemuan. 
Lalu pertanyaan kembali terulang : Mampukah kita meniadakan kenang?

Lagi-lagi senja melagukan hal yang sama, menyuarakan lagi syair kehilangan.



Jumat, 11 September 2015

Sebenarnya Ada Apa?

Kutuliskan puisiku berupa airmata, 
kulukiskan pada dinding-dinding hati yang entah kenapa terasa begitu hampa. 
Ada apa sebenarnya?

Kulagukan syairku berupa isak tangis, 
kurekam pada relung-relung dada dimana rindu tak pernah habis.
Lalu harus dengan cara apa luka ini kukikis?

Sebenarnya kenapa?
Saat kubuka mata yang kujumpai adalah duka
yang bahkan tak pernah aku tahu dari mana datangnya.