Beberapa tahun yang lalu kita dipertemukan oleh takdir, menjalin sebuah hubungan yang biasa-biasa saja, tanpa perasaan apa-apa. Lalu jeda hadir di antara kita tanpa sua dan berita, walau kita masih tinggal di kota yang sama. Hingga pada akhirnya takdir membawaku kembali ke hadapanmu lebih dari setahun yang lalu, dimana kita sama-sama merasa ada yang berbeda dari tatapan mata. Ada aksara tak terbaca di sana, aksara yang tak mampu dilagukan oleh suara.
Ada sebuah rasa yang tak mampu kita tahan setelahnya, rasa saling butuh dan ingin selalu ada. Bersamamu aku mampu menyanyikan ribuan lagu, menuliskan ribuan syair hati yang telah lama mati.
Bersamamu aku merasa utuh, berguna karena aku didengar, berharga karena aku dijaga. Kau berikan lenganmu untukku bermanja, kau hujani aku dengan tatapan memuja, kau biarkan aku melakukan apa saja yang tak mampu kulakukan saat kamu tak ada.
Aku tenggelam oleh senyuman yang selalu kau bagi setiap hari, aku terperangkap oleh tatapan hangat yang selalu kau kirim setiap saat. Aku serakah oleh semua keindahan yang kau tawarkan tanpa meminta balasan. Aku terbuai oleh genggaman tanganmu yang tak sekalipun melepasku saat aku merasa sendiri dan sepi. Pelukmu pun seolah candu yang terus saja aku rindu jika aku tak ada di sisimu.
Hingga pada akhirnya kita menyadari telah tumbuh sebuah rasa yang kita sebut cinta.
Tapi takdir menertawakan kebodohan kita, dan kita menutup mata untuk segala salah. Kita tetap bertahan dengan kekeraskepalaan, melabuhkan sampan walau tahu kalau kita tak memiliki dermaga untuk bersandar. Kita berlayar di tengah ombak yang terus menghantam. Menulikan telinga akan deru angin yang menjelma badai.
Tapi sekuat apa kita akan terus bersama? Sementara kita sama-sama tahu jika sampan kita tak akan pernah bisa bermuara.
Mungkin kalau kita boleh memilih, kita akan memilih tenggelam dan karam. Tapi mampukah kita disebut kejam oleh mereka yang tak seharusnya terluka?
Kita menyerah saja, tak usah lagi melawan takdir yang tak mengenal kata akhir.
Akupun hancur, dan menjadi serpihan saat tanganmu tak lagi kugenggam. Aku pun lantak, lemas tak berdaya saat pelukmu kulepas. Tapi kita bisa apa?
Jangan dulu menatapku jika nanti kita bertemu, karena airmataku masih terus mengalir dengan tidak tahu malu. Jangan mendekat, atau aku akan langsung memelukmu dengan erat.
Berikan aku sedikit waktu untuk menyendiri, bukan untuk terus menangisi hati yang patah dan mati, tapi untuk mengemasi apa yang sudah terserak lalu menatanya kembali.
Akan kutulis kisah ini sebagai kenangan, yang kelak jika lembarannya terbuka lagi aku akan mampu membacanya dengan senyuman, bukan dengan luka dan airmata.
Dear, my beloved 'A'...
.
.
.
Aku mencintaimu.