Rabu, 19 Juni 2013

Tawa kita

Dalam bilangan angka yang terus bergulir, entah berapa ribu tawa yang kita bagi, berapa ribu tetesan airmata yang tercurah dan lebur bersama hujan? Berapa lembar bukuan hari yang bercerita tentang badai? Tapi pada akhirnya selalu ada pelangi di akhir kisah. 

Kau, Puan Hujanku... yang selalu melangkah bersamaku... 
Terkadang jalan yang kita tempuh tak begitu halus, tak jarang kerikil kecil bahkan karang terjal menghadang di depan. Tapi kita tetap berjalan, entah itu dengan tertatih ataupun terseok. Kita tetap memandang ke depan, tersenyum pada matahari senja yang hampir terbenam di ufuk barat. 

Kita berlari, dan berhenti saat kita lelah. Mengistirahatkan raga juga jiwa letih kita. Bersandar pada sebuah pohon rindang yang menjaga kita dari panasnya kemarau. Hingga kita kembali segar dan mampu melanjutkan perjuangan kita, bukan untuk menyerah.

Tak peduli berapa banyak peluh membanjiri wajah dan tubuh kita. Darah yang mengalir akibat luka pun tak kita hiraukan sakitnya. Kita tetap tersenyum, mensyukuri semua yang terjadi, entah itu suka ataupun duka.

Kenapa kita bisa? Walau ribuan rintihan juga keluhan kerap mengalun dari bibir-bibir kita. Kenapa kita mampu? Kita masih bisa bernyanyi dan tertawa di bawah hujan, menari di bawah derasnya sembari mengarang bentuk dan warna pelangi milik kita sendiri saat hujan reda nanti. 

Karena kita bersama, sayang... karena aku dan kamu tak pernah sendiri, karena tangan-tangan kita terus bertautan. 

Karena kekuatanmu mengalir ke dalam tubuhku melalui jalinan jemari kita :) 

Tetaplah tersenyum, Puan Hujan-ku... bersamaku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar