Senin, 06 Mei 2013

Sesakku...

Kubuka perlahan pintu rumah kayu ini, deritnya tak berubah, tetap ada dan terdengar khas di telinga. Aroma  kayu tercium tajam, aroma kesukaan kita, Ay.
Gelap... aku berjalan menuju jendela kayu di samping pintu depan, lalu membukanya perlahan, membiarkan sinar sang raja cahaya menembus ke dalam. 
Aku tersenyum dan memejamkan mata saat angin siang padang rumput kita menyeruak masuk. Kubiarkan rambut panjangku yang tak terikat rapat terlepas dan bermain bersama mereka. 

kubalikkan tubuhku dan memandang ke seluruh bagian rumah kayu kita, semua masih tertata rapi. Hanya sedikit debu dan beberapa hasil karya laba-laba hitam yang memintal benangnya pada sudut-sudut ruangan. Tak perlu waktu lama untuk membersihkan semuanya, hanya dengan sedikit sentuhan tanganku saja maka aku yakin kau pun tak akan pernah sadar kalau kita pernah pergi untuk beberapa waktu.


Aku berjalan menuju dapur, menyentuh pelan perkakas yang ada di sana, membayangkan saat kau menggunakan mereka dengan wajah berbinar dan bibir yang tak henti melantunkan baitan syair. Aku ingat saat kau selalu mengancamku agar aku tak mendekati wilayah yang menjadi kekuasaanmu ini, dan mengatakan kalau aku tak akan mendapatkan omelet kesukaanku jika aku berani menyentuh barang-barang di ruangan ini tanpa seijinmu. 

Tapi aku yakin kali ini kau tak akan marah, aku cuma ingin membersihkan debu-debu yang melekat di sana.

Hei... kenapa tiba-tiba mataku mengabur? Seperti ada selaput tipis yang menghalangi korneaku. Dari hidungku pun seperti ada yang menyumbat seiring rasa sakit yang muncul di dalam hati. 

Aku terus membersihkan perkakasmu, mencoba mengabaikan rasa tak nyaman yang terus menyesak. 
Ah... dari mana tetesan air ini? kenapa dia bisa menetes pada permukaan bening mug milikmu yang tengah kugenggam? Beberapa kali kukerjapkan mataku, dan tetesan itu justru semakin banyak. Ahh aku tahu... ternyata itu airmataku yang tak kusadari sudah semakin deras. 

Aku terduduk di lantai kayu sambil memeluk mug yang pasangannya masih terdiam di lemari kaca dan belum sempat kusentuh. Kupeluk mug itu seolah itu adalah hartaku yang paling berharga. Ternyata rasa rindu bisa seperti ini ya, Ay? 


Cepatlah pulang, sayang... aku ingin membaringkan kepalaku di pangkuanmu.  Banyak sekali airmata yang ingin kutumpahkan di dalam pelukanmu, hujanku...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar