Untuk ketiga kalinya aku menghentikan langkah kakiku, membalikkan tubuh, menatapmu yang tertinggal beberapa langkah dariku. Kuhembuskan napas perlahan, menantimu mensejajarkan langkah sambil menggeleng kecil. Sikapmu membuat hamparan kerikil di jalan setapak yang kita lewati menjelma bak taburan permata, sebab kau memandanginya sedemikian rupa. Namun kau tak bisa membohongiku, sinar matamu terlihat begitu kosong.
Beberapa kali kau mengalihkan pandangan ketika tanpa sengaja mata kita bertemu di satu titik. Kau menghindari cecaran pertanyaan yang kau ketahui dengan pasti akan kuajukan. Entah apa alasanmu. Mungkin kau tidak ingin aku turut memikirkan apa yang sedang berkecamuk di mindamu. Mungkin juga kau tak menemukan kosakata yang tepat untuk memintaku agar tak bertanya lebih lanjut. Entahlah.
Pada akhirnya aku tak tahan dengan kesunyian yang tercipta di antara kita, hingga kuputuskan untuk duduk pada sebuah akar besar yang menyembul di permukaan tanah, tak jauh dari jalan setapak yang kita lewati. Aku nyaris tersenyum ketika menemukan tatapanmu yang penuh tanda tanya. Aha, kau pasti heran kenapa aku tiba-tiba memilih untuk duduk di sini, padahal rumah kita tinggal sebentar lagi akan kita lihat. Iya, kan?
Kutepuk tempat tersisa di sampingku. Mengajakmu duduk. Sesekali, tak ada salahnya kita berhenti sejenak. Tak untuk menyerah, tapi beristirahat. Mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan perjalanan.
Kuraih jemarimu, menyalurkan setengah dari ketegaran yang kumiliki. Dan tak ada kata yang tercipta di antara kita, sebab denganmu terkadang kata tak lagi memiliki makna. Kau bisa membaca isyarat mataku sebaik aku membacamu, hingga kita tak membutuhkan perantara aksara untuk mewakilkan kehendak, bukan?
Lalu setitik bening bergulir lembut menuruni pipi indahmu. Aku menganggukkan kepala, isyarat tersamar yang kau pahami maknanya. Kuraih kau dalam pelukanku, menepuk lembut punggungmu sementara bahuku mulai membasah oleh tetes demi tetes yang jatuh dari mata indahmu. Kudendangkan dengan perlahan dongengan hujan dengan pelangi tujuh warna dalam nada paling sumbang sebab bibirku ikut bergetar. Panas menyeruak mataku, memberi jalan pada airmata untuk merayap perlahan. Mendobrak dinding pertahanan terakhir yang selalu kujaga untuk melindungi hatiku, hatimu. Hati kita.
Dan langit seakan bersekutu, ketika ia menitahkan hujan untuk hadir di antara kita. Di antara keheningan jalan setapak di tengah hutan. Hujan yang membuat airmata kita kian tersamar, seperti ikrar kita di awal pertemuan.
Kurenggangkan pelukanku. Membuat kita saling tatap dengan deras hujan sebagai antara. Kutautkan jemari kita, meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja. Peristiwa kemarin tak akan mampu melenyapkan senyum yang seharusnya tersungging di bibir kita, Sayang. Tak akan pernah. Selama kau dan aku saling memiliki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar