Minggu, 24 Februari 2013

Selama Kau Bersamaku

Aku memilih diam, memilih berjalan menunduk dan memandangi batuan kerikil yang sama sekali tak nampak indah. Tak ada sedikitpun keberanian untuk memandang matamu yang aku tahu sejak tadi terus terarah padaku. 
Aku memilih berjalan sedikit menjauh, mengacuhkan jeda yang kau cipta pada langkahmu agar aku berada tepat di sampingmu. Aku tak ingin kau melihat tanganku yang gemetar. Aku tak ingin kau melihat kakiku yang lemah terseok. Aku tak ingin kau melihat goresan luka pada manik hitamku. Tidak untukmu, sayang, aku tak mampu mengikatmu untuk berduka bersamaku. 



Aku mendengar helaan napasmu yang tampak tak sabar, tapi kau tetap diam. Kau hargai bisuku sedemikian rupa. Kalau saat ini aku sedang tak kacau, aku yakin kau akan meledak dan menceramahiku panjang lebar dengan kata-kata yang saling berkejaran laksana hujan. Tapi kaupun memilih diam, membiarkan hening menjadi irama sunyi di antara kita.




Kuteruskan langkahku, tetap dengan menunduk, hingga aku tercekat saat melihat kakimu terjulur menghalangi jalanku. Kali ini aku terpaksa mendongak, memandang penuh tanda tanya padamu yang justru memilih duduk di akar pohon besar di jalan setapak hutan kecil yang menuju rumah kita ini. 
Dan aku kembali terhenyak, saat tak kudapati sorot amarah ataupun murka di manik kembarmu. Sorot yang biasanya kau cipta saat aku tak mampu berkata jujur. Sebagai gantinya aku justru melihat senyum di bibir indahmu saat kau menepuk pelan akar pohon yang serupa bangku di sampingmu itu. 



Aku masih diam, tak tahu apa yang harus aku lakukan, hingga aku melihat tanganmu terulur padaku. Bisakah kutolak? Mampukah kutepis rasa nyaman yang selalu tercipta dari telapak itu? 
Pelan kuraih dan ikut duduk bersamamu. Dan aku tak pernah sadar jika butiran bening telah mengalir begitu saja dari mataku saat senyummu justru tampak semakin lembut, bahkan kau mengangguk pelan padaku, mengijinkanku untuk meluapkan semua. 



Aku tak mampu lagi, aku selalu kalah di depanmu. Dan aku menyerah pada amarah yang meledak berwujud tangis melalui mataku saat kau memelukku dengan begitu eratnya. Bisa kurasakan bahu kecilmu bergetar merasakan tetesan airmataku yang membasah di sana.

Tangisku semakin keras saat senandung dongeng hujan dengan pelangi tujuh warna kesukaan kita melantun
lirih dari bibirmu yang bergetar. Aku tahu kau ingin menghiburku, tapi kau selalu merasakan hal yang sama bersamaku, dan kaupun menangis. 


Basah yang kurasa setelahnya bukan lagi datang hanya dari airmata kita, tapi juga airmata anak-anak hujan yang memeluk tubuh rapuh kita. 


Pelukan kita pun meregang, dan kita saling bertatap dengan rinai di antaranya. Kau tersenyum, dan akupun tersenyum, dengan airmata yang mulai tersamar oleh aliran hujan. 
Tautan jemari kita semakin kuat, memberikan banyak keberanian padaku untuk kembali melangkah maju.

Ya, Sayang... peristiwa kemarin tak akan menghilangkan senyum kita, aku berjanji di bawah hujan ini padamu, selama kau ada bersamaku.




Kamis, 21 Februari 2013

Selama Kau dan Aku ( By. Aya )


Untuk ketiga kalinya aku menghentikan langkah kakiku, membalikkan tubuh, menatapmu yang tertinggal beberapa langkah dariku. Kuhembuskan napas perlahan, menantimu mensejajarkan langkah sambil menggeleng kecil. Sikapmu membuat hamparan kerikil di jalan setapak yang kita lewati menjelma bak taburan permata, sebab kau memandanginya sedemikian rupa. Namun kau tak bisa membohongiku, sinar matamu terlihat begitu kosong.

Beberapa kali kau mengalihkan pandangan ketika tanpa sengaja mata kita bertemu di satu titik. Kau menghindari cecaran pertanyaan yang kau ketahui dengan pasti akan kuajukan. Entah apa alasanmu. Mungkin kau tidak ingin aku turut memikirkan apa yang sedang berkecamuk di mindamu. Mungkin juga kau tak menemukan kosakata yang tepat untuk memintaku agar tak bertanya lebih lanjut. Entahlah.

Pada akhirnya aku tak tahan dengan kesunyian yang tercipta di antara kita, hingga kuputuskan untuk duduk pada sebuah akar besar yang menyembul di permukaan tanah, tak jauh dari jalan setapak yang kita lewati. Aku nyaris tersenyum ketika menemukan tatapanmu yang penuh tanda tanya. Aha, kau pasti heran kenapa aku tiba-tiba memilih untuk duduk di sini, padahal rumah kita tinggal sebentar lagi akan kita lihat. Iya, kan?

Kutepuk tempat tersisa di sampingku. Mengajakmu duduk. Sesekali, tak ada salahnya kita berhenti sejenak. Tak untuk menyerah, tapi beristirahat. Mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan perjalanan.

Kuraih jemarimu, menyalurkan setengah dari ketegaran yang kumiliki. Dan tak ada kata yang tercipta di antara kita, sebab denganmu terkadang kata tak lagi memiliki makna. Kau bisa membaca isyarat mataku sebaik aku membacamu, hingga kita tak membutuhkan perantara aksara untuk mewakilkan kehendak, bukan?

Lalu setitik bening bergulir lembut menuruni pipi indahmu. Aku menganggukkan kepala, isyarat tersamar yang kau pahami maknanya. Kuraih kau dalam pelukanku, menepuk lembut punggungmu sementara bahuku mulai membasah oleh tetes demi tetes yang jatuh dari mata indahmu. Kudendangkan dengan perlahan dongengan hujan dengan pelangi tujuh warna dalam nada paling sumbang sebab bibirku ikut bergetar. Panas menyeruak mataku, memberi jalan pada airmata untuk merayap perlahan.  Mendobrak dinding pertahanan terakhir yang selalu kujaga untuk melindungi hatiku, hatimu. Hati kita.

Dan langit seakan bersekutu, ketika ia menitahkan hujan untuk hadir di antara kita. Di antara keheningan jalan setapak di tengah hutan. Hujan yang membuat airmata kita kian tersamar, seperti ikrar kita di awal pertemuan.

Kurenggangkan pelukanku. Membuat kita saling tatap dengan deras hujan sebagai antara. Kutautkan jemari kita, meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja. Peristiwa kemarin tak akan mampu melenyapkan senyum yang seharusnya tersungging di bibir kita, Sayang. Tak akan pernah. Selama kau dan aku saling memiliki.



Senin, 18 Februari 2013

Menunggumu

Cintaku...
Entah berapa berat rinduku padamu beberapa hari ini.
Entah berapa luas ruang hampa yang kosong dan menggemakan namamu.

Tak apa...
Kau juga tahu sebesar apa sabarku.
Akan kutunggu, Honey...
Sampai kau datang dan menemani hari-hariku lagi. 
Membiarkanku bermanja dalam hangat pelukmu. 
Membiarkanku terlelap di antara celoteh riangmu.



Friendship Quotes


BIRU KU

Andai aku adalah biru...
Maka aku ingin 
Menjadi langit dan samudra
Agar aku bisa menjagamu 
Dari ganasnya panas, hujan dan badai.
Membiarkanmu berlayar sesukamu
Tak mengekang atau mengikat
Tanpa harus melepasmu



Kamis, 14 Februari 2013

Everyday I Love You

Pertemuan kita, kupikir dulu hanya sebuah kebetulan saja. Kebetulan kita menyukai satu hal yang sama. Berawal hanya dengan saling sapa, kau terus hadir mengisi hariku. Hingga tanpa sadar aku tak pernah tidak melihat sosokmu, saat kamu tak ada aku justru mencari dan berhenti pada sebuah tempat dimana ada kamu di sana, dengan senyummu. 

Semakin hari aku sudah terlalu terbiasa denganmu. Hal-hal baru muncul, dan begitu banyak kesamaan yang terjadi antara kita. Kamu… dan aku, kita seakan satu jiwa yang terpisah.

Semangat yang kau miliki meracuniku, perlahan mengajakku bangkit dan berjalan bersamamu. Senyum yang kau ukir mengikatku, membawaku ikut serta di dalamnya. Dan tangis yang kau cipta merobek jantungku, karena aku bisa merasakan hal yang sepertimu.

Sempat kau menjauh, hingga aku harus menciptakan diriku yang baru untuk mengejarmu, mendapatkanmu kembali, dan aku bisa. Tapi kusesali satu hal, aku justru menggurat kecewa saat aku ternyata harus berbagi. Aku tahu kau marah, kau sedih, maaf… tapi sungguh aku tak pernah meninggalkanmu. Tidak untuk dulu ataupun sekarang.

Apa yang bisa aku ucapkan di hari kasih sayang ini? Bukankah bagi kita setiap hari adalah hari dimana kita selalu berbagi kasih? Mengikat sayang? Senyum yang kau berikan setiap haripun selalu kuanggap sebagai hadiah kasih sayang darimu. Everyday is Valentine bagiku.

Mungkin ucapan terima kasihku akan bertubi-tubi menghampirimu kali ini, walau aku selalu mengucapkan kata-kata itu setiap detik, di setiap irama detakan jantungku.

Terima kasih telah hadir untukku. Sebagai seluruhku.

Terima kasih telah mewarnai hidupku dengan senyum dan tawa. Menghapus airmataku dengan hujanmu, hujan kita.

Terima kasih telah mengajariku makna hidup, membantuku menjadi kuat dengan menggenggam tanganku, memeluk jiwaku. Mengajariku untuk selalu tersenyum dan menyembunyikan tangis di antaranya. Katamu, biarlah airmata kita hanya kita saja yang tahu.

Terima kasih telah mengerti aku dengan segala aku, menerima baik dan burukku, membuatku merasa berharga, setidaknya berharga untuk diriku sendiri.

Terima kasih, Aya-ku, hujanku, belahan jiwaku… Aku cinta kamu, selalu… #big hugs



Selasa, 12 Februari 2013

Senandung Selamat Datang ( By. Aya )

Dari tadi aku berkali-kali melirik jam mungil yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Mengapa kau tak juga sampai? Oh, tidak! Jangan katakan kalau Pak Tua, si Boss-mu tersayang itu lagi-lagi menahanmu. Ayolah, ini akhir pekan. Kau bahkan nyaris memberi 24 jam waktumu selama 6 hari penuh untuknya.

Matahari semakin meninggi. Lukisan langit di atas kepalaku didominasi warna biru cerah. Warna kesukaanmu. Awan-awan putih berarak manja memuja keluasan jagad. Angin semilir bertiup tenang, meredam semburan murka penguasa panas. Tapi kau tak juga menampakkan batang hidungmu di depan mataku. Hemmm, tak mengapa, aku akan bersabar menunggu kepulanganmu. bukankah kesabaran itu yang membuat hubungan kita bertahan sampai hari ini?

Sambil menunggumu, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Membungkukkan badanku, mengulurkan tangan dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang sudah agak berdebu dari kolong tempat tidur. Kutiup debunya, lalu kubuka perlahan tutupnya. Kau masih ingat benda apa yang kusimpan di kotak itu? Ya, kau benar. Biolaku. Hadiah ulang tahun darimu setahun yang lalu.

Biolaku masih tetap berkilat seperti saat pertama kalinya aku menerimanya darimu. Senar-senar yang masih utuh dan mengeluarkan harmonisasi suara yang memukau. Entah, tapi aku tergerak untuk kembali memainkannya untukmu, anggap saja sebagai caraku membunuh sepi.

Aku bergegas menenteng biolaku, membawanya ke ladang ilalangku yang kian subur dan tinggi. Hijau terhampar seluas mata memandang, tapi aku belum melihat bayanganmu. Mungkin kau sedang mengistirahatkan diri di akar pohon besar yang menyembul di hutan sana, melemaskan otot-otot kakimu yang lelah berjalan. Aku selalu memiliki kesabaran lebih jika itu menyangkut kau.

Kusampirkan biolaku ke bahu, dan mulai menggesek dawai-dawainya. Memainkan lagu tanpa nama yang tiba-tiba saja terpikir di benakku. Kuharap, dalam radius berapa puluh meterpun, kau mampu mendengarkan suara permainan biolaku yang disebarkan bayu ke delapan penjuru mata angin. Isinya hanya satu, Wa: Senandung Selamat Datang, untukmu. Separuhku.


Rencanaku :)

Berapa lama kita tak pulang ke rumah ini, Ay? Lihat itu... sulaman jaring laba-laba menghiasi pojok-pojok atap ruang tamu, ruang tengah dan dapur kita. 
Malas juga membayangkan akan memakan waktu berapa lama untuk membersihkan semua akibat ulah mereka. Nanti sajalah, kita bersihkan berdua ya? Aku mau melepas letihku dulu, di teras belakang, bagian yang paling kita suka dari rumah ini.

Sekarang tanggal 12 Februari, 2 hari lagi Valentine, hari kasih sayang. Bagi kita itu hanyalah sebuah tanggal, kan? Setiap hari senyum yang kau berikan padaku selalu kuanggap sebagai hadiah Valentine darimu. Aiiiih romantis sekali aku? haha...

Tapi tak ada salahnya kalau besok lusa kita juga ikut merayakan bersama yang lain. 
Aku meluruskan punggungku di kursi kayu teras belakang kita, memandang pada halaman belakang yang luas di sebelah sana dan tersenyum. 
Sepertinya asik juga kalau lusa malam nanti kita letakkan meja kotak di tengah-tengahnya. Kita punya taplak meja biru putih atau hijau putih, kan? pakai itu saja sebagai penutupnya. Jangan pink, aku tak suka warna itu, terlalu lemah kupikir.
Lalu kita letakkan vas bunga di atasnya, bukan mawar, tapi Lily. Aku mau buket bunga lily-mu sebagai penghias meja kita. Juga lilin-lilin kecil. Aku akan meletakkan deretan lilin di sepanjang jalan setapak dari teras ini sampai ke meja dinner kita.
Kalau tak ada lampu pasti akan sangat gelap sekali, jangan sampai kita salah mengambil atau menyuapkan makanan ke mulut kita. Maka aku akan menancapkan empat batang bambu atau kayu, kupasang tali untuk menghubungkan setiap batangnya, lalu kugantung lampion di sana, pasti cantik dan romantis. Atau kugantungkan saja di dahan-dahan pohon besar itu, kita letakkan meja tepat di bawah pohon itu saja. Ya begitu saja, nanti siang aku akan berburu lampion di kota.

Aku juga akan memutar musik di sana, menemani perbincangan kita agar tak sepi. Walau aku tahu itu tak akan terjadi, celotehmu hampir mirip dengan deras hujan kita, haha... kau cerewet :p
Tapi tak apa, aku ingin kita mendengarkan lagu ini. 

Casandra - Cinta Terbaik

Untuk menu dinner kita, aku serahkan sepenuhnya pada pilihanmu. Aku yakin pada pilihan rasamu. Masalah hujan atau tidaknya nanti itu urusan belakang, kita buat semua menjadi indah ya, Ay :)