Sabtu, 09 April 2016

Sebelas Tahun Yang Entah

Ri...
Happy Birthday. Selamat untuk hari lahirmu.
Terima kasih telah menemaniku walau hanya beberapa tahun saja. Tahukah kau kalau tahun-tahun bersamamu adalah yang terindah?

Ini tahun ke-sebelas dimana kuucapkan ini tanpa kamu. Apakah kamu merindukan kebersamaan kita? Canda tawa dan semua pertengkaran kita? Tak rindukah kau memelukku kala aku bersedih? Andai kau tahu betapa saat ini aku membutuhkanmu, merindukanmu.

Ri... Aku masih belum tahu bagaimana makna bahagia yang sesungguhnya. Atau mungkin aku saja yang terlalu buta? Bahkan mungkin aku juga belum mampu memahami seperti apa makna cinta yang sebenarnya.

Aku terlalu sibuk dengan perasaan yang tak tentu arah, sibuk menentukan jalan yang HARUS kupilih, bukan yang SEBAIKNYA kupilih.

Ri... Sudahkah kau menjadi bintang di atas sana? Tak inginkah kau mengajakku duduk di antara gugusan Bima Sakti lalu mengiringi laguku lagi dengan petikan gitarmu seperti dulu? Hei... jangan-jangan para Bidadari itu telah menggantikan tempatku di sisimu? Haruskah aku cemburu? Secantik apa mereka? Apakah suaranya lebih merdu dari suaraku? 
Hehe... tak apa, aku tak akan marah, aku janji.

Ri... Aku ingin bersandar di bahumu, lalu menceritakan semua yang telah terjadi saat tak ada lagi tanganmu yang menggenggamku, saat tak ada lagi lenganmu yang mendekapku.

Sebelas tahun yang entah, Ri... 
Aku serupa dedaun yang dipermainkan angin tanpamu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar