Rabu, 24 Februari 2016

Dear, Al... ( Hanya Tentang Aku & Kamu )

Al... 
Tak jarang renyah tawamu menggema di gendang telinga. Mengirimkan debar-debar indah pada relung dada. Tahukah kau bagaimana aku bisa merasa bahagia hanya dengan begitu saja?

Terkadang aku harus berhenti sejenak saat tetiba senyummu muncul di dalam benak. Tak ada yang lebih berharga selain memikirkan semua, Al... semua yang pernah terjadi di antara kita.

Aku tahu ini salah, aku pun tak menutup mata. Aku hanya ingin mengenang, bukan untuk apa-apa. Aku hanya ingin mengekalkan cerita kita walau hanya akan kita baca dalam hati saja. Aku hanya ingin memelukmu erat, walau pada kenyataannya raga kita tak saling mendekat.

Al... 
Tak apa jika kita hanya akan begini saja, tak apa jika semua yang pernah terjalin hanya akan menjadi bunga impian saja, aku sungguh tak apa. Mencintaimu itu luar biasa, mengenangmu pun tak kalah indahnya.

Aku tak menyesal, pernah menghabiskan waktu bersamamu itu sungguh berharga, dan aku pun akhirnya tahu seperti apa makna bahagia yang sesungguhnya. 

Semua kisah kita terikat oleh satu rindu, Al... kisah tentang kau... dan aku.




TERSERAH

Aku kembali bercerita pada hujan, perihal kepergian juga kehilangan. Entah ada apa di balik semua rencana Tuhan, aku hanya bisa pasrah dan berserah. Aku terlalu lelah untuk berontak dan tak memiliki kesempatan untuk bersorak. 
Sudahlah... kuikuti saja semua mau-Nya.

Aku tak pernah tahu apa yang akan Dia beri setelah airmataku tumpah dan dadaku terluka, percaya saja di belakang hari akan ada bahagia. 
Naif kah?

Siapa sebenarnya yang salah? Apakah takdir terlalu pongah hingga tak sedikitpun dia mau mengalah? Setidaknya beri aku kesempatan sedikit saja untuk memikirkan diriku sendiri. Aku sudah terlalu lelah dengan semua masalah.

Aku hanya sepotong raga yang meringkuk dalam gelap, bahkan mengeja duka pun aku tergagap. Hanya derap hujan yang terus mendekapku erat. Aku hanyalah kepingan pecahan kaca, yang bila disatukan kembali pun tak akan sempurna.

Sudahlah... aku pasrah, kuikuti saja semua mau-Nya.



Dear, Al... ( Di Ujung Lelah )

Dear, Al...

Entah kenapa setiap kali menyebut namamu bibirku selalu menyunggingkan senyuman, padahal begitu banyak luka menggores di dada. Asal kau tau... mengingatmu saja aku suka.

Apa yang akan kuceritakan kali ini? Sungguh aku tak ingin ada tangisan lagi. 

Al... mungkin aku telah kehilangan sesuatu yang disebut banyak orang dengan bahagia. Entah, rasanya semua tak lagi sama. Aku merasakan duka di balik tawa, kutemukan juga amarah di balik airmata. Andai kau tahu seberapa aku lelah.

Kau ingin aku berjuang, sementara aku sudah berdiri di bibir jurang. Kau minta aku bertahan, dimana pada kenyataannya tak ada lagi yang bisa diharapkan.

Haaah manusia... Pada dasarnya memang hanya mengeluhlah yang dia bisa.

Akupun tak ingin menyerah, percayalah. Aku hanya ingin berhenti sejenak untuk melepaskan lelah yang mencengkeram otak. Lalu setelahnya aku akan bertanding lagi... dengan waktu dan takdir yang tak mengenal kata mati.




Rasa Resah

Pada siang yang gerah, dimana sang sinar meretakkan tanah-tanah yang kemarin basah, ada rasa yang menggeliat resah.

Secuil rasa bersalah mengakar dalam dada, merambat melalui pembuluh darah hingga ke kepala. Maaf untuk segala tikai yang terjadi tanpa sengaja. Kita sama-sama terluka oleh rindu yang tak berkala.

Ingin rasanya berlari menujumu, merayu waktu dan mengembalikan lagi senyummu. Senyum kita. Yang entah sejak kapan mulai terlihat hampa.

Kita sama-sama keras kepala, tapi kita sama-sama berusaha memahami semua yang tak mungkin bisa.

Aku mencintaimu tanpa membutuhkan alasan, dan aku melepasmu walau dengan seribu ketidakmampuan.