Siang begitu terik, tapi panasnya seperti musnah saat kumasuki sebuah klinik yang cukup besar di pinggiran kota. Aku merasa begitu lega saat pendingin ruangan menyapa kulitku, tak kuhiraukan aroma tajam obat-obatan yang menyerang indera penciuman.
"Siang, Mbak Rainna," sapa ramah seorang gadis muda dari balik meja receptionist. Seragam putih yang dikenakannya menunjukkan kalau dia adalah seorang perawat.
"Siang, Devy," balasku dengan senyum mengembang. "Dokter ada?" tanyaku setelah aku berdiri di depannya.
Gadis berambut pendek itu mengangguk, "Ada, mbak. Barusan aja pasien terakhirnya keluar. Mbak mau langsung masuk?"
Aku berpikir sebentar, "Oke deh, aku masuk, ya? Sedang nggak ada tamu, kan?" tanyaku setelah merapikan rambut ikalku yang sedikit berantakan akibat angin di luar sana.
Devy tersenyum geli melihatku, "Udah cantik kok, mbak. Yakin deh dokter bakal makin cinta sama mbak Rainna," katanya tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku merasakan wajahku memanas mendengar godaan gadis muda itu. Yah... semua orang di klinik tahu kalau aku dan dokter pemilik klinik ini tengah menjalin sebuah hubungan khusus. Awal mula aku ke sini hanya sebagai pasien biasa, sampai akhirnya karena terbiasa bersama aku dan Alex, itu namanya, memutuskan untuk berpacaran dua bulan yang lalu. Sebetulnya agak lucu juga kalau disebut berpacaran, usia kami yang terpaut cukup jauh, lima belas tahun, kadang membuat orang berpikir kalau aku dan Alex adalah Om dan keponakan. Tapi aku tak ambil pusing, yang penting kami saling cinta. Klise, ya?
"Udah deh, nggak usah ngeledekin terus," sergahku sambil berlalu dari hadapannya yang sedang terkikik geli.
Kuketuk pintu putih di hadapanku dan kubuka setelah ada perintah masuk dari dalam, "Siang, dok," sapaku di antara degup jantung yang mulai berpacu kencang. Aku masih memanggilnya dokter, aku merasa kurang sopan kalau hanya memanggil namanya. Mau kupanggil kakak atau mas pun kurang cocok karena dokter Alex adalah keturunan China. Kalau kupanggil koko dia sering tertawa, jadi ya sudah kuputuskan saja tetap memanggilnya dokter.
Pria 40 tahun itu mengangkat wajahnya yang tengah serius membaca sebuah kertas di atas meja, mungkin hasil medis salah satu pasiennya. Senyumnya mengembang saat melihatku berdiri di depan pintu ruang prakteknya, "Hai," sapanya. "Duduk dulu ya? Sebentar lagi aku selesai dengan ini," katanya sambil menunjuk kertas putih di hadapannya.
Setelah mengangguk akupun duduk di hadapannya. Kuamati wajahnya yang cukup tampan, yang kembali serius dengan pekerjaannya. Kuamati mata sipit yang tersembunyi di balik kacamata minusnya, mata yang selalu menatapku dengan hangat. Lalu beralih ke keningnya yang selalu berkerut setiap kali dia menemukan kejanggalan dalam diagnosa pasiennya. Hidungnya yang mancung terpahat tegas, lalu turun ke bibirnya yang tipis dan sedikit merah. Bibir yang selalu tersenyum lembut padaku dan... memabukkan.
Ya Tuhan... apa yang aku pikirkan di saat seperti ini? Tanpa sadar kugeleng-gelengkan kepalaku sambil memejamkan mata.
"Kalau kamu mau ambil aja, Rain. Mumpung lagi ga ada orang."
Aku langsung terkesiap, kudongakkan kepalaku dan bertemu mata teduhnya yang tengah memandangku dengan lurus. Kurasakan pipiku memanas saat kulihat senyuman menggoda di bibirnya, bibir yang baru saja kunikmati dalam anganku.
"Apa sih? Aku ga mikirin apa-apa kok," sanggahku sambil membuang muka dan melihat ke arah lain.
Bibirku cemberut saat kudengar pria di depanku itu terkekeh geli, "Yakin?" Godanya lagi, kali ini tangannya mengusap buku-buku jariku yang kuletakkan di atas meja.
Debaran di dadaku semakin kencang, tangannya terasa begitu hangat, "Udah ah, cepetan kerjanya, emangnya dokter ga lapar?" kataku mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sudah lapar?" dia balik bertanya tanpa menjauhkan tangannya dari tanganku, dan aku hanya menganggukkan kepala. Alex segera mengalihkan pandangannya ke jam dinding yang terletak di belakangku, "Masih jam satu kurang, Rain... Tumben kamu sudah lapar? Tadi pagi sarapan?" tanyanya lagi.
Kali ini aku menggeleng sambil memberikan cengiran, "Tadi ada meeting pagi di kantor, jadi aku tak sempat sarapan," jawabku sebelum pria itu mengomeliku.
Alex segera menutup map kerjanya dan berdiri, "Kita makan siang sekarang," katanya sambil menarik tanganku.
Kuikuti langkah panjangnya dengan tergesa, dan aku sedikit kecewa saat Alex melepaskan tanganku begitu kami sudah berada di luar ruangannya.
"Dev, saya mau keluar makan siang dulu. Nanti kalau ada pasien darurat kamu segera hubungi saya, ya?" Kulihat Devy memberikan anggukan setelah mengiyakan perintah Alex.
"Pergi dulu ya, Dev," pamitku pada perawat muda itu. Dan aku kembali kecewa saat Alex justru jalan mendahuluiku. Tanpa mendengar godaan Devy aku kembali mengejar langkah dokter kesayanganku itu.
"Kamu mau makan siang dimana?" tanya Alex setelah kami menyamankan diri di kursi masing-masing di dalam mobilnya. Kutatap pria yang duduk di sampingku itu, dia hanya fokus pada jalanan di depan kami yang mulai ramai. 'Apa dia tak tahu kalau aku rindu?' tanyaku dalam hati.
Saat tak juga mendengar jawaban dariku, pria berkulit putih itupun memalingkan wajahnya padaku, "Rain?" dia memanggilku dengan panggilan kesayangannya.
Aku menghela napas panjang dan memberinya sedikit senyuman, "Terserah dokter aja," jawabku. Entah kenapa terkadang aku merasa kalau hanya aku yang memiliki cinta untuknya. Bukan aku tak percaya pada perasaannya, hanya saja dia jarang sekali menunjukkan kemesraan di depan umum. Malu kah?
Aku mengernyitkan dahiku saat menyadari kalau Alex perlahan menepikan mobilnya, sedangkan tak kulihat ada restoran atau tempat makan apapun di dekat situ, "Kok berhenti di sini?" Tanyaku heran setelah mobil yang dikendarai Alex benar-benar berhenti tanpa mematikan mesinnya.
"Rainna? Kamu kenapa?"
Pertanyaan Alex semakin membuatku bingung.
"Sejak tadi kamu cuma diam, kupanggilpun tak ada jawaban, kamu kenapa? Sakit?"
Dadaku kembali berdebar kencang saat tangan lembut Alex mengusap keningku. Hangatnya menjalar hingga ke dalam jiwa.
"Tuh kan kamu diam aja? Kenapa? Apa aku ada salah?" Tanya Alex yang kali ini mengusap pipiku dengan ibu jarinya.
Kupejamkan mataku, kunikmati sentuhan jarinya pada kulitku. Aku ingin begini, aku ingin terus seperti ini.
"Kamu kenapa, Rainna? Jangan buat aku cemas," aku tersenyum mendengar pertanyaan Alex lagi.
Kubuka mataku dan kembali kutahan debar jantungku saat kulihat mata bening Alex lurus menatapku. "Aku baik-baik aja kok, aku cuma rindu," bisikku.
Bibir tipis itu tersenyum, dengan lembut dia mencium pelipisku, lalu memelukku seakan aku adalah sesuatu yang begitu berharga untuknya. Kulingkarkan lenganku di punggungnya, merasakan debar jantungnya di pipiku.
"Kamu mau ga kalau kita makan di apartemen kamu aja? Kita beli makanan dari luar."
Tawaran Alex segera saja membuatku begitu senang, dengan antusias aku segera menjauhkan tubuhku darinya dan mengangguk sambil tersenyum lebar. Jarang sekali kami bisa menghabiskan waktu berdua saja. Dan aku selalu ketagihan akan perlakuannya saat tak ada orang lain di sekitar kami.
Tawaku menular pada dokter itu, dengan gemas dia mencubit pipiku, "Kalau saja ini bukan di pinggir jalan pasti sudah kumakan kamu, Rain," bisiknya dekat dengan bibirku.
Segera saja bisa kurasakan panas menjalari wajahku, walau akupun ingin tapi rasanya tak pantas kalau di pinggir jalan begini, "Udah ah, ntar waktunya habis kalau dokter ngegombal terus," tolakku dengan pura-pura merajuk.
Alex terkekeh pelan, dia kembali melajukan Terrano hitamnya ke tengah jalan, dan kami kembali berbincang ringan sembari menikmati jalanan yang agak lengang siang ini.
"Kamu mau ga kalau kita makan di apartemen kamu aja? Kita beli makanan dari luar."
Tawaran Alex segera saja membuatku begitu senang, dengan antusias aku segera menjauhkan tubuhku darinya dan mengangguk sambil tersenyum lebar. Jarang sekali kami bisa menghabiskan waktu berdua saja. Dan aku selalu ketagihan akan perlakuannya saat tak ada orang lain di sekitar kami.
Tawaku menular pada dokter itu, dengan gemas dia mencubit pipiku, "Kalau saja ini bukan di pinggir jalan pasti sudah kumakan kamu, Rain," bisiknya dekat dengan bibirku.
Segera saja bisa kurasakan panas menjalari wajahku, walau akupun ingin tapi rasanya tak pantas kalau di pinggir jalan begini, "Udah ah, ntar waktunya habis kalau dokter ngegombal terus," tolakku dengan pura-pura merajuk.
Alex terkekeh pelan, dia kembali melajukan Terrano hitamnya ke tengah jalan, dan kami kembali berbincang ringan sembari menikmati jalanan yang agak lengang siang ini.
#
"Dokter mau dibuatkan minum apa?" tanyaku saat kami telah tiba di apartemenku yang letaknya hanya 15 menit dari klinik Alex dan 10 menit dari hotel tempatku bekerja.
"Apa aja, yang jelas jangan terlalu manis, ya?" jawabnya sambil menata makan siang yang kami beli di restoran China yang tak jauh dari apartemenku di atas meja sofa di ruang tengah.
Teh hangat yang tak seberapa manis adalah minuman kesukaannya, segera saja kubuatkan satu untuknya dan segelas es jeruk untukku sendiri.
"Yuk kita makan, Rain!" serunya sambil menyalakan televisi dan melihat channel berita kesukaannya.
Segera saja kubawa dua buah minuman yang kubuat dan kuletakkan di meja agak sedikit ke pinggir, lalu aku ikut duduk bersila di sampingnya. Ya... kami lebih suka duduk di bawah, beralaskan karpet berbulu tebal selalu mampu membuat nyaman.
Aku tersenyum senang saat Alex menyajikan nasi dan capcay di piringku, "Makan yang banyak, ya? Jangan pernah mencoba diet tanpa makan, karena itu salah. Dan kurasa kamu ga punya alasan untuk diet, Rain," omelnya tanpa melihatku.
Aku terkikik geli, Alex selalu begitu, dia selalu mengungkit masalah diet hanya karena aku sering beralasan diet kalau dia sedang memaksaku makan, padahal itu hanya bercanda. Sebenarnya aku hanya sedang malas makan saja.
"Coba cicipin ini, enak loh," katanya sambil menyodorkan sesuap lauk dengan sendoknya ke hadapanku. Yang seperti ini yang aku suka, perhatiannya. Baru saja aku ingin membuka mulut tiba-tiba ponselnya berdering, dengan mata menyesal dia meletakkan lagi sendoknya dan mengangkat panggilannya, "Halo," sapanya sambil berdiri dan menjauh dariku.
Kuhela napas panjang, apa salahnya sih bicara di sini saja, di sampingku? Apa ada sesuatu yang menjadi rahasia yang aku tak boleh tahu? Batinku. Kuputuskan untuk mengganti saluran televisi, aku sengaja tak mulai untuk makan karena ingin menunggu dia. Entah berapa lama dia menerima telpon di ruang tamu sampai akhirnya kudengar langkah kakinya mendekat. Aku segera mendongak dan tersenyum walau masih ada kesal di dada, "Sudah selesai?" tanyaku.
Alex kembali duduk di sampingku sambil menggaruk tengkuknya, dan saat itu aku tahu kalau ada yang tidak beres, "Rain... maaf, aku harus segera ke rumah sakit, ada pasien darurat," katanya pelan.
Benar, kan?
Aku mencoba tersenyum, mencoba mengerti akan kesibukan profesinya, dan semoga saja dia tak tahu betapa sakitnya aku saat ini, "Iya, ga apa-apa kok," jawabku.
"Aku juga ga bisa antar kamu kembali ke kantor, ga apa-apa?" tanyanya lagi sambil menyampirkan rambutku yang tergerai ke belakang telinga.
Sekali lagi aku mengangguk dan tersenyum, "Ga apa-apa," jawabku.
Alex tersenyum dan mengecup keningku sekilas, "Kamu makan, ya? Maaf ga bisa temani kamu," bisiknya sambil mengusap pipiku yang sekali lagi hanya mampu mengangguk dan tersenyum. Lalu dia berdiri dan meninggalkan aku sendiri di ruangan ini.
Kutatap makanan yang masih utuh, bahkan teh hangatnya pun belum tersentuh. Merasa kalau aku tak lagi lapar maka akupun memutuskan untuk pergi saja tanpa merapikan apa yang telah tertata di atas meja. Kuambil tas kerjaku dan melangkah keluar apartemen. Aku tak kembali ke kantor karena memang aku sudah ijin pulang cepat agar bisa bersama dengan Alex, karena itu aku memilih untuk memanggil taxi dan pergi ke area perbelanjaan saja. Mungkin dengan berjalan-jalan aku bisa meredakan kecewaku.
Kupasang earphone ke telingaku dan mendengarkan musik dari playlist di smartphone-ku. Pikiranku kembali ke dua bulan silam, dimana Alex untuk pertama kalinya menggenggam tanganku dan menciumnya dengan lembut. Tak bisa kuartikan debaran hebat di dadaku saat itu, setelah selama ini kami hanya saling mencuri pandang dan berkirim BBM, setelah selama ini aku merasa tak bisa mengalihkan pikiranku darinya, tak bisa tidur jika lama tak bertemu dengannya, dan tiba-tiba malam itu dia menggenggam tanganku, menahanku pulang, dan mengatakan kalau dia tak ingin jauh dariku. Rasanya saat itu aku adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi.
Aku ingin bersorak saat dia mengatakan, "Dampingi aku, Rain... mungkin aku tak bisa memberikan cinta yang sempurna untuk kamu, tapi sungguh aku ingin menghabiskan banyak waktuku bersama kamu." Lidahku kelu, suaraku musnah, aku hanya mampu memeluknya dan mengangguk di dadanya.
Saat taxi yang kutumpangi berbelok di tikungan, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal, siapa lagi kalau bukan Alex? Dia duduk di teras sebuah cafe yang terletak di seberang rumah sakit tempatnya praktek selain di klinik pribadi miliknya. Aku ingin membuka jendela taxi lalu menyapanya, tapi gerakanku terhenti saat kulihat sosok seorang wanita yang baru saja datang dan duduk di hadapan Alex. Segera kuminta supir taxi untuk menghentikan lajunya sedikit jauh dari mereka agar aku tahu apa yang mereka lakukan di sana.
Aku mengenal wanita itu, dokter Diana, dokter cantik yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Alex, dokter yang kurasa juga menaruh hati pada kekasihku itu. Kekasih? Entahlah... Alex hanya bilang kalau dia ingin menghabiskan banyak waktunya bersamaku, apakah itu sudah bisa disebut kalau dia adalah kekasihku? Entah.
Dokter Diana itu selain cantik dia juga dewasa, feminim, anggun, pintar, dan banyak lagi nilai plusnya di mataku. Cemburu? Kalau ingin aku berbohong maka akan kujawab tidak.
Kuhela napas panjang, mencoba meredakan rasa nyeri yang merambati dada. Aku mencoba berpikir positif, pastilah hanya untuk alasan pekerjaan mereka sedang bersama sekarang. Kuraih ponselku dan mengetikkan sederet nomer Alex sebelum kutekan tombol hijau, aku hanya ingin tahu, jujurkah dia?
"Halo, Rain?" kudengar suaranya di ujung sana saat panggilanku sudah tersambung.
"Gimana pasiennya, dok? Baik-baik aja, kan?" tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. Kulihat dia berdiri dan menjauh dari kursinya dan Diana.
Ada sedikit jeda sebelum Alex menjawab, "Ya, baik kok. Ini aku sedang ada di parkiran mau kembali ke klinik."
Kuremas ujung rok kerjaku, "Sudah makan siang?" tanyaku lagi.
Kudengar tawa renyahnya di ujung sana, "Belum, Rain... aku masih ingin makan bersama kamu. Apa aku kembali saja ke apartemen kamu sekarang?"
Sakit, itu yang kurasakan. Jelas aku melihat sepiring makanan di depannya. Dua buah kebohongan dalam satu helaan napas, "Ga usah, dok. Aku udah kembali ke kantor."
"Oooh..." jawabnya lesu. Entah, aku tak bisa mengartikan nada suaranya, apalagi saat kulihat dia kembali duduk di hadapan dokter Diana sembari meletakkan telunjuk di depan bibirnya agar wanita di hadapannya itu diam. Apa maksudnya?
"Ya sudah, aku kerja lagi ya, dok? Dokter jangan lupa makan siang," ingatku sambil menggigit bibir.
Sekali lagi kudengar kekehnya, "Kamu yang jangan lupa makan, Rain."
Kucoba tertawa walau susah, tapi aku tak ingin dia curiga, "Iya," jawabku singkat.
"Makanan yang kita beli tadi sudah kamu makan, kan?" tanyanya.
"Sudah, dok," bohongku mengingat bahkan aku tak menyentuh makanan itu seujung sendok pun. Bahkan es jeruk yang kubuat juga tak kuminum, masih bersanding utuh dengan teh hangat yang kubuatkan untuknya.
"Nanti selesai praktek aku ke tempat kamu," kata Alex lagi. Kulihat dia memainkan serbet makan putih di hadapannya.
"Nanti aku lembur, dok. Maaf ya?" tolakku. Entah... aku takut tak bisa menyembunyikan perasaanku kalau harus bertemu dengan dia setelah apa yang aku lihat dan dengar saat ini.
Kudengar dia mendesah kecewa, "Kamu baru lembur beberapa hari yang lalu," katanya. Lalu kemudian dia seperti menutupi rasa kesalnya, "Ya sudah, jangan pulang terlalu malam, ya? Telpon aku kalau butuh sesuatu," pesannya.
"Iya, dokter. Bye..." tutupku. Perhatiannya membuatku tersenyum, tapi entah kenapa airmata justru mengalir deras saat kulihat Diana membelai lembut lengan Alex dari kejauhan. Ya Tuhan... sesakit ini rasanya jatuh cinta.
Lalu akupun memutuskan untuk kembali ke kantor dan memilih untuk menyibukkan diri.
#
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam saat supir kantor menurunkanku di depan apartemen. Aku terus bekerja tanpa melihat jam sama sekali, kukerjakan semua apa yang seharusnya masih bisa kukerjakan esok hari hanya karena aku ingin melupakan semua resahku. Bahkan koneksi internet di ponselku sengaja kumatikan agar tak ada yang menghubungiku via bbm atau akun sosial media yang lain. Terutama Alex. Aku tahu ini kekanakan, tapi se-kekanakkanak-an ku aku tetap punya hati. Dua kali dia menelpon ke ponselku tapi kuabaikan, setelahnya tak ada kabar lagi darinya. Dan jujur itu membuatku sedih. Bahkan dia tak mencariku ke kantor selepas jam praktek di kliniknya.
Aku terkejut saat menyalakan lampu ruang tengah, kulihat Alex tengah tertidur di sofa. Ya... Alex memiliki kunci apartemenku, bahkan sesekali dia menginap di sini. Tapi jangan salah, walau seperti itu kami sama sekali tak pernah melakukan hubungan seksual. Lebih tepatnya dia yang selalu menahan diri. Entah kenapa, padahal jujur saja aku tak akan menolak jika dia meminta. Sebutlah aku tak beretika, tapi cinta telah mematikan akal sehatku.
kudekati dia dan kulihat di meja sudah ada makanan tertata rapi. Bukan makanan yang tadi siang kutinggalkan begitu saja, tapi makanan baru yang pasti dibawakan Alex saat dia ke sini. Mie goreng seafood tanpa udang kesukaanku.
Aku tersenyum, ada haru menyingkirkan kesalku saat perhatiannya masih tercurah untukku.
Pelan aku melangkah ke dapur, kubuatkan segelas besar teh hangat untuk kami. Karena aku harus membangunkan dia dan aku tak ingin dia sakit. Dia juga belum makan, tak kulihat piring kotor di meja, makananpun masih tampak utuh.
"Dokter... bangun. Jangan tidur di sini, nanti sakit," kataku, setelah meletakkan gelas berisi teh hangat di meja, sambil mengguncang pelan bahunya.
Kuakui refleks Alex begitu bagus, segera saja dia membuka matanya dan terduduk sambil menatapku. "Kamu baru pulang?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
Aku hanya mengangguk.
Kupejamkan mataku saat jemari hangatnya mengusap pipiku, "Malam sekali? Kamu capek? Mau makan dulu?" tanyanya.
Sesak, itu yang aku rasakan. Aku memilih untuk memeluknya dan menyandarkan kepalaku di dadanya yang hangat. Masih dengan mata yang terpejam, kunikmati debar jantungnya yang membentur lembut pipiku.
"Makan dulu ya? Habis itu baru tidur. Aku yakin kamu belum makan, kan?" tanyanya lagi.
Aku tak menjawab, rasanya begitu damai bisa berada di dalam pelukannya. Usapan lembut tangannya di punggungku begitu membuai dan aku tak membutuhkan apa-apa lagi.
"Rain?" panggilnya sambil mengusap rambutku.
"Mmmh?" hanya itu jawabku.
Bisa kurasakan dia menghela napas panjang, "Kenapa tadi siang ga makan? Kamu marah karena kutinggal?" tanya Alex.
Kejadian siang tadi kembali terbayang, rasa nyeri itu kembali hadir, dan tanpa sadar aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.
"Maaf, ya?" bisiknya sambil mengecup puncak kepalaku. "Jangan seperti itu kalau marah, jangan siksa diri kamu sendiri. Kamu boleh maki-maki aku, tapi jangan menyakiti diri kamu. Maaf, Rain..." ucapnya lagi.
Akupun melepaskan pelukannya dan mendongak. Kutatap matanya yang merah, dia pasti lelah setelah seharian bekerja dan masih juga menungguku pulang. Sekuat tenaga kutenangkan perasaanku yang tadi mulai resah. Aku tak ingin membuatnya kecewa oleh sikap cemburuku yang tak beralasan.
"Aku ga marah kok. Maaf udah buat dokter khawatir," jawabku sambil mengusap pipinya. Aku tersenyum saat Alex mencium lembut telapak tanganku.
"Sejak bersama kita jarang sekali menghabiskan waktu berdua. Akupun memikirkan itu, Rain. Kamu tahu sendiri kalau pekerjaanku membutuhkan konsentrasi 24 jam, aku harus pergi kapan saja saat ada pasien yang membutuhkanku. Maafkan aku."
Aku menggeleng pelan, "Aku tahu, dan aku menyadari itu. Maaf kalau aku masih belum bisa berhenti bersikap egois."
"Lakukan apapun yang kamu mau. Kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan. Saat ingin menangis, menangislah. Saat ingin bermanja, peluk aku seeratnya. Dan saat kamu ingin marah tunjukkan emosimu. Aku mencintai kamu, Rainna... mencintai seluruhmu."
Aku terkesiap, kami memang baru saja bersama, baru dua bulan, dan aku sama sekali belum pernah mendengar Alex mengatakan cinta padaku, baru kali ini, baru malam ini.
Kejadian siang tadi kembali menghantui pikiranku, dan lagi-lagi aku merasakan sakit yang teramat sangat. Apakah ini akan menjadi kebohongan berikutnya dari dia untuk hari ini? Aku hanya bisa menunduk dan memejamkan mata, aku takut jika ini juga bagian dari omong kosongnya. Kesakitan seperti apa lagi jika hanya dengan kalimat itu saja aku sudah melambung tinggi? Sesakit apa rasanya jika pada akhirnya aku akan terjatuh? Aku takut, takut untuk merasa bahagia.
"Rain? Kenapa? Kamu ga percaya?" tanya Alex sambil menangkup wajahku yang tertunduk dengan kedua tangannya.
Aku tak menjawab, aku hanya mampu meremas kedua tangannya yang berada di kedua pipiku.
"Jawab aku, Rain," paksa Alex. Tangannya memaksaku mendongak untuk menatapnya. "Kenapa?" tanyanya lagi saat melihatku diam.
Aku menantang matanya yang menatapku lurus. Dia begitu sempurna, begitu dewasa, mapan dan tampan. Layak kah aku bahagia atas cintanya? Sementara melihat dia bersama wanita lain saja aku sudah begitu ketakutan, sekuat apa hatiku jika aku menerima cintanya? Tidakkah aku yang justru akan merusak semuanya dengan kecemburuanku? Aku takut.
Dulu aku begitu bahagia dan merasa sombong saat dia memintaku mendampinginya, penuh percaya diri seakan dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi kebohongan yang kulihat siang tadi sungguh membuatku hancur. Bagaimana jika aku kelak akan benar-benar kehilangan dia? Sesakit apa rasanya?
"Katakan keraguanmu, tolak aku jika kamu tak percaya, jangan cuma diam, Rainna," lirihnya, dan aku melihat luka di matanya yang teduh.
"Kenapa dokter jarang sekali memperlakukanku dengan mesra di depan umum?" tanyaku.
Alex masih menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Karena aku tak ingin kamu malu atau risih. Aku masih ingat saat temanmu mengira aku adalah pamanmu, tidakkah itu membuatmu malu?"
Aku mendengus pelan, "Sedikitpun aku tak pernah merasa malu, justru aku begitu bangga bisa bersama dokter," jawabku tanpa melepaskan kontak mata kami.
"Dan kamu masih memanggilku dokter, seakan menciptakan batasan di antara kita," lanjut Alex.
"Karena aku bingung harus memanggil dokter apa," jawabku lagi.
"Kamu bisa memanggilku sayang," desak Alex.
Aku terkekeh pelan, aku tahu wajahku memerah saat ini, "Dokter juga ga pernah memanggilku begitu."
"Karena aku merasa kalau kamu masih menciptakan batasan itu, sayang," bisiknya.
Jantungku berdegup kencang mendengar panggilan sayang-nya. Baiklah... mungkin malam ini kami harus melepaskan semua batasan yang mungkin mengekang kami.
"Kenapa tadi siang, dokter... mmh kamu bohong sama aku?" tanyaku berikutnya.
Kening Alex mengernyit, "Maksud kamu?"
"Dengan siapa kamu tadi siang? Dimana kamu sebenarnya saat kamu bilang kamu sedang ada di parkiran dan akan kembali ke klinik? Kenapa harus bohong dengan bilang belum makan siang padahal aku lihat ada sepiring entah apa di hadapanmu, dan temanmu saat itu. Kenapa harus membohongiku kalau katamu kamu mencintaiku? Apa kata cinta itu juga merupakan sebuah kebohongan yang lain?" cecarku menahan perih, dan tanpa bisa kutahan sebutir airmata menetes di pipiku.
"Rainna..."
"Aku melihat kalian, aku melihat dari ujung jalan di dalam sebuah taxi. Aku sengaja melakukan itu karena aku ingin tahu sejujur apa kamu," potongku. "Aku ga ngikutin kamu, aku berencana pergi shopping setelah kamu tinggalkan makan siang kita begitu aja, tapi apa yang aku lihat di jalan sungguh buat aku terkejut. Kenapa kamu bohong?" kejarku dengan isak yang kini terlepas dari bibirku.
Alex terdiam, diusapnya butiran-butiran bening yang semakin deras itu dengan ibu jarinya, "Maaf, aku hanya ga mau kamu berpikir yang bukan-bukan," jawabnya.
Kutepis tangannya yang sejak tadi menangkup wajahku, "Dengan berbohong?"
Alex meraih kedua tanganku dan menenggelamkannya ke dalam genggamannya, "Sayang... dengar ya? Jangan potong dulu kalimatku sebelum selesai," pintanya, dan aku cuma diam tanpa menjawab apapun.
"Aku dan Diana ga ada hubungan apa-apa, kami hanya teman sejawat, ga lebih. Aku berteman baik dengan Reno, almarhum suaminya, saat kuliah dulu, dan Diana adalah adik kelas kami."
Jari tanganku menegang, dokter Diana sudah pernah menikah?
Alex mengeratkan genggamannya, "Dengarkan aku... Diana memang dekat denganku, karena dulu kami sering berkumpul bertiga. Dia selalu berusaha menjodohkan aku dengan teman-temannya, tapi sayangnya tak ada satupun yang bisa memikatku hingga umurku yang sekarang sudah berkepala 4 ini. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu aku bilang pada dia untuk menghentikan aksi jodoh menjodohkan itu, karena aku sudah memiliki kamu. Diana senang mendengar itu, dia bahkan mengucapkan selamat. Tapi sejak dulu aku tahu kalau kamu selalu merasa minder kalau sedang ada Diana di klinikku, iya kan? Aku melihat cemburu di mata kamu, Rainna."
Kurasakan wajahku yang memanas, aku kembali tertunduk, tak berani lagi menatap matanya yang sejak tadi mengurungku.
"Tapi sungguh aku suka," sambungnya sambil mengangkat daguku dengan jari-jarinya agar aku kembali menatap matanya.
"Aku suka melihatmu cemburu, tapi di sisi lain aku juga membenci hal itu karena itu akan membuat kamu sakit," katanya sambil mengusap pipiku.
Kupejamkan sejenak mataku, menahan airmata yang masih mengalir satu persatu. Ya.. Alex benar, itu menyakitkan.
Setelah yakin aku tak menangis lagi Alex pun melanjutkan kata-katanya, "Tadi siang setelah mengatasi pasienku aku berniat menelponmu dan kembali ke apartemen ini, tapi aku bertemu Diana di koridor dan dia menawariku makan siang di cafe depan rumah sakit. Kupikir tak ada salahnya menerima ajakan dia karena kami juga sudah lama sekali tak bertemu. Siapa yang sangka kalau saat itu kamu menelponku? Kalau saat itu aku jujur aku takut kalau itu akan menyakitimu, makanya aku ciptakan kebohongan itu, maaf," ujarnya lirih.
Aku masih diam, aku ingin mendengar semua penjelasan dari bibirnya.
"Aku cukup kecewa saat tadi siang tak bisa bersama kamu, dan semakin kecewa saat tahu kalau kamu akan lembur. Kukatakan hal itu pada Diana, dia menghiburku dan menenangkanku, dia bilang kalau kamu juga pasti punya kesibukan sendiri, tak hanya aku. Dan aku harus belajar untuk memahami kamu. Kupikir dia benar, selama ini selalu kamu yang mencoba untuk memahamiku, memahami kesibukanku," jelasnya panjang.
Aku menarik napas, tanpa sadar aku mengusap tangannya yang masih menggenggamku. Selama ini Alex memang sedikit cerewet kalau aku terlalu sibuk.
"Aku hanya khawatir pada kesehatanmu, aku doktermu, Rainna... aku tahu kondisimu lebih baik dari diri kamu sendiri yang selalu keras kepala, karena itu aku kurang suka kalau kamu bekerja terus menerus tak mengenal waktu," lanjutnya.
Aku tersenyum tipis mendengar alasannya kali ini, aku memang keras kepala kalau soal pekerjaan. Alex selalu bilang kalau aku ini workoholic.
"Aku sengaja ke sini malam ini untuk menunggumu. Dan kamu tahu sekesal apa aku saat kulihat makanan kita siang tadi sama sekali tak kamu sentuh? Aku ingin menelponmu dan menyeretmu pulang, tapi dua kali panggilanku tak kamu terima, pesan bbm pun tak terhubung. Saat itu aku sadar kalau kamu pasti marah padaku. Akhirnya aku mengalah, aku tak menghubungimu lagi dan memutuskan untuk menunggu kamu pulang."
Aku masih diam, tapi ada rasa lega karena aku tahu kalau kebohongan Alex siang tadi hanya karena ingin menjaga perasaanku saja.
Kejadian siang tadi kembali menghantui pikiranku, dan lagi-lagi aku merasakan sakit yang teramat sangat. Apakah ini akan menjadi kebohongan berikutnya dari dia untuk hari ini? Aku hanya bisa menunduk dan memejamkan mata, aku takut jika ini juga bagian dari omong kosongnya. Kesakitan seperti apa lagi jika hanya dengan kalimat itu saja aku sudah melambung tinggi? Sesakit apa rasanya jika pada akhirnya aku akan terjatuh? Aku takut, takut untuk merasa bahagia.
"Rain? Kenapa? Kamu ga percaya?" tanya Alex sambil menangkup wajahku yang tertunduk dengan kedua tangannya.
Aku tak menjawab, aku hanya mampu meremas kedua tangannya yang berada di kedua pipiku.
"Jawab aku, Rain," paksa Alex. Tangannya memaksaku mendongak untuk menatapnya. "Kenapa?" tanyanya lagi saat melihatku diam.
Aku menantang matanya yang menatapku lurus. Dia begitu sempurna, begitu dewasa, mapan dan tampan. Layak kah aku bahagia atas cintanya? Sementara melihat dia bersama wanita lain saja aku sudah begitu ketakutan, sekuat apa hatiku jika aku menerima cintanya? Tidakkah aku yang justru akan merusak semuanya dengan kecemburuanku? Aku takut.
Dulu aku begitu bahagia dan merasa sombong saat dia memintaku mendampinginya, penuh percaya diri seakan dia tak akan pernah meninggalkanku. Tapi kebohongan yang kulihat siang tadi sungguh membuatku hancur. Bagaimana jika aku kelak akan benar-benar kehilangan dia? Sesakit apa rasanya?
"Katakan keraguanmu, tolak aku jika kamu tak percaya, jangan cuma diam, Rainna," lirihnya, dan aku melihat luka di matanya yang teduh.
"Kenapa dokter jarang sekali memperlakukanku dengan mesra di depan umum?" tanyaku.
Alex masih menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Karena aku tak ingin kamu malu atau risih. Aku masih ingat saat temanmu mengira aku adalah pamanmu, tidakkah itu membuatmu malu?"
Aku mendengus pelan, "Sedikitpun aku tak pernah merasa malu, justru aku begitu bangga bisa bersama dokter," jawabku tanpa melepaskan kontak mata kami.
"Dan kamu masih memanggilku dokter, seakan menciptakan batasan di antara kita," lanjut Alex.
"Karena aku bingung harus memanggil dokter apa," jawabku lagi.
"Kamu bisa memanggilku sayang," desak Alex.
Aku terkekeh pelan, aku tahu wajahku memerah saat ini, "Dokter juga ga pernah memanggilku begitu."
"Karena aku merasa kalau kamu masih menciptakan batasan itu, sayang," bisiknya.
Jantungku berdegup kencang mendengar panggilan sayang-nya. Baiklah... mungkin malam ini kami harus melepaskan semua batasan yang mungkin mengekang kami.
"Kenapa tadi siang, dokter... mmh kamu bohong sama aku?" tanyaku berikutnya.
Kening Alex mengernyit, "Maksud kamu?"
"Dengan siapa kamu tadi siang? Dimana kamu sebenarnya saat kamu bilang kamu sedang ada di parkiran dan akan kembali ke klinik? Kenapa harus bohong dengan bilang belum makan siang padahal aku lihat ada sepiring entah apa di hadapanmu, dan temanmu saat itu. Kenapa harus membohongiku kalau katamu kamu mencintaiku? Apa kata cinta itu juga merupakan sebuah kebohongan yang lain?" cecarku menahan perih, dan tanpa bisa kutahan sebutir airmata menetes di pipiku.
"Rainna..."
"Aku melihat kalian, aku melihat dari ujung jalan di dalam sebuah taxi. Aku sengaja melakukan itu karena aku ingin tahu sejujur apa kamu," potongku. "Aku ga ngikutin kamu, aku berencana pergi shopping setelah kamu tinggalkan makan siang kita begitu aja, tapi apa yang aku lihat di jalan sungguh buat aku terkejut. Kenapa kamu bohong?" kejarku dengan isak yang kini terlepas dari bibirku.
Alex terdiam, diusapnya butiran-butiran bening yang semakin deras itu dengan ibu jarinya, "Maaf, aku hanya ga mau kamu berpikir yang bukan-bukan," jawabnya.
Kutepis tangannya yang sejak tadi menangkup wajahku, "Dengan berbohong?"
Alex meraih kedua tanganku dan menenggelamkannya ke dalam genggamannya, "Sayang... dengar ya? Jangan potong dulu kalimatku sebelum selesai," pintanya, dan aku cuma diam tanpa menjawab apapun.
"Aku dan Diana ga ada hubungan apa-apa, kami hanya teman sejawat, ga lebih. Aku berteman baik dengan Reno, almarhum suaminya, saat kuliah dulu, dan Diana adalah adik kelas kami."
Jari tanganku menegang, dokter Diana sudah pernah menikah?
Alex mengeratkan genggamannya, "Dengarkan aku... Diana memang dekat denganku, karena dulu kami sering berkumpul bertiga. Dia selalu berusaha menjodohkan aku dengan teman-temannya, tapi sayangnya tak ada satupun yang bisa memikatku hingga umurku yang sekarang sudah berkepala 4 ini. Hingga akhirnya dua bulan yang lalu aku bilang pada dia untuk menghentikan aksi jodoh menjodohkan itu, karena aku sudah memiliki kamu. Diana senang mendengar itu, dia bahkan mengucapkan selamat. Tapi sejak dulu aku tahu kalau kamu selalu merasa minder kalau sedang ada Diana di klinikku, iya kan? Aku melihat cemburu di mata kamu, Rainna."
Kurasakan wajahku yang memanas, aku kembali tertunduk, tak berani lagi menatap matanya yang sejak tadi mengurungku.
"Tapi sungguh aku suka," sambungnya sambil mengangkat daguku dengan jari-jarinya agar aku kembali menatap matanya.
"Aku suka melihatmu cemburu, tapi di sisi lain aku juga membenci hal itu karena itu akan membuat kamu sakit," katanya sambil mengusap pipiku.
Kupejamkan sejenak mataku, menahan airmata yang masih mengalir satu persatu. Ya.. Alex benar, itu menyakitkan.
Setelah yakin aku tak menangis lagi Alex pun melanjutkan kata-katanya, "Tadi siang setelah mengatasi pasienku aku berniat menelponmu dan kembali ke apartemen ini, tapi aku bertemu Diana di koridor dan dia menawariku makan siang di cafe depan rumah sakit. Kupikir tak ada salahnya menerima ajakan dia karena kami juga sudah lama sekali tak bertemu. Siapa yang sangka kalau saat itu kamu menelponku? Kalau saat itu aku jujur aku takut kalau itu akan menyakitimu, makanya aku ciptakan kebohongan itu, maaf," ujarnya lirih.
Aku masih diam, aku ingin mendengar semua penjelasan dari bibirnya.
"Aku cukup kecewa saat tadi siang tak bisa bersama kamu, dan semakin kecewa saat tahu kalau kamu akan lembur. Kukatakan hal itu pada Diana, dia menghiburku dan menenangkanku, dia bilang kalau kamu juga pasti punya kesibukan sendiri, tak hanya aku. Dan aku harus belajar untuk memahami kamu. Kupikir dia benar, selama ini selalu kamu yang mencoba untuk memahamiku, memahami kesibukanku," jelasnya panjang.
Aku menarik napas, tanpa sadar aku mengusap tangannya yang masih menggenggamku. Selama ini Alex memang sedikit cerewet kalau aku terlalu sibuk.
"Aku hanya khawatir pada kesehatanmu, aku doktermu, Rainna... aku tahu kondisimu lebih baik dari diri kamu sendiri yang selalu keras kepala, karena itu aku kurang suka kalau kamu bekerja terus menerus tak mengenal waktu," lanjutnya.
Aku tersenyum tipis mendengar alasannya kali ini, aku memang keras kepala kalau soal pekerjaan. Alex selalu bilang kalau aku ini workoholic.
"Aku sengaja ke sini malam ini untuk menunggumu. Dan kamu tahu sekesal apa aku saat kulihat makanan kita siang tadi sama sekali tak kamu sentuh? Aku ingin menelponmu dan menyeretmu pulang, tapi dua kali panggilanku tak kamu terima, pesan bbm pun tak terhubung. Saat itu aku sadar kalau kamu pasti marah padaku. Akhirnya aku mengalah, aku tak menghubungimu lagi dan memutuskan untuk menunggu kamu pulang."
Aku masih diam, tapi ada rasa lega karena aku tahu kalau kebohongan Alex siang tadi hanya karena ingin menjaga perasaanku saja.
"Aku mencintai kamu, Rainna. Maaf kalau aku baru bilang malam ini, karena kadang aku merasa tak pantas jika pria seumurku mengatakan hal-hal yang gombal seperti ini. Percayalah... ini memalukan," katanya sambil mengusap wajahnya yang sedikit memerah.
Kali ini aku terkikik geli, itukah alasannya? Kuraih tangannya dan mengecupnya lembut, "Lalu... kenapa tak ingin melakukan 'hal itu' kalau cinta? Apa aku kurang menarik? Kurang seksi? Tahukah kalau aku selalu tak percaya diri setiap kali kamu tak melanjutkan apa yang telah kita mulai saat kita hanya berdua?"
Alex sedikit berpikir, lalu dia tertawa geli saat sudah menyadari apa maksud dari kata-kataku, "Karena aku terlalu mencintai kamu, sayang," jawabnya. Dia segera meletakkan telunjuknya di depan bibirku saat aku ingin kembali membantah, "Karena aku tak ingin merusak kamu. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya jika saatnya sudah tiba, dan itu bukan sekarang," jelasnya lagi.
"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada hubungan kita, bagaimana jika kita putus setelah kamu menyerahkan semuanya untukku? Tidakkah aku akan menjadi lelaki paling brengsek di muka bumi? Itulah kenapa aku selalu menahan diriku, karena aku tak ingin menyakiti kamu, sayangku," bisiknya di depan bibirku sebelum akhirnya memberikan kecupan singkat di sana.
Aku tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum, selain sakit... mencintai itu rasanya juga bisa seindah ini. Kupeluk pria di depanku itu dengan erat, "Maafkan aku," ucapku.
Kurasakan Alex balas memelukku dengan eratnya, "Ternyata kita hanya perlu bicara jujur, ya?" katanya, dan tertawa saat aku mengangguk.
"Kamu juga, Rain... jadilah dirimu sendiri, cintai aku dengan caramu sendiri. Tak perlu terlihat sempurna, karena dengan kekurangan-kekuranganmu itulah kau akan terlihat luar biasa di mataku."
Aku kembali terdiam mendengar kata-katanya. tahukah dia kalau selama ini aku selalu ingin terlihat sempurna di hadapannya?
"Kalau kamu memaksakan diri untuk terlihat dewasa, lalu siapa yang akan bermanja padaku? Tahukah kalau aku jatuh cinta pada semua kemanjaan kamu? Aku merasa begitu dibutuhkan. Saat kamu marah, saat kamu menangis, saat kamu tertawa... aku mencintai semua itu, Rainna. Kembalilah menjadi Rainna-ku yang dulu. Jangan berubah hanya karena kamu ingin mengimbangiku."
Aku tertohok, Alex tahu, dia menyadari semuanya. "Aku cuma takut kehilangan kamu," lirihku.
Alex tertawa renyah, dia menjauhkan tubuhku dari pelukannya lalu kembali menangkup wajahku dengan kedua tangannya, "Kalau begitu terima lamaranku, ya? Menikahlah denganku, Rainna-ku. Dampingi aku selamanya, sebagai istriku, juga ibu untuk anak-anakku kelak."
Aku ternganga, kututup mulutku yang terbuka dengan kedua tanganku, benartkah apa yang kudengar ini? Alex melamarku.
"Ah iya sebentar, mana tadi cincinnya ya?" katanya sambil merogoh seluruh kantong baju dan celananya. "Ah ini dia," katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. "Baiklah... mari kita lakukan lagi dengan benar," katanya sambil mengedipkan matanya padaku yang masih tampak shock.
Dadaku bergemuruh semakin kencang saat Alex berdiri lalu berlutut di hadapanku yang tetap duduk di atas sofa, dibukanya pelan kotak kecil itu dan mataku memanas saat kulihat sebuah cincin putih dengan mata berlian tampak berkilau dengan begitu cantiknya.
"Rainna, gadis hujanku yang memiliki senyum sesejuk tetesan embun, menikahlah denganku. Percayakan aku untuk mencintai dan menjaga kamu seumur hidupku."
kali ini aku menangis, tak mampu lagi kutahan luapan perasaanku. Aku semakin terisak saat Alex memasangkan cincin itu di jari manisku, "Kamu mau, sayang?" tanyanya lagi, kali ini bisa kulihat rasa yang sama di matanya, rasa takut kehilangan sepertiku.
Aku mengangguk, "Ya," jawabku diantara isak yang tak juga berhenti, "Ya, aku mau menjadi istrimu, dok," kuulangi lagi jawabanku saat kulihat Alex seakan tak percaya pada pendengarannya.
Segera saja Alex menarikku ke dalam pelukannya dan kami terguling di atas karpet. Tawa-tawa lega meluncur dari bibir kami. Ditindihnya tubuh kecilku lalu menghujaniku dengan ribuan ciuman yang membuatku tergagap, "Dokter, stop!!!" seruku saat ciumannya membuatku semakin geli, belum lagi tangannya yang sibuk membelai kesana kemari. Dia sengaja, ya.. dia sengaja karena dia tahu pasti kalau aku tak tahan geli.
"Dokter... udah, aku ga tahan!!" seruku lagi saat ciumannya beralih ke leherku. Kalau saja saat ini situasinya berbeda pasti yang terasa adalah rasa geli yang lain, tapi ini berbeda, dia sengaja menggodaku, bukan memancing hasratku.
"Sayang... stop it, please!!!"
Kali ini aku berhasil, Alex menyudahi aksinya dan mengangkat wajahnya dari leherku dengan menyeringai, "Kata-kata itu yang mau aku dengar dari kamu, sayang," bisiknya sebelum mencium bibirku dengan lembut.
Sesaat kami tenggelam dalam ciuman yang membuai, memanjakan diri dalam dekapan kekasih, "Terima kasih, Rainna," bisik Alex setelah bibir kami terpisah, "Terima kasih karena telah menerimaku, memahamiku, juga mencemburuiku," godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku merasa jengah, kupukul bahunya dan mendorongnya untuk duduk. Kali ini aku yang menagkup wajahnya dengan kedua tanganku, "Aku yang seharusnya mengucapkan itu," kataku dan aku tersenyum melihat senyumnya. "Jangan pernah menyesal karena sudah memilihku, ya?" lanjutku.
Alex terkekeh, "Aku cuma menyesali satu hal, Rain."
Aku terdiam, rasa takut mulai muncul kembali di dadaku.
"Aku menyesal kenapa baru sekarang aku berani melamarmu kalau ternyata apa yang kutakutkan tak terjadi."
Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
"Aku selalu takut kalau kamu akan menolak untuk dijadikan istri oleh om-om perjaka tua ini, Rainna," lanjutnya yang segera saja membuatku tergelak.
Aku menopang tubuhku dengan kedua lututku lalu memeluk bahunya dengan erat, "Aku mencintai kamu, sayang. Sangat sangat mencintai kamu," bisikku di telinganya. Dan kali ini aku tak meronta saat Alex memelukku dan menghujaniku lagi dengan ciumannya.
Ah lupakan soal makan malam, itu tak penting lagi sekarang :)
Kali ini aku berhasil, Alex menyudahi aksinya dan mengangkat wajahnya dari leherku dengan menyeringai, "Kata-kata itu yang mau aku dengar dari kamu, sayang," bisiknya sebelum mencium bibirku dengan lembut.
Sesaat kami tenggelam dalam ciuman yang membuai, memanjakan diri dalam dekapan kekasih, "Terima kasih, Rainna," bisik Alex setelah bibir kami terpisah, "Terima kasih karena telah menerimaku, memahamiku, juga mencemburuiku," godanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku merasa jengah, kupukul bahunya dan mendorongnya untuk duduk. Kali ini aku yang menagkup wajahnya dengan kedua tanganku, "Aku yang seharusnya mengucapkan itu," kataku dan aku tersenyum melihat senyumnya. "Jangan pernah menyesal karena sudah memilihku, ya?" lanjutku.
Alex terkekeh, "Aku cuma menyesali satu hal, Rain."
Aku terdiam, rasa takut mulai muncul kembali di dadaku.
"Aku menyesal kenapa baru sekarang aku berani melamarmu kalau ternyata apa yang kutakutkan tak terjadi."
Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
"Aku selalu takut kalau kamu akan menolak untuk dijadikan istri oleh om-om perjaka tua ini, Rainna," lanjutnya yang segera saja membuatku tergelak.
Aku menopang tubuhku dengan kedua lututku lalu memeluk bahunya dengan erat, "Aku mencintai kamu, sayang. Sangat sangat mencintai kamu," bisikku di telinganya. Dan kali ini aku tak meronta saat Alex memelukku dan menghujaniku lagi dengan ciumannya.
Ah lupakan soal makan malam, itu tak penting lagi sekarang :)
END
Haaaah... ga tau kenapa malah bikin cerita beginian. Niatnya bikin yang sedih menyayat hati loh, tapi ya sudahlah, sepertinya saya gagal fokus #plaaak



