Sabtu, 08 Agustus 2015

Dear, Pi...

Dear, Pi...
Saat Tuhan mengambilmu dari kami... berapa usiaku saat itu? 27 Tahun. Selama 27 tahun itu berapa lama waktu yang telah kita habiskan bersama, Pi? Seingatku kita hanya pernah berlibur bersama sebanyak mmmh... tiga? Empat? Atau lima kali? Yah hanya sebanyak itu selama dua puluh tujuh tahun umurku.
Kemana saja kau sepanjang umurku? Apa yang kau lakukan? Sibuk berbagi hati?

Dear, Pi...
Kau menangis saat pernikahanku. Kau bilang kau sedih melepasku. Kenapa baru saat itu kau bersedih? Bukankah kau sudah melepasku sejak aku kecil? Dan aku sama sekali tak melihatmu bersedih saat dulu.

Apa yang telah kau lakukan selama itu sudah membekas kuat di dalam otakku, Pi. Maaf untuk semua kebencianku, kemarahanku, kekecewaanku. Kau sendiri yang menumbuhkan rasa itu di dalam kepalaku. Kau sendiri yang mematikan rasa percaya di hatiku.

Dear, Pi...
Maaf... untuk airmata terakhir mu yang ternyata tak cukup mampu membuatku memaafkan semua hal yang telah kau ukir dalam hidupku. Percayalah akupun lelah, akupun tersakiti oleh amarahku padamu.
Kembalilah, Pi... sekali saja. Mari kita duduk berdua dan berbicara. Dengarkan apa yang telah aku lakukan selama kau masih ada tapi tak bersamaku, dan akupun akan mendengarkan kisah yang tak pernah kau bagi denganku. Lalu... ajari aku untuk memaafkanmu, agar aku bisa mengatakan kalau aku... menyayangimu.


Salam rinduku,


Putrimu
(Entah kau masih ingat atau tidak )




Tidak ada komentar:

Posting Komentar