Selasa, 04 Agustus 2015

Ajari Aku Cara Melepasmu

Pada bilangan almanak yang terus bertanggalan, aku meniti langkahku bersamamu. Waktu yang terus berjalan menciptakan rasa terbiasa di antara kita. Terbiasa bersama, terbiasa merajut tawa berdua, juga terbiasa saling membutuhkan.

Sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari dan malam ini, kita masih saling melempar canda, berbagi duka, dan mengeja lelah. Ada rasa takut saat kau bertanya, "akankah kita selamanya?" Dan hening yang tercipta pun pudar oleh tawa renyahmu, "Kita akan terus bersama, walau mungkin dengan makna yang berbeda. Don't be sad, nggak ada yang tahu bagaimana masa depan. Lusa umurku bertambah, dan aku berharap akan menemukan lusa di tahun-tahunku berikutnya. Semoga masih ada kamu di sana", ucapmu.

Gerimis hari ini perlahan merajut kembali benang kenang yang mulai usang. Memutar kembali kisah dulu pada kepingan berdebu yang nyaris pudar.
Aku terjebak dalam genangan masa lalu, tenggelam pada warnanya yang keruh lalu terseret jauh.
Aku lelah menggapai, berusaha mencapai bayang yang ternyata semu.

Seratus purnama sudah kulalui tanpamu, dan aku masih saja terikat pada janji yang sudah teringkari. Apalagi yang aku cari, sementara takdir sudah membawamu pergi. 
Ajari aku cara melepasmu, lalu... ajari aku berdamai dengan masa lalu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar