Jumat, 21 Agustus 2015

Tulisan Kosong

Terjebak pada sebuah asa, dimana angan dan harapan melambung tinggi. Apa yang aku cari? Sedang di depan mata sudah terbayang bagaimana akan tersakiti. Lalu kapan bisa ku akhiri?

Terjebak pada sebuah rasa, sedangkan yang nyata telah mati. Apa lagi yang aku cari? Sementara air sudah membayang di pelupuk mata.

Aku terperangkap, untuk bersiap mati lagi. Bermain pada sebuah kubangan lumpur yang pada akhirnya menenggelamkanku ke dasar samudera. Aku sekarat.

Bercinta dengan semu, memeluk hampa raga palsu. Kubiarkan hidupku perlahan terbunuh, lalu apa yang aku tunggu? Apakah yang kelak akan merenggut lagi cintaku?

Aku ingin berhenti, ingin menyudahi yang terjadi.
Aku ingin memejam, meredakan rindu yang kian merajam.
Aku ingin berdamai dengan hati, hingga rasa itu pergi dan meninggalkanku sendiri... lagi.




Sabtu, 08 Agustus 2015

Dear, Pi...

Dear, Pi...
Saat Tuhan mengambilmu dari kami... berapa usiaku saat itu? 27 Tahun. Selama 27 tahun itu berapa lama waktu yang telah kita habiskan bersama, Pi? Seingatku kita hanya pernah berlibur bersama sebanyak mmmh... tiga? Empat? Atau lima kali? Yah hanya sebanyak itu selama dua puluh tujuh tahun umurku.
Kemana saja kau sepanjang umurku? Apa yang kau lakukan? Sibuk berbagi hati?

Dear, Pi...
Kau menangis saat pernikahanku. Kau bilang kau sedih melepasku. Kenapa baru saat itu kau bersedih? Bukankah kau sudah melepasku sejak aku kecil? Dan aku sama sekali tak melihatmu bersedih saat dulu.

Apa yang telah kau lakukan selama itu sudah membekas kuat di dalam otakku, Pi. Maaf untuk semua kebencianku, kemarahanku, kekecewaanku. Kau sendiri yang menumbuhkan rasa itu di dalam kepalaku. Kau sendiri yang mematikan rasa percaya di hatiku.

Dear, Pi...
Maaf... untuk airmata terakhir mu yang ternyata tak cukup mampu membuatku memaafkan semua hal yang telah kau ukir dalam hidupku. Percayalah akupun lelah, akupun tersakiti oleh amarahku padamu.
Kembalilah, Pi... sekali saja. Mari kita duduk berdua dan berbicara. Dengarkan apa yang telah aku lakukan selama kau masih ada tapi tak bersamaku, dan akupun akan mendengarkan kisah yang tak pernah kau bagi denganku. Lalu... ajari aku untuk memaafkanmu, agar aku bisa mengatakan kalau aku... menyayangimu.


Salam rinduku,


Putrimu
(Entah kau masih ingat atau tidak )




Selasa, 04 Agustus 2015

Ajari Aku Cara Melepasmu

Pada bilangan almanak yang terus bertanggalan, aku meniti langkahku bersamamu. Waktu yang terus berjalan menciptakan rasa terbiasa di antara kita. Terbiasa bersama, terbiasa merajut tawa berdua, juga terbiasa saling membutuhkan.

Sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari dan malam ini, kita masih saling melempar canda, berbagi duka, dan mengeja lelah. Ada rasa takut saat kau bertanya, "akankah kita selamanya?" Dan hening yang tercipta pun pudar oleh tawa renyahmu, "Kita akan terus bersama, walau mungkin dengan makna yang berbeda. Don't be sad, nggak ada yang tahu bagaimana masa depan. Lusa umurku bertambah, dan aku berharap akan menemukan lusa di tahun-tahunku berikutnya. Semoga masih ada kamu di sana", ucapmu.

Gerimis hari ini perlahan merajut kembali benang kenang yang mulai usang. Memutar kembali kisah dulu pada kepingan berdebu yang nyaris pudar.
Aku terjebak dalam genangan masa lalu, tenggelam pada warnanya yang keruh lalu terseret jauh.
Aku lelah menggapai, berusaha mencapai bayang yang ternyata semu.

Seratus purnama sudah kulalui tanpamu, dan aku masih saja terikat pada janji yang sudah teringkari. Apalagi yang aku cari, sementara takdir sudah membawamu pergi. 
Ajari aku cara melepasmu, lalu... ajari aku berdamai dengan masa lalu.